Usman men-scroll percakapannya dengan Aisyah di w******p. Dilihatnya pesan-pesan dari Aisyah yang membuatnya merindukan kekasihnya itu.
“Janu kamu lagi apa?”
“Janu don’t be late ya, aku kan kangen”
“Kenapa kamu screenshot muka aku di videocall? Hmm I hate you”
“Hahaha I love you Janu”
Membaca semua itu Usman merasakan kesepian di hatinya kini. Aisyah sedang tertidur sekarang dan tidak bisa mengirimkan kalimat-kalimat manja lagi padanya. Di hatinya yang terdalam kini dia berharap Aisyah segera membuka matanya.
***
Usman kini sedang melamun di atas ranjang di dalam kamarnya. Pandangan matanya kosong menatap kipas angin yang menempel di langit -langit dinding kamarnya. Tubuhnya memang sedang berbaring disana akan tetapi pikirannya jauh melayang ke tempat dimana Aisyah kini sedang memejamkan matanya. Rindu benar-benar sedang melanda hati Usman.
Biasanya, saat Usman baru kembali dari bekerja dia akan segera menghubungi kekasihnya itu. Saling menanyakan kabar, saling menggombali satu sama lain, dan membicrakan segala hal. Kini benar-benar sepi yang dirasakan oleh Usman.
My Janu sedang memimpikan apa ya? Apa Janu ku bisa melihatku dalam tidurnya? Semoga doa yang selalu aku lantunkan untuknya segera didengar oleh-Nya dan my Janu akan segera bangun dari tidur panjangnya.
Sambil tetap memandangi kipas angin yang menempel di langit-langit kamarnya, Usman terus memikirkan Aisyah dan berharap dia akan segera membuka matanya.
Cukup lama Usman melamun hingga teman sekamarnya menyadari ada keanehan dari diri Usman saat ini. Di dalam kamar tempat Usman tinggal sekarang berisi sekitar 8 orang di dalam satu kamar. Kamar tersebut bisa dibilang seperti kamar di barak tentara. Terdapat 8 tempat tidur dan juga 8 lemari di sebelah masing-masing tempat tidur tersebut.
Salah seorang teman sekamar Usman datang menghampiri dan langsung saja duduk di pinggir ranjang yang ditempati Usman saat ini. Hal tersebut membuat Usman segera tersadar dari lamunannya akan Aisyah, kekasih hatinya. Temannya tersebut menanyakan tentang masalah apa yang sedang menimpa Usman saat ini sehingga membuat dirinya terus melamun seperti barusan. Usman hanya menggelengkan kepalanya dan menjawab jika tidak ada masalah apa-apa dengan dirinya kini. Kemudian Usman diajak oleh beberapa teman yang lainnya untuk makan malam. Usman pun menurutinya.
Setelah menyelesaikan makan malamnya, Usman tidak langsung kembali ke kamarnya namun melangkahkan kakinya ke sebuah masjid yang berada di sekitaran barak tempatnya tinggal. Usman sangat lama bersujud sambil menyampikan doanya pada Yang Maha Kuasa, karena Usman sangat yakin hanya Dialah, Yang Maha Kuasa, yang mampu menyadarlan Aisyah kini.
Sedangkan di tempat lain, Aisyah masih lelap tertidur tanpa menunjukkan sedikit pun kemajuan pada kondisinya. Dia masih terbaring di ruang ICU dengan banyak alat menempel ditubuhnya. Kali ini dokter menyarankan agar Aisyah melakukan donor sumsum tulang belakang untuk bisa menyelamatkan nyawanya. Dokter meminta agar pihak keluarga dan juga pihak rumah sakit tentunya untuk mencari donor sumsum tulang belakang untuk Aisyah. Saran terbaik tentu saja meminta pihak keluarga untuk melakukan pemeriksaan apakah ada kecocokan dari saudara Aisyah sendiri. Bila memang ada kecocokan maka akan segera dilakukan operasi terhadap Aisyah.
Fahri dan Meli melakukan pemeriksaan tersebut di rumah sakit. Semua pihak keluarga berharap dengan sangat akan ada kabar baik dari hasil pemeriksaan kakak beradik itu untuk kesembuhan Aisyah. Akan tetapi sangat disayangkan hasil yang didapat tidak sesuai dengan harapan. Aisyah harus mencari donor sumsum tulang belakang dari tempat lainnya.
Fahri yang sedang sangat terpukul perasaannya karena tidak bisa menolong sang kakak kini berusaha mengurangi sedikit beban di hatinya dengan mengirimkan pesan pada Usman.
Fahri :
Bro, kak Aisyah butuh pendonor sumsum tulang belakang. Mohon doakan yang terbaik untuk kak Aisyah
Usman yang masih berdoa di masjid tidak merespon pesan yang masuk ke ponselnya tersebut. Kini fokusnya hanya untuk berdoa dan bersujud demi kesembuhan Aisyah. Kedua tangan Usman terus diangkat di depan dadanya dengan kedua telapak tangannya mengarah ke atas. Bibirnya terus melantunkan doa tanpa henti. Tanpa dia sadari air mata juga menetes di kedua pipinya. Dengan khusyuk Usman berharap pada sang Penciptanya.
Hari demi hari telah berlalu, namun Aisyah masih belum juga membuka matanya. Usman kini sedang duduk di kursi taman yang berada di depan barak. Usman melihat pesan terakhir yang dikirimkan Fahri untuknya. Namun dia tidak membalas pesan tersebut karena dia merasa tidak sanggup, apalagi jika harus membayangkan jika Aisyah akan pergi meninggalkannya.
Saat sedang memperhatikan layar ponselnya tersebut masuklah sebuah pesan ke ponselnya itu. Pesan dari nomor yang tidak dia ketahui.
Unknown :
Salam, Usman. Kya hal hai? (Salam, Usman. Apa kabar?)
Usman tidak langsung menanggapi pesan dari nomor yang tidak dikenal tersebut. Dia bangkit dari duduknya untuk menuju kembali ke kamar. Sesampainya di kamar, nomor tak dikenal itu menghubunginya dengan panggilan suara. Kali ini Usman menerima panggilan tersebut, Usman berpikir sepertinya ada sesuatu yang penting.
"Assalamu'alaikum" Usman mengucapkan salam saat menerima panggilan telepon tersebut.
"......................" Terdengar suara seorang wanita sedang berbicara di seberang sana. Usman seperti mengenal suara wanita tersebut. Usman menanggapi wanita itu di telepon dengan sikap yang baik dan sopan sambil sesekali mengangguk-anggukkan kepalanya seolah sedang fokus mendengarkan wanita tersebut.
"Aahh acha, Allah hafiz Sharma" (Aahh iya, sampai jumpa Sharma) kemudian diakhiri percakapannya tersebut dengan Sharma, wanita yang barusan di telepon.
Sharma adalah seorang pegawai di salah satu Bank tempat Usman menyimpan uangnya. Sharma meminta bantuan Usman untuk membuat kartu kredit di bank tersebut. Karena Sharma harus memenuhi target kerjanya. Usman dengan berbaik hati setuju untuk menolong wanita tersebut. Tanpa Usman ketahui, Sharma sudah sering melihatnya saat sedang berkunjung ke Bank, dan mengejar target nasabah untuk membuat kartu kredit hanyalah alasannya belaka untuk mencoba mendekati Usman.
Sungguh bahagianya Sharma saat Usman bersedia membuat janji bertemu dengannya di bank untuk pembuatan kartu kredit. Hati Sharma sangat berbunga-bunga karena jalan untuk mengenal Usman, lelaki yang membuatnya jatuh hati tersebut kini mulai terbuka. Sharma tidak akan lagi hanya memandangi Usman dari jauh, dia akan mencoba menjadi teman bicara yang baik untuk Usman karena dia sudah punya alasan yang tepat untuk terus mengirimi Usman pesan w******p. Alasannya sudah pasti untuk membicarakan kelengkapan kartu kredit dan juga proses pengajuannya.
Sharma sudah benar-benar menyusun secara matang rencananya untuk mulai menarik perhatian dan juga mengambil hati Usman. Sharma tidak mengetahui jika Usman sudah memiliki kekasih yang berada di Indonesia kini. Namun kekasihnya itu, Aisyah, sedang berjuang untuk membuka matanya. Semua orang tetap berdoa dan mengharapkan kesadaran Aisyah. Namun kembali lagi, umur, rejeki, jodoh, dan maut itu semua ada di tangan Tuhan Sang Pencipta kita.
Entah bagaimana kelanjutan hubungan antara Usman dan Aisyah kini. Orang ketiga sedang mencoba masuk di tengah-tengah hubungan jarak jauh mereka. Entah apakah Usman akan tetap mengunci hatinya untuk Aisyah hingga Aisyah tersadar, atau Usman malah membuka hatinya untuk wanita lain? Itu semua tergantung dari keteguhan hati Usman.
Usman mengenakan pakaian dinasnya kini. Dia akan kembali berjaga di sebuah tower malam ini. Sebelum melangkahkan kakinya keluar kamar, terdengar suara ponsel Usman berdering. Dilihatnya layar ponsel tersebut untuk mengetahui siapa yang meneleponnya. Ternyata Fahri yang meneleponnya. Dengan segera Usman langsung menerima panggilan telepon tersebut.
"Halo Assalamualaikum" Usman mengucapkan salam terlebih dahulu.
"Waalaikumsalam bro, ini Fahri"
"Yes bro I know, what happen?" tanya Usman dengan tergesa. Dia berharap Fahri akan memberitahukan kabar baik tentang Aisyah.
"Bro, kita bisa bicara serius?" suara Fahri terdengar berbeda, terdengar sangat serius.
"Ya tentu saja, ada apa Fahri? Apa Aisyah sudah sadar? Bagaimana kondisinya sekarang" usman menghujani Fahri dengan berbagai pertanyaan.
"Bro, kak Aisyah sekarang ..."
Usman mendengarkan Fahri baik-baik, kemudian meneteslah bulir-bulir air mata di wajah tampan Usman. Salah satu tangannya memegang ponsel di telinganya, dan satunya lagi berusaha menutupi wajahnya yang sedang menangis agar teman-teman sekamarnya tidak melihat wajahnya yang sedang menangis itu.
Tidak lama setelah Fahri mengakhiri panggilannya, Usman mengangkat wajahnya menatap langit-langit kamar. Dihapusnya air mata yang tersisa di wajahnya. Kemudian Usman melangkahkan kakinya keluar kamar untuk bekerja.
Di dalam perjalanannya menuju tower tempat dia akan berjaga, Usman membayangkan kembali wajah Aisyah, wanita yang kini memenuhi hatinya. Aisyah yang sedang tersenyum, Aisyah yang sedang mengantuk saat facetime, Aisyah yang sedang cemberut, kini pikirannya dipenuhi oleh wajah Aisyah. Tak disadari olehnya kini air matanya mulai jatuh kembali.
Teringat juga di benak Usman, saat Aisyah sering menggoda dan menggombalinya, Aisyah yang mengucapkan kata-kata cinta untuknya, dan juga Aisyah yang hanya akan menceritakan keluh kesah pada dirinya seorang.
Semua kenangan tentang Aisyah benar-benar memenuhi kepalanya. Sampai pada akhirnya Usman menghentikan langkahnya di pertengahan jalan dan menghubungi komandannya. Dia meminta izin untuk bisa mendapatkan libur untuk beberapa hari. Usman harus membawa-bawa nama keluarganya agar bisa mendapatkan izin pulang ke kediaman orang tuanya.