Pagi ini Usman belum menghubungi Aisyah, dia sedang menelepon kakaknya untuk membicarakan rencana pernikahannya dengan Aisyah. Saat Aisyah memberitahu Usman jika orang tuanya sudah memberi lampu hijau, dia berkata jika dia harus meminta restu kakaknya terlebih dahulu sebelum meminta restu kedua orang tuanya, dan juga sebelum berbicara langsung pada orang tua Aisyah tentunya. Adiknya, Fateeyah, sudah merestui hubungan mereka. Aisyah pun belum tahu apakah kakak Usman akan memberikan restunya atau tidak.
“Usman, are you crazy?” kakaknya melontarkan kata-kata tersebut pada Usman di telepon.
“Aku tidak gila Bhai, aku menjalin hubungan dengan Aisyah sudah hampir setahun. Kami mau menikah” jawab Usman dengan tegas.
“Tidak, kau gila!”
“Kenapa Bhai? Apa karena dia gadis Indonesia? Bukan Pakistan?”
“It’s not a problem that she is Indonesian or Pakistani, masalahnya adalah dia pengidap Leukemia! Ammi juga tak mungkin akan menyetujuinya. Lagipula jodohmu sudah diatur oleh keluarga. Begitulah adat istiadat kita” Usman terdiam mendengar kalimat yang baru saja diucapkan kakaknya.
Pakistan dikenal dengan adat istiadat yang sangat mengikuti ajaran islam. Tak ada kata pacaran dalam islam. Banyak keluarga di Pakistan yang melakukan ta’aruf untuk mencari pasangan hidup, atau perjodohan dengan saudara jauh itu sangat disarankan.
Usman tetap bersikukuh meminta restu dari kakaknya. Tidak diperdulikannya lagi adat istiadat. Kakaknya juga tetap menolak. Jika memang Usman ingin mencari calon pendamping hidup setidaknya carilah gadis yang tidak terlalu jauh dan juga sehat. Begitulah yang diinginkan kakaknya. Setelah perdebatan yang panjang dengan kakaknya, Usman pun mendapat persetujuan darinya. Namun kini Usman tak tahu harus bagaimana meminta ijin dari ibunya. Dia takut sang ibu tak akan merestuinya karena kondisi Aisyah.
Ditengah kegalauan yang melanda pikiran Usman, ponsel Usman berdering. Aisyah meneleponnya.
“Assalamualaikum Janu” Usman memberi salam.
“Waalaikumsalam. What are you doing?”
“Aku tidak sedang apa-apa, kalau kamu sendiri?"
“Eehhmm thinking of you” jawab Aisyah dengan lembut. Raut wajah Usman yang tadinya sangat suram berubah seketika setelah mendengar jawaban Aisyah. Disunggingkannya senyuman di wajahnya.
Usman mencintai Aisyah namun akan sulit jalan yang harus dia tempuh. Dia harus mengundurkan diri dari pekerjaannya jika ingin menikahi perempuan dari Negara lain, itu artinya dia akan menjadi pengangguran terlebih dahulu. Sedangkan keluarganya bukanlah orang berada seperti keluarga Aisyah. Belum lagi Usman bingung bagaimana harus meminta restu dari orang tuanya, terutama ibunya.
“Janu?” suara Aisyah memecah lamunan Usman.
“Ah yes Janu”
“Kok kamu ngelamun?”
“Enggak kok cuma sedikit ngantuk aja” jawab Usman mengelak.
“Janu, don’t lie to me. Ada masalah apa?”
Pertanyaan itu sangat sulit untuk Usman jawab. Tak mungkin dia memberitahu Aisyah tentang apa yang sedang mengganggu pikirannya kini. Usman tak ingin membuat Aisyah bersedih. Tapi Usman juga tak ingin berbohong pada Aisyah. Makin rumit pikiran Usman saat ini.
“Janu?” suara Aisyah memecah lamunannya kembali.
“Ah ya, don’t worry Janu. Aku gak apa-apa”
“Janu.. Apa ini karena rencana pernikahan kita? Apa Bhai Tayyab gak setuju?”
“No no, dia setuju kok. He also will help us” jawab Usman dibumbui sedikit kebohongan agar tidak membuat Aisyah khawatir.
“Beneran? Alhamdulillah..” Aisyah merasa lega mendengar jawaban Usman.
“Yes, Don’t worry”
“Kalau ibu kamu?” pertanyaan sulit lainnya yang dilontarkan Aisyah. Usman berpikir harus menjawab apa.
“Ammi setuju Janu, dia sangat menyukaimu” Tidak, maafkan aku harus berkata bohong. I don’t wanna hurt you.
“Really?? Alhamdulillah Janu aku senang dengernya. Jadi nanti kamu tinggal ngomong sama papaku aja ya”
“Okay Janu”
Setelah mengakhiri panggilannya Usman memukul dahinya perlahan dengan tangan terkepal. Usman benar-benar dilanda kebingungan. Keraguan pun mulai menghampiri Usman. Apa dirinya dan Aisyah akan dapat berjodoh? Jarak yang sangat jauh ini benar-benar menjadi hambatan. Tak adakah jembatan yang akan memudahkan hati mereka untuk bersatu?
Tidak beberapa lama setelahnya, suara ponsel Usman kembali berdering. Dilihat layar ponselnya untuk mengetahui siapa yang meneleponnya. Sharma yang sedang meneleponnya kini. Berharap bisa sedikit mengurangi beban pikirannya, Usman pun menerima panggilan telepon dari Sharma. Diluapkan segala beban yang kini sedang memberatkan Usman. Di seberang sana Sharma mendengarkan Usman dengan menyunggingkan senyum bahagianya. Saat ini, Sharma cukup menjadi pendengar yang baik bagi Usman, karena Sharma yakin lama kelamaan Usman akan merasa semakin membutuhkan Sharma. Perlahan-lahan Usman akan melepaskan genggamannya pada Aisyah.
***
Aku sedang duduk di ruang tamu menunggu Arista dan Boy datang menjemputku. Kami sudah janjian untuk pergi shopping sore ini. Kulihat dari dalam sebuah mobil berhenti di depan pagar rumahku. Honda Mobilio berwarna putih. Itu adalah mobil milik Boy. Kemudian terdengar suara klakson dari mobil tersebut pertanda aku harus segera menghampiri mereka.
Aku duduk di kursi tengah sendirian. Arista duduk di kursi depan menemani Boy. kemudian Boy langsung melajukan mobilnya menuju sebuah mal di daerah Senayan. Sesampainya di mal kami bertiga memutuskan untuk makan terlebih dahulu. Arista benar-benar memilihkan makanan yang baik untukku. Dia ikut menjaga kesehatanku juga. Selesai makan kami bertiga berkeliling mal. Sesekali kami berhenti untuk duduk karena aku merasa lelah. Aku melihat sebuah kemeja berwarna biru muda sedang dipakai oleh patung mannequin di sebuah toko. Aku membayangkan jika Usman yang memakai kemeja itu pasti akan sangat cocok dengannya. Tanpa pikir panjang aku membeli kemeja tersebut. Arista bertanya untuk apa aku membeli kemeja tersebut, aku pun menjawabnya untuk calon suami. Arista dan Boy langsung menepuk pundakku dan berkata untuk mengundang mereka ke pernikahanku nanti. Aku hanya tertawa kecil mendengar gurauan mereka.
Sesampainya di rumah langsung kurebahkan badanku di kasur. Sangat melelahkan namun sangat menyenangkan karena sudah sangat lama aku tak pergi berbelanja seperti ini lagi. Kutengok ponselku tak ada satupun pesan dari Usman. Tumben sekali. Mungkin karena dia tahu aku akan jalan dengan Arista dan Boy jadi dia berusaha untuk tidak menggangguku. Aku mengabarinya jika aku sudah berada di rumah. Dia membalas pesanku dan menyuruhku untuk beristirahat. Aku meneleponnya namun dia sedang berada di panggilan lain. Aku tak mencurigainya karena dia juga terbiasa untuk bertelepon dengan kakak atau ibunya. Tak lama setelah itu Usman memberiku panggilan video.
“Halo Assalamualaikum” aku mengucapkan salam padanya.
“Waalaikumsalam Janu. How was your day?”
“Tidak menyenangkan sama sekali” otak usilku datang.
“Kenapa?” tanya Usman penasaran.
“Because..” kuhentikan sejenak perkataanku.
“Kenapa Janu” tanyanya semakin penasaran.
“Because you’re not with me” aku melanjutkan perkataanku untuk membuatnya tersipu.
“Oh ya Allah my Janu is kidding me” jawabnya sambil tertawa.
“Janu janu, aku suka banget bunga matahari” otak usilku muncul lagi.
“Ya itu bunga yang bagus”
“Bunga matahari selalu mengikuti arah sang surya”
“Yes, kamu benar”
“Seperti aku yang akan selalu ngikutin kamu kemanapun kamu pergi, hahaha”
“Januuuu…” Usman benar-benar tersipu.
Aku sangat suka reaksi Usman saat sedang jatuh dalam gombalanku. Kalau dipikir-pikir entah sejak kapan aku belajar kata-kata gombal seperti itu. Tapi aku sangat suka melihatnya tersenyum atau bahkan tertawa dengan kata-kataku. Setidaknya itu tanda bahwa dia juga merasa bahagia dengan gombalanku.
Ditengah perbincangan antara aku dan Usman, tiba-tiba saja Usman berkata jika Sharma masih sering menghubunginya. Sesekali Sharma menanyakan kabarnya dan juga menanyakan apa yang sedang Usman lakukan. Aku tak ingin hal itu terus berlarut. Namun Usman tak bisa mengabaikan Sharma. Alasannya dia kasihan dengan Sharma yang harus banting tulang untuk menghidupi dirinya dan ibunya. Usman pun bilang bahwa Sharma memandang Usman seperti seorang kakak. Bahkan Sharma memanggil Usman dengan sebutan Bhai. Hatiku yang tadinya cerah kini mulai mendung. Bagaimana bisa Sharma merasa sangat dekat dengan Usman hingga memanggilnya Bhai? Sudah pasti mereka sering berkomunikasi. Ini seperti de javu. Sepertinya aku pernah mengalami diriku berada dalam situasi seperti ini. Situasi dimana ada orang ketiga diantara hubunganku.
Aku merasa marah pada Usman. Aku merasa Usman menyembunyikan sesuatu padaku tentang Sharma. Hatiku kini yakin Usman sudah sering menghubungi Sharma. Aku mangakhiri panggilan video kami. Itulah kebiasaan jelekku, selalu mengakhiri panggilan terlebih dahulu jika aku merasa kesal atau marah.
Usman tetap menelepon dan mengirimiku pesan. Aku hanya membuka semua pesan darinya tanpa membalasnya satupun. Ada satu video yang dia kirimkan padaku. Dia merekam layar ponselnya saat dia menghapus nomor Sharma. Seharusnya aku senang tapi nyatanya aku malah menangis. Kenapa aku harus bersikap seperti ini lagi pada Usman. Aku merasa diriku sangat jahat pada Usman. Padahal seharusnya tak masalah jika Usman memiliki teman disana walau dia seorang perempuan. Aku pun mempunyai teman yang laki-laki disini. Sungguh aku merasa sangat jahat. Mungkin ini semua karena kondisi kesehatanku. Karena aku sakit. Aku takut Usman akan berpaling pada perempuan lain. Perempuan yang sehat tidak sepertiku.
***
Usman masih dengan keraguan di hatinya. Sharma masih tetap mengirim banyak pesan padanya. Nomor Sharma memang sudah dihapusnya tetapi dia tidak meblokir nomor tersebut dan itu artinya Sharma masih bisa menghubungi Usman.
Usman memang sudah berkata jujur pada kekasihnya, Aisyah, jika Sharma masih sering menghubunginya. Padahal lebih tepatnya mereka masih saling menghubungi. Usman tidak ingin menyembunyikan sesuatu lagi pada Aisyah. Jika dia benar serius maka dia harus memulai untuk lebih jujur lagi dalam segala hal.
Usman tidak bermaksud untuk bermain di belakang Aisyah, tapi saat ini Usman benar-benar butuh teman untuk membagi masalah yang melanda pikirannya. Usman tidak mungkin menceritakannya pada Aisyah apalagi masalah ini menyangkut dirinya. Usman juga tidak bisa bercerita pada kakaknya, Tayyab. Karena Tayyab merestui hubungan mereka dengan sedikit paksaan dari Usman. Oleh karena itu Usman memilih untuk menceritakannya pada Sharma.
Diambilnya ponsel dari saku celana Usman dan kemudian Usman menelepon ibunya. Usman tidak secara langsung meminta restu pada ibunya. Ibunya hanya tahu jika Usman mempunyai teman dari beda Negara yang sedang sakit, tapi tidak tahu jika Usman menjalin hubungan yang serius dengan teman dari beda negaranya itu, Usman menjalin hubungan dengan Aisyah. Usman membicarakan Aisyah di telepon namun dari respon yang diberikan sepertinya sang ibu tidak suka jika Usman terlalu sering berinteraksi dengan Aisyah. Usman mencoba mengalihkan pembicaraannya dan menceritakan tentang Sharma. Kali ini sang ibu memberikan respon positif terhadap Sharma. Usman semakin meragu terhadap perasaanya. Dia semakin bingung bagaimana dia harus memperjuangkan Aisyah. Apa dia harus melonggarkan ikatannya pada Aisyah?