9. Inikah percakapan terakhir?

1902 Kata
Semakin hari menjadi semakin dekat, begitulah hubunganku dan Usman kini. Tidak hanya setiap pagi atau malam kami berkomunikasi, namun setiap waktu. Dia mengerti aku yang sudah tidak bekerja ini akan merasa kesepian di rumah sehingga setiap waktu dia menghubungiku, berbincang tentang hal apapun. Kami hanya berhenti berkomunikasi saat jam makan dan juga saat aku pergi ke rumah sakit untuk kontrol dan melakukan treatment. Dokter berkata jika kanker yang hinggap di tubuhku di tahap awal dan masih bisa sembuh dengan pengobatan yang rutin. “Janu, kapan kamu akan pergi treatment lagi?” tanya Usman padaku saat kami sedang berbincang di panggilan video. “Hmm mungkin besok” jawabku. “Ingat jaga kesehatanmu, pola makanmu, dan jangan melewatkan treatmentmu karena kamu terlihat semakin pucat” wajah Usman terlihat sangat khawatir saat mengucapkan hal tersebut. Dia sungguh perhatian pada diriku, pada kesehatanku. “Kulitku kan memang sudah pucat sedari awal, jadi jangan khawatir ya” aku berusaha membuatnya tenang dan tidak terlalu khawatir. Lagipula kulitku kan memang putih pucat, itu sudah dari sananya. “No, it’s more than before” bantah Usman yang saat ini benar-benar sedang mengkhawatirkanku. Aku tidak ingin melihatnya terlalu mengkhawatirkanku seperti itu. “Don’t worry Janu, I’m okay” “Huuff okay Janu, ehmm can I go for lunch now?” Ini memang sudah memasuki jam makan siang di tempatnya. Aku tak bisa berkata tidak karena aku tidak ingin terlihat egois. Namun aku ingin sedikit bercanda dan melihat reaksinya. “Hmm… No” jawabku padanya. “Okay” tanpa berpikir panjang atau bertanya kenapa Usman langsung mengiyakan. Wajahnya juga tidak terlihat kesal karena keegoisanku tadi. Dia malah bersikap biasa saja sehingga membuatku jadi merasa tidak enak hati padanya. “No no no Janu, You can go. Aku cuma bercanda kok” “Okay, I will call you later. Allah Hafiz” “Byee” panggilan video kami pun berakhir. Padahal jika boleh jujur, aku sebenarnya tdak ingin percakapan kami berakhir. Sepertinya aku memang harus mencari kegiatan lain agar tidak merasa terlalu jenuh. Aku teringat jika mantan managerku sebelumnya pernah menawariku bekerja freelance. Sebaiknya aku coba menghubunginya dan menanyakan apakah tawaran tersebut masih berlaku atau tidak. Saat kuhubungi, sang manager pun langsung menyetujui bila aku menjadi pekerja freelance dan langsung secepat kilat dia mengirim beberapa dokumen untuk kukerjakan melalui email. Aku membuka dokumen tersebut satu per satu dan membacanya dengan teliti karena aku sudah lama tidak mengurusi dokumen-dokumen ini lagi. Aku harus berhati-hati untuk mengerjakannya atau aku akan membuat kesalahan pada dokumen tersebut. Aktifitas baruku pun dimulai. Menjadi pekerja freelance untuk membunuh waktu. Saat sedang serius mengerjakan dokumen di laptop, kurasakan suhu tubuhku mulai berbeda. Kuletakkan telapak tangan di dahiku dan benar saja aku terkena demam. Mungkin karena aku terlalu memaksakan untuk mengerjakan dokumen-dokumen ini secara langsung setelah dikirim. Sepertinya ada baiknya untukku beristirahat sekarang. *** Di tempat lain, Usman tidak bisa fokus dengan pekerjaannya. Dia sedang berdiri berjaga di sebuah tower namun pikirannya jauh melayang memikirkan Aisyah. Masih jelas diingatannya wajah Aisyah yang semakin pucat. Dia tidak ingin terjadi sesuatu yang tidak dia inginkan. Usman ingin segera menghubungi Aisyah untuk membuat hatinya menjadi sedikit tenang. Namun dia tidak bisa melakukannya saat ini karena terpasang banyak cctv di sekitar tower tempat dia berjaga. Seorang petugas seperti dia tidak boleh menggunakan ponsel saat sedang menjalankan tugas. Dengan berat hati Usman mengurungkan niatnya tersebut. Dia berjalan mondar mandir di tempatnya berjaga seolah sedang melakukan tugasnya, padahal itu karena dia sangat mengkhawatirkan kekasihnya yang berada di Indonesia. Sesekali dia merogoh saku celananya hanya untuk mengintip layar ponselnya, apakah ada pesan atau telepon dari kekasihnya tersebut. Seorang petugas lainnya yang melihat Usman berjalan mondar mandir mulai menghampirinya. Ditepuknya bahu Usman dan membuat Usman sangat terkejut hingga hampir meloncat. "Mujy lagata hai tum kisee cheez ke baare me soch rahee hoon?"(kamu sepertinya sedang mengkhawatirkan sesuatu?) tanya si petugas tersebut. “Ah nehi” (Ah tidak) Usman menjauhi rekan seprofesinya itu dan kemudian duduk di kursi yang berada di pojok. Ditariknya nafas panjang untuk mencoba mengusir kegelisahannya. *** Malam ini aku menemani Usman melalui telepon. Dia kembali ke kamarnya setelah menyelesaikan shift dan makan malamnya sekitar jam 9 malam waktu Pakistan. Itu artinya jam 11 malam di Indonesia. Entah kenapa aku merasa sedikit lemas dan tidak nafsu makan. Mungkin itu karena demam yang sedang kurasakan. Aku mengatakan apa yang sedang kurasakan saat ini. Usman menyuruhku untuk segera tidur. Namun aku masih ingin bersamanya karena hanya dengan melalui telepon seperti ini aku merasa dia sedang berada di dekatku. “Don’t you want to sleep?” tanya Usman padaku. “Aku masih belum mengantuk.” Jawabku, padahal sebenarnya aku ingin bersamanya. “Tidurlah, aku akan menemanimu dari sini” suara Usman terdengar lembut di telingaku. “Tapi aku belum mau tidur, nanti kalau aku sudah benar-benar mengantuk aku akan bilang ke kamu” “Kamu kan sedang kurang sehat, aku gak mau ada apa-apa sama kamu” “Pleeaassee…” pintaku dengan manja, aku ingin tetap bersamanya, menghabiskan malam dengannya. “Okay, aku nyerah kalau kamu udah manja kayak gitu” “Hehe I love you Janu” kataku padanya. “You are my everything” balas Usman. Kami melanjutkan perbincangan kami di malam itu. Kami pun sampai lupa waktu. Ku lirik jam di layar ponselku menunjukkan angka 02:37 AM. Sudah hampir pagi disini. Usman memintaku untuk segera tidur. Kali ini aku menyetujuinya. Kami mengakhiri perbincangan kami dan bergegas tidur. Udara di kamarku terasa sedikit berbeda. Kurasakan dingin menyelimuti sekujur tubuhku dan membuatku menggigil. Kusilangkan tangan di dadaku dan memeluk diriku sendiri. Dingin. Sungguh dingin. Sekarang berat rasanya untukku membuka mata. Aku benar-benar sudah mengantuk. Aku merasa semakin terlelap dan tidur semakin dalam. Aku tak dapat berpikir apapun, aku hanya berharap besok kesehatanku akan membaik dan akan menyapa Usman dengan senyumku. *** Tok.. tok.. tok.. “Icha, udah subuh ayo bangun Cha, solat subuh dulu” Mama mengetuk pintu kamar Aisyah. Namun tak terdengar jawaban dari dalam. Mama pun membuka pintu kamar dan mencoba membangunkannya lagi. “Icha, ayo dong bangun nanti malah kesiangan kamu gak solat.” Aisyah nampak tetap tertidur dan tak menjawab. Mama kemudian mendekat ke tempat tidur Aisyah dan membangunkannya dari dekat sambil sedikit menggoyangkan tubuhnya. “Cha, kamu telepon sampai jam berapa sih jadi susah dibangunin buat solat?” Aisyah tetap terdiam dan tertidur. Digoyangkannya lagi tubuh Aisyah beharap dia akan segera bangun kali ini, namun tetap tidak ada respon darinya. Mama yang awalnya biasa saja kini menjadi sangat panik. Dipanggilnya Fahri dan juga papa untuk segera membawa Aisyah ke rumah sakit. Papa dengan sigap menggendong Aisyah dari tempat tidurnya berlari ke mobil yang terparkir di depan rumah. Dibaringkannya tubuh Aisyah di pangkuan Fahri di kursi tengah. Kemudian papa mengemudikan mobilnya dengan kencang menuju rumah sakit terdekat. Mama dan juga Meli, adik perempuan Aisyah, menyusul setelahnya. Dokter dan para perawat dengan cepat menempatkan Aisyah di ruang gawat darurat. Dokter meraba pergelangan tangan Aisyah untuk mengecek denyut nadinya. Masih terasa namun sangat lemah. Dikenakan stetoskop di telinga sang dokter dan mengecek detak jantungnya. Aisyah masih hidup namun kondisinya sudah sangat lemah. Para perawat langsung memasang banyak alat di tubuh Aisyah sesuai dengan arahan dokter dan mengambil tindakan penyelamatan. Mama, Papa, Fahri dan Meli menunggu di luar ruangan dengan perasaan cemas. Mama menangis sambil mulutnya tak berhenti berdoa. Mereka semua takut Aisyah akan pergi meninggalkan mereka. Setelah cukup lama menunggu akhirnya dokter keluar dari ruangan gawat darurat dan menemui keluarga Aisyah. Dokter mengatakan pada mereka bila saat ini Aisyah sudah berada dalam kondisi koma dan akan memindahkan Aisyah ke ruang perawatan ICU. Lutut mama menjadi lemas seketika setelah mendengar pernyataan dokter. Aisyah kini sudah dipindahkan ke ruang perawatan ICU. Fahri, Mama dan Meli menunggu di ruang tunggu depan kamar perawatan, sedangkan Papa sedang mengurus asuransi Aisyah untuk administrasi perawatan. “Fahri, kamu sama Meli pulang saja dulu. Kamu kan harus kerja nanti siang, Meli juga harus sekolah, nanti bantu Mama beresin baju-baju buat dibawa kesini ya.” pinta Mama pada Fahri dan Meli. “Fahri mau nemenin mama di sini aja” Fahri menolak permintaan mamanya tersebut. Dia juga sangat mengkhawatirkan kondisi kakaknya kini. Dia juga ingin ikut menungguinya. “Iya ma Meli juga” lanjut Meli yang juga ingin berada bersama mereka. “Jangan, Fahri tetap harus kerja. Pulang kerja nanti bisa gantian sama mama buat jagain kakak. Meli juga ya tolong beresin baju-baju terus masukin dalam tas nanti titip sama Abang Fahri buat di bawa kesini nanti malam. Jangan lupa ponsel mama sama kakak juga tolong dibawa biar gampang ngasih kabarnya nanti.” Fahri dan Meli menyetujui titah mama kali ini. Mereka menunggu Papa menyelesaikan administrasi terlebih dahulu agar Mama tidak sendirian. Setelah papa kembali, Fahri dan Meli pun pulang sesuai permintaan mama. Sesampainya di rumah Fahri membantu Meli untuk menyiapkan pakaian yang akan dibawa sebelum dia berangkat kerja. Fahri mengambil ponsel Aisyah di kamarnya. Dilihatnya banyak pesan masuk dan panggilan tak terjawab dari Usman. Fahri sudah mengetahui siapa itu Usman karena Aisyah selalu menceritakannya pada Fahri. Dilihatnya satu persatu pesan tersebut. Sepertinya Usman khawatir karena Aisyah tak membalas pesan darinya. Sementara itu di rumah sakit mama tak putus melantunkan doa untuk kesadaran Aisyah. Sesekali tangannya mengelap air mata yang jatuh membasahi pipinya. Papa duduk sedikit menjauh dari mama sambil memperhatikan kecemasan istrinya tersebut. Lalu papa menghampiri mama dan berkata, “Ma, gak usah khawatir ya! Icha gak bakal kenapa-kenapa kok ma. Icha kuat ma. Kita berdoa aja” Mendengar ucapan papa malah membuat mama semakin merasa cemas. Dia tak ingin kehilangan putrinya yang masih muda itu. Malam pun tiba, Fahri kembali ke rumah sakit setelah pulang bekerja. Dia menemui Mama dan Papa di ruang tunggu ICU dan menanyakan keadaan kakaknya. “Ma, Pa kakak gimana kondisinya?” “Masih belum sadar Ri, doain kakak ya Ri” jawab mama dengan lesu. Mama dan Papa pasti sudah sangat lelah seharian menemani Aisyah di rumah sakit. Fahri pun meminta kedua orang tuanya untuk pulang ke rumah dan beristirahat. Awalnya sang Mama menolak karena ingin terus bersama Aisyah, namun setelah Fahri memohon pada mamanya agar beristirahat supaya tidak sakit dan juga karena Meli sendirian di rumah maka mamanya pun setuju untuk pulang. Fahri kini menggantikan kedua orang tuanya untuk menemani Aisyah di ruang tunggu ICU. Dikeluarkannya ponsel Aisyah dari dalam saku celananya. Dilihatnya kembali layar ponsel yang dipenuhi pesan masuk dan juga panggilan tak terjawab dari Usman. Sepertinya Usman juga merasa khawatir karena tak satupun pesan darinya yang dibalas. Fahri akhirnya memutuskan untuk membalas pesan tersebut dan juga memberi tahu Usman tentang keadaan Aisyah.      Fahri :      Assalamualaikum Bro, ini Fahri adiknya kak Aisyah. Saya mau kasih kabar kalau sekarang Aisyah sedang koma. Mohon doa untuk kesadaran dan kesembuhan Aisyah Usman langsung membaca pesan yang dikirimkan Fahri dan dengan cepat membalas pesan tersebut. Usman : Aisyah kenapa? Apa dia baik-baik saja? Bagaimana kondisinya sekarang? Terlihat kepanikan dari pesan yang Usman balaskan. Fahri memberitahukan tentang kondisi Aisyah sekarang dan meminta Usman agar tidak perlu mencemaskannya karena Aisyah sekarang sudah dalam penanganan dokter. Fahri hanya meminta doa dari Usman yang berada jauh di sana. Setiap waktu Usman selalu menyakan tentang kondisi Aisyah pada Fahri. Usman bersikap layaknya seorang lelaki yang mengkhawatirkan kekasihnya. Usman benar-benar menanyakannya secara detail. Bagaimana kondisi Aisyah? Apa yang dikatakan dokter? Bagaimana dengan hasil pemeriksaannya saat ini? Apa Aisyah perlu donor darah? Apa Aisyah akan baik-baik saja? Apa Aisyah sudah sadar? Selalu, Usman selalu menanyakannya secara detail karena Usman tidak bisa datang untuk menemui Aisyah. Setidaknya dengan menanyakan itu semua Usman akan benar-benar tahu kondisi Aisyah saat ini. Fahri menjawab Usman sebisa mungkin. Bahkan Fahri sampai menanyakannya langsung pada sang dokter secara detail sesuai dengan yang ditanyakan Usman. *** Usman men-scroll percakapannya dengan Aisyah di w******p. Dilihatnya pesan-pesan dari Aisyah yang membuatnya merindukan kekasihnya itu. “Janu kamu lagi apa?” “Janu don’t be late ya, aku kan kangen” “Kenapa kamu screenshot muka aku di videocall? Hmm I hate you” “Hahaha I love you Janu” Membaca semua itu Usman merasakan kesepian di hatinya kini. Aisyah sedang tertidur sekarang dan tidak bisa mengirimkan kalimat-kalimat manja lagi padanya. Di hatinya yang terdalam kini dia berharap Aisyah segera membuka matanya.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN