Sharma :
Salam bhai
Usman :
Wasalam
Sharma :
Tum kaisee ho? Tumhaaree girlfriend kaisee hai? (Bagaimana kabarmu? Kabar kekasihmu?)
Usman :
Wo achy hai (dia baik)
Sharma :
Bhai, tum meree saath kuch bhee share kar sakty hu (Bhai, kamu bisa menceritakan apapun padaku)
Usman :
Gi han bilkul (Ya, tentu saja)
Tuhan melihat apa yang tidak kalian lihat, Tuhan juga mendengar percakapan yang kalian tidak dengar. Mungkin seperti ini ungkapan yang cocok untuk Aisyah disaat dirinya tidak mengetahui jika Usman dan Sharma semakin intens berbalas pesan. Hanya karena Usman tidak ingin menyakiti kedua wanita yang dekat dengannya kini, dia memilih untuk tidak meninggalkan keduanya.
***
Semua orang terlihat sangat sibuk hari ini. Terlihat banyak parsel kue dan buah berbaris di atas meja ruang tamu. Juga banyak kotak-kotak hadiah yang sudah dihias dan dirangkai begitu indah ini ikut berbaris di sofa. Aku memegang sebuah kotak kecil berwarna merah. Dua cincin sedang berdampingan di dalamnya. Mama mengenakan kebaya brokat berwarna cokelat muda dengan corak emas, sedangkan Papa mengenakan kemeja batik lengan panjang berwarna cokelat muda dan celana panjang dengan warna yang senada. Aku sendiri mengenakan kebaya kutubaru berwarna biru muda dengan kain batik berwarna biru tua. Akan ada momen yang membahagiakan hari ini.
Beberapa mobil sudah siap di pinggir jalan di depan rumah untuk mengantarkan rombongan kami. Papa menginstruksikan kami untuk segera menaiki mobil. Hari semakin siang, Papa tidak ingin semua kebahagiaan jadi tertunda hanya karena kemacetan di kota Jakarta ini. Aku dan keluargaku berada dalam satu mobil yang sama. Papa yang memegang kemudi, Fahri duduk di kursi depan sebelah papa. Mama duduk bersamaku dan Meli di kursi tengah. Mama yang duduk diantaraku dan Meli terlihat tersenyum sumringah. Sudah lama aku tak melihat wajah mama sebahagia itu.
Di dalam perjalanan, tidak henti-hentinya mama menggandeng lenganku dan mengelus-elusnya. Wajah bahagia yang tercetak jelas di wajah mama itu juga membuatku ikut mengembangkan senyum dari bibirku. Meli pun ikut tersenyum sambil sesekali melontarkan candaannya.
Sekitar setengah jam di perjalanan, kini sampailah kami di sebuah restoran bergaya Sunda. Pihak keluarga telah membooking retauran tersebut untuk acara lamaran hari ini. Kami tak mengundang banyak orang, hanya keluarga dekat saja. Kemudian acara lamaran pun dimulai. Semua orang duduk pada tempat yang telah disediakan. Pamanku hadir sebagai pembawa acara saat itu.
“Apakah keluarga pihak perempuan menerima lamaran dari pihak laki-laki?” tanya pamanku pada keluarga Nita, kekasih Fahri.
“Kami menerima nak Fahri untuk melamar putri kami” jawab Ayah Nita dengan suara sedikit gemetar karena grogi.
“Tapi tunggu dulu, Nita nya mau apa enggak? Takutnya kita udah pede kayak gini malah Nita gak mau. Nanti paman kan jadi malu" tambah pamanku sedikit melucu.
Nita menganggukkan kepalanya pelan tanda menerima lamaran yang disampaikan pamannya Fahri tersebut. Kemudian Nita tersenyum malu sambil menatap Fahri yang terlihat sangat tampan mengenakan batik lengan panjang berwarna merah sedang berdiri di hadapannya.
“Coba sekarang giliran Fahri melamar Nita” lanjut pamanku sambil menyodorkan microphone ke depan mulut Fahri.
Fahri mengambil microphone tersebut dengan tangan kirinya lalu dia menurunkan tubuhnya dan bertumpu pada lututnya. Diraihnya jemari Nita dengan tangan kanannya.
“Nit, maukah kamu menikah dengan aku?” Fahri melontarkan kalimat lamarannya pada Nita. Ditatapnya Nita dengan romantis sehingga membuat wajah Nita semakin tersipu dan berubah kemerahan. Lalu Fahri menyodorkan microphone yang dipegangnya tepat di depan mulut Nita. Nita menghela nafas sebelum menjawab Fahri.
“Iya aku mau” jawab Nita sambil mengganggukkan kepalanya. Seluruh keluarga bertepuk tangan karena bahagia. Kulirik mamaku sedang mengelap air matanya sambil menyunggingkan senyuman. Aku pun sangat bahagia karena Fahri telah menemukan jodohnya.
Fahri mengambil sepasang cincin dari dalam kotak yang sedari tadi aku genggam. Dimasukkannya salah satu cincin ke jari manis tangan kiri Nita. Lalu begjtu juga dengan Nita setelahnya. Melihat Fahri dan Nita yang saling memasukkan cincin ke jari manis masing-masing membuatku membayangkan jika yang sedang berdiri di depan itu adalah diriku dan Usman. Pasti aku akan sangat merasa bahagia jika hal tersebut benar-benar terjadi. Aku sudah tak sabar menantikan hal tersebut.
***
Hari pernikahan Fahri dan Nita pun tiba. Pernikahan mereka diadakan di sebuah aula pertemuan sebuh Masjid. Aula tersebut disulap menjadi ruang resepsi yang mewah dengan d******i warna emas menghiasi dindingnya.
“Saya terima nikahnya Nita Sutandi binti Hari Sutandi dengan mas kawin tersebut dibayar tunai”
“SAH”
Kedua pihak keluarga terlihat sangat bahagia setelah dengan lantang dan lancar Fahri mengucapkan ijab qabul. Mamaku dan juga mamanya Nita meneteskan air mata bahagia sehingga membuat bulu mata palsu yang dikenakan mamaku harus terlepas dan dipasang kembali sebelum menyapa para tamu di panggung resepsi.
Setelah akad nikah dilaksanakan. Aku memeluk Fahri erat mengungkapkan kebahagiaanku. Tak kusangka adikku sudah sangat siap dengan tanggung jawab sebagai seorang suami. Setelah memeluk Fahri aku memindahkan kedua lenganku untuk memeluk Nita. Aku berbisik pada Nita dengan suara pelan.
“Nit, jagain adik kakak satu ini ya. Kakak percaya sama Nita” Nita melonggarkan pelukanku dan menganggukan kepalanya sambil tersenyum.
Saat resepsi berlangsung, aku duduk di pojokkan di ruang resepsi pernikahan. Aku mengeluarkan ponselku dan melihat ada pesan masuk dari Usman.
Usman :
Janu, What are you doing?
Me :
Fahri’s wedding now. Aku sedang mojok sekarang hehe
Usman :
Sampaikan salamku padanya, dan selamat atas pernikahannya
Me :
Okay Janu
Aku akan mencoba meminta restu mama papa untuk hubunganku dengan Usman. Mereka memang sudah menyetujui aku berpacaran dengan Usman dan sepertinya aku juga sudah pernah membicarakannya dengan papa tentang keseriusan hubunganku tersebut dengan Usman. Sebaiknya aku memastikannya kembali dan meminta restu secara benar pada kedua orang tuaku.
Setelah menikah, Fahri dan Nita untuk sementara akan tinggal bersama kami di rumah. Mereka sudah mencari tempat tinggal yang baru namun proses persetujuannya masih belum juga selesai. Karena hal tersebut, aku menjadi sangat dekat dengan Nita. Dia bercerita tentang bagaimana awalnya bisa berpacaran dengan Fahri. Nita bekerja di toko tempat Fahri menjabat menjadi store head. Kata Nita pembawaan Fahri saat bekerja sangatlah tegas, tak pandang bulu. Bahkan Fahri pernah memberikan surat peringatan pada Nita karena pulang lebih awal dari jadwal. Padahal saat itu mereka sudah berpacaran.
Fahri berjanji melamar Nita kalau dia diangkat menjadi Area Head tahun ini. Doa Fahri dan Nita pun didengar oleh Tuhan dan mereka sudah menjadi sepasang suami istri saat ini. Mendengar cerita Nita membuatku juga ingin segera menikah dengan Usman. Aku berharap Mama dan Papa segera menyetujui dan merestui kami.
Setelah makan malam aku menghampiri papa yang sedang asik minum teh di ruang tamu. Aku mempersilahkan diriku sendiri untuk duduk disamping papa. Kemudian mama datang dengan membawakan dua mangkuk ketan s**u untukku dan juga untuk papa. Lalu mama duduk di kursi lain di dekat papa. Aku mencoba membuka pembicaraan tentang hubunganku dan Usman.
“Pa, Ma, Fahri kan sudah nikah. Icha boleh kan kalau ngerencanain nikah juga?”
“Mau nikah sama siapa kamu Cha?” tanya mamaku.
“Kamu mau nikah sama orang Pakistan itu?” lanjut papa menanyaiku.
“Iya pa, Icha kan gak ada yang lain lagi emang cuma sama dia pa” jawabku.
Papa terdiam sejenak. Disandarkan tubuhnya ke sofa dan menyilangkan kedua tangan di depan dadanya. Mama menarik kursinya lebih dekat dengan kami.
“Cha, kamu serius sama si dia? Siapa namanya?” tanya mama.
“Usman ma namanya, Usman Achmed. Icha serius ma masa icha bercanda sih sampai minta ijin nikah gini. Kayaknya sebelumnya Icha juga sudah pernah ngomong sama papa deh"
“Kamu yakin Cha?” papaku juga bertanya hal serupa.
“Iya pa yakin, Icha serius” jawabku meyakinkan.
“Bukan apa-apa Cha, papa sama mama aja belum pernah melihat orangnya. Dia juga kan tidak bisa datang kesini karena tinggalnya jauh di Pakistan sana. Papa ragu kalau harus merestui kalian nikah. Terus kalau sudah direstuin mau nikahnya gimana Cha?”
“Betul Cha, mama juga sepemikiran sama papa kamu. Mama papa ijinin kalian pacaran awalnya karena memang kamu kelihatan nyaman dengan hubungan jarak jauh kalian, tapi kalau nikah nanti mau gimana nikahnya?”
“Pa, Ma.. Icha sama Usman udah ngerencanain nikah ma. Usman juga udah ngelamar Icha sebelumnya, cuma emang belum ngomong langsung sama mama papa aja karena kan dia gak bisa ninggalin kerjaan dia. Usman sama Icha serius kok. Pa? Bukannya Icha udah pernah ngomong sama papa ya? Icha sama Usman mau nikah yang sederhana aja"
“Yasudah kalau memang kalian serius, minta Usman bicara langsung sama papa. Papa dan mama pasti merestui kalian. Kali ini gak ada tawar menawar ya Cha, Usman sendiri yang harus bicara sama papa" aku menghela nafas lega, akhirnya papa memberikan kami kesempatan. Aku pasti akan meminta Usman untuk berbicara dengan papa di telepon nanti. Tuhan telah membukakan jalan kami lagi untuk bisa bersama.
Sudah sekitar dua bulan Fahri dan Nita tinggal bersama kami, dan kemarin sepulang bekerja Fahri memberitahukan jika mulai besok mereka akan pindah ke tempat tinggal mereka yang baru.
Keesokan harinya, setelah jam makan siang, Fahri dan Nita sedang mengepak barang-barang mereka. Hari ini mereka akan pindah ke sebuah apartemen yang Fahri beli untuk tempat tinggal mereka. Rumah ini akan terasa sepi tanpa mereka. Ini adalah awal dari kehidupan baru mereka. Semoga di tempat tinggal yang baru mereka akan lebih bahagia.
Barang-barang sudah selesai dimasukkan semuanya ke dalam mobil pick up yang sudah terparkir di depan rumah. Mobil pick up tersebut jalan terlebih dahulu kemudian diikuti Fahri dan Nita membuntuti menggunakan motor. Aku dan sisa keluarga yang lain menyusul mereka menggunakan mobil. Kami juga ingin melihat tempat tinggal baru yang akan mereka tempati sekaligus membantu mereka untuk beres-beres.