bc

Setetes Embun

book_age18+
933
IKUTI
4.3K
BACA
drama
tragedy
like
intro-logo
Uraian

Kontes Menulis Innovel II ( Girl Power )

Seorang gadis polos yang bernama Khusna yang tinggal bersama kakaknya di kota, diancam dipaksa menikah dengan teman kakak iparnya. Hanya karena dendam kakak ipar yang tidak bisa mendapatkannya. Pernikahannya yang hanya seumur jagung tetapi melahirkan seorang anak tanpa suami disampingnya hingga diusir kakaknya. Perjalanan hidupnya dimulai dengan ejekan orang kampung yang mengira dirinya hamil di luar nikah. Bagaimana Khusna membesarkan anaknya? Menikah ataukah hidup sendiri?

chap-preview
Pratinjau gratis
Pagi Hari
Terdengar suara ketukan pintu kamarku sangat keras. Heran, tidak biasanya pagi-pagi ada yang mengetuk pintu saat mbak Surti tidak ada di rumah. Sedangkan suaminya sudah pergi bekerja. Siapa gerangan yang datang? Tidak mungkin orang lain atau tetangga rumah ini dan langsung masuk ke dalam rumah. “Siapa?” “Buka! Ini aku Masmu!” Masku Yudi, suami mbak Surti? Kenapa dia? Bukannya tadi suami mbak Surti sudah berangkat kerja? Apa mungkin ada yang ketinggalan? “Ba-baik Mas,” jawabku masih dalam keadaan bingung. Terlihat sosok tinggi gagah berdiri tepat di depanku. Mas Yudi, suami mbak Surti yang selama dua tahun membina rumah tangga. Namun sayangnya mereka belum dikaruniai anak sampai sekarang. Mas Yudi tidak pernah mengeluh akan kondisi mbak Surti yang selalu sibuk dengan dagangan setiap hari. Aku tidak tahu apa sebenarnya pekerjaan mas Yudi. Yang setiap hari selalu berangkat pagi dan pulang hampir bersama dengan Mbakku. Tapi sekarang kog aneh masih pagi dia ada di rumah? Padahal tadi pagi berangkat bersama-sama dengan mbak Surti. “Eh ...Mas Yudi ada apa? Ada yang tertinggal barangnya?” “Ada, bisa minta tolong?” Mas Yudi menatap tajam ke arah sekujur tubuhku. Bergidik aku melihatnya seperti ditelanjangi saja. Baru kali ini aku berada di dekat mas Yudi apalagi saat mbak Surti tidak ada di rumah. Aku sadar jika aku saat ini sedang menumpang di rumah ini sudah sebulan lamanya. Bahkan biaya hidup dan sekolahku juga ditanggung oleh mereka berdua. Dari semua saudaraku hanya aku yang ingin melanjutkan sekolah hingga SMA. Mereka lebih senang mencari uang, bukan karena sebab karena ekonomi kami juga termasuk rendah. “Bisa katakan saja Mas, hari ini aku libur ada kegiatan sekolah soalnya.” “Baguslah, tolong ikut aku sebentar!” Aku mengikuti mas Yudi menuju kamarnya. Aneh sekali baru pertama kali aku masuk ke dalam kamar mereka meskipun sudah sebulan aku berada di sini. Dan aku juga tidak pernah ingin tahu apa saja isi kamar kakakku Surti. Mengapa mas Yudi ingin membawaku ke sana? Begitu masuk mas Yudi melepaskan pakaian dan hanya meninggalkan celana yang melekat pada bagian bawahnya. Mataku ternoda dengan melihat paparan roti sobek yang baru pertama kali aku lihat. “Eh ... apa-apaan ini Mas?” aku memalingkan muka saat melihat sikap mas Yudi yang tidak merasa bersalah dengan tindakannya. “Kenapa? Apa baru pertama kali kamu lihat d**a pria? Polos sekali kamu Dik! Pantas saja belum punya pacar,” ucap mas Yudi tersenyum kearahku. “I-iya Mas ini kenapa aku dibawa ke sini? Tadi katanya mas Yudi mau minta tolong?” ucapku masih tertunduk tidak mau melihat tubuh setengah polos yang ada di depanku. “Iya mau minta dikerokin, aku masuk angin kayaknya. Tadi baru saja naik sepeda kepalaku sudah pusing. Mungkin tertalu banyak bergadang dengan Mbakmu tadi malam,” ucapnya terkekeh. “Bukannya tadi malam mas Yudi dan mbak Surti tidak makan malam? Aku kaget Mas makanan masih utuh di meja. Takutnya Mas dan Mbak Surti tidak doyan lagi dengan masakan yang aku buat. Maklum saja masakan kampung Mas,” ucapku menggenggam kedua telapak tangan yang mulai berkeringat. “Ha ha ... masa kamu nggak ngerti Khusna? Jangan takut msakan kamu enak kog, malah lebih enak dari masakan mbak kamu. Kami makan malam yang beda tadi malam Dik, lebih panas dari masakan kamu,” ucapnya sambil tertawa lepas. Mas Yudi mulai membaringkan tubuhnya di ranjang. Tubuhku mulai menggigil hawa aneh yang baru pertama kali aku rasakan menjalar dalam aliran darahku. Sesekali aku melirik ke arah tubuh atletis yang terbaring setengah polos. Ini pertama kalinya aku melihat pemandangan siluet seorang pria dalam hal yang sesungguhnya. Selama ini aku hanya mempunyai saudara perempuan dan tidak pernah pacaran. Pernah ada seorang cowok ganteng yang menyatakan cintanya tapi aku tolak karena ingin fokus untuk belajar. “Kamu kenapa bengong? Ayo Mas minta dikerokin sebentar saja. Sepertinya masuk angin karena bergadang tadi malam,” suara mas Yudi membuyarkan lamunanku. Pelan aku medekati tubuh kekar yang berbaring tengkurap di atas ranjang. “I-ini koin buat keroknya Mas?” suaraku tercekat dan tanganku bergetar meraih koin dan balsem yang ada di atas meja. “Iya buruan!! Mas sudah gak tahan sakitnya!” “I-iya Mas.” Tanganku mulai mengoleskan balsem pada punggung laki-laki yang statusnya sebagai iparku. Tentu aja getaran aneh yang kembali aku rasakan ketika mulai menyentuh kulit yang bersih berwarna coklat. Mataku tidak terbuka dengan sempurna, entah perasaan apa yang ada sekarang ini aku rasakan. Ada gelenyar aneh mulai menjalar pada setiap hembusan nafasku. Gosokan demi gosokan mulai terlihat biasa aku lakukan. Kulit gelap berwarna coklat di punggung mas Yudi berubah warna menjadi merah sebagian. Tanganku pun mulai menjalar pada bagian pinggang mas Yudi. Hampir satu jam aku menggosok punggungnya, semakin lama semakin keenakan dan lincah jariku menelusuri punggung kecoklatan itu. Melihat mas Yudi sudah mendengkur pulas aku pun tersenyum. Itu artinya sudah berkurang rasa sakitnya. Pelan aku beranjak dari kamar mas yudi, tapi baru saja melangkah tarikan tangan terasa kuat hingga tubuhku terjatuh ke dalam pelukan mas Yudi.” Eh ... ada apa ini?” tidak ada jawaban namun tubuh kekar itu semakin kuat mencengkeram tubuhku, “ argh.” Terperangkap dalam pelukan pria yang berstatus kakak ipar dan bibirku sempat bersentuhan dengan pipinya. Tapi aneh mas Yudi tidak membuka matanya tetapi malah mengigau yang tidak jelas. Aku raba keningnya panas, “ ya ampun kamu panas Mas.” Dengan tergesa aku keluar dari pelukan mas Yudi yang masih mengigau. Berjalan cepat menuju dapur mencari baskom dan lap handuk buat kompres mas Yudi. Jadi dia tadi kesakitan dari tadi pagi? Setelah mendapatkan barang yang aku cari, kubalikkan badan mas Yudi agar bisa cepat mengompres. Beberapa menit berlalu dahinya sudah terasa hangat. Lega rasanya hampir saja aku panik karena takut salah waktu aku menggosok punggungnya tadi pagi. Baru saja ku bangkit dari kursi, tangan kekar kembali menarikku pelan. “Kamu mau kemana? Temani aku dulu badanku masih meriang. Tampaknya aku mulai sakit, biasa kalau kurang jatah dari Mbak kamu seperti ini badanku.” “Kurang jatah bagaimana Mas? Bukannya kalian sudah cukup secara materi, waduh maaf sekali jika aku numpang disini jadi merepotkan kalian berdua.” “Kamu ternyata polos sekali, sudah Mas minta tolong buatkan teh hangat atau air jahe supaya lekas pulih.” “I-iya ... iya Mas segera Khusna buatkan.” Mas Yudi melepaskan tanganku dengan senyum misteri yang tidak dapat aku terjemahkan. Tubuh yang setengah telanjang masih terlihat jelas dan dia terlihat sengaja memamerkannya dengan tidak menutupi dengan selimut. Pikiranku yang masih terbelenggu dengan siluet gagah yang baru saja ku sentuh. Jangan lagi ... jangan sampai aku melihatnya lagi. Pikiranku mulai kotor dengan dan ternoda dengan tubuh mas Yudi. Astaga dia kakak iparku jangan sampai aku berdosa karena sudah melihat tubuhnya.

editor-pick
Dreame-Pilihan editor

bc

Pawang Cinta CEO Playboy

read
1.5K
bc

MY LITTLE BRIDE (Rahasia Istri Pengganti)

read
19.7K
bc

Hati Yang Tersakiti

read
8.3K
bc

Menikah, Karena Tak Sengaja Hamil

read
1.0K
bc

DIHAMILI PAKSA Duda Mafia Anak 1

read
43.4K
bc

Mantan Sugar Baby

read
8.4K
bc

I Love You Dad

read
297.6K

Pindai untuk mengunduh app

download_iosApp Store
google icon
Google Play
Facebook