PACAR PSIKOPAT (2)

685 Kata
Saat membuka kedua matanya, Maira terkejut mengetahui dirinya sudah berada dirumah sakit dengan beberapa perban yang membalutinya dan rasa nyeri dari arena perutnya. Saat ini ia tak bisa menanggapi hal apapun selain memberikan respon linglung, ia sendiri juga tak bisa percaya kalau dirinya bisa selamat dari kejadian malam itu dan entah kenapa kalau boleh jujur ia sedikit merasa tenang bisa terbebas dari jeratan sang pacar. Namun perasaan lega itu hanya bisa bertahan sejenak, sebab tak beberapa lama setelah usai diperiksa oleh Pak Dokter mendadak ia didatangi oleh seorang wanita paruh baya yang berlari kearahnya sambil menangis histeris menarik-narik tangan Maira. Sontak saja maira tampak terkejut dan tak bisa berkata apapun selain mendengarkan semua keluhan Wanita itu. "Kembali anakku! Kau telah membuatnya meninggal!!! Kembalikan Nadia sekarang!!!!" bentaknya berulangkali yang diiringi oleh isak tangis. "Aku..." ucap Maira yang terasa sangat berat untuk mengeluarkan kata-kata saat itu, jauh didalam lubuk hatinya ia merasa sangat menyesal atas kematian gadis baik itu yang ternyata bernama Nadia. Ya, setidaknya kini ia bisa mengetahui nama gadis tersebut yang telah membantunya melarikan diri dari kejaran sang pacar. "Kenapa kau diam saja? Apa kau enggak merasa bersalah telah membuat anakku terbunuh?" bentak Wanita paruh baya itu lagi yang bisa saja akan mendorong Maira jatuh dari ranjangnya bila tidak segera ditahan oleh seorang polisi yang tampak tak asing bagi Maira. "Kau baik-baik saja, Maira?" tanya seorang wanita yang juga menggunakan seragam detektif, sepertinya usia wanita itu jauh lebih muda dari polisi laki-laki itu. "Kau bisa mendengarkanku, kan?" tanya Polisi wanita itu lagi, Maira hanya mengangguk saja meskipun sorot matanya masih belum sadar sepenuhnya akibat efek obat bius seusai operasi beberapa hari yang lalu. "Itu tadi ibunya Nadia, gadis yang menjadi korban saat kejadian malam itu ." beritahu Sang polisi wanita. "Lalu Polisi tua itu adalah seniorku, atau bisa dikatakan sebagai Ayahnya Nadia sekaligus detektif yang juga menangani kasus ini bersamaku." timbal Polisi wanita itu lagi, Maira menatap serius kearah sang Polisi yang mungkin lebih dikenal sebagai Detektif. "Dan kau bisa memanggilku sebagai Detektif Raisa." ia tersenyum Ramah pada Maira. "Jadi apa aku boleh menanyakan sesuatu padamu?" tanya Detektif wanita yang kini bisa ketahui namanya adalah detektif Raisa. Maira hanya mengangguk saja, tubuhnya masih terlalu lemas untuk duduk sehingga ia memilih tetap berbaring . "Ibu mau nanyak apa?" tanya Maira dengan suara gemetarnya, sepertinya ia belum memiliki cukup kekuatan penuh untuk menanggapi semua pertanyaan yang diajukan Raisa Sehingga Raisa memutuskan untuk mengurungkan niatnya tersebut karena ia tak ingin Maira malah semakin down bila dipaksa mengingat kejadian yang cukup mengerikan untuk anak remaja seusianya. "Saya pikir mungkin lain kali saja kita berbincang ya dan mungkin hari ini kamu bisa istirahat saja dulu." ucap Raisa yang ingin beranjak pergi , tetapi tangannya keburu ditahan oleh Maira. "Namanya Ridho, tapi terkadang dia juga bukan Ridho." ucap Maira setengah berbisik , lalu ia melepaskan tangannya dari Raisa. "Dia akan kembali lagi untuk menangkapku, aku mohon lindungi aku...." lirih Maira yang memperlihatkan sorotan mata memohon kepada Raisa. "Kami akan menjagamu kok, kamu tenang aja ya." Raisa mencoba tetap menenangkan Maira yang terlihat gemetaran, ia bisa merasakan rasa takut dari gadis remaja yang terpaut usia sepuluh tahun darinya itu. "Ini kalung dari Ridho yang aku kenal, teka-tekinya ada disini." ucap Maira yang langsung menyerahkan kalung berbentuk kunci yang tadi dikenakannya kepada Raisa, lalu ia kembali membaringkan dirinya membelakangi Raisa seakan-akan ingin memberitahu Raisa kalau ia mau istirahat sekarang. Jelas saja Raisa menjadi kebingungan dengan beberapa informasi yang diberikan Maira, ia sebenarnya ingin bertanya lebih jauh tetapi tak mungkin juga ia memaksa Maira untuk menceritakan segalanya dikondisi seperti ini. Makanya ia memutuskan untuk segera beranjak dari saja dan mencaritahu tentang kalung itu lebih lanjut sesuai dengan instruksi Maira. Dan kini Maira kembali merasa sunyi didalam keheningan ruangan ketika Raisa pergi meninggalkannya, ia kembali merubah posisinya menjadi terlentang dan menatap keatas langit-langit kamar. Dan dalam kesendiriannya ia menangis pelan , melihat kembali jemarinya yang memiliki beberapa luka memar yang diperbuat oleh Ridho . Gadis itu terlalu takut untuk memejamkan mata sebab ia masih bia jelas mengingat bayangan tentang Ridho diingatannya. "Ridho...bukan Ridho...Ridho... bukan Ridho...." bisiknya berulangkali dalam kesendirian seakan-akan ia cukup jauh mengenal Ridho.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN