Kita tahu siapa diri kita, tetapi kita takkan pernah tahu seperti apa kita nantinya.
~William Shakespeare~
Tepatnya empat tahun yang lalu, Daniar mengira kalau ia adalah jenis orang yang benar-benar mengenal betul siapa dirinya. Seorang penyendiri, tak suka keramaian, berbicara jika ada yang mengajak, dan pasrah terhadap keadaan, sebuah kondisi yang tak mengherankan jika ia tak punya teman. Setelah dipikir betul-betul, bukanlah sepenuhnya salah lingkungan. Hal yang paling ia ingat sampai saat ini adalah betapa bodohnya waktu menganggap hanya ia yang kenal siapa dirinya. Saat itu bahkan Daniar telah berbohong pada diri sendiri.
Daniar pernah menulis bagaimana rencana hidupnya yang terlihat suram. Tak masalah tak ada teman, beberapa tokoh terkenal bahkan mengorbankan kesenangan seperti itu demi pekerjaannya. Daniar pikir ia bisa melakukan hal yang sama, tanpa kendala. Kebohongan pada dirinya begitu besar, padahal setiap ia tak kebagian kelompok dan merasa sendiri di sekolahnya, diam-diam ia menangis dan mengadu ditemani udara bercampur debu. Perih, matanya yang sudah merah membuat tambah merah saja karena debu yang berterbangan.
Butuh waktu lama hingga akhirnya Daniar mengerti betul siapakah dirinya, bagaimana ia, dan apa maunya.
Daniar adalah orang yang ingin berubah, dari belenggu trauma akibat krisis menghargai sesama manusia. Daniar sedang berusaha melawan itu, akan ada cara untuk melakukannya. Daniar ingin hidup normal sepenuhnya, dikelilingi orang-orang yang peduli baik itu betulan peduli atau pura-pura peduli. Yakin deh, di antara banyaknya orang-orang di sekitar, pastilah ada satu dua orang yang berpura-pura peduli. Tapi jangan hiraukan mereka, akan terbuang waktu berhargamu jika sibuk mengurusi orang macam itu.
Pada akhirnya pencarian jati diri di masa muda adalah hal yang nyata. Akan ada banyak duka, luka, dan bahagia dalam pencariannya. Tak seperti mencari kaos kaki yang hilang sebelah maka paling tidak itu akan ditemukan di kolong tempat tidur atau di sudut rak sepatu, atau kalau kurang beruntung bisa saja ditemukan di tempat sampah karena seseorang mengira itu sudah tak terpakai karena bau minta ampun. Jati diri tak bisa ditemukan dengan mudah.
Manusia itu ternyata banyak maunya, begitu juga Daniar. Kala ia sudah mengenal siapa jati dirinya, apa passion-nya, dan bagaimana rencananya, sedikit saja ada seseorang yang membuatnya takjub, keinginan untuk menjadi orang seperti itu membesar, lalu ia lupa akan rencananya.
Paling tidak sekarang Daniar bahagia bisa jujur pada diri sendiri, bahwa berteman adalah hal yang tak bisa dipisahkan dari kehidupan manusia. Daniar semakin sering tertawa, tak terhitung berapa kali dalam seminggu.
Maka kembali lagi dalam empat tahun yang lalu, Daniar yang merasa tahu betul siapa dirinya kala itu harusnya menelan ludah. Ia akan terkaget melihat bagaimana Daniar sekarang. Bukanlah seperti bayangannya bahkan rencananya. Ya, karena bagaimanapun kita takkan pernah tahu seperti apa kita di kemudian hari.
***
Semakin rajin melihat-lihat bagaimana artist lain bekerja adalah bagaimana Daniar sekarang. Menyadari kalau ia tak cukup persiapan dan peralatan, bergegaslah ia pergi ke tempat yang bersangkutan. Ia membawa sejumlah uang pemberian ibunya, tak banyak tapi cukuplah untuk membantu. Daniar tak tega menyembunyikan segala sesuatu yang akan dilakukannya dan rencananya pada orang yang setiap peluhnya ditujukan untuk keberlangsungan hidup anak-anaknya. Semua yang ada di rumah mendukung, betapa ia sungguh bersyukur dan beruntung.
Dibanggakannya Daniar di hadapan Ezra dan Ekra kalau hobi yang terus diasah dapat menciptakan manfaat, kedua adiknya yang tak membantah kalau mereka hanya anak pecinta game dan akan menangis jika sehari tak bermain itu, mengangkat kepala tinggi-tinggi jika mereka juga punya sebuah hobi. Hobi yang saling menyatu padu.
Sambil bersepeda, Daniar juga memikirkan apa yang harus ia beri khusus pada pelanggan pertamanya. Karenanya, Daniar hampir ragu mendapat semangat untuk terus berkarya. Tak hanya itu, kegiatan study tour tinggal beberapa minggu lagi, ia juga memikirkan apa yang harus dilakukan nantinya. Kala teman-teman yang ditemuinya di sepanjang lorong membicarakan memakai sepatu anti air warna apa untuk berjalan-jalan ke pantai nanti, Daniar justru memikirkan mengapa mereka tak mencoba bertelanjang kaki dan merasakan kesegaran menyentuh air di sana. Maka Daniar berasumsi kalau kaki mereka mungkin sedang kapalan atau cantengan.
Juga, mengayuh sepeda di hari minggu begini sangatlah ramai. Setiap menengok kanan dan kiri, pastilah ada satu dua orang yang juga sedang bersepeda. Bedanya sepeda yang mereka pakai sungguh canggih, modern pula. Daniar berusaha tak peduli pada pandangan orang-orang ketika menatap sepeda yang dinaikinya dengan pandangan aneh. Sepeda tua, hampir pantas berada di toko bekas kalau ia tak berusaha membujuk Abah Mus agar membolehkannya mengecat sebagian setang dan joknya dengan warna coklat muda.
Lagipula tak ada alasan untuknya terlalu fokus pada sekitar, kecuali ada salah seorang dari mereka yang ia kenal. Kenalan baik, maka Daniar dengan senang hati akan berhenti sejenak dan berbincang ringan padanya sebelum melanjutkan mengayuh ke toko serba ada.
"Kamukah itu?"
"Ya, ini aku."
Tak disangka, di samping kanannya sekarang ada Fathur yang tersenyum, juga sedang menduduki jok sepedanya.
"Kenapa banyak keringat begitu? Berapa kilo kamu sepedaan, Fathur? Beli minum dulu sana," tukas Daniar
"Aku banyak keringat karena sedang dikejar pemalak uang atau aku berkeringat karena melihatmu juga bersepeda saat menunggu memompa ban di bengkel makanya aku berusaha mengejarmu. Terserah mau percaya yang mana satu, dua-duanya bikin aku ingin beli minum."
Maka mereka mengayuh sedikit lagi untuk mencapai warung di hadapan mereka yang menyediakan berbagai makanan dan minuman. Kemunculan Fathur membuat perjalanan yang sunyi menjadi lebih bersuara. Tak lupa saat mereka menenggak minuman, Dio juga disinggung tentang sedang apakah ia di hari minggu begini. Daniar menduga kalau ia sedang sibuk mempersiapkan barang untuk pergi study tour. Sedangkan Fathur dengan dugaan ekstrimnya, menduga kalau Dio sedang dihukum meminum s**u campur saus padang karena sudah berani menempeleng kepala salah satu dari anggota trio sableng.
Awalnya Daniar hanya ingin pergi membeli barang yang sudah diceritakan, tapi karena Fathur menyinggung tentang tempat rental buku yang sering ia bicarakan, Fathur jadi ingin pergi ke sana juga. Daniar berbicara seperti sedang mempromosikan tempat rental sederhana itu, membuat siapapun yang ingin mendengarnya jadi terpengaruh. Maka Fathur ingin membuktikan kelengkapannya seperti yang Daniar bilang, siapa tahu ada buku resep makanan timur tengah karena sudah seminggu ini program tv kesayangan ia dan ibunya menampilkan suasana wisata dan kuliner di negeri bagian sana.
"Jangankan timur tengah, resep dari kutub utara juga ada," canda Daniar di tengah kegiatan mengayuh
Pemandangan yang tadinya berupa warung-warung berjejeran kini berganti menampilkan potret objek hijau yang memanjakan mata. Sawah yang kelihatannya baru satu minggu ditanami dengan tanaman padi terlihat basah dan irigasi-irigasi di samping kanan kirinya menimbulkan suara gemericik menenangkan. Musim hujan di bulan Januari, sungguh sebuah berkah bagi beberapa petani. Air yang secara periodik turun dari langit akan memberi kehidupan untuk tanaman yang mereka tuai. Berkah dari Tuhan, bukannya tidak bersyukur karena ketika datang musim kemarau kegelisahan melanda dari beberapa petani itu. Air tak turun setiap hari, mereka harus membayar pada orang yang bertugas untuk pengairan, mengartikan juga kalau mereka harus membagi upah hasil panen. Beruntung kalau hasil panen memuaskan, terkadang tak mengalami kerugian saja sudah cukup untuk mereka syukuri.
Beberapa puluh meter dari tanaman padi, pendangan menangkap taman sayuran yang sudah lumayan banyak berbuah. Kisah mereka kurang lebih sama dengan tanaman padi dan keadaan orang yang menanamnya. Intinya, di setiap Daniar memandang ke sudut mana pun ialah memiliki kisah sendiri jika ditelisik. Tidak serta merta hanya memberikan keindahan menakjubkan.
***
Fathur mengaku kaget ketika baru sampai di tempat. Ia mengira sudah berada di luar kota, tapi memang karena ia jarang saja keluar menjelajah tempat demi tempat. Daniar sih tak perlu ditanya, ketika mendapat tugas mengantar hasil cucian, sekali mendayung ia pergi ke tempat yang menurutnya menarik. Ia tak mendapat kesenangan ketika di sekolah, maka ia berusaha mencari kesenangannya di luar itu.
Setelah melewati sawah-sawah yang tidaklah terlalu panjang, bagaimana tidak, pemandangan kemudian diganti oleh lingkungan dengan roko-toko kelontong dan ruko-ruko yang beberapa tertutup. Ruko-ruko itu akan ramai membuka semuanya kalau pajak yang ditetapkan pemerintah diturunkan sedikit saja lagi. Ada yang hampir tercekik kehidupannya hanya untuk membayar itu.
Tempat rental berada paling sudut, Charles mempertimbangkan jika tempat ramai seperti lingkungan tersebut akan membuat tempat yang dibangunnya juga ramai. Meski tak seindah ekspektasi, tapi lumayanlah untuk mendapat penghasilan.
Daniar berusaha mengendap memasuki tempat, membuat Fathur sedikit keheranan. Alasannya sederhana, Daniar tak ingin Charles memanggil dengan panggilan yang bukan namanya. Tapi Charles sangatlah peka pada setiap pengunjung, kepala Daniar terlihat jelas sekali di tempat Charles duduk.
"Angela, kamukah itu?"
"Tentu bukan," jawab Daniar
"Pastilah itu suara kamu, masuklah, jangan malu-malu. Bersama pacarmu, eh? William ya? Selamat datang."
Tuh 'kan, Charles selain pandai mengakrabkan diri, kadang-kadang ia suka seenak udel berasumsi. Fathur jadi kebingungan bukan kepalang sekarang.
"Dia seorang teman dan namanya Fathur."
"Ya, ya, aku mengerti. William, silahkan melihat-lihat dan tanyakan aku jika tak temukan buku yang kamu mau."
Daniar berbisik agar Fathur tak terlalu peduli dengan bicara Charles. Mereka harus segera temukan buku lalu langsung pulang saja. Daniar harus segera mulai membuat pesanan sedangkan Fathur tentunya tak akan meninggalkan ibunya dalam waktu yang lama.
"Panggilan yang bagus. Banyak orang-orang hebat bernama William, rasanya aku tak cocok dipanggil seperti itu," ujar Fathur pada Charles tiba-tiba
"Maka jadikan mereka motivasi, Will. Yang mana satu favoritmu?"
"Eh..? Mungkin William Shakespeare."
"Ya, dia hebat. Kisah Romeo dan Juliet, bahkan karyanya masih terkenal hingga sekarang."
"Anda tahu juga? Aku paling suka quotes-nya."
"Panggil aku Charles. Ya, quotes-nya bagus-bagus."
"Lalu Charles, kenapa panggilanmu itu? Siapa tokoh favoritmu?"
"Eh...siapa ya? Aku cuma tahu Charles Darwin sih, tapi dia juga hebat. Aku mana mungkin kepikiran tentang siapa nenek moyang manusia dan bagaimana evolusi bekerja. Dia terlalu punya banyak waktu untuk memikirkan itu, ilmuwan itu jalan pikirannya sangat aneh tapi hebat. Mengerti 'kan maksudku? Seleksi alam ternyata memang nyata, ya."
Daniar masih membeku di tempatnya berdiri, kenapa mereka berujung akrab begini? Nyatanya mereka kelihatan seperti berdiskusi untuk menentukan keputusan penting.
"Yah, sebenarnya aku tak terlalu mengerti juga sih, aku lulusan sastra Inggris bukan lulusan biologi," lanjut Charles
Dari situ Charles mulai bercerita tentang bagaimana dari SMP ia hobi membaca dan mengumpulkan buku-buku yang ia beli atau diberi dari orang-orang baik. Kala saat kuliah, ruangan di rumahnya tak larat lagi menampung buku-buku yang kebanyakan sudah berdebu muncullah ide membuat tempat rental buku dibantu kakaknya. Ia juga sedikit bermodal dengan membeli buku-buku modern kisah romansa remaja yang banyak digandrungi. Ini menguntungkan saat kebanyakan remaja itu adalah anak-anak sekolahan dan mereka tak punya cukup uang untuk membeli buku juga tak ingin menabung. Tujuan Charles juga sebenarnya mulia, saat waktu itu banyak novel ilegal dijual dengan harga miring, tentu saja langsung membuat remaja kalap membelinya demi memenuhi kebutuhan hiburannya tanpa tahu tindakan salah itu salah atau benar. Miris sekali kalau dilihat.
Percakapan antara Charles dan Fathur diakhiri setelah Charles menunjukkan rak tempat buku resep masakan berada.
"Aku ingat, yang ini diberi bibiku. Tak pernah k****a karena aku sama sekali tak pandai memasak. Terakhir kali aku membuat sayur bayam yang harusnya nikmat malah berakhir seperti manisan bayam. Gula halus dan garam susah dibedakan, tahu. Sudah dulu ya, William."
Setelah berkata begitu Charles meninggalkan mereka dan beranjak menyambut pengunjung yang baru datang.
"Jadi, kamu Angela?"
"Jangan ikut-ikutan Charles, deh."
Fathur tertawa, mungkin mengingat panggilan itu sama sekali tak cocok untuk Daniar yang tak ada mirip-miripnya dengan sosok malaikat seperti yang orang-orang pikirkan.
"Jadi siapa itu William shares..."
"William Shakespeare, dia semacam pujangga dan dramawan. Baru tahu?"
"Baru diberi tahu olehmu."
"Mau dengar sebuah quotes?"
Daniar mengangguk mantap.
"Kita tahu siapa diri kita tetapi kita takkan pernah tahu seperti apa kita nantinya."
"Waw, bagus sekali kata-katamu."
"Bukan kata-kataku, itu kata William Shakespeare. Aku sih hanya William Fathur."
Mereka kemudian tertawa pelan.
"Jangan bilang-bilang Dio atau dia akan iri kita bersenang-senang hari ini."
"Semoga besok dia kembali sekolah dengan normal, entah apa yang terjadi padanya."