11. Kembalinya sang putri tidur

1482 Kata
Teringat juga di benak Usman, saat Aisyah sering menggoda dan menggombalinya, Aisyah yang mengucapkan kata-kata cinta untuknya, dan juga Aisyah yang hanya akan menceritakan keluh kesah pada dirinya seorang. Semua kenangan tentang Aisyah benar-benar memenuhi kepalanya. Sampai pada akhirnya Usman menghentikan langkahnya di pertengahan jalan dan menghubungi komandannya. Dia meminta izin untuk bisa mendapatkan libur untuk beberapa hari. Usman harus membawa-bawa nama keluarganya agar bisa mendapatkan izin pulang ke kediaman orang tuanya. *** Ini sudah hari kelima Aisyah masih memejamkan matanya. Kondisi terakhir yang disampaikan Fahri pada Usman adalah Aisyah sedang dalm masa kritisnya. Oleh karena itu Usman membatalkan rencananya bekerja dan meminta izin untuk pulang ke rumah orang tuanya dengan alasan yang dibuat-buat. Pada saat kejadian tersebut, saat setiap harinya keluarga Aisyah bergantian berjaga di rumah sakit, tampak di parkiran Fahri baru menuruni motor CBR merahnya di malam itu. Dia melangkahkan kakinya menuju ke ruangan tempat dimana Aisyah dirawat. Dari kejauhan dia melihat Mama yang sedang menangis dalam rangkulan Papa di depan pintu kamar Aisyah. Sontak Fahri pun berlari menghampiri kedua orang tuanya. Dengan panik dia menanyakan apa yang terjadi dan kenapa mama menangis. Sambil tetap dalam tangisan mama pun memberitahu Fahri bila keadaan Aisyah sekarang kritis. Denyut jantungnya melemah dan Aisyah juga kesulitan bernafas. Dokter sekarang sedang mencoba untuk membuat keadaan Aisyah kembali normal. Fahri mengeluarkan ponsel Aisyah dari saku celananya dan memberi kabar pada Usman jika Aisyah sedang kritis. Mengetahui kondisi Aisyah sekarang membuat pikiran Usman melayang jauh dan juga membuatnya tidak bisa fokus untuk melangkahkan kakinya menuju tempatnya akan berjaga. Pikirannya hanya tertuju pada Aisyah. Dia takut Aisyah akan pergi meninggalkannya dari dunia ini. Teringatnya kembali suara Fahri yang sedikit gagap dan gemetar saat memberitahukan Usman tentang kondisi Aisyah. Fahri benar-benar memberitahukan padanya tentang kondisi kekasih hatinya saat ini dan juga apa yang sedang dokter lakukan untuk menyelamatkan kekasihnya tersebut. Fajri juga meminta pada Usman agar tetap mendoakan yang terbaik untuk Aisyah. Sesaat setelah Usman mendapatkan izin dari komandannya, dia melangkahkan kakinya terlebih dahulu ke sebuah masjid yang tak terlalu jauh dari tempat dia bekerja. Dia mengambil wudhu dan kemudian melaksanakan solat sunah 2 rakaat. Lalu dia duduk bersila dan mengangkat kedua tangannya. Dia menundukkan wajahnya dan berdoa untuk kesadaran Aisyah yang dicintainya. Air mata mulai menetes perlahan di wajahnya. Dia ingin berada disamping Aisyah, menemani Aisyah. Namun jarak yang sangat jauh ini menjadi penghalang utama antara hubungan mereka. Jarak diantara mereka belum mengizinkan mereka untuk bersama. Hanya dengan cara berdoa seperti ini Usman mencoba menolong Aisyah. Meminta pada Yang Maha Kuasa. *** Usman kini di dalam perjalanan pulang ke rumahnya di Chakwal-Pakistan menggunakan bus. Matanya melihat ke sekeliling. Di dalam bus amat banyak gadis Pakistan. Mereka cantik. Namun untuknya Aisyah lebih cantik. Usman teringat pada Aisyah. Dia sangat merindukan saat-saat berbincang dengan Aisyah. Usman menggeser-geser layar ponselnya. Dilihatnya foto-foto Aisyah yang dikirimkan untuknya, dan juga foto-foto Aisyah hasil screenshot saat sedang berbicara di videocall dengannya. Usman sangat menyukai mata Aisyah yang kecil. Jika tersenyum maka bola matanya Aisyah seolah bersembunyi. Aisyah mempunyai rambut panjang bergelombang, pernah satu kali Aisyah mewarnai rambutnya dengan warna cokelat kemerahan. Warna itu sangat cocok dengan kulit Aisyah yang cerah. Bagi Usman tidak ada yang bisa menandingi aura kecantikan Aisyah yang selalu berbinar. Sesampainya di rumah, Usman membaringkan tubuhnya di atas ranjang setelah lelah menempuh perjalanan selama kurang lebih 4 jam. Adiknya datang dengan segelas teh dan manisan. Usman yang hampir tertidur bangkit dan mengubah posisinya untuk duduk. Dia meminta adiknya untuk duduk di sampingnya. "Fateeyah kemari, duduklah disampingku" pinta Usman pada adik perempuannya itu. Fateeyah menuruti kemauan kakaknya dan duduk disampingnya. “Fateeyah bagaimana kabarmu?” tanya Usman pada adiknya yang juga mengerti bahasa Indonesia. “Aku baik Bhai, kamu kelihatannya capek banget. Beristirahatlah” Bhai adalah sebutan untuk kakak laki-laki dalam bahasa Urdu - Pakistan. Fateeyah adalah anak bungsu di keluarganya dan juga sangat dekat dengan Usman. Hampir semua hal dibicarakan pada Fateeyah, termasuk tentang Aisyah. “Lalu bagaimana dengan sekolahmu? Apa ada kendala?” “Biasa saja, tak ada hal spesial. Tapi belakangan ini guru-guru sering membuat kmi mengerjakan tugas yang segunung" Fateeeyah mendeskripsikannya dengan kedua tangan yang membentuk gunung yang besar. Usman dengan tiba-tiba mengubah alur pembicaraannya. Wajah lelah Usman menatap Fateeyah dengan serius. Mata Usman yang masih terlihat bengkak karena menangis kini menatap Fateeyah penuh harap. “Fateeyah, kamu sudah bicara dengan Ammi tentang Aisyah?” Usman menanyakan adik perempuannya tentang Aisyah. Sebelum menaiki bus untuk pulang, Usman memang menelepon adiknya itu meminta dia coba membicarakan pada ibunya tentang Aisyah, juga tentang kondisinya sekarang. “Sudah bhai, Ammi cuma bilang hanya bisa mengirimkan doa saja” jawaban Fateeyah masih belum bisa memuaskan hati Usman. “Kalau Abu? Apa kamu juga berbicara dengan Abu?" Kini Usman menanyakan tentang ayahnya. “Abu masih berada di kota lain, nanti kalau sudah pulang aku akan coba berbicara dengan Abu” Usman tak melanjutkan lagi pembicaraannya. Diteguknya teh hangat yang dibawakan Fateeyah. Adiknya ini mengerti dengan apa yang tengah dirasakan Usman, Fateeyah pun kembali ke kamarnya meninggalkan Usman. Dibaringkannya kembali tubuh yang sedang lelah itu. Matanya menatap ke langit-langit rumahnya. Pandangannya hampa dan kosong seperti tidak ada yang dia pikirkan. Hampir dia memejamkan matanya lalu terdengar ponselnya berdering. Aisyah Memanggil Tanpa menunda-nunda Usman segera menerima panggilan itu. “Assalamualaikum” Usman mengucapkan salam. “Janu..” suara Aisyah terdengar lagi. Suara yang sangat Usman rindukan kini didengarnya kembali. Namun suaranya sangat lemah. “Say it again!” pinta Usman pada Aisyah untuk memanggilnya lagi. “Janu..” Air mata Usman tumpah seketika mengetahui Aisyah sudah tersadar dari tidurnya. Aisyah sudah melewati masa kritisnya dan membuka matanya kembali. Dipeluk erat ponselnya dan dia berlutut di lantai. Terimakasih ya Allah aku bisa mendengar suaranya lagi, terimakasih telah mendengar doaku. Ucap Usman didalam hatinya dengan tetap derai air mata membanjiri wajahnya kembali. Aisyah sudah terbangun dari tidur panjangnya. Dia juga sudah melewati masa kritisnya. Ini semua berkat doa dari semua orang yang menyayangi Aisyah. Termasuk doa Usman yang tak pernah putus saat Aisyah kritis dan hampir tak beryawa. Terlihat betapa Usman sangat mencintai Aisyah. Dan Apakah Usman dan Aisyah dapat berjodoh? *** Sekitar satu minggu setelah Aisyah membuka matanya, dia diperbolehkan untuk kembali ke rumahnya tas izin sang dokter. Pemulihan kondisi kesehatan Aisyah terbilng sangat cepat. Walau dia belum mendpatkan donor tetapi dokter melihat kondisinya sudah cukup stabil dan mengizinknnya untuk pulang ke rumah.             Me :             I’m home. Kangen banget sama kamar aku Usman : Kalau sama aku?             Me :             Not really, because you always with me Usman : Hmm I’m sad             Me :             Kenapa? Usman : My Janu is not missing me             Me :             Hmm but I’m loving you hehe Usman : Jaga kesehatan kamu. Istirahat yang cukup. Kamu masih dalam masa pengobatan sekarang             Me :             Aku akan baik-baik saja jika ada kamu Usman : Janu, I promise I’ll always be with you and never leave you, so jangan pernah ninggalin aku lagi seperti waktu itu             Me :             Inshaa Allah Janu, aku juga enggak mau kalau sampai seperti itu lagi. Usman : Aku serius, jangan pernah lagi ya Janu. Kamu harus cepat sembuh             Me :             Yes Janu, cukup doakan aku dan aku akan cepat sembuh Percakapan yang sempat hilang sekarang kembali hadir. Aisyah dan Usman melepas rindu mereka dengan saling berkirim pesan. Tak mau mereka menyia-nyiakan waktu walau hanya semenit. Usman menceritakan pada Aisyah betapa merindunya dia saat Aisyah di rumah sakit. Usman juga menceritakan ketakutannya akan kehilangan Aisyah. Tuhan masih mendengarkan doa dua sejoli yang sedang kasmaran ini untuk tetap bisa bersama. Tanpa Aisyah tahu Usman sudah mulai berbalas pesan dengan seorang wanita bernama Sharma. Memang awalnya Sharma menanyakan pada Usman mengapa dia tidak jadi datang menemuinya di bank sesuai dengan yang sudah dijanjikan. Kemudian Usman menceritakan tentang hal yang dialaminya dan mengharuskan dirinya pulang ke rumah. Usman menceritakan tentang kekasihnya yang sedang dalam kondisi kritis saat itu. Sharma sangat terkejut setelah mengetahui ternyata Usman memiliki kekasih di negara lain, bukan di Pakistan. Namun Sharma tidak menyerah begitu saja. Kesempatan Sharma untuk mendapatkan hati Usman sangatlah besar. Dia berada di Pakistan, bahkan di kota yang sama dengan Usman. Dia juga merasa jika dirinya lebih berada di atas angin dengan kondisi kesehatannya. Semua hal itu membuat Sharma terus maju untuk merebut hati Usman, lelaki yang sudah menarik perhatiannya. Usman masih tidak menyadari jika hubungannya dengan Aisyah sedang dicoba untuk dipisahkan. Usman hanya berbaik hati dengan Sharma pada awalnya, namun karena kegencaran Sharma yang terus saja mengiriminya pesan membuat Usman juga menjadi menceritakan segala hal pada Sharma. Semua kegelisahan dan kesulitan yang melanda hatinya. Hal tersebut seharusnya tidak pernah dilakukan oleh Usman. Karena hal tersebut hanya akan membuka jalan yang lebar untuk Sharma. Sedangkan Aisyah, dia hanya menaruh seluruh kepercayaannya pada kekasihnya yang jauh di Pakistan. Aisyah tidak akan pernah menaruh curiga pada Usman. Mungkin bisa dibilang, Usman berbohong sekalipun maka Aisyah akan tetap percaya.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN