Hari ini adalah hari terakhirku bekerja di kantor. Sungguh sedih rasanya meninggalkan tempat ini. Disini aku mendapat banyak ilmu dan pengalaman, dan juga mendapat banyak teman.
Aku sudah memberitahukan Arista jika aku akan mengundurkan diri. Awalnya Arista tak menyetujui keputusanku, namun aku menjelaskan padanya tentang mengapa aku harus keluar dari pekerjaanku. Arista yang sudah seperti kakakku sendiri, tentu saja dengan cepat dia merubah pikirannya dan menyetujui keputusanku. Dia sama seperti mamaku, terlalu khawatir dengan kondisi kesehatanku. Bahkan dia mengajukan dirinya supaya bisa mengantarkanku ke rumah sakit untuk melakukan pengobatanku.
Di kantor tempat aku bekerja ini seperti ada satu kebiasaan jika ada karyawan yang akan mengundurkan diri maka kami akan mengadakan pesta perpisahan. Dan itu artinya aku harus merogoh kocekku dalam sebelum meninggalkan kantor. Aku memesan 6 dozen donat, 10 box pizza, dan ditambah 10 botol besar cola sebagai pelengkap. Cukup banyak memang karena memang orang-orang di divisiku, team project, juga banyak.
Aku hanya melihat mereka semua menikmati hidangan yang sudah aku pesankan untuk mereka. Setelah memperhatikan mereka aku merasa berat untuk pergi. Besok aku sudah tidak bisa lagi berkumpul bersama mereka. Kebersamaan seperti ini akan hilang dalam sekejap. Pasti akan ada kekosongan di hidupku nanti. Akan terasa ada yang tidak lengkap.
Boy memanggil kami semua untuk berkumpul dan berfoto bersama untuk kenang-kenangan. Diletakkan ponselnya di salah satu meja yang ada dengan menggunakan tripod. Kugunakan pose andalanku, pose dua jari di samping pipiku. Semua rekan kerjaku juga ikut menggunakan pose yang sama. Kami melihat hasil foto tersebut dan tampak wajah Boy yang memasang wajah anehnya. Foto tersebut sukses mengundang gelak tawa. Perpisahan yang seharusnya mengundang air mata kini berubah menjadi perpisahan yang menyenangkan.
Aku berjalan masuk ke ruangan managerku untuk mengantarkan beberapa slice pizza dan beberapa piece donat. Dia masih sangat sibuk sehingga tidak bisa ikut berkumpul bersama dengan yang lainnya. Aku mengetuk pintu ruangannya yang terbuka lebar sebelum masuk. Tok.. tok.. tok.. Pak manager yang sedang mengerjakan sesuatu di laptopnya mengubah pandangannya ke arah pintu dan melihatku berdiri dengan piring yang aku bawa di kedua tanganku.
“Sini masuk Aisyah” kata managerku mempersilahkanku masuk dan sedikit menggeser laptop yang ada di meja kerjanya untuk bisa berbincang denganku.
“Pak, ini silahkan dimakan” kuletakkan kedua piring yang berisi pizza dan donat tersebut di atas mejanya. Pak manager mengambil satu donat dari piring tersebut kemudian langsung melahapnya. Sepertinya pak manager juga menahan laparnya untuk menyelesaikan pekerjaannya. Terlihat dari cara dia melahap habis donat tersebut dalam sekejap. Setelah kurasa dia sudah menyelesaikan makannya, aku mulai membuka suara untuk berpamitan dengannya.
“Pak saya mau pamit ya pak, makasih untuk bantuan bapak selama ini. Maafin Saya kalau banyak salah ya pak” pak manager tidak langsung menjawabku, dia menyandarkan tubuhnya di kursi dengan sedikit mengangkat wajahnya menatap ke langit-langit ruang kerjanya. Terlihat kesedihan di raut wajah pak manager. Tak lama setelahnya pak manager mulai menjawabku.
“Syah, sebenarnya sangat disayangkan kamu harus keluar dari sini. Kamu termasuk karyawan yang rajin dan cepat tangap. Kamu juga orang yang mau belajar Syah. Bahkan project yang kamu tangani sebagian besar tidak pernah ada masalah. Itu adalah bukti jika kamu suda termasuk karyawan andalan saya. Kamu sudah termasuk karyawan terbaik saya”
“Alhamdulillah terimakasih pak kalau saya emang jadi salah satu karyawan terbaik bapak”
“Saya akan tanya sekali lagi, kamu sudah yakin mau mengundurkan diri?” tanya pak manager dengan menyilangkan kedua tangannya di atas meja. Wajahnya penuh harap agar aku tidak meninggalkan tempat ini. Tapi apa boleh dibuat, untuk saat ini aku harus mengutamakan kesehatanku.
“Iya pak dengan berat hati saya harus mengundurkan diri, saya masih harus melanjutkan pengobatan saya. Kalau saya masih bekerja nanti saya pasti akan banyak izin untuk tidak masuk kantor, belum lagi nanti dikhawatirkan saya tidak bisa kejar deadline karena harus bolak balik rumah sakit untuk berobat” aku mencoba memberi penjelasan pada pak manager.
“Sangat disayangkan ya Syah. Atau mungkin saya kasih tawaran untuk kamu jadi karyawan freelance aja. Kamu bisa kerjakan tugas yang saya kasih di rumah atau pas waktu sengang aja. Bagaimana?” tawaran yang diberikan oleh pak manager cukup bagus, jadi aku tidak terlalu kehilangan pekerjaanku. Aku bisa mengerjakannya di rumah, tidak harus datang ke kantor. Tapi ada baiknya aku harus memikirkannya kembali sebelum nantinya malah berhenti di tengah jalan. Aku tidak ingin membuat pak manager kecewa.
“Boleh saya pikirin dulu pak? Saya mau minta pendapat orang tua saya dulu. Nanti saya akan kabari bapak lagi”
“Boleh banget. Nanti langsung kasih kabar ke saya ya! Saya tunggu loh Syah!”
“Iya pak, saya pamit ya pak” aku bangkit dari kursi yang kududuki dan mengulurkan tanganku. Pak manager juga ikut bangkit dari kursinya untuk menjabat uluran tanganku. Bulir air mata mulai memaksa jatuh dan membasahi pipiku. Sunggu berat perpisahan dengan pak manager yang sudah sangat berjasa bagiku ini.
Aku melangkahkan kakiku keluar dari ruangan pak manager. Kemudian aku mengangkut barang-barangku yang sudah disusun rapih dalam sebuah kotak untuk aku bawa pulang. Arista, Boy dan beberapa teman lainnya mengantarkanku sampai parkiran. Kulihat mata Arista sudah mulai menggenang, namun karena teman-teman lain berusaha membuat suasana lebih ceria Arista pun menahan air matanya untuk tetap tersenyum.
Sesampainya di parkiran, aku memasukkan kota yang berisi barang-barangku ke dalam mobil terlebih dahulu. Aku membalikkan badanku menghadap ke arah semua teman-teman yang mengantarku.
“Aku pamit ya semuanya. Kapan-kapan kalau ada waktu kalian main-main ke rumah ya. Aku juga nanti kalau ada waktu bakal main-main kesini kok. Tolong jagain Arista ya! Dia masih suka lupa kalau belum makan siang hehehe” pamitku pada semua teman-teman. Walau berusaha tegar namun air mata ini tidak bisa kubendung lagi. Begitu juga dengan Arista yang langsung memelukku dan menangis tersedu.
Setelah puas berpamitan dengan semuanya, aku masuk ke dalam mobil dan melajukan mobilku pelan melewati gerbang, kemudian aku langsung mengendarainya menuju ke rumah untuk pulang. Pasti akan sangat aku rindukan suasana di kantor. Namun yang akan paling kurindukan bukanlah kantornya, melainkan orang-orang yang ada di dalamnya.
***
Malam ini terasa sangat tenang. Tidak ada lagi suara tak tik tak tik seperti saat aku mengerjakan tugas kantorku. Tidak ada lagi berkas-berkas yang berantakan di kamarku. Aku berbaring di atas ranjangku dengan tenang. Kulihat jam di ponselku. 08:05 PM. Usman sedang apa ya? Disana baru jam 06:05 PM. Aku mencoba mengirim pesan w******p padanya.
Me :
Janu, lagi apa?
Aku tak harus menunggu lama untuk menerima balasan darinya. Usman selalu merespon pesanku dengan cepat.
Usman :
Tidur-tiduran saja. Can I call?
Tanpa perlu dia meminta ijin padaku pun dia dapat meneleponku setiap saat. Karena telepon darinya yang sangat aku nantikan. Lalu Usman melakukan panggilan video.
“Halo Assalamualaikum” sapaku saat menerima panggilan video darinya.
“Waalaikumsalam”
“Long time no see yaa Janu hehe” padahal kami selalu mengobrol di telepon, tapi memang sudah lama kami tak saling bertemu di panggilan video.
“Janu, kamu makin cantik. Sungguh bersyukur aku punya pacar secantik kamu” belum juga satu menit kami saling bertemu di panggilan video tapi Usman sudah melancarkan rayuan gombalnya.
“Apanya yang cantik? gombal banget sih kamu”
“Really, you are so beautiful”
“Okay thank you, you also beautiful” candaku padanya agar tak tampak jika sebenarku hatiku sudah berdegup dengan cepat.
“Beautiful? Aku kan cowok kok beautiful harusnya hansome”
“Tapi aku maunya beautiful hehehe”
“Okay kalau kamu yang ngomong sih gak apa-apa” jawabnya sambil sedikit memalingkan wajahnya dari layar ponselnya.
“Janu, aku pengangguran nih sekarang” kupasang raut wajah sedih saat mengucapkan kalimat tersebut.
“No problem. Tugas kamu sekarang fokus sama treatment kamu”
“Siap! Sekarang kamu bosku, komandanku!”
Kami sempat terdiam sejenak untuk waktu yang tidak lama, kemudian Usman memanggilku.
“Ehmm Janu..”
“Yaa..”
Usman memandangku tajam. Matanya fokus melihat ke arahku. Baru kali ini aku benar-benar melihat matanya yang indah. Biasanya kacamatanya tak pernah lepas namun kali ini dia melepasnya dan dia terlihat sungguh tampan. Lalu Usman mengatakan hal yang membuat mataku melotot.
“Janu, will you marry me?”
Apa dia tidak salah bicara? Atau jangan-jangan ini semua hanya candaan belaka. Usman sedang melamarku? Tetapi tatapannya sungguh serius, tidak terlihat sedikitpun raut wajahnya sedang bercanda.
Aku masih belum menjawabnya, mengingat jarak yang terbentang diantara kami dan juga kondisiku yang sekarang ini, sepertinya masih tidak mungkin aku menerima lamarannya itu. Aku masih belum tahu apa akan sembuh atau tidak.
“Janu, kamu serius? Kalau bercanda jangan kayak gini aku takut nanti malah patah hati kalau tahu ini cuma becanda” kutanyakan keseriusan dari ucapannya barusan, keseriusan dari lamaran virtualnya.
“I’m so serious. Kamu boleh anggap aku sedang bercanda tapi aku serius”
“Kenapa?” kata ini begitu saja keluar dari mulutku. Aku masih tidak percaya dibuatnya.
“Maksud kamu?”
“Kenapa harus aku? Jarak diantara kita terlalu jauh, aku juga sedang sakit da. Aku juga belum tahu kapan bisa sembuh, kamu juga sudah mengerti kondisiku sekarang kan? Masih banyak perempuan yang lebih baik dan pantas buat kamu, dan pastinya mereka lebih sehat dari aku” aku mengatakan kalimat tersebut namun hati ini sudah mulai menangis. Bukan aku menolaknya, tapi aku mencoba untuk sadar diri.
“Ya aku rasa kamu benar” aku mengira Usman akan mencoba membantah pernyataanku tapi ternyata tidak. Dia membenarkan pernyataan yang kuucapkan barusan. Aku merasakan sedikit nyeri di dadaku kini. Mataku juga sudah mulai menggenang.
Melihatku yang terdiam tidak membalas kembali perkataannya, Usman melanjutkan kalimatnya yang ternyata belum selesai diucapkan.
“Kamu benar sekali Janu, memang banyak perempuan yang jauh lebih baik dari dirimu, but I just want you. Aku cuma mau satu Aisyah, that’s you not others”
Bibir ini tak sanggup berkata lagi. Aku tak tahu apa yang telah merasuki pikirannya namun dia benar-benar sedang melamarku. Hati ini bergetar dan mata ini sudah tak kuat menahan air mata yang akan tumpah.
“Aisyah, will you marry me?” Usman melanjutkan ucapannya dan melamaku kembali.
“Yes I will” jawabku sambil menitihkan air mata yang sudah tak bisa kubendung lagi.
Kulihat Usman tersenyum setelah mendengar jawabanku, lalu dia mendekatkan wajahnya ke layar ponselnya. Mmuuaahh. Dia mencium layar ponselnya. Tidak, dia sedang menciumku. Ya, dia menciumku. Wajahku menjadi merah karenanya. Setelah mendapat lamaran darinya kini dia menciumku walau hanya secara virtual. Walau hanya dari video call namun aku merasakannya seperti nyata. Aku benar-benar mencintai lelaki ini.
Tuhan, masih bolehkan aku berharap? Aku ingin Engkau menghapuskan jarak yang ada di antara aku dan dia. Izinkanlah kami bersama.
***
Aku membuka mata di pagi hari. Lalu kumiringkan tubuhku ke arah kiri. Kulihat sepasang mata menatapku. Sepasang mata dari lelaki tampan yang kini sudah menjadi kekasihku. Dia menyunggingkan senyuman saat melihatku terbangun dari tidurku. Semua hal tersebut membuatku menjadi tersipu malu. Semalaman Usman menemani tidurku lewat video call. Usman tetap tersenyum sambil terus menatapku dengan wajah yang lelah. Tentu saja wajahnya terlihat lelah karena sepanjang malam dia terjaga untuk menemaniku tidur.
“Janu, kamu gak tidur?” tanyaku padanya.
“Aku mau mastiin kamu tidur dengan nyenyak, jadi aku gak tidur hooaamm” rasa kantuk yang teramat berat terlihat jelas dari caranya menguap. Aku merasa bersalah karena dia semalaman tidak tidur hanya karena diriku.
Kemudian kembali aku teringat akan apa yang sudah terjadi semalam. Usman melamarku? Atau yang semalam itu hanya mimpi ya dan kini aku sudah terbangun dari mimpi indah tersebut.
“Janu janu, yang semalam itu beneran kan ya?” tanyaku memastikan kembali tentang lamarannya semalam. Semoga saja itu bukan mimpi, jika benar mimpi maka biarkan aku tidur lagi untuk melanjutkan mimpi indah itu.
“Semalam yang mana? Sepertinya kamu mimpi indah. Do you wanna tell me?” wajah Usman di layar ponselku terlihat kebingungan. Dia bertanya-tanya tentang apa yang terjadi semalam. Sepertinya memang hanya mimpi, kuhela nafas dengan lesu.
Usman tertawa kecil melihat reaksiku, sepertinya Usman sedang menjahiliku dengan berkata itu mimpi.
“Janu, kamu gak lagi isengin aku?” tanyaku pada Usman yang mulai senyum-senyum sendiri.
“Memangnya semalam ada apa? Aku benar-benar ingin tahu” tanyanya balik padaku.
“Itu lohh yang will you marry me”
“Yes I will” jawabnya secara langsung seolah aku yang sedang melamarnya. Kini aku memandangnya dengan mengerutkan dahiku. Usman tertawa dengan terbahak-bahak setelah berhasil mengerjaiku. Aku menahan rasa malu setelah dikerjai olehnya, namun senyum lebar dari bibirku tak bisa kututupi. Lelaki yang sedang jahil disana itu adalah Usman, kekasihku yang sangat aku cintai.
Aku bangkit dan mengubah posisiku. Aku duduk bersandar di ranjangku. Mengingat Usman yang tidak tidur semalaman maka aku memintanya untuk segera tidur.
“Janu, you can sleep now” titahku padanya.
“What will you do now?” tanya Usman.
“Hmm belum tau juga sih” jawabku sambil mengangkat kedua bahuku.
“Okay aku akan tidur sekarang. Take care Janu”
“Okay bye bye” kami pun mengakhiri panggilan video yang sudah berlangsung semalaman. Aku masih terbayang-bayang oleh momen kami semalam dan juga lamaran yang membuat hatiku berbunga-bunga. Hal yang tidak biasa untukku di lamar lewat video call. Jarak seakan tidak berarti lagi dalam hubungan kami kini.