Tangan mungil itu menyodorkan daun binahong. Daun yang sama dengan saat Amar gunakan untuk menyembuhkan luka Dewi kemarin. Meski hanya anak-anak, mudah untuk mereka—anak suku hutan— mengetahui fungsi-fungsi tanaman di sekitar mereka. Dewi menerima daun tersebut dengan senyum mengembang. “Terima kasih,” ucapnya. Kedua anak tersebut kemudian melesat pergi begitu saja setelah memberikan daunnya, bahkan sebelum mereka menjawab ucapan terima kasih dari Dewi. Selepas kepergian mereka, senyum Dewi yang merekah kembali surut, pandangannya kembali redup. Amar sedari tadi memerhatikan perubahan ekspresi Dewi. Ia menatap Dewi dengan tatapan intimidasi, yang tentu saja tidak Dewi sadari. Ingin sekali Amar untuk membombardir banyak pertanyaan pada Dewi yang sedari kemarin ia tahan-tahan, tapi meliha

