Chapter 3 :Who knows it becomes love?

493 Kata
20.00 Cambria Landing Inn, California Bel tempat tinggal Jade berbunyi, Jade tidak mengetahui siapa yang datang dijam selarut ini. Jade mengabaikan bel yang dari tadi sudah berbunyi. Kemalasan menyerangnya. Jade memilih untuk menikmati jus jeruk yang telah ia buat dan menikmati tayangan yang sedang ia tonton. Jade sangat membenci orang yang mengusik ketenangannya dimalam hari. Karena bel terus berbunyi dan tidak berhenti walau sudah sepuluh menit lamanya, ia memutuskan untuk membuka pintu kamarnya. Jade terkejut dengan siapa yang ia lihat saat ini, matanya melebar dua kali dari biasanya, Ia terkejut melihat sosok yang ada dibalik pintu. “Kenapa kau datang kemari?”tanya Jade Avizi , desiran darahnya mengalir lebih deras, detak jantungnya berubah menjadi lebih kencang. “Aku datang untuk sesuatu tentunya, kau lupa sesuatu?” tanya Nick “Apa?”tanya Jade kesal “hari ini aku belum dapat kiss kiss sayang,”ujar Nick tersenyum. “Oh,”balas Jade singkat. Tidak mau mengulur waktu, ia langsung mendaratkan satu kecupan singkat dibibir ranum Nick. Ia malas jika makhluk itu terlalu lama berada ditempatnya. Setelah Jade melepaskan kecupannya, Nick memeluknya erat, mendaratkan kecupan dibibir Jade. Jade hanya diam mematung. Jade berusaha mengembalikan kesadaran penuhnya kembali. “Nick!” pekik Jade berusaha menghentikan perlakuan mahasiswa. Nick melepas ciumannya. "Shh! Just enjoy it ,who knows it becomes love,right?" ujar Nick santai. Kemudian, Nick melanjutkan lumatan yang lepas tadi. Jika Jade boleh jujur, ciuman Nick itu memabukkan,membuat Jade terbang ke atas dan lupa pada dunia. Namun, sedikit rasa takut cukup menguasai dirinya. Nick melihat mata dosennya yang tiba-tiba berubah. Nick melihat ada kesedihan dan rasa sakit di mata dosennya itu. "Apa aku melukaimu , Jade?"tanya Nick menatap Jade bersalah. "Tidak," balas Jade sedih "I love you , Jade. And that's the only reason why I am here,"ujar Nick "I’m your lecturer, and you’ve no right to love your lecturer. Kamu bisa di skors dari perkuliahan. I don’t care anymore, aku hanya ingin kau serius dalam perkuliahanmu, jangan bermain-main terus," ujar Jade yang tanpa ia sadari ia meneteskan airmatanya. Nick mengusap air mata Jade yang tumpah, kemudian memeluk Jade semakin erat. Jade tidak membalas pelukan itu. Ia hanya diam mematung. "Jade, bagi saya kamu lebih penting dari apapun. Maybe you're my lecturer but I love you. Saya percaya cinta bukan sebuah dosa. bukankah begitu , bu dosen?" tanya Nick melempar senyuman hangat. "Cinta memang bukan dosa. Tapi masa depanmu akan hancur jika kamu jatuh cinta padaku. Hidupku kelam . Kamu akan ..." Jade belum siap menyelesaikan kalimatnya, Nick sudah kembali menyerang bibirnya. "It's okay, as long as I can be with you ,I'm fine ," ujar Nick berusaha keras meyakinkan Jade. "Please don’t drop your precious tears, Saya tidak seberharga airmata anda. Stop crying and I’ll leave,"lanjut Nick . Nick melangkah keluar. "Jangan pergi!"teriak Jade menghentikan langkah Nick yang akan sudah berada diambang pintu kamarnya. Nick menoleh menatap heran Jade , lalu memutuskan untuk mendekat.   
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN