Chapter 1 : First Kiss
09.00
Stanford University, California
Waktu berjalan begitu cepat, hingga tanpa disadari, semester terakhir dari kuliah mereka sudah dekat.
Para mahasiswa sibuk mempersiapkan acara perpisahan mereka, sekaligus fokus dengan tugas serta ujian terakhir yang akan tiba akhir pekan ini.
Jade Avizi, dosen International Relation termuda sepanjang sejarah, memberikan mahasiswanya tugas terakhir sebelum ujian akhir dari semester terakhir para mahasiswanya.
Seluruh mahasiswa International Relation tahu bahwa Jade Avizi adalah satu-satunya dosen yang tidak akan bisa mereka beri alasan jika tidak selesai mengerjakan tugas yang ia berikan. Siswa yang terlambat akan langsung ia skors atau bahkan tidak diluluskan disemester akhir nanti.
Didalam kelasnya, semua mahasiswanya sangat teratur dan disiplin, mengingat Jade Avizi memiliki prinsip yang sangat keras terhadap semua mahasiswanya.
18.00
Malam ini adalah jadwal bagi semua mahasiswa untuk mengumpulkan tugas terakhir mereka.
"Kumpulkan tugas yang diberikan. Itu akan menjadi tugas terakhir kalian sebelum lulus, dan seperti biasanya tidak ada alasan untuk keterlambatan pengumpulan," ujar Jade Avizi dengan tegas.
Seluruh siswa mulai mengumpulkan tugas mereka, baris berbaris menuju meja dosen dan mengumpulkan tugasnya, ada juga yang langsung mengirimkan hasil tugas mereka ke email dosennya itu.
Jade Avizi memeriksa dan mengecek jumlah eksamplar tugas yang dikumpulkan mahasiswanya. Namun, hari ini tidak lengkap. Jade merasa kekurangan satu set tugas dari salah satu mahasiswanya. Jade langsung mengeluarkan data absensi dan memeriksa satu persatu nama yang sudah mengumpulkan tugas. Jade langsung tahu siapa yang belum mengumpulkan tugasnya.
Nick Jordan memberanikan diri untuk berdiri dan langsung mengakui bahwa dirinya belum mengumpulkan tugas terakhir ini.
"Saya belum mengumpulkannya karena saya belum menyelesaikan tugas itu. Hari ini, Saya akan mengumpulkan tugasnya, paling terlambat tengah malam ini. Saya bukan tidak mau mengerjakan, but, something urgent came up lastnight, dan saya tidak punya sedikitpun kesempatan untuk mengerjakannya, dan saya tidak mau diskors ataupun gagal lulus tahun ini, please understand my situation,” ujar Nick Jordan dengan berani , walaupun suaranya memang jelas terdengar bergetar cukup hebat.
"As you know, saya tidak menoleransi alasan apapun. But, If you think your reason is acceptable, you can come to my office and tell me, dan jangan lupa sertakan bukti," ujar Jade Avizi
“Thankyou,” balas Nick Jordan sambil membungkukkan kepalanya 45 derajat.
Nick Jordan tersenyum karena merasa beruntung diberikan kesempatan untuk setidaknya menjelaskan apa yang ingin ia jelaskan. Hatinya berdetak cukup karuan, karena dosen killer itu mengijinkannya menjelaskan apa yang ingin ia jelaskan.
Setelah kelas berakhir, Nick Jordan dengan antusias berlari menuju ruangan pribadi dosennya itu. Nick berdiri diluar ruangan menunggu dosennya meninggalkan ruangan kelas tadi.
Senyum terukir diwajah Nick Jordan saat melihat Jade Avizi. Jade Avizi membuka pintu ruangannya dan menyuruh Nick untuk masuk. Tentu, Nick dengan semangat masuk dan tidak membantah sedikitpun. Jade duduk di sofa ruangannya.
“Sekarang, katakan apa yang ingin kau katakan, kuberikan kau lima menit untuk menjelaskannya. Kuharap kau menjelaskannya dengan singkat, padat dan jelas,” ujar Jade Avizi
Sayangnya, Nick tidak menggunakan waktunya dengan bijak, ia memilih mendekat pada Jade Avizi. Kurang dari kurun waktu tiga detik, Nick Jordan langsung mengangkat Jade Avizi ala bridal style yang membuat Jade Avizi bernostalgia sesaat.
“Apa yang kau lakukan?” Jade memberontak keras, namun Nick hanya mengabaikannya. Ia kemudian menjatyuhkan dosennya itu disudut ruangan. Jade terus menerus memukul Nick Jordan dari back hingga bahkan dadanya. Namun itu tidak menghentikan Nick untuk terus mendekat pada Jade.
Kedekatan mereka sekarang membuat Jade bisa merasakan nafas mint yang dimiliki Nick Jordan. Jade menutup matanya perlahan, ada berbagai rasa yang tidak bisa dijelaskan, detakan jantung Jade bahkan tidak teratur.
“Lepaskan aku atau kau akan ...” belum selesai ia mengatakannya, bibir Jade sudah terhalang oleh asal dari bau mint khas mahasiswanya. Ia bisa merasakan sesuatu yang pertama kali ia rasakan dalam hidupnya dan nyaris membuatnya gila, bibir seseorang. Gosh! Ini this is crazy! Batin Jade terus menggebu tidak beraturan. Sedangkan otaknya kehilangan kontak dengan jiwanya saat itu juga.
“Apa yang kau lakukan? Berani sekali kau menyapu bibirku dengan bibir kotormu itu, kupastikan kau akan gagal tahun ini, Nick Jordan,” ujar Jade Avizi dengan wajah yang mendengus kesal.
Nick belum merespon apapun yang dikatakan oleh Jade Avizi, masih berdiri dan ragu jika dirinya berbuat hal segila itu pada dosennya sendiri. Setelah separuh jiwanya kesadarannya kembali kepadanya, ia menunjukan sesuatu pada Jade Avizi yang membuat Jade langsung terkejut dengan perlakuan mahasiswanya.
Nick merekam adengan mereka.
“Lebih baik kau menghapusnya, atau kau akan merasakan akibatnya sendiri ,” ancam Jade Avizi
Namun ancaman itu sepertinya tidak sama sekali mempengaruhi Nick, ia tetap terus gigih dan berani. Nick berfokus membuat Jade setuju untuk meloloskannya.
“Kurasa tidak masalah jika aku saja yang menyimpannya, tapi mungkin akan kusebarkan jika miss menolak untuk meloloskanku. Bukankah miss bisa diekluarkan jika melakukan hal semacam ini di perkuliahan ini? Coba pikirkan lagi,” tawar Nick Jordan.
“Baiklah kau akan kuloloskan, sekarang hapus rekaman itu,” balas Jade dengan malas diikut sertakan dengan nada yang memelas.
“Nanti akan kupikirkan lagi, sekarang aku pergi dulu, ini sudah larut dan aku masih harus mengumpulkan tugasku tengah malam ini, terima kasih untuk hari ini,” ujar Nick sambil tersenyum meninggalkan ruangan Jade.