Aku harus kehilangan calon buah hatiku sebelumnya karena kondisiku yang melemah saat hamil. Jumlah sel darah merah di dalam tubuhku menurun drastis, dan membuatku jatuh dalam kondisi sangat lemah. Aku sudah mencoba untuk tetap kuat, tidak mau merasakan sakit atau lemas yang muncul karena kekurangan darah. Dokter sempat mengkhawatirkanku karena riwayat kesehatanku sebelumnya. Tetapi sebagai seorang dokter tentu saja dia mengusahakan yang terbaik untukku. Akan tetapi kembali lagi, manusia hanya bisa berusaha dan berencana, namun hasil akhirnya ada di tangan Tuhan. Aku harus merelakan calon buah hatiku pergi dari dalam rahimku. Aku harus mengikhlaskannya, begitu juga dengan suamiku, Rendi, yang saat itu sangat merasa bersalah atas terjadinya hal tersebut. Kala itu, disaat aku sedang berjuan

