"Kau serius? Tidak mau aku temani? Jerome, kalau kau terjatuh dan terluka, bagaimana? Mama akan mengoceh." Jerome menghela napas. Memperbaiki kacamatanya dan mendengus pada sang kakak sulung yang masih cemberut. Saat Ian menjauhkan wajahnya, menatap sang adik nelangsa. "Fine! Terserah apa mau anak belut ini." Jerome mengerjap senang. Saat dia mengeluarkan uang dari dalam saku jaket kulitnya, dan mata Ian melebar. "Apa ini?" "Ongkos untuk supir yang banyak mengoceh." Jerome tidak menghiraukan ekspresi terkejut Ian yang berlebihan. "Terima kasih karena mau mengantarku. Aku akan pulang dengan taksi nanti." "b*****h ini," maki Ian kesal. Dia keluar dan membantu Jerome membawa gitar lamanya. "Kau mau Mama membelahku menjadi empat bagian? Melemparku ke kolam piranha peliharaan Papa? Kalau i

