Study Tour

1909 Kata
Baju-baju dengan beragam warna membentuk gunungan di sudut ruangan. Kalau lebih diteliti lagi, pastilah itu bukan serupa baju yang dibeli di pasar atau toko serba 35 ribu. Daniar mengambil satu demi satu untuk kemudian ia setrika. Dipandanginya baju itu sesaat sebelum percikan pewangi tersebar di permukaannya. Cantik, entah bagaimana kalau ia memakainya. Suara batuk seseorang kemudian menyadarkannya. Daniar harus cepat bekerja, selesai menyetrika lalu mengantarkannya. Ah, tidak, Ezra dan Ekra bilang mereka sendiri yang akan mengantar, kebetulan pelanggan mereka tinggal tak jauh dari rumahnya. Maka selesai menasehati kedua adiknya agar berhati-hati saat mengantar baju, Daniar pergi ke warung untuk membeli obat batuk. Suara batuk tadi harus segera musnah karena Daniar tak ingin lagi mendengarnya atau ia akan bersedih. Wajarlah jika ibunya yang terlalu bekerja keras, kelelahan dan mendapati sedikit gangguan kesehatan di tubuhnya. Ketika Daniar belum bisa membalas kebaikan yang dilakukan ibunya maka sebisa mungkin ia menjaganya. Daniar masuk ke kamar membawa segelas air dan obat yang sudah didapatnya. Ibunya yang sedang membaca daftar pelanggan menyudahi kegiatannya. "Ezra dan Ekra mau mengantar cucian, 'kan?" "Ya, mereka semangat sekali." "Kasihan kalau kamu terus yang mengantar, tugas sekolah pasti banyak yang harus dikerjakan. Adik-adikmu minggu depan akan berwisata ke kebun binatang, ibu janji mau membayari dan belikan mereka sepatu baru. Syaratnya mereka harus membantu kamu antar cucian, mungkin karena itu mereka jadi bersemangat." Setelah menenggak obatnya, ibu Daniar kembali berbicara. "Besok ada dua paket baju yang harus dicuci, tak sebanyak kemarin." "Daniar saja yang melakukannya, Bu." "Jangan, kalau mencuci ibu ahlinya, kamu bisa bantu menyetrika saja." Ibunya kemudian menarik selimut, mencoba tidur dan selama itu membiarkan obat yang baru ditenggaknya bekerja. Ia yakin, besok pun tubuhnya sudah bugar kembali. Melaksanakan kewajiban sebagai ayah sekaligus ibu demi ketiga anaknya bukanlah apa-apa kala ia melihat di mimpinya mereka bertiga tumbuh dengan bahagia. *** Selain menyisakan uang saku untuk ditabung dan meminjam buku di rental milik Charles setiap minggunya, Daniar membuat uang sakunya habis tak bersisa setelah membeli buku berisi kertas kosong yang lumayan tebal. Ia mulai menghentikan kebiasaannya melukis di setiap halaman akhir buku pelajaran karena terakhir kali ia dimarahi guru matematika. Teman SMP yang kebetulan sedang berada juga di ruang guru, menertawai dan mengata-ngatainya sesaat setelah guru itu pergi. "Selain ahli bermain gendang, rupanya kamu ahli membuat coretan tak berguna. Apa sih yang dilihat Fathur dan Dio memilih teman macam kamu? Tak cantik, tak menarik, bahkan kamu tak mampu beli makan di kantin." Daniar mudah tersulut emosi jika sudah membawa kedua sahabatnya. 'Mereka tak memandang seseorang dari luar. Kalian pun akan dijauhi mereka karena tahu betapa busuknya kalian jika dilihat dari dalam.' Kata-kata itu hampir ia keluarkan dari mulutnya, kumpulan murid senior yang berjalan melewati mereka membuat kata-kata itu tertelan kembali. Maka yang bisa ia lakukan hanyalah pergi meski belum membela harga diri. Yang menginjak harga dirinya sekarang bahkan tersenyum senang karena menganggap Daniar masihlah perempuan lemah dan tak punya apa-apa. Tak ingin mengakui, tapi ada benarnya. Berkali-kali Daniar keluarkan keberanian seperti yang ia lakukan pada Willy dan dua temannya tapi belum juga berhasil. Saat ia melihat keberadaan mereka, sebisa mungkin Daniar menghindar dan memutar balik jalan. Tingkah seperti ini membuat Fathur dan Dio geram, mereka bilang tak ada gunanya takut pada orang yang mulutnya tak bisa dipelihara. Daniar sangat paham tapi ia juga butuh waktu untuk berubah. Hanya di kelas Daniar merasa semuanya tampak baik-baik saja, maksudnya sudah setahun lebih ia beradaptasi dan suasana kelas tak seburuk saat di SMP. Tak ada lagi khawatir seperti apakah ia akan kebagian kelompok belajar atau menunggu baru kalau ada yang kekurangan kelompok, ia akan bergabung, itu pun karena disuruh guru. Kalau tidak begitu, tak ada yang mau repot-repot mengajaknya bergabung. Paling tidak, sebanyak separuh dari banyaknya jenis kelompok setiap mata pelajaran, Daniar mendapati ada Fathur atau Dio bersamanya. Sangat melegakan, Daniar masih sedikit sungkan jika mengajak murid lain mengobrol duluan. Sayangnya, hal yang membuat ia gelisah untuk pertama kali adalah saat hari ini wali kelas mengumumkan tentang study tour yang mewajibkan seluruh murid untuk ikut berwisata ke luar kota. Kalau tak pergi, disuruh membuat jurnal ilmiah minimal seratus halaman. "Waktunya bulan depan, ada tujuh tempat yang kita kunjungi. Taman bunga, pantai pasir putih, Museum angkut, Danau...ah, kalian bisa baca sendiri di kertas yang sudah dibagikan. Ingat, pembayaran paling lambat seminggu sebelum keberangkatan." "Untuk penginapan bagaimana, Pak?" "Masih dirundingkan, dihitung berdasarkan suara, kalian ingin penginapan seperti apa. Hotel bintang lima atau kosan bintang tujuh." "Konsumsi bagaimana, Pak?" "Menurutmu bagaimana? Semua sudah jelas tertera di kertas, bertanya lagi, kurang tiga poin nilai fisika kalian." Kepergian wali kelas membuat kelas jadi gaduh seketika. Obrolan terdengar di mana-mana, selain pesta ulang tahun Berryl semester lalu ternyata kegiatan study tour menjadi daya tarik dan menjadi trending kalau mereka hidup di dunia sosial media. Daniar melirik Fathur dan Dio yang duduk tepat di belakangnya. Dio menguap lebar sementara Fathur menunjukkan sebuah kertas kalau ia sedang sibuk mencatat resep masakan sehat. Kenapa mereka tidak terlihat tertarik? *** Fathur dan Daniar sedang duduk di tribun. Di depan mereka terbentang sebuah trek untuk lari. Tak ada orang lain lagi selain Dio yang hobi berlari pada jam istirahat siang. "Aku tak akan kalah, kalau nanti trio sableng menurunkanku lagi di tempat yang tak seharusnya, aku bisa menyesuaikan waktu dan memperoleh kemenangan." Saat itu juga, Fathur dan Daniar kompak berpikir kenapa ia tak naik kendaraan umum saja seperti angkutan umum atau ojek kalau tak mau pergi dengan kakak-kakaknya. "Angkot jalannya lambat sekali sampai buat aku tertidur, bangun-bangun aku berada di tempat asing, kutanya sopir katanya sekolah sudah lewat tiga kilometer. Kalau ojek aku trauma sekali karena lupa kukembalikan helm hingga driver mengejar sampai masuk ke kamar mandi restoran." Begitu kira-kira dalihnya. Dio kemudian bergabung dengan napas terengah-engah, ditenggaknya sebotol minuman lalu mengelap peluh di dahinya. Lima belas menit lagi bel masuk berdering, mereka masih enggak beranjak karena tahu suasana kelas masih gaduh. "Bagaimana menurut kalian tentang study tour?" "Aku tak yakin bisa pergi," ungkap Daniar "Ada masalah?" tanya Fathur "Tak Ada, hanya tak enggan pergi." Daniar kira mereka tak tahu, tapi dilihat dari mana pun bukanlah alasan seperti itu yang tercetak di wajahnya. Fathur dan Dio menyadari. Mau tak mau Daniar akhirnya bersedia bercerita. Bagaimana ibunya sedikit kesusahan membayar tiket wisata untuk Ezra dan Ekra, apalagi dirinya. Daniar tak sudi membuatnya kesusahan lagi. "Aku juga sepertinya tak bisa pergi." "Kenapa pula kamu, Fathur?" tanya Dio "Ibuku, siapa yang akan menjaganya selama empat hari aku pergi? Aku takut penyakitnya kambuh lagi." Ada benarnya, mereka kemudian diam merenung selama beberapa menit. Dio yang tak punya alasan untuk tak pergi, berusaha memahami keadaan mereka berdua. "Aku juga takkan pergi kalau kalian tak pergi." "Jangan begitu. Begini-begini aku dan Daniar sangat jago membuat jurnal. Jangan paksakan dirimu, seingatku kamu pernah dihukum karena tak bisa menyelesaikan jurnal oleh Bu Dewi." "Jangan diingatkan, dong." Dio memasang wajah kesal mengingat bagaimana ia didamprat habis-habisan di ruang guru. Harusnya ia sadar kalau Kak Denis menjebaknya saat ia sempat bertanya tentang topik jurnal yang ia pilih. Harus revisi ulang akibatnya, memang jahat betul salah satu anggota dari trio sableng itu. Daniar mengisi kesunyian dengan melanjutkan menggambar di buku yang sengaja ia bawa. Dalam coretannya, tercipta sebuah wajah laki-laki sedang memegang mikrofon. Ialah seorang penyanyi, harusnya ada empat orang lagi di dekatnya tapi Daniar lebih suka melukis salah satunya. "Sedang apa, Niar?" "Menurutmu?" Mereka berebutan melongok kertas yang dipegang Daniar. "Aku tahu siapa dia. Harry Smiles, bukan?" "Hampir benar." "Serius Niar, betulan itu lukisanmu? Bagus betul." "Seperti melihat lukisan di galeri artist profesional yang pernah aku kunjungi di internet." "Kenapa kamu sembunyikan bakatmu begitu? Aku baru tahu." Tak ada alasan lain lagi selain orang-orang yang tak ingin melihat Daniar bahagia. Setelah tak cukup dikata-katai, kenangan buruk SMP adalah saat bagaimana seseorang merobek dan membuang lukisannya, bilang kalau lukisannya amat buruk rupa dan menertawakannya beramai-ramai. Berbagai kebahagiaannya dihancurkan begitu saja ketika di sekolah maka ia lebih suka melakukan sesuatu dalam kesunyian. Sekarang Daniar senang sekali karena selain guru baik hatinya semasa SMP, Fathur dan Dio pandai mengapresiasi kerja keras seseorang. "Kamu tahu, Niar, kreativitas seperti itu bisa dimanfaatkan. Maksudku, kamu bisa membuat seseorang terpana dengan lukisanmu dan membayar jasamu." Dio seperti kepikiran sesuatu, Daniar menunggu apa yang hendak Dio maksudkan. "Aku sering melihat jasa melukis wajah di internet, banyak orang suka dengan lukisan itu, seperti yang kamu buat. Pekerjaan seperti itu kelihatannya menguntungkan. Itu dia, kamu bisa bantu ibumu dengan kemampuanmu, Niar." Daniar mencerna kembali apa yang Dio katakan. Menjual jasa? Dapat untung? Brillian, ia sama sekali tak pernah berpikir begitu. Tapi... "Jangan bercanda, memangnya semua orang suka dengan lukisanku? Kalau tak suka bagaimana? Nanti aku bikin kecewa bagaimana?" "Singkirkan krisis kurang percaya dirimu itu, kalau belum dicoba mana tahu. Kamu tingkatkan skillmu saja, sisanya biar aku yang membantumu." Sepertinya Dio serius sekali. Daniar mengiyakan ide cemerlang dari otaknya yang masih berpikir cara mendapat restu keluarga untuk mendalami bidang keolahragaan itu. Daniar jadi tegang, apakah nantinya akan berhasil atau justru gagal, hanya waktu yang bisa menjawabnya. "Tapi aku serius tak mau pergi kalau tak ada kalian. Niar, Fathur, dari dalam lubuk hati kalian, mau pergi atau tidak?" Tanpa menunggu lama, hati kecilnya tentu ingin sekali Daniar pergi. Saat SMP Daniar tak pernah pergi berwisata. Sekolahnya gila, memutuskan wisata ke Raja ampat yang harus pakai pesawat. Bahkan seumur-umur Daniar belum pernah naik kereta api, kalau langsung merasakan naik pesawat, rasanya ia melompati satu level. Tanpa memberi tahu pada ibunya terlebih dahulu pun sudah pasti Daniar tolak. Menghabiskan berjuta-juta untuk wisata, lebih baik ia gunakan untuk membeli banyak mesin cuci, kalau saja memang ia punya uang sebanyak itu. Fathur juga merasakan hal sama. Pergi wisata dengan teman-teman sangat jarang sekali terjadi. Meski ibunya memaksa ia untuk pergi, Fathur selalu membuat alasan untuk tak pergi. Fathur dan ibunya sama-sama pandai menyimpan perasaan, mereka selalu mengalah. Tak terhitung banyak alasan yang Fathur buat agar selalu berada di samping ibunya saat ia sendiri punya keinginan, sementara ibunya pandai membuat alasan jika ia baik-baik saja dan tak perlu dikhawatirkan. "Aku mau bantu kalian kalau diizinkan. Kalian juga sudah banyak bantu aku, tak ada yang lebih perhatian dibanding kalian jika aku dilanda masalah keluargaku," kali ini Dio lebih serius, seserius-seriusnya "Apa rencanamu?" tanya Fathur "Niar, kamu bisa pakai uangku dulu." "Seolah kamu yakin kalau aku bisa cepat membayarnya." "Kamu kira kita akan dipisahkan secepat bumi bertorasi? Kalian akan menjadi orang yang selalu kuterima sampai dewasa nanti, selesaikan kapan pun kamu mau." "Mungkin maksudmu bumi berotasi." "Ya itu maksudku." Kali ini Dio menatap Fathur yang sedang merenung. "Fathur, kamu yakin sudah bikin ibumu bahagia? Waktu di rumah sakit saat kamu ke toilet, ibumu berkata padaku dan Daniar kalau anaknya tak kelihatan seperti murid kebanyakan. Katanya kadang ia terluka melihatmu tak punya banyak teman dan jarang punya cerita menarik dengan temanmu. Ibumu ingin kamu juga memikirkan dirimu sendiri. Ibumu tak membesarkanmu hanya untuk mengkhawatirkannya, katanya seperti itu." "Aku punya pengasuh sejak kecil yang baik sekali, dia sangat dapat dipercaya. Kalau mau aku bisa minta dia mengurus dan mengecek kalau ibumu baik-baik saja selama kamu pergi," lanjutnya lagi Sungguh setelah berkata itu Dio merasa seolah masalah yang ditimbulkan ayahnya dan trio sableng bukanlah apa-apa. Dio ingin sekali membantu, Fathur dan Daniar harusnya tahu. Setelah itu bel masuk berbunyi. Sedikit kaget karena sejak tadi pagi nada dering bel diganti dengan yang baru. Mereka belum terbiasa mendengarnya. "Hei, kalian belum bicara apa-apa, malah pergi," Dio memprotes Daniar dan Fahur yang terlebih dahulu beranjak dari tribun "Belnya berbunyi, Dio. Telingamu harus dikorek rupanya." "Bukan itu jawaban yang ingin kudengar." "Baik, baik akan kami pertimbangkan bantuanmu." Dio tersenyum senang sekali.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN