"Please.. Aku mau minum semua vitamin, aku bakal makan semua makanan sehat, tapi please jangan paksa aku untuk cek darah yaa" wajahku yang terlihat pucat kini menatap Rensi dengan tatapan penuh memohon. Aku masih takut jika mendengar ada kelainan di hasil pemeriksaan darahku nanti. Trauma itu terus berputar di pikiranku. "Kamu istirahat saja Cha. Cepat tidur gih.." Padahal mama Sisil bicara sudah sangat jelas, namun suaranya semakin terdengar jauh dari telingaku. "Heemm? Kenapa.. Ma?" Pandangan mataku semakin lama semakin kabur, sama seperti pendengaranku. Tiba-tiba aku sudah tidak melihat dan mendengar apapun. *** Rendi mengendarai mobilnya ugal-ugalan setelah menerima telepon dari mama Sisil. Dia tidak perduli jika harus menabrak pengendara lainnya, yang terpenting sekarang dia harus

