“Will you marry me?” tiba-tiba saja terdengar suara Rendi yang dengan lantangnya melamar wanitanya itu. Langkah kakiku terhenti, hatiku terasa semakin sakit, semakin perih. Kuberanikan diriku untuk membalikkan tubuhku. Aku ingin melihat Rendi untuk terakhir kali sebelum akhirnya kami harus berpisah. Mataku terpaku tak bisa beralih menatap Rendi yang sedang berlutut. Air mata yang sedari tadi sudah membasahi pipiku kini semakin deras mengalir. Ingin rasanya kini aku seperti anak kecil yang dengan bebasnya menangis dan merengek. Aku tidak pernah menyangka hal seperti ini akan terjadi pada diriku. Dia, Rendi, lelakiku, kini sedang berlutut dengan menggenggam sebuah buket mawar kuning besar dan sedang melamar kekasihnya. “Tolong jawab aku, will you marry me?” ya, lelaki yang sedang berlutut

