12. Side Job

2084 Kata
Setelah kembali dari rumah sakit, aku tetap menjalani treatmentku sambil menunggu donor sumsum tulang belakang yang cocok untukku. Setelah kejadian waktu aku tiba-tiba saja koma dan sempat kritis, kini dokter menyarankanku untuk melakukan operasi pencangkokan sumsum tulang belakang. Namun tidak mudah untuk mendapatkan pendonor yang cocok. Biasanya akan sangat mudah mendapatkan donor dari saudara kandung sendiri. Namun aku tidak seberuntung itu. Hasil tes menunjukkan jika masih ada ketidakcocokan. Jadi sampai saat ini aku masih menunggu pendonor yang tepat. “Assalamualaikum” terdengar suara seseorang mengucapkan salam di depan rumahku. Aku berjalan menuju pintu depan dan membukakan pintu. Dia yang berdiri di depan pintu adalah agent asuransiku. Aku langsung mempersilahkannya untuk masuk dan duduk di ruang tamu. “Dre mau minum apa?” tanyaku pada Andre, agent asuransiku. “Ehh enggak usah repot-repot Syah, aku cuma mau mampir sekalian nengokin kamu aja kok. Kamu udah sehat Syah? Maaf ya waktu kamu di rumah sakit aku belum sempet jengukin kamu, aku sedang di luar kota waktu itu" ucap Andre menjelaskan. “Alhamdulillah udah lebih sehat nih Dre. Gak apa-apa Dre kan kamu juga ada urusan sendiri, aku juga gak maksa kamu untuk jenguk kan. Hehehe.. Kalau sekarang sih masih tetap lanjutin treatment aja” “Syukur deh kalau gitu Syah” “Kamu gimana sekarang? Nasabahnya udah makin banyak nih kayaknya” “Gak juga Syah. Oh iya aku kesini mau ngajakin kamu datang ke kantor agency lagi Syah. Kamu kan dulu sempet freelance jadi agent juga. Mau ya Syah? Sharing-sharing aja gitu Syah" ternyata Andre mempunya tujuan lain selain untuk menjengukku. Dia ingin mengajakku kembali ke kantor agency asuransi tempatnya bekerja kini. “Duhh belum minat lagi Dre” aku berusaha menolak Andre karena aku juga tidak ada kepikiran untuk menjadi agent asuransi dengan kondisi kesehatanku yang sekarang ini. Masa iya seorang agent asuransi sakit-sakitan sepertiku? “Hmm ginj Syah, kamu kan pernah jadi agent asuransi, nomor agent kamu juga masih aktif kok karena nasabah yang dulu kamu ajak sampai sekarang masih lancar bayar asuransinya. Maaf sebelumnya, kamu juga sudah ngerasain manfaat asuransi buat kamu sendiri waktu di rumah sakit kemarin. Kamu sharing aja ke temen-temen kamu Syah. Aku yakin mereka pasti mau ikutan asuransi juga kalau tau manfaatnya. Dan hasilnya buat kamu juga lumayan Syah. Sekali lagi maaf loh Syah kalau kamu tersinggung” panjang lebar Andre menjelaskan sekligus membujukku untuk mau kembali menjadi agent asuransi. “Hmm iya juga sih Dre, tapi apa aku bisa ya? Apa yang mereka pikirin nanti punya agent yang gak sehat kayak aku?” pikirku tak percaya diri setelah kembali mengingat kondisiku yang sekarang. “Jangan mikir gitu dulu Syah. Aku yang bakal bantuin kamu. By the way kamu masih freelance di kantor lama kamu?” “Masih Dre tapi lagi enggak ada project kayaknya jadi aku juga gak ada kerjaan” “Yaudah Sabtu besok aku jemput ya Syah kita ke kantor agency untuk sharing sama agent lainnya, sekalian nanti aku refresh sedikit tentang asuransi takut kamu ada yang lupa-lupa” “Iya boleh Dre, nanti kita kontak-kontakan aja ya” Aku menerima tawaran Andre untuk menjadi agent freelance asuransi. Sebenarnya masih ada ketidakyakinan dalam diriku karena aku sadar akan kondisiku, namun ada baiknya bila dicoba. Setidaknya aku masih bisa bermanfaat untuk orang lain. Hari Sabtu pun tiba dan aku menginjakkan kakiku kembali setelah sekian lama tidak pernah datang ke kantor agency ini. Dulu aku ‘dijebak’ oleh Andre sehingga aku bisa menjadi agent asuransi. Namun karena pekerjaanku yang sangat sibuk aku tak bisa lagi datang ke kantor apalagi untuk mendapatkan nasabah. Bagaimana ingin mencari nasabah baru, untuk pulang sore hari dari kantor saja sudah hal yang jarang jika sedang dikejar deadline. Dulu Andre sangat mengerti dengan kesibukkanku dan mengizinkan aku untuk tidak melanjutkan menjadi agent asuransi. Namun yang tidak terduga oleh Andre, semua nasabah yang pernah aku ajak itu masih konsisten membayarkan biaya asuransi setiap bulannya. Dari situ Andre percaya jika aku masih punya kesempatan untuk menolongvorang lain melalui asuransi tersebut, dan tentu saja menolong diriku sendiri dari hasil yang akan didapat. Aku mengikuti arahan dari Andre untuk menghubungi manager di kantor lamaku, kami membuat janji untuk bertemu. Menurut Andre, untuk saat ini sebaiknya aku tetap fokus pada pengobatanku dan hanya membuat janji temu dengan calon nasabah asuransi dari orang-orang yang aku kenal saja. Setidaknya itu tidak akan menguras tenagaku untuk mencari-cari calon nasabah dari pintu ke pintu. Kucoba menghubungi pak manager namun dia baru meresponku di panggilan yang ketiga. Aku sudah hampir putus asa dibuatnya. "Halo Syah, sorry tadi saya sedang ada tamu jadi baru bisa terima telepon kamu sekarang" jelas pak manager. "Iya pak enggak apa-apa, justru saya yang minta maaf sudah mengganggu, saya enggak tahu kalau bapak sedang ada tamu" "Enggak masalah kok Syah! Oh iya gimana kabar kamu?" "Baik pak. Ehmm begini pak, sebenarnya saya ada keperluan lain menelepon bapak. Bisa kita buat janji temu pak? Sekalian saya mau main ke kantor pak, kangen sama teman-teman yang lain" aku berusaha to the point dan tidak berbelit-belit untuk membuat janji temu dengan pak manager. Karena aku sudah mengetahui kesibukkannya dan aku tidak ingin terlalu lama mengambil waktunya. "Wahh oke Syah kamu boleh datang kapan aja ke sini. Saya yakin semua teman-teman disini juga pasti senang dengan kedatangan kamu. Besok saya tunggu di kantor kalau kamu tidak ada kesibukan lain" "Baik pak, besok saya akan datang ke kantor yaa pak" tak lama setelah itu kami mengakhiri perbincangan singkat kami di telepon. Pak manager harus pergi ke suatu tempat untuk bertemu dengan klien, dan aku harus pulang ke rumah dan menyiapkan dokumen yang dibutuhkan. Esok harinya, au mendatangi kantor lamaku sesuai dengan perjanjian yang sudah aku buat dengan mantan managerku. Di depan pintu masuk aku berdiri dan terpaku cukup lama. Aku melamun sambil memperhatikan pintu masuk yang berada di hadapanku kini. Sudah lama rasanya aku tidak membuka pintu ini. Rindu juga. Pintu yang berada di depanku sekarang sepertinya sudah diperbaharui. Atau mungkin diganti ya? Kemudiam pintu tersebut tiba-tiba terbuka dari dalam dan membuyarkan lamunanku. “Loh Aisyah?” Arista kebingungan melihatku berdiri di depan pintu kantor. Aku hanya mengembangkan senyum di wajahku saat mengetahui Arista muncul di hadapanku. Tentu saja dengan cepat Arista memelukku dengan erat hingga aku sulit bernafas dibuatnya. "Ya ampun Aisyaahh aku kangen bangeett.. Seneng banget aku bisa lihat kamu di kantor kayak sekarang ini" ucap Arista sambil sedikit melonggarkan pelukannya. “Iyaa Arista aku juga kangen sama kamu. Siapa sih yang gak kangen sama temen super bawel kayak kamu" seperti yang aku duga, bibir gadis cantik di depanku kini menjadi cemberut, namun itu tak lama dan senyuman segera muncul di wajah cantik Arista. “Kamu masih hobi bercanda aja sih Syah! Kamu kayaknya cuma kangen ngusilin aku aja deh. Eh iya kamu udah sehat Syah?" bahkan Arista juga menanyakan tentang kabarku, apakah aku sudah sehat atau belum. Ya, hampir semua orang yang mengenalku akan menanyakan hal tersebut saat pertama kali bertemu atau berbicara denganku. “Alhamdulillah udah lebih baik” jawabku sambil melepaskan pelukanku. “Kamu mau ngapain kesini? Bukannya istirahat aja di rumah” “Ohh jadi aku gak boleh main kesini nih?” “Bukan gitu, aku kan cuma gak mau temanku yang satu ini nanti sakit lagi. Sedih nanti aku” jawab Arista sambil memberi cubitan di kedua pipiku. Saat sedang asik melepas rindu dengan Arista, Pak manajer yang baru saja tiba menepuk pundakku dari belakang dan mengajakku masuk ke dalam. Aku pun berjalan mengikutinya dari belakang. Sesampainya di ruangan pak manager aku dipersilahkan duduk di sofa yang ada di sana. Pak manager ikut duduk di sampingku. Kemudian aku langsung memberitahukan maksud dan tujuanku datang kesana. Cukup lama aku menjelaskan tentang asuransi pada manajer tersebut. Namun sungguh terkejut diriku bahwa dia langsung mau mendaftar di asuransi yang aku tawarkan. Bukan hanya dirinya saja namun juga satu perusahaan dengan biaya asuransi ditanggung oleh operasional kantor. Sungguh dia adalah mantan atasanku yang sangat baik. Dengan hasil seperti ini aku rasa Andre juga akan sangat terkejut. Aku memberikan beberapa form untuk diisi oleh pihak perusahaan sebelum diajukan ke kantor asuransi. Pak manager meminta Arista untuk membantuku. Selain itu aku juga membutuhkan salinan identitas tiap karyawan yang bekerja di perusahaan untuk pengajuan asuransi. Pak manager benar-benar membuat pekerjaanku menjadi lebih mudah. Dia menghubungi bagian HRD untuk menyiapkan salinan identitas karyawan. Saat semua form sudah diisi dan ditandatangani, juga semua kelengkapan sudah siap, aku berpamitan untuk pulang. Pak manager meminta Boy dan Arista untuk mengantarku pulang. Beliau ingin memastikan aku pulang ke rumah dengan selamat. Aku pun berterimakasih banyak pada beliau atas semua bantuannya hari ini. Di dalam perjalanan pulang, Boy dan Arista tidak berhentinya bercerita tentang gosip-gosip yang beredar di kantornya. Aku hanya memperhatikan mereka yang terlihat sangat seru saat membicarakan gosip tersebut. Lalu aku perhatikan sepertinya ada yang berbeda dari cara Boy menanggapi Arista. Kulihat wajah Boy dari spion tengah, dia selalu menanggapi Arista dengan tersenyum. Tatapannya sungguh berbeda, tatapan itu tatapan orang yang sedang jatuh cinta. Aku yang duduk di kursi belakang ikut tersenyum melihat tatapan Boy terhadap Arista. Setidaknya aku merasa senang, karena jika memang Boy dan Arista memiliki hubungan yang lebih lanjut maka aku percaya Boy akan bisa menjaga Arista, sahabat terbaikku itu. *** Obrolan malam ini membuatku sangat antusias. Aku dan Usman sedang merencanakan pernikahan kami. Sebagai seseorang yang bekerja di Pakistan Air Force sebenarnya dia tak bisa menikahi perempuan yang bukan berkebangsaan Pakistan. Sebenarnya aku tidak terlalu mengetahui akan hal itu, tapi begitulah yang Usman katakn padaku. Aku sempat merasa putus asa mendengar hal tersebut. Akan tetapi Usman berkata jika dia rela meninggalkan pekerjaannya dan memulai segalanya dari nol agar bisa bersamaku. Aku merasa tidak enak hati dengan rencan Usman, namun aku juga ingin bersama dengannya. Egois sungguh perasaan ini. Usman memintaku untuk sedikit bersabar karena pasti butuh waktu yang tak sebentar untuk menunggunya. Aku hanya bisa mengiyakannya. Aku dan Usman mulai menyusun rencana kami. “Janu, bagaimana aku harus minta ijin pada ayahmu?” Usman menanyakan hal tersebut padaku melalui telepon. “Papa sudah kasih ijin kok, tinggal nanti kamu sekeluarga datang ke Indonesia sebelum hari-H” jawabku tak ingin menyulitkannya. Beberapa hari sebelumnya, sesaat sebelum aku diperbolehkan pulang dari rumah sakit, aku dan papa sempat mengobrol sangat lama. Di kesempatan itu juga aku mencoba mengenalkan Usman sebagai kekasihku. Papa tidak terlalu terkejut karena mama sudah sering bercerita pada dirinya jika aku menjalani hubungan jarak jauh dengan seorang pria. Papa hanya berpesan agar aku lebih berhati-hati dalam menentukan pasangan, apalagi jika hubungan jarak jauh antar negara seperti yang sedang aku jalani ini. Papa hanya tidak mau aku dikecewakan nantinya. “And then persiapannya gimana?” Usman kembali bertanya padaku. “Nanti keluargaku yang nyiapin disini, kamu gak usah khawatir ya” “Setelah nikah nanti, kamu mau ikut aku hidup bersama keluargaku di Pakistan?” “Pasti! Aku pasti akan ikut kamu kemana aja” bukankah memang seharusnya behitu? Jika sudah menjadi seorang istri maka harus mengikuti kemanapun suaminya pergi. Harus mau ikut dimana pun sang suami akan menetap tinggal nantinya. “Tapii... Tapi keluargaku bukan orang kaya, rumah kami juga sangat biasa. Tempat tidurku tidak sebesar yang kamu punya dirumahmu. Akuu... Aku merasa minder” “Aku nerima kamu apa adanya Janu. Kamu pun udah nerima aku yang sakit kayak gini seharusnya aku yang minder” aku tidak pernah memandang orang lain dari apa yang mereka punya, aku juga tidak pernah memandang sekaya apa orang yang dekat denganku. Karena harta di dunia tidak akan dibawa mati. Aku lebih menghargai orang yang sederhana dan sangat bekerja keras untuk mengangkat kehidupannya. Seperti yang Usman lakukan saat ini, dia bekerja keras untuk dirinya dn keluarganya. Aku sungguh sangat menghargai hal tersebut. Usman terdiam sesaat. Aku tahu dia sedang memikirkan sesuatu. Mungkin aku terlalu memaksanya dan membebani pikirannya. “Janu, smile..” aku memintanya tersenyum karena aku tak mau dia mengkhawatirkan apapun. Dia sudah selalu ada untukku dan menjadi penyemangat di hidupku, jadi sekarang giliran aku membalas semua itu. Jika hanya mempersiapkan pernikahan disini, aku bisa meminta bantuan keluargaku. Pernikahan yang kami rencanakan hanyalah pernikahan yang sederhana. Mungkin kami hanya akan mengundang keluarga terdekat saja. Kata Usman, tidak perlu bermewah-mewah yang penting adalah kehidupan suami istri yang akan dijalani setelahnya. Aku sangat setuju dengan permintaannya itu. *** Keesokan harinya Andre datang kembali ke rumahku setelah aku menghubunginya untuk mengambil beberapa form pengajuan yang sudah terisi. Dia benar-benar kaget dengan setumpuk form pengajuan asuransi yang aku berikan. “Syah, yakin itu sebanyak itu? lebih dari 35 orang itu Syah” tanyanya dengan nada tak percaya sambil melihat satu persatu form pengajuan yang menumpuk di atas meja. “Beneran Dre, emang perusahaannya masih berkembang jadi karyawannya emang belum banyak banget. Itu juga katanya yang dimasukkin baru karyawan lama aja karena yang baru masih masa percobaan” “Ini udah banyak banget Syah. Rejeki kamu emang bagus ya Syah” “Alhamdulillah Dre, tolong dibantu buat submit ya Dre. Mudah-mudahan di approve semua.” “Oke Syah nanti aku bantu submit semuanya” “Thank you Dre” Dengan begini aku bisa membantu Usman untuk mempersiapkan segala hal yang akan dibutuhkan nanti. Tuhan sepertinya benar-benar membuka jalanku agar bisa bersama dengan Usman. Salah satunya membuka pintu rejeki ku dengan pekerjaan sampinganku disini.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN