Sesuatu yang Menguntungkan dari Hobi

2092 Kata
Dulu, Daniar pernah sekali diajari ayahnya menggambar di belakang kertas bekas bungkusan nasi kuning yang dibeli di pinggir jalan. Ibunya yang masih menyusui Ezra dan Ekra tak bisa beraktivitas normal seperti biasanya. Maka Daniar diajaknya membeli nasi kuning untuk sarapan, setelah menghabiskannya mereka sepakat kalau nasi kuning yang dibuat ibunya setiap kali Daniar ulang tahun lebih sedap dari yang dijual di gerai mana pun. Sungguh kehidupan lima tahun pertamanya adalah yang ia rindu. Tak ada yang lebih bahagia dibanding makan nasi kuning bersama lalu ayahnya akan memimpin doa untuknya di hari ulang tahun. Tak perlulah ia merasakan meniup kue di ulang tahun dan memakai gaun bermahkota di kelilingi balon dan sorak sorai kawan-kawan. Bahagia itu sederhana, ia baru menyadarinya beberapa tahun kemudian. Jika saja waktu itu ia tak merengek ingin diadakan pesta. Teman sekomplek sungguh memberikan pengaruh besar ketika satu per satu dari mereka menunjukkan gaun dan sepatu kaca. Daniar kecil tak setegar Daniar sekarang. Hampir seharian ia merajuk pada ayahnya, bilang kalau ia tak menyayanginya. Sungguhlah salah besar. Daniar tetap dapat pesta di rumahnya sendiri. Nasi kuning yang menjadi khas hidangan ulang tahun dibuat berundak seperti kue ulang tahun. Dedaunan dan bunga kering diuntai melingkar membentuk mahkota peri. Yang lebih istimewa lagi, terdapat sebuah kotak yang dibungkus kertas berwarna merah, pastilah itu kado, entah berisi apa. Sebelum puncak nasi kuning dipotong, lantunan doa diucapkan ayahnya. Kali ini doa yang dipanjat ayahnya sangat panjang, juga lantang. Daniar saja hampir mencomot telur dadar karena tak sabaran. Barulah setelah itu kotak tadi dibuka, Daniar mendapati ada pensil warna di sana. Senang bukan main ia. Daniar bersyukur sekali karena seperti itulah tahun terakhir dimana ayahnya meninggalkannya. Jika saja, ya, jika saja ia tetap memaksa diadakan pesta meriah, sungguhlah ia akan menyesal seumur hidup karena membuatnya bersedih dan kesusahan. Kemampuan Daniar menggambar sejak ia pertama kali diajar membuat sebuah rumah sederhana dengan dua pohon di sampingnya terus bertransformasi. Awalnya hanya coretan polos yang tak punya nilai, kemudian ia mencoba mewarnai dengan pensil warna. Dimana pun ia menemukan kertas kosong disitulah tangannya gencar mengambil pensil dan melukis di sana, tanpa ada keraguan, tak ada lagi garis bengkok dan putus-putus karena sudah terbiasanya ia. Kini Daniar punya banyak koleksi hasil coretan tangannya, dimana-mana. Di kertas bekas ujian, di halaman belakang buku pelajaran, di belakang kertas daftar pesanan mencuci, sisanya tak tahu entah kemana. Kebanyakan ia menggambar wajah tokoh terkenal dan bangunan-bangunan semi realis. Ia trauma menggambar hewan seperti kucing karena pernah dicakarnya ia saat mencoba menyuruhnya berganti pose yang lebih bagus. Kucingnya tak bisa diajak bekerja sama. Setelah berhasil mengumpulkan beberapa karyanya dan menaruhnya di satu tempat, ia bernapas lega. Untung ia tak pernah membuangnya, kecuali jika gambarnya benar-benar gagal, seperti ketumpahan air dan kejatuhan kotoran cicak. Daniar akan membawanya besok, seperti yang diminta Dio. Entah bagaimana rencana Dio selanjutnya, Daniar harus berterima kasih padanya karena mau membantunya menemukan peluang. Padahal untuk berurusan dengan ketiga kakaknya sama sekali belum Dio temukan sebuah solusi. Daniar berjanji akan terus mendukung Dio dan Fathur. Entah seberapa berat rintangan yang menghalangi. *** Semakin dekat dengan hari keberangkatan study tour, semakin riuh keadaan kelas. Murid perempuan berunding untuk rencana pesta piyama di hotel, murid laki-laki memikirkan cara supaya lolos dari pemeriksaan saat membawa barang yang tak sepatutnya dibawa, sebut saja majalah dewasa. Antusias menjalar ke penjuru kelas sebelas, kalau ada yang tak membicarakan tentang study tour, mereka pasti berada di kelas sepuluh atau kelas dua belas yang sedang bertempur menyiapkan banyak ujian. Beberapa yang kurang antusias mungkin sedang sibuk mengerjakan sesuatu. Macam Dio dan dua orang lainnya yang sedang berada di taman belakang sekolah. "Carikan bunga warna ungu, jangan bersama tangkainya, Fathur." Dio sedang memegang sebuah kamera dengan posisi aneh. Ia berjongkok menghadap rumput-rumput hijau, di sana terpampang sebuah lukisan milik Daniar. Daniar akhirnya paham, mengapa Dio memintanya membawa beberapa hasil lukisan terbaiknya. "Selesai, ganti dengan lukisan lain." Kali ini Dio sibuk menata lukisan lain dengan dedaunan kering di sekelilingnya sambil berganti posisi. Kadang berjongkok, berbaring, lalu berdiri di atas kursi taman. "Betul dia pernah belajar fotografi, Fathur?" bisik Daniar "Kelihatannya tidak begitu, kita lihat saja hasilnya." Selesai dengan lukisan terakhir yang menampakkan wajah seorang perempuan berambut panjang sedang makan lollipop, Dio membersihkan bajunya dari debu dan dedaunan yang menempel. "Promosi dan sampel yang cantik dapat membuat orang-orang tertarik. Mau lihat hasilnya?" Mereka mendekat ingin melihat hasil foto, apakah Dio memang pandai mengambil foto atau gayanya saja yang berlebihan saat memfoto tadi. "Bagaimana? Menurut kalian, ini cukup untuk menjual dan menggerakkan hati orang-orang?" Bagus sekali, dengan hiasan bunga dan daun kering di atas rumput hijau, lukisan jadi tampak memukau. Sangat estetik, Daniar bahkan tak ingat jika ia yang melukis wajah seseorang di kertas itu. "Keren rupanya. Apa proses mengambil gambar seaneh itu?" tanya Fathur "Belum seberapa. Seniorku bahkan sampai terjungkal ke parit demi mengambil gambar kumbang badak yang sedang kawin." Langkah pertama selesai, Dio bersiul-siul di sepanjang jalan kembali ke kelas. Dio sedang membantu Daniar membangun galeri, tapi ia sangat senang seolah ia sendiri yang punya galeri itu. Langkah selanjutnya Daniar harus membuat akun sosial media khusus bisnisnya. Butuh waktu lama agar dapat banyak pengikut, tak cukup satu dua malam. Maka yang bisa Daniar lakukan hanyalah menunggu dan berdoa. "Nama brand juga tak kalah penting. Kamu harus buat nama unik supaya gampang dikenal orang-orang. Daniar's work, bagaimana?" "Jangan menonjolkan namaku. Alih-alih ingin terkenal, aku ingin menjadi pelukis yang misterius saja." "Yah, itu baru kamu." Fathur dan Dio turut membantu mempromosikan akun sosial medianya. Pengikut Dio di i********: lumayan banyak, tak heran beberapa jam setelah itu pengikut lukisan Daniar bertambah menjadi tujuh puluh orang 'amazing art. Kalian bisa memesan lukisan untuk orang tercinta kalian. Dijamin hasilnya akan seindah lukisan Harry Smiles ini.' Begitu kira-kira caption di salah satu postingannya. Yah, satu-satunya kekurangan Dio adalah kadang ia tak segera memperbaiki kesalahannya. Perasaan Daniar tak penah melukis seseorang bernama Harry Smiles. "Aku tak bisa membantu banyak, pengikutku sedikit. Karena aku sendiri hanya mengikuti akun yang membagikan resep masakan sehat," ujar Fathur "Tak apa-apa, sungguh." Bahkan Daniar tak punya akun sosial media pribadi. Kemajuan teknologi sepatutnya dimanfaatkan sebaik mungkin, Daniar sungguh tak kepikiran sama sekali karena pandangan tentang sosial media mulanya sangatlah buruk. Selain membuang-buang waktu, kasus cyber crime juga sedang marak waktu ia menonton sebuah berita di televisi tabung yang kadang-kadang gambarnya buram di beberapa keadaan. Televisi peninggalan ayahnya, tak ada niatan untuk mengganti dengan yang baru selain karena tak ada dana, kenangan menonton bersama setelah makan malam akan sirna begitu saja. *** Makan malam di salah satu rumah sederhana yang tak memiliki pagar, lampunya remang hampir kehabisan daya, berlangsung khidmat. Lupakan segala permasalahan yang ada di sekolah, berbagi kehangatan dengan keluarga adalah penawarnya. Kepenatan akan dinetralkan dengan seduhan teh panas. Celotehan dua orang anak bersahutan menceritakan bagaimana pengalaman mereka dari mulai masuk ke pintu masuk kebun binatang sampai keluar lagi dari sana. Tak terlewat satu pun kegiatan yang dilakukan selama di sana ketika mereka bercerita. Juga kegiatan mereka saat berenang di kolam besar dengan pancuran, Ezra dan Ekra sudah pernah pergi berenang saat Sekolah Dasar kelas dua tapi kali ini kolam yang mereka datangi sungguhlah lebih menakjubkan dibanding yang mereka datangi dulu. Kawan baru yang baik juga membuat perjalanan mereka sungguh berarti. Ketika cerita berakhir, Daniar menghembuskan napas lega karena mereka sungguh menikmati. Bukan seperti dirinya yang setiap kali diadakan perjalanan ke kolam renang, ada tiga orang yang berusaha menjeburkannya ke dalam kolam dewasa dari belakang kalau tak ada kupu-kupu yang lewat sehingga Daniar berusaha lari mengejarnya. Dengan bebagai cara ia selamat dari niat jahat teman-temannya. Setidaknya selama satu jam, setelah itu piring-piring ditumpuk dan dicuci. Daniar benci melakukan sesuatu nanti-nanti, maka setiap makan ia membersihkan segala sesuatunya sekaligus baru ia masuk ke dalam kamar. Berbaring, merenung, sungguh damai malam ini karena kebetulan Ezra dan Ekra tak diberikan PR sehingga ia tak perlu membantunya. Ibunya akan tidur lebih awal karena pagi-pagi sekali ada baju yang harus dicuci dan tak ingin melewatkan hangatnya cahaya matahari selagi menjemur baju-baju itu. Daniar tersenyum-senyum sendiri memandangi galeri di akun yang kini sudah berjumlah 150 pengikut. Sulit dipercaya, bahkan Daniar tak berhenti-berhenti mendengar notifikasi seseorang telah menyukai lukisan di salah satu postingannya. Seorang Daniar bahkan berpikir di dunia nyata tak mungkin ada yang menyukainya sebanyak itu. Setelah puas berbahagia, Daniar memulai belajar biologi. Mendapati kesusahan, Daniar tak ragu akan bertanya pada Fathur yang langsung membantunya. Sungguh dua orang di depan tempat duduknya berisik karena masih mengobrol tentang rencana foto di depan air terjun siang tadi. Buat ia susah fokus memerhatikan guru yang sedang menerangkan cara kerja ginjal dalam memproduksi urin. Saat sedang asyik mencatat apa yang dijelaskan Fathur, notifikasi kembali muncul. Daniar menduga itu hanya salah satu orang yang menyukai postingan. Tapi ternyata salah, ada orang yang mengiriminya pesan, bilang kalau ia mau membutuhkan jasanya. Sekaligus orang itu melampirkan foto wanita tua yang tersenyum menghadapnya. Tak salah lagi kalau itu adalah pesanan pertamanya. Waduh, Daniar sungguh panik bagai ditimpa meteor. Ia harus melakukan apa? Harusnya ia senang tapi ada sesuatu dalam hatinya yang membuatnya takut dan tak yakin. Dio, Daniar harus menghubungi Dio yang pasti tahu cara menangani masalah ini. Terdengar bunyi "tuuut" panjang sebelum seseorang di seberang sana menjawab teleponnya. Daniar takut mengganggunya tapi saat ini ia juga sedang dilema. "Halo, Dio? Masih hidup? Ah...maksudku masih terjaga?" Daniar melihat jam di teleponnya yang menunjukkan pukul 20.31. Belum terlalu malam, pastilah Dio belum tidur. "Tentu saja, masih hidup. Bagaimana? Sudah belajar tentang cara kerja ginjal?" Bagaimana Dio tahu? Beberapa menit lalu memang ia sedang mempelajarinya, melalui Fathur. "Fathur bersamaku, di warung kopi. Mau lihat?" Panggilan dimatikan. Lalu dering tanda panggilan video menyala, anehnya Daniar langsung mematikan panggilan sepihak. "Jangan video, sangat tak nyaman buatku. Ayo bicara saja, aku dalam suasana kecemasan." "Apa yang terjadi? Ada maling di rumahmu? Biar kita ke sana." Bahkan Daniar sama sekali tak punya kecemasan seperti itu, tak ada maling yang mau repot-repot mampir ke rumahnya ia rasa. Masalahnya ada pada dirinya. Daniar tak terbiasa berurusan dengan orang tak dikenal, perbincangan seperti apa yang harus ia mulai juga tak tahu. Kadang-kadang bagaimana orang-orang menyukai lukisan yang ia posting rasanya adalah palsu. Daniar tak lantas menerima pesanan begitu saja karena takut tak memenuhi ekspektasi orang-orang. Nanti akhirnya akan selalu sama, ia dicemooh dan ditertawakan. "Sekarang ikuti instruksiku, balas pesan itu kalau kamu menerimanya. Buat juga kesepakatan harga, mudah, 'kan?" "Langsung terima saja nih, kalau nanti hasilnya tak sesuai bagaimana?" "Buang jauh ke laut pikiran itu. Niar, ingat apa tujuan awal kita melakukan ini? Untukmu, untuk membantu ibumu. Enjoy saja, lakukan seperti kamu menikmati melukis Harry Stylish, pasti hasilnya sama bagusnya. Ayo dong keluarkan semangatmu." Begitu, Daniar merasa sedikit lega sekarang. Kemudian terdengar ribut karena sepertinya seseorang merebut telepon yang ada di tangan Dio. "Niar, jangan pikirkan apa yang orang-orang bilang nantinya, fokus saja. Memulai bisnis memang tak mudah dilakukan. Coba kamu ingat bagaimana perjuangan ibumu hingga punya lumayan banyak pelanggan sekarang? Pasti awalnya tak mulus bukan? Bagaimanapun sebuah permulaan harus dihadapi atau kita tak akan pernah tahu bagaimana akhirnya." Kata-kata ajaib dari Fathur membuat perasaannya benar-benar seratus persen lega sekarang. Benar juga, bukanlah mudah merintis sesuatu. Daniar jadi ingat kalau saja ibunya tak punya keberanian menawarkan jasa mencuci dari rumah ke rumah, tak mungkin jadi seperti sekarang dimana setiap harinya ada orang datang meminta bantuannya. Terlebih Daniar punya motivasi kali ini, ia butuh dana, maka ketikan demi ketikan akhirnya menciptakan sebuah kalimat di ruang pesan yang tak dibalasnya selama sepuluh menit. Ia jadi merasa bersalah karena pasti seseorang di luar sana sedang menunggu jawaban. 'Baik, saya terima dan akan mulai mengerjakan besok. Perlu diketahui kalau lima hari adalah paling cepat pesanan Anda dapat diselesaikan. Selanjutnya mari bicarakan kesepakatan harga.' 'Terima kasih telah menerimanya, saya tawar seratus ribu bagaimana? Seratus lima puluh ribu deh, tapi saya minta dibuatkan bingkai juga. Itu untuk hadiah ulang tahun ibuku, bagaimana?' Sama sekali tak ada masalah. Daniar menghitung-hitung, itu baru satu pesanan. Kalau dapat sepuluh ia bisa punya satu juta. Daniar membuncah bahagia, ternyata ada cara seperti ini untuk mendapatkan uang. Yah, meski tak akan semulus yang dibayangkan. "Dio terima kasih, idemu bagus sekali." "Syukurlah, sudah kubilang semua akan mudah kalo kamu percaya diri." "Baiklah kalau begitu kututup telepon..." "Tunggu dulu, temani aku mengobrol dong." "Masih di warung kopi? Fathur mana?" "Dia pulang baru saja, khawatir ibunya bangun dan mendapati dia tidak ada di kamarnya." "Jadi, kenapa kamu tak pulang? Ada masalah di rumah?" "Persis, jadi ceritanya aku dijahili trio sableng lagi. Mereka bicara yang tidak-tidak pada Papa, lalu aku kesal dan menempeleng kepala Kak Ditya, lalu ia pun murka, lalu..." Daniar tak mematikan telepon, dibiarkannya Dio mengoceh sampai ia selesai sementara Daniar mendengarkan sambil kembali mencatat cara kerja ginjal di bukunya.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN