PACAR PSIKOPAT (1)

967 Kata
Maira masih terus berlari tanpa henti menyusuri setiap belokan Gang yang telah sepi dengan penerangan lampu jalan seadanya, ia tak sanggup lagi untuk berteriak apalagi tenaganya juga sudah terkuras habis bahkan air matanya saja sudah tidak mampu lagi mengalir . Dengan sisa tenaga yang ada , ia memutuskan bersembunyi dibalik bak pembuangan sampah dengan posisi meringkuk dan mencoba untuk tetap tenang meskipun jantungnya merasa gregetan dengan ketakutan yang sulit untuk didefinisikan. Penampilannya saat ini benar-benar amat berantakan, jika dipikir-pikir takkan ada orang yang bakal menyadari keberadaannya dibalik bak sampah karena rupanya yang sudah sangat menjijikan. Dengan luka lebam yang memenuhi sekujur tubuhnya dan rambut acak-acakan dengan pakaian yang telah bersimbah darah semakin membuat rupanya mengerikan. "Berhentilah bersembunyi, Maira!" Dari kejauhan terdengar suara seorang pemuda misterius yang membuat bulu kuduk Maira menjadi berdiri dan dalam sekejap rasa paniknya menjadi tak karuan. Maira mencoba untuk tetap tenang, ia sebisa mungkin membungkam mulutnya sendiri agar tidak menimbulkan suara sama sekali dan rasanya ia enggan untuk sekedar mengintip kearah sumber suara yang tanpa disadarinya semakin lama mulai mendekat. "Kau takkan bisa kabur dariku!" Suara pemuda misterius itu semakin lama semakin terdengar jelas ditelinga Maira tapi tetap saja sama sekali maira tak bergeming dari sana seakan-akan ia sudah cukup yakin kalau tempat persembunyian adalah lokasi yang sangat aman. "Ketemu juga kau sayang." ucap Pemuda itu seraya tertawa bahagia ,ia langsung menarik rambut Maira secara kasar sampai gadis itu menjerit kesakitan dan lebih kejamnya lagi ia mencengkram leher Maira lalu menyandarkannya di tembok gang. "Kau gak seharusnya melarikan dariku lagi karena kau adalah milikku." ketus Pemuda itu, lalu ia menampar kasar wajah Maira dan mendaratkan tinjunya diperut gadis itu sampai maira tergeletak ditanah. "Lain kali jangan buat ulah ya sayang atau aku bakal diluar kendali!" ancam Pemuda itu yang seakan-akan telah menganggap Maira hanyalah gadis lemah kepunyaannya saja , tanpa ia sadari Maira yang sejak awal telah menyimpan pecahan botol kaca yang diperolehnya dari bak sampah langsung menggores wajah Pemuda itu dan menendang Pemuda itu sekuat-kuatnya. Dan dengan cepat ia berusaha berlari kembali kearah yang berlawanan tanpa sekalipun mendongak kearah belakang. Maira terus-menerus berlari, kali ini ia tak sempat lagi mengeluh soal rasa letihnya selain berusaha menyelamatkan diri dari kejaran sang Pemuda , Beruntungnya nasib baik masih berpihak pada Maira ketika ia bertemu dengan seorang gadis SMA seusianya yang sedang berjalan pulang sembari menelepon seseorang. Tanpa pikir panjang Maira mendekati gadis itu dan memohon-mohon padanya saat itu juga yang membuat sang gadis bingung dan merasa iba sampai ia mengacuhkan seseorang yang sedang berbicara di panggilan telepon miliknya. "Hubungi polisi, suruh datang kesini sekarang! Aku mohon." Gadis itu cukup lama menatap bingung kearah Maria, sampai akhirnya ia mulai memahami ketakutan Maria dan teringat pada Ayahnya yang saat ini kebetulan saja sedang dihubunginya. "Ada gadis yang terluka disini, Ayah bisa datang kesini sekarang dan bawa beberapa rekan ayah sepertinya ada orang jahat yang melukainya." pinta gadis itu dari telepon , setelah ia menerima respon positif dari ayahnya langsung saja gadis itu mengakhiri panggilan tersebut lalu mengantongi handphonenya dan tetap membiarkan GPS nya menyala . "Ayo kita pergi dari sini! Dia akan datang." ajak maira, tetapi belum sempat mereka benar-benar bisa kabur dari sana mendadak terdengar suara langkah kaki dari ujung sana yang kini langkah itu mulai berlari kearah mereka. "Harusnya kau gak perlu ikut campur!!!" bentak Pemuda itu lagi seraya menghantamkan pisaunya ke perut sang Gadis, anehnya ia seperti tak berniat mengincar Maira sama sekali dan malah melampiaskan emosinya pada orang asing. Secara brutal ia menusuk-nusuk gadis itu dan meninju wajah gadis itu dengan tangannya sampai babak belur, maira yang sepertinya sudah sangat mengenal pemuda itu langsung menarik sang pemuda agar menjauhi sang gadis yang kini sudah terkapar lemas diaspal gang. "Hentikan, aku mohon...." lirihnya yang sudah tak kuat lagi melihat orang lain menjadi tumbal kekesalan kekasihnya itu. "Sudah kubilang sama mu jangan cari masalah, atau orang lain jadi tumbalnya!" ancam Pemuda itu seraya membelai wajah Maira. "Tapi maaf, aku harus menuntaskannya dulu baru kita bisa pulang." tukasnya yang sudah membulatkan tekad, ia seperti seorang psikopat yang tengah sibuk menyantap mangsanya Sehingga tak ada siapapun yang berhak menghentikannya saat ini. Dan tanpa rasa bersalah sedikitpun, ia mengambil pisau yang jauh lebih tajam dari ranselnya dan bersiap memulai start untuk menusukkan pisau itu kepada sang gadis . Namun semua itu tak kesampaian begitu Maira memeluk erat Pacarnya itu dari depan sampai membuat pisau tersebut malah menusuk perutnya. Kini darah segar mulai membanjiri sarung tangan sang pemuda yang membuat ia langsung histeris tak terima dan memeluk erat Maira, ia merobek lengan bajunya dan membuat balutan donat diluka tusuk tersebut dilapisi kembali dengan balutan tebal agar darahnya tak banyak keluar. "Tekan lukamu sekarang!" Perintahnya yang sudah tak karuan, ia benar-benar sangat takut kehilangan maira dan secara paksa ia meletakkan kedua tangan maira di posisi luka untuk menekan perdarahannya sendiri . "Kau harus hidup, aku mohon!" ucap Pemuda itu sembari menidurkan maira diaspal dengan hati-hati, lalu secara membabi-buta ia memukul wajah gadis itu secara berulang-ulang seraya mencekik lehernya sampai gadis itu mengembuskan nafas terakhirnya. Maira yang melihat pemandangan itu cuman bisa menangis saja, ia juga tak mempunyai kemampuan untuk menolong sang gadis ditambah lagi ia harus menuruti kemauan sang pacar untuk tetap menekan perdarahan pada luka tusuknya dibagian perut. "Ah, buat kesal saja. Lebih baik kita pulang sekarang!" ajak sang pemuda yang berniat menggendong maira , tapi lagi-lagi nasib baik masih berpihak pada Maira sebab disaat yang bersamaan terdengar bunyi suara sirine mobil polisi mendekati area yang membuat sang pemuda buru-buru menyimpan kembali benda tajamnya keransel dan mencium kening Maira sebelum beranjak melarikan diri sendirian. "Aku akan menjemputmu nanti." bisiknya ditelinga maira sebelum akhirnya maira melihat kerumunan polisi menghampirinya dengan Kilauan penerang yang menyilaukan mata ditambah lagi sebelum akhirnya ia pingsan sempat terdengar jelas ditelinganya suara isak tangis dari seorang polisi kepada jasad sang gadis yang tadi berniat menolongnya.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN