Aku telah melaksanakan kewajibanku untuk melaksanakan solat subuh. Kulipat perlengkapan solatku dan kuletakkan di atas meja yang ada di kamarku. Kuambil ponsel yang juga tergeletak di atas meja tersebut. Kulihat di layar ponsel Usman mengirim pesan padaku.
Usman :
Good morning
Dia bangun terlalu awal. Aku khawatir dia akan mengantuk saat bekerja nanti. Belum sempat aku membalas pesan darinya ponselku pun berbunyi. Usman meneleponku.
“Halo assalamualaikum” aku mengucapkan salam saat menerima panggilan telepon darinya.
“Waalaikumsalan, Janu have you prayed?"
“Yes. Kamu kenapa bangun jam segini? Masih jam 3 pagi lohh disana, kamu pasti masih ngantuk kan?" walau sebenarnya di dalam hati aku berteriak kegirangan karena kekasihku sudah bangun.
“Karena aku tahu kamu pasti sudah bangun dan aku mau jadi yang pertama mengucapkan selamat pagi. Janu, selamat pagi hooaamm" suara kantuknya tidak bisa ditutupi olehnya. Usman, sesimpel itu kamu memenangkan hati ini. Mungkin aku tak akan bisa melihat lelaki lain lagi karena aku sudah jatuh cinta terlalu dalam padamu.
Usman benar-benar memperlakukanku sangat baik, bahkan terlalu baik. Seperti memperlakukan seseorang yang teramat penting baginya. Terkadang aku suka merasa bersalah karena masih belum bisa memperlakukan dirinya seperti yang dia lakukan padaku. Aku pun jadi berpikir apa benar dia yang jauh disana ingin bersamaku?
Dalam perbincangan di pagi ini Usman pada akhirnya memberitahuku jika dia pernah dihubungi oleh seorang staf bank untuk membuat kartu kredit. Dia ingin membuatku cemburu dengan mengatakan bahwa staf bank yang meneleponnya itu adalah seorang perempuan. Dia juga bilang jika suara perempuan tersebut terdengar sangat indah. Namun kesalahanku kali ini adalah terlalu mempercayai Usman. Aku terlalu percaya padanya sehingga tak timbul sedikitpun rasa cemburu di hatiku saat Usman mengatakan jika ada seorang wanita yang menghubunginya. Aku tetap mempercayainya jika dia bisa menjaga hatinya untukku.
Di tempat lain, seorang wanita sedang mencoba menghubungi Usman. Berkali-kali dia mencoba menelepon Usman namun Usman berada di panggilan lain. Usman sedang menelepon kekasihnya. Sharma merasakan sesuatu yang bergemuruh di hatinya. Dia tahu Usman sudah memiliki kekasih, tetapi dia tetap merasakan suatu ketidak sukaan jika Usman berlama-lama menelepon kekasihnya itu. Sharma ingin memiliki Usman sepenuhnya.
***
Sarapan kali ini aku membuat sandwich telur dan sayur. Aku membuat 2 porsi. Satu untukku dan satunya lagi untuk Fahri. Meli sudah lebih dulu sarapan karena harus berangkat sekolah. Fahri melontarkan pertanyaan padaku di sela-sela kami menyantap hidangan kami.
“Kak, gimana hubungannya sama Usman?”
Tidak biasanya Fahri menanyakan tentang hubungan asmaraku, biasanya aku yang selalu memulai untuk menceritakan semua hal yang menyangkut tentang diriku. Namun Fahri hanya menjadi pendengar setia dan bahkan jarang memberikan komentar. Fahri termasuk orang yang jarang mencampuri urusan percintaanku, karena hal ini bisa sangat sensitif.
“Tumben nanyain Usman, kenapa Ri?” balik aku bertanya padanya dengan penasaran.
“Nanya aja sih kak. Bingung aja kok kayaknya awet banget, gak pernah juga kakak cerita lagi berantem" jawab Fahri sambil mengunyah gigitan sandwich di dalam mulutnya.
“Usman beda dari yang lain Ri. Dia ngertiin kakak banget. Bukan gak pernah berantem, sesekali pasti pernah, tapi dia lebih milih buat nyelesaiinnya saat itu juga terus besoknya udah kayak biasa lagi.” jelasku pada Fahri. Ya tentu saja yang namanya sepasang kekasih pasti pernah bertengkar, bahkan yang sudah menjadi suami istri juga pasti tak luput dari yang namanya lertengkaran.
Kemudian Fahri bertanya tentang keyakinan diriku terhadap Usman.
“Tapi kakak yakin sama dia?"
“Emang kenapa harus enggak yakin?”
“Yaa kan kakak sama Usman pacaran jarak jauh nih, jauh banget malahan. Bahkan kakak juga belum pernah ketemu sama dia, yaa cuma ngobrol dari telepon sama videocall. Tapi kan gak tau kak aslinya gimana”
“Kakak percaya sama dia Ri, kalau emang mau cari cewek lain ya kenapa gak dari pas dia tau kakak sakit aja. Tapi dia sampai sekarang masih ada buat kakak. Kan kamu pernah ngobrol juga sama dia. Kamu bisa nilai sendiri kan Ri” begitulah yang kupikirkan tentang Usman. Sampai saat ini aku masih menaruh kepercayaan penuh pada Usman, aku masih belum mengetahui jika ada sosok orang ketiga yang sedang berusaha masuk di tengah-tengah hubunganku dengan Usman.
“Iya sih kak. Yauda kalau dia mulai aneh-aneh ke kakak nanti bilang sama Fahri aja ya kak. Nanti Fahri yang urus.” katanya sambil melahap potongan sandwich terakhir di tangannya. Kemudian Fahri bergegas mengambil tas ransel dan memakai sepatunya untuk berangkat kerja.
Saat jam makan siang Usman memberitahuku bahwa staf bank yang menelepon sebelumnya kini terus mengirimi pesan melalui w******p. Staf itu bernama Sharma, perempuan berumur 20 tahun. Menurut cerita Usman, dia meminta Usman untuk mengajukan kartu kredit di bank tersebut. Namun dulu Usman harus kembali ke rumahnya karena tidak fokus bekerja saat kondisiku sedang kritis saat itu. Kini Sharma, staf bank yang menghubungi Usman, kembali memintanya untuk mengajukan kartu kredit.
Aku pun mempersilahkan Usman untuk mengajukan kartu kredit dengan alasan membantu perempuan itu memenuhi target pekerjaanya. Sore harinya, Usman datang ke bank tempat Sharma bekerja. Tempatnya sangat dekat dengan tempat Usman bekerja. Tak kusangka Usman dan Sharma juga membicarakan hal yang tak ada kaitannya dengan kartu kredit. Usman menceritakan itu semua padaku di telepon setelah kembali dari bank.
“Janu, aku sudah bertemu dengan Sharma tadi dan udah apply kartu kredit juga” entah kenapa suata Usman terdengar sangat exited sepulangnya dari bank. Hal itu membuatku sedikit terheran.
“Okay, then?” jawabku singkat.
“Ternyata Sharma sudah tak punya ayah. Dia hanya tinggal bersama ibunya” pembicaraannya sepertinya sudah melenceng dari yang seharusnya. Untuk apa juga Usman harus mengetahui hal tersebut?
“Hmm terus..”
“Do you know? Dia menanyakan tentang anggota keluargaku"
“Yaa mungkin untuk melengkapi data saja” jawabku mulai malas. Kali ini baru kurasakan sedikit rasa tidak suka saat Usman membicarakan wanita lain.
“Sharma juga memberitahuku tentang lingkar pinggangnya, she is so fat Janu. Tidak sepertimu yang langsing” lanjut Usman dengan antusias menceritakan Sharma. Itu semua benar-benar sudah diluar dari keperluan dari kelengkapan data untuk pengajuan kartu kredit. Memangnya ditanyakan berapa lingkar pinggang si pegawai bank?
“Hmm..” padahal aku sudah semalas mungkin memberikan tanggapan pada Usman, namun tetap saja Usman melanjutkan cerita tentang pertemuannya dengan Sharma. Usman seolah tidak memikirkan perasaanku.
“Lalu dia juga bilang kalau tipe ideal untuk menjadi kekasihnya adalah orang seperti aku hahaha” Usman semakin antusias menceritakan tentang Sharma. Heii Usman, dia sudah memberi kode padamu. Dia menginginkan kamu.
Aku tak menggubris perkataan Usman kali ini. Dia tetap melanjutkan ceritanya sampai pada akhirnya aku menyela ucapannya dengan sedikit emosi.
“Kamu kayaknya tertarik sama Sharma ya? Kamu semangat banget ceritanya. Apa kamu lupa saat ini dengan siapa kamu berbicara?"
“No Janu, bukan gitu maksud aku”
“Aku tak perduli bagaimana Sharma, I don’t know her! Jadi kalau kamu memang tertarik sama dia, kamu ngobrol langsung aja sama dia. Bukan sama aku!” Setelah mengucapkan kalimay tersebut, aku langsung mengakhiri telepon kami.
Mungkin sikapku yang seperti itu salah, akan tetapi aku tak suka dia menceritakan tentang perempuan lain seantusias itu. Apa keputusanku memberinya izin untuk menolong Sharma perihal pembuatan kartu kredit adalah sebuah kesalahan? Aku berharap kepercayaanku pada Usman tidak memudar. Aku tak ingin menaruh curiga padanya, dan aku juga tidak ingin jika Usman meninggalkan diriku.
Usman terus berusaha menghubungiku setelah aku mengakhiri telepon kami barusan. Aku tak ingin menjawab panggilannya. Aku tak ingin bicara dengan Usman disaat hati ini sedang panas. Kuputuskan untuk mengiriminya pesan.
Me : I’m sorry. I feel so guilty. Aku salah udah bersikap seenaknya tapi sekarang aku mau tidur.
Mungkin memang lebih baik aku tidur untuk meredakan emosi yang sudah memuncak ini. Usman dengan cepat membalas pesanku.
Usman :
No, my fault. Aku tak akan berhubungan dengan Sharma lagi walau hanya urusan kartu kredit. I don’t wanna make you hurt. I love you. Good night
Membaca balasan yang dikirim Usman membuatku merasa jengkel dengan diriku sendiri. Aku memang emosi, cemburu mungkin, tapi mungkin seharusnya aku tidak bersikap seperti itu. Seharusnya aku lebih bisa menahan emosiku karena aku yakin Usman bukanlah lelaki seperti itu. Aku hanya tak ingin dia tertarik dengan wanita lain karena aku sadar akan kekuranganku. Kenapa harus ada wanita lain datang di tengah-tengah hubungan kami. Aku sangat tidak suka ada orang ketiga.
Usman yang juga merasa bersalah kini sedang mengetuk-ngetukkan ponselnya perlahan ke dahinya. Dia menyesal telah menyakiti Aisyah, kekasihnya. Dia tidak memikirkan terlebih dahulu apa akibat yang akan dia terima sebelum berbicara panjang lebar.
Kini dipikirannya Usman mulai menimbang-nimbang sebaiknya apa yang harus dia perbuat. Aisyah pasti akan memaafkannya karena Aisyah adalah orang yang baik. Usman juga mulai berfikir apa sebaiknya menghapus nomor Sharma dari list kontaknya. Namun entah mengapa hal tersebut sangat berat dia lakukan.
Usman kali ini memilih untuk tidak merespon Sharma dan menjauhinya secara perlahan. Tanpa Usman berpikir, justru hal tersebut akan membuatnya semakin menyelam di dalam kesalahannya. Jika Usman melakukan itu, maka ini adalah awal dari kemenangan Sharma. Usman juga memilih untuk menyembunyikan hal tersebut dari Aisyah. Ini juga adalah kali pertama Usman menyembunyikan sesuatu dari Aisyah. Niat Usman yang tidak ingin menyakiti Aisyah lagi justru menciptakan jurang peemisah antara mereka nantinya.