Sekeranjang Buah

2050 Kata
Rumah sakit Mutiara letaknya lumayan dekat dari sekolah. Kalau ke sana menggunakan motor atau mobil, hanya butuh waktu tiga menit. Kalau dengan berjalan, bisa habis dua puluh menit, belum ditambah mampir-mampir ke toko dan rehat sejenak sambil bergurau. Fathur sendiri membawa sepeda, dituntunnya sepeda itu sambil berjalan bersama Daniar dan Dio. Hari ini langitnya begitu bagus, juga bising kendaraan tak terlalu memekakan telinga. Sebuah pilihan bagus karena berjalan di suasana seperti ini terasa menyenangkan. Tak lagi membentuk segitiga, mereka membentuk garis lurus dengan Daniar berada di paling pinggir jalan raya. Setelah pening membicarakan ulangan Bahasa Inggris yang menurut Daniar level dewa, Dio dengan sepihak menyudahi obrolan itu. "Buat aku tambah frustrasi saja, membayangkan Papaku mendewakan Kak Ditya yang lancar berbahasa Inggris." "Kamu masih muda, Dio. Masih ada waktu untuk mempelajari," ucap Daniar "Omong-omong, Niar. Nilai Bahasa Inggris-mu bagus-bagus, bagaimana cara kamu belajar?" tanya Fathur "Belajar seperti biasa, tapi karena aku sering membaca buku atau majalah berbahasa Inggris makanya kemampuanku meningkat pesat, mungkin." "Brilian, aku juga akan coba cara itu." "Aku punya banyak buku berbahasa Inggris di rumah tapi sama sekali tak k****a. Lain kali akan kuajak kalian ke rumah." "Terima kasih, Dio. Lagian harusnya kamu manfaatkan itu dari dulu." "Bukannya tak mau, trio sableng itu akan mengejekku tiap kali tahu aku sedang belajar atau membaca. Diganggunya aku sampai mereka puas, memang betulan mereka harus pergi ke rumah sakit jiwa." Tiap kali Dio bercerita tentang keadaan di rumahnya, Fathur dan Daniar tak berani bicara apa-apa selain memberinya sepatah kata semangat. Daniar sungguh tak menyangka dibalik mewahnya sebuah rumah, ada orang yang tak sedang baik-baik saja di sana. Memang penderitaan datang tak pandang bulu, Daniar melihat bagaimana bahu Dio naik turun setiap bicara tentang keluarganya. Sungguh kejam jika Daniar membiarkan seorang yang begitu baik padanya menyimpan luka sendirian, ia tahu betul seperih apa rasanya. Begitu juga dengan Fathur. Hampir sampai di rumah sakit, mereka berhenti di depan sebuah toko buah. Fathur sempat bilang tak usah membelikan apa-apa untuk membezuk ibunya. "Aneh betul kamu, Fathur. Tak elok menjenguk orang tanpa membawa apa-apa." "Buah-buahan baik untuk penderita penyakit jantung, harusnya kamu tahu." "Lagian kita beli untuk ibumu, kenapa kamu yang melarang, ya kan, Niar?" Daniar dan Dio melenggang masuk ke toko meninggalkan Fathur yang masih termangu menuntun sepedanya. Padahal Fathur hanya tak ingin membuat repot mereka. Ya sudahlah, Daniar dan Dio kadang keras kepala. Mereka memasukkan beberapa buah ke dalam keranjang, buah seperti stroberi dan alpukat menjadi pilihan karena bagus untuk kesehatan jantung. Daniar dan Dio berdebat tentang apakah akan membeli buah dengan dua macam tapi banyak atau buah dengan banyak macam tapi sedikit jumlahnya. "Dua macam saja, akan lebih efektif khasiatnya." "Banyak macam saja, biar rasanya beragam." "Hei, kalian cuma beli buah, bukan beli rumah. Jangan ribut be..." "Diam!!!" Fathur angkat tangan, ia membiarkan apa yang dilakukan mereka sembari memandang langit penuh awan. Sebuah pesawat terlihat melintas menciptakan ekor panjang seolah membelah langit. Kecil sekali kelihatannya, lalu pesawat itu perlahan pergi, menembus awan. Melihatnya, Fathur jadi teringat seseorang di negeri sana. Entah kapan ia akan kembali lagi ke sini, terakhir kali sekitar setengah tahun lalu. Ya, ayahnya. Kira-kira tiga tahun yang lalu, dengan mantap ayahnya memutuskan pergi ke luar negeri untuk bekerja, ke Hong Kong lebih tepatnya. Tak ada yang dapat dilakukan Fathur ketika keadaan memang memaksanya menerima keputusan itu. Tabungan keluarga mereka menipis drastis, sangat jelas kalau tak akan cukup untuk membiayai pengobatan ibunya. Pengobatan harus dilakukan setiap hari, apalagi jika kadang-kadang keadaan mengharuskan ibunya dirawat di rumah sakit. Tak sedikit biaya yang harus dikeluarkan. Mengandalkan penghasilan dari bisnis kecil ternyata tak akan cukup, berakhirlah keputusan itu dengan pertimbangan yang cukup matang. Dibelainya rambut Fathur saat ia masih kelas satu SMP kala itu. Fathur sendiri masih merajuk tanpa tahu ibunya sedang menangis di kamar. "Nak, Bapak minta Fathur jagain Ibu, ya. Nanti bilangin kalau Ibu tak mau makan, Bapak bakal marah. Nanti sebulan sekali kita teleponan, Fathur juga jangan buat Ibu marah, kalau lagi marah peluk dia sambil bisikin kalau Bapak sebentar lagi pulang. Kalau kerjanya udah selesai, Bapak janji secepatnya akan pulang." Begitu kiranya saat sehari sebelum ayahnya benar-benar pergi. Fathur hidup lebih banyak dengan ibunya yang mengajarkan banyak hal. Saat suatu hari ibunya menangis karena semua ini terjadi karena penyakit yang dideritanya, Fathur menghibur dengan membuatkan kue brownies untuknya. Bukan brownies yang sempurna karena baru percobaan kedua setelah sebelumnya ibunya mengajarkannya. Sampai saat ini Fathur akhirnya mengerti pengorbanan ayahnya, semenjak itu pengobatan berjalan lancar dan sama sekali tak terkendala biaya. Kunjungan ke rumah sakit pun tak sesering dulu. Meski satu hal pahit yang ia tahu, bagaimana pun juga jantung yang telah rusak tak akan kembali seperti semula. Fathur dan ayahnya masih bertahan hingga saat ini, untuk orang tercinta mereka. *** "Sudah selesai?" Pertanyaan Fathur tak dihiraukan Dio yang masih memandang tumpukan berbagai macam buah. Pada akhirnya mereka memilih banyak macam buah dengan harapan ibu Fathur bisa merasakan semua rasa. Daniar menatap sebal pada Dio karena menurutnya alpukat harus lebih banyak dibanding buah lain. "Bisa dibuat parsel, Bang?" "Waduh tak bisa, Dik. Di sini hanya pure menjual buah." "Dio, sudahlah. Toh nanti juga akan langsung dimakan, hidupmu ribet sekali." "Begini kawanku, menata buah untuk membezuk itu penting. Susunan dan hiasan yang indah akan membuat orang yang melihatnya terasa damai dan muncul perasaan bahagia. Tak inginkah kamu ibumu bahagia?" "Bukan begitu, tentu saja..." "Ah, kalau keranjang cantik itu bagaimana, Bang? Boleh aku beli? Biar aku sendiri yang menatanya," Dio menunjuk sebuah keranjang di meja bundar dekat pintu masuk "Niar, ayo kita seret dia keluar." "Tapi aku setuju, buahnya harus ditata supaya rapi." Lagi-lagi Fathur mendengkus jengkel dengan kelakuan mereka. Baru ia sadar kalau Dio memang dibesarkan keluarga berada. Parsel dan bingkisan indah pastilah hal wajar jika menjenguk orang sakit. Padahal Fathur yakin, sebatas membawa dua orang teman menjenguknya, tak tahu akan sesenang apa ibunya. Sekeranjang buah sudah di tangan Dio, entah bagaimana barang serupa pita berwarna pink dan bunga dari kertas berada tepat saat Dio kepikiran membuat parsel. Penjual buah bilang, itu semua bekas membungkus kado untuk ulang tahun teman anaknya yang masih TK. Maka dengan penuh bujukan, penjual buah menurut untuk memberikan keranjang dari bambu berwarna coklat sekalian hiasan-hiasan bekas itu. "Keterampilan luar biasa, Dio." "Daripada itu, Niar, kamu yang membawanya saja. Aku malu, terlihat seperti pemuda yang kembali dari pasar minggu." Daniar menerima sekeranjang buah serta menentengnya lalu kembali berjalan beriringan bersama mereka. Kali ini frekuensi berjalan mereka dipercepat karena tak mau sampai di rumah sakit saat lampu-lampu ruangan sudah dinyalakan. *** Langkah-langkah kaki bersahutan di satu lorong, ada yang berjalan tergesa sambil tetap berbicara di telepon, ada yang berjalan lunglai seolah telah mendapat kabar yang amat buruk, ada juga yang berjalan sambil memegangi selang infus. Daniar melihat suasana dengan tak biasa, seperti ia baru pertama kali mengunjungi rumah sakit. Nyatanya ini yang kedua kali, pertama kali saat ia umur empat tahun. Kala itu tahun kelahiran Ezra dan Ekra, sebuah kendala mengharuskan ibunya melakukan persalinan di rumah sakit. Sesaat sebelum Ezra dan Ekra lahir, di sebuah kursi tunggu ayahnya memberikan ia roti dan berbicara padanya tentang sebuah nama yang akan diberikan pada kedua adiknya. Itu sudah lama sekali, sekarang bahkan Ezra dan Ekra akan naik kelas enam tahun ini. Ezra dan Ekra tumbuh hanya satu tahun kurang ditemani ayahnya, sering sekali Daniar berpikir bagaimana mereka ingin juga merasakan hangatnya kasih sayang seorang ayah lebih lama dari itu, atau bagaimanakah perasaan mereka kala teman sebayanya membicarakan tentang ayah mereka. Ingatan tentang momen itu kemudian buyar, Fathur mengarahkan mereka untuk masuk ke dalam kamar bernomor 133. Dio menyuruh Daniar untuk memastikan sekeranjang buah masih terlihat cantik. Setelah memperlihatkannya, Dio hampir mengamuk karena ada satu hiasan bunga kertas yang tak berada di tempatnya. "Bu, Fathur pulang." Seorang perempuan paruh baya kemudian bangkit dari berbaringnya dan menyambut mereka. "Eh? Nak, mereka temanmu yang sering kamu bicarakan itu? Daniar dan Dio, 'kan?" Daniar dan Dio tersenyum, ibu Fathur juga ikut tersenyum membuat Daniar menyadari jika Fathur dan ibunya mempunyai lekuk senyum yang mirip. Daniar kemudian menaruh sekeranjang buah di meja kecil yang juga terdapat segelas air putih. "Cantik sekali, warna-warni lagi, jadi tenang melihatnya." Mendengar perkataan ibu Fathur, Dio mengangkat alisnya merasa apa yang ia lakukan untuk sekeranjang buah adalah tindakan heroik. "Ruangan putih pasti bikin bosan, Tan. Makan buah warna-warni bisa buat suasana lebih berwarna." "Panggil Ibu saja." "Jadi, Ibu paling suka buah apa? Masa Fathur tak mau memberi tahu apa yang Ibu suka." "Hei, bukan aku tak mau. Kalian terlalu ribut sampai disumpal mulutku saat ingin melerai kalin, ingat?" "Kapan tuh?" Daniar dan Dio berpura-pura menatap langit-langit ruangan. "Eumm...Ibu paling suka buah alpukat sih. Tapi buah yang kalian bawa juga banyak yang Ibu suka, kok." Kali ini Daniar yang mengangkat alisnya pada Dio, "Tuh, kan...kubilang juga apa," inginnya ia berkata begitu tapi diurungkan. "Kalian sudah makan?" "Harusnya kami yang bertanya, Ibu sudah makan? Makanan rumah sakit pasti membosankan, 'kan?" Tak membantah, ibu Fathur hanya mengangguk sambil tersenyum kecil sebagai jawaban. "Ibu ingin cepat pulang saja, masakan buatan Fathur lebih berselera dan enak," jawabnya lagi Daniar dan Dio diam sejenak, lalu terkejut secara bergantian. Daniar terkejut karena jarang sekali ada laki-laki yang pandai memasak, Dio terkejut karena melihat Daniar terkejut, wajahnya bikin kaget betul. Meski Daniar juga sangat tahu cara memasak, untuk Fathur adalah hal lain. Sebagai perempuan, mengetahui bagaimana memasak adalah hal wajar. Fathur, yang masih kelas satu SMA bahkan sudah bisa membuat kue dan berbagai makanan menyehatkan. "Yah, sejak Bapaknya ke luar negeri, Fathur sering bangun pagi mencoba membuat sarapan- dari resep yang Ibu tulis sementara ibu sendiri masih lemas untuk beraktivitas waktu itu. Kebiasaan seperti itu membuatnya jadi tahu bagaimana cara memasak." "Sulit dipercaya, Fathur. Lain kali aku harus coba masakanmu, sekalian kita bertukar resep," ujar Daniar Fathur mengiyakan permintaan Daniar. "Sulit dipercaya juga, kukira Fathur hanya tukang pencuri kerupuk. Aku berkali-kali jadi korbannya." "Cuma sekali, Dio! Pelit sekali." Kamar bernomor 133 mendadak ramai karena obrolan mereka. Gelak tawa bahkan terdengar dari depan pintu. Sampai kira-kira pukul lima sore, pembicaraan dihentikan karena lampu-lampu di sepanjang ruangan lain mulai dinyalakan. Mereka rasa sudah cukup menghibur Fathur dan ibunya, maka setelah bersalaman mereka menuju keluar pintu. Fathur juga turut bersama mereka untuk pulang mengambil baju lalu kembali lagi ke rumah sakit menemani ibunya. "Aku jadi teringat, kamu waktu itu bangun kesiangan tapi harus tetap memasak untuk ibumu yang baru kembali dari rumah sakit makanya kamu terlambat dan dihukum bersamaku, 'kan?" "Seperti itulah." Daniar yang baru tahu hanya bisa diam menyimak. Waktu itu banyak murid yang mengejek dan menertawakan mereka ketika Fathur dan Dio berdiri kaku di lapangan. Tanpa ada yang peduli apa yang menjadi alasan mereka, sepatutnya ini menjadi pelajaran hidup jika jangan mudah menyudutkan seseorang karena bisa saja ia sedang terluka. Sampai di pintu utama rumah sakit, Dio menerima telepon lalu dengan malas mengangkatnya. 'Cepat pulang!' "Bukan urusanmu" 'Perintah dari Papa, cepat kembali sebelum pukul tujuh malam. Papa ingin kamu datang ke acara ulang tahun anak dari temannya, Berryl.' "Tak mau pergi." 'Tak ada gunanya menolak. Dimana sekarang? Sopir akan menjemput.' "Baik, temukan aku baru aku akan pergi." Ditutupnya telepon dengan sebal. Seolah tahu kalau ia datang, obrolan monoton tentang bagaimana kelancaran kerja sama bisnis selalu ada. Meski akan banyak juga teman sebaya yang datang, Dio tak akan mudah berbaur dengan mereka. Sudah sejak bertahun-tahun kegiatan menghadiri ulang tahun anggota keluarga rekan bisnis Dio rasakan. Menyesal rasanya kenapa tak dari dulu-dulu ia berani membantah, adalah haknya jika tak ingin pergi. Apalagi Dio sedang dalam masa menyimpan kejengkelan karena tak mendapat dukungan dari keluarganya. "Kurasa aku butuh tempat bersembunyi malam ini." "Jangan gegabah, Dio. Coba dinginkan kepalamu." "Sudah dingin begini, siapa sih yang mau lihat muka menjengkelkan di pesta ulang tahun. Aku cuma mau menyelamatkan pestanya agar tak ada orang yang datang dengan paksaan." "Terus mau sembunyi dimana?" "Menurutmu, tempat yang tak mungkin orang-orang berpikir untuk bersembunyi dimana?" "Dua kamar dari kamar ibuku ada kamar mayat, tempat sembunyi yang bagus kurasa." "Terima kasih sarannya, aku akan bermalam di warung kopi saja. Sampai jumpa." Sementara Dio pergi, Daniar hanya bisa berdoa kalau ia baik-baik saja dan kembali ke rumah dengan selamat. Bukan secara fisik saja, jangan sampai saat di rumahnya ia kembali dimusuhi dan dimarahi hanya karena sesuatu yang seharusnya tak dipaksakan. Sore itu Daniar pulang, Fathur tak segera pergi mengayuh sepedanya sebelum melihat Daniar mendapatkan angkutan umum. Maka mereka duduk bersama di trotoar selama kira-kira lima belas menit hingga akhirnya angkutan umum datang.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN