Sebuah Ancaman

2012 Kata
Dilihat dari sudut manapun, sangatlah mustahil jika manusia berlomba kecepatan dengan sebuah mobil. Kalau mobilnya serupa angkot b****k, mungkin bisa sedikit diberi harapan menang. Atau jika mobil bagus sekalipun namun kecepatannya diatur tidak lebih dari sepuluh kilo meter per jam, bisa sedikit diwajarkan. Apalah daya yang Dio lawan adalah mobil canggih dengan kecepatan di atas rata-rata, mau berlari sekencang apapun juga tentu bisa dikejarnya. Tak cukup semenit setelah mengambil napas, mobil itu sudah menghadangnya begitu saja. "Kalian ini kakakku apa penculik sih?!" Diseretnya Dio masuk ke dalam mobil, Dio berusaha melepaskan diri. Digedor-gedormya kaca mobil yang tampak hitam dari luar, tak ada yang dengar, tak ada harapan untuk kabur. Lalu ia pasrah dengan berusaha tertidur pulas sepanjang perjalanan. Butuh sekarung pengharum mobil setibanya di sebuah gedung. Dio tertidur betulan, macam kerbau, setidaknya puluhan pengharum mobil itu akhirnya bisa membangunkannya, bonus rasa mual dan mabuk. Ia berjalan sempoyongan keluar mobil lalu kembali berjalan tegak setelah mendengar teriakan ayahnya. "Yah, begitulah hari mingguku. Tak ada kesenangan sama sekali. Hari minggu macam apa! Tapi aku akan senang kalau kalian menikmati hari minggu kalian. Kalian bersenang-senang, bukan?" Dio bercerita pada Dio dan Daniar di hari senin "Y...ya, sangat bersenang-senang. Aku berhasil menyelesaikan lima puluh persen lukisan yang dipesan orang," jawab Daniar kikuk ketika mereka sedang menghabiskan waktu di ruang kelas yang sepi "Itu bagus, lanjutkan. Setelah ini aku yakin kamu dapat banyak pesanan nantinya. Kamu, Fathur?" "Aku pergi meminjam buku resep masakan tapi belum kupraktekkan, sedang menunggu daging sapi turun harga." "Ya, aku dengar di berita harga daging sedang melambung tinggi macam bola basket yang dilempar Kak Febri." Kak Febri adalah murid kelas tiga SMA, senior mereka yang juga kapten tim basket. Selain sebagai kapten basket, ia terkenal karena aksi heroiknya menolong seekor kucing betina yang terjebak di atap, rekaman video aksinya sudah ditonton hampir satu juta pasang mata di sosial media. "Betulan deh, aku sudah muak dengan kelakuan kakak-kakakku. Pengharum itu...astaga, bikin aku mual lagi mengingatnya. Kalau wangi lavender masih bisa kumaklumi, mereka membeli varian bunga melati. Dikiranya aku habis mandi kembang oleh orang-orang di gedung itu." "Jadi, kamu dipaksa ke acara bisnis-bisnis itu lagi?" "Seperti yang kamu pikir." Sebenarnya Dio bisa saja mau pergi jika ayahnya sendiri yang memintanya. Seperti yang dulu-dulu, didatanginya Dio di kamar yang masih ber-sprei tokoh marvel. Dibujuknya ia dengan perkataan manis dan wejangan-wejangan, kalau masih tak mempan, dikasihnya ia mainan baru dan dibelikan parfait rasa stroberi. Semakin besar, momen itu sudah tidak ada. Tuntutan-tuntutan sebagai pewaris keluarga Ghani justru yang menggantikannya. Tentu saja ayahnya tak sudi bersikap manis jika anaknya sendiri tumbuh menjadi anak tidak seperti apa yang diharapkannya. Dio sendiri masih berpegang teguh jika dirinya bukan semacam cetakan yang harus benar-benar mirip dengan kriteria ayahnya. Lagipula acara-acara temu kangen antar rekan bisnis itu memiliki sebuah kedok lain. Sebenarnya punya tiga anak yang dibangga-banggakan pada keluarga lain itu saja sudah cukup. Biarlah anak satunya tidak diajak asalkan mereka mengijinkan Dio melakukan hal yang disukainya, itu akan lebih baik. "Lalu fungsimu di pertemuan itu untuk apa, Dio?" tanya Fathur Mereka, keluarganya, sengaja ingin membuat telinganya panas! Sudah tak terhitung berapa kali ia mendengar ayahnya membanggakan pencapaian anak-anaknya, hanya kadang berganti diksi saja. Intinya sama, pikir ayahnya Dio akan termotivasi dan semakin panas hingga meninggalkan cita-citanya ingin menjadi seorang olahragawan. "Keringat dari sebuah jas lebih baik dibanding keringat yang keluar dari kaos olahraga," kata ayah Dio suatu hari Hah! Mereka pikir Dio mudah tergoyahkan begitu saja. Motivasi sih motivasi, tapi Dio tak sudi mendengarnya dengan senang hati, minimal berpura-pura memandangi sekitar sambil berkomat-kamit menyanyikan lagu favorit sementara ayahnya masih sibuk memamerkan kehebatan Denis yang katanya menjadi ketua forum di kampusnya. "Yah kurang lebih peranku sebagai bahan hiburan kakak-kakakku setelah di hadapan tamu mereka bilang akan membimbing dan mendukungku lalu ketika tamu itu pergi mereka tertawa terbahak-bahak macam orang sinting. Tapi aku lebih suka disebut peran sebagai tukang pemburu makanan sih, satu-satunya hal baik di acara itu adalah parfait stroberi." Dio menutup buku catatan matematika Fathur dan menyerahkan ke pemiliknya setelah selesai menyalin jawaban. Tidak berniat mencontek sebetulnya, Dio hanya ingin menyamakan jawaban yang sudah ia kerjakan namun apa daya hanya satu nomor yang benar dari sepuluh nomor. Fathur mengiyakan saja ketika deretan gigi putih tertuju padanya tanda bahwa ia butuh mencontek sebelum tenggat jam berdentang. Dio berjanji akan mempelajari jawabannya sepulang sekolah. "Lupakan tentang nasibku di hari minggu kemarin. Bagaimana persiapan study tour kalian?" "Aku bingung apa saja yang harus dipersiapkan dengan minim pengalaman study tour," jawab Daniar "Menurutku tak perlu banyak yang harus direpotkan, empat hari sangat singkat. Jangan dengarkan kata orang yang bilang perlu membawa kursi santai buat nikmati matahari tenggelam di pinggir pantai, paling-paling kursi itu sudah terseret ombak duluan sebelum sempat diduduki." "Lagian tas bututku hanya cukup untuk diisi baju-baju dan barang-barang tak lebih dari enam kilo gram." "Sangat cukup, kok. Fathur, bagaimana tanggapan ibumu?" "Aku heran kenapa dia tersenyum lebar sekali seolah ia sendiri yang akan pergi study tour." "Sudah kubilang, kamunya saja yang kurang peka terhadap apa yang ibumu inginkan." "Jadi, perlu Bu Lasmi buat menemani ibumu tidak?" Fathur menggeleng pelan, teringat bagaimana akhir-akhir ini ibunya sangat bugar dan bahagia. Bahkan ia mulai berkebun lagi kala melihat bunga-bunga hampir layu di halaman depan rumahnya. "Kurasa tak perlu. Seminggu ini ada tetangga baru di samping rumah yang baru pindah. Ibuku langsung akrab dengan mereka. Mereka juga baik sekali, kita pernah saling berbagi makanan. Mereka tahu keadaan ibu dan yah, aku percaya kok pada mereka. Ibu juga tampak bugar akhir-akhir ini." "Tetangga yang baik, itu hal yang bagus, syukurlah. Tetanggaku malah sebaliknya, kadang-kadang kalau tak menyebarkan gosip sana-sini mereka yang akan membuat gosip itu sendiri dengan bumbu-bumbu favorit tukang gosip, jadilah berita menyebalkan yang 360 derajat kebenarannya," tukas Daniar sedikit emosi "Turut berduka atas hilang akalnya tetangga-tetanggamu." "Kamu sendiri, bagaimana, Dio?" "Jangan khawatirkan aku, aku sungguh siap untuk kegiatan ini. Daripada itu syukurlah jika kalian tak memiliki kendala lain lagi. Fathur, simpan nomor saudaraku yang bekerja di rumah sakit, aku yakin dia akan membantu secepat mungkin jika ibumu perlu masuk rumah sakit. Tentu saja ini cuma antisipasi, ibumu akan baik-baik saja aku yakin." Semakin dibicarakan membuat Daniar semakin tak sabar, daripada itu ia tetap fokus menyelesaikan pekerjaannya secepat mungkin untuk mendapat penghasilan pertamanya. Hal itu lebih mendebarkan karena ia sudah berurusan dengan orang lain, kalau ia melakukan kesalahan, habislah sudah. *** Sepeda Abah Mus rantainya rusak. Kalau tak salah ini sudah ketiga kalinya Daniar bawa ke bengkel. Harusnya tak butuh lama untuk diperbaiki, paling lama sepuluh menit kalau tak banyak pengunjung. Untungnya, tiga paket cucian sudah diantar. Kini ia berdiri mematung menatap jalanan di pinggir bengkel sambil menenteng bingkai kayu yang dibeli dari toko aksesoris. Beruntungnya sedang ada diskon, paling tidak dengan uang lima puluh ribu, masih bisa ia dapatkan kembalian. Saat mampir ke warung depan rumah nanti, uang kembalian itu akan ia gunakan untuk membeli sabun deterjen saja. Daniar cukup khawatir karena sebelumnya, saat ada yang memergokinya pergi ke bengkel, Abah Mus jadi banyak bertanya tentang keadaan sepeda. Tetangga samping rumah yang melaporkannya, tentulah ia harus khawatir karena jarang ada tetangganya yang berbicara seutuhnya tentang fakta. Masalah rantai yang putus akan berbuku-buku menjadi ban kempes, rem blong, dan setang bengkok. Daniar hanya bisa berlapang d**a, marah pun tentu tak bisa. Memusuhi tetangga seperti itu akan membuat perbuatannya semakin melunjak saja. Menutup telinga adalah solusinya. Lagipula Abah Mus adalah seorang kakek tua, Daniar harusnya tahu alasan ia menanyakan keadaan sepeda bukanlah untuk menyelamatkan hartanya. Seorang gadis yang membuatnya teringat akan cucu adalah alasan agar ia tak mengalami bahaya saat menaiki sepedanya. Abah Mus menyayanginya meski tak menunjukkannya. Satu-satunya yang salah dari Abah Mus adalah anak-anaknya yang tak punya nurani. Selain jarang pulang kampung, mereka suka meminta jatah dari hasil jual ternak, Daniar ingat ia pernah dimintanya memberi tahu cara mentransfer uang. Daniar waktu itu sama sekali tak tahu, maka ia hanya bisa mendoakan kalau Abah Mus selalu sejahtera karena sudah membantu meminjamkan sepeda. Di tengah termangunya, Daniar menepi memberi jalan dua sepeda motor yang hendak memasuki bengkel. Kelihatannya salah satu sepeda motor itu bannya kempes, orang yang mengendarainya terlihat kesal sekali. "s**l! Ternyata kutukan pembawa s**l itu masih berlaku meski sudah berpisah," kata orang itu "Perasaan itu salahmu karena tak perhatikan jalan," timpal salah seorang lainnya "Diam! Kamu lihat? Bahkan sepeda yang pernah kugantung di pohon beringin masih saja digunakannya." "Sepatu yang pernah dilemparkan ke kolam ikan oleh dia masih kamu pakai juga 'kan?" "Diam! Dia itu memang orang yang paling kubenci setelah adikku. Untung sudah jarang bertemu, setiap melihatnya ingin kuajak kelahi." "Paling kamu cuma omong doang, jadi ingat waktu SMP." "Diam! Anak Mami itu selalu saja bikin aku ingin menghancurkannya. Sok baik, sok pintar, bikin aku mual." "Dia kan emang baik dan pintar, lagipula dia bukan anak Mami, kok. Kudengar dia seperti itu karena ibunya yang sakit-sakitan." "Sekali lagi membela kutambah bunga untuk hutangmu. Ah, pokoknya lihat saja. Kapan-kapan deh, kalau aku senggang akan kuajak kamu kelahi, Fathur." Daniar yang sedari tadi menyimak obrolan mereka jadi kalang kabut. Ia tak sadar sudah dipanggil tukang bengkel karena rantainya selesai diperbaiki. Fathur, kamukah itu? Memang tak mungkin hanya ada satu nama seperti itu di daerah ini. Tapi, Fathur, betulkah ia bermusuhan dengan dua orang yang salah satunya berjambul tak simetris itu? Daniar harap semoga bukan Fathur yang ia kenal, tapi bagaimanapun juga ia penasaran sekaligus khawatir. Daniar menatap dua orang laki-laki seumurannya untuk menghapal wajah mereka. Tapi mereka berbalik menatap dengan tatapan garang membuatnya langsung memalingkan muka dan mulai pergi dengan sepedanya. *** Pengerjaan lukisan nyatanya selesai dalam waktu kurang dari seminggu, lima hari lebih tepatnya. Tiga hari selesai membuat sketsa dan merapihkan goresan-goresan supaya lukisan hitam putih itu terlihat halus. Dua hari lainnya digunakan untuk menenangkan hatinya dari rasa takut kalau-kalau pelanggan akan mengembalikannya dan tidak jadi membayar. Daniar akan tenang setelah lukisan itu akhirnya telah dikirim. Sebelumnya, ia menggunakan segala cara supaya siapapun yang masuk ke kamarnya agar berhati-hati, terutama kedua adiknya yang kadang suka menyelinap meminjam smartphone untuk bermain game. "Di kamar Mbak ada harta karun berharga, harap jangan buat kekacauan atau game dinosaurus akan mbak hapus." Begitu tulisan yang terpampang di depan pintu kayu kamarnya. Untunglah hari ini waktunya, saat sepulang sekolah dimana para murid dipulangkan lebih awal karena diadakan rapat dadakan. Dio menyarankan agar mengirim lewat pos setelah dipastikan pelanggan pertamanya telah membayar lewat dompet elektronik. Ya, teknologi sungguh berkembang sangat pesat. "Kugunakan dompet milikmu untuk alat pembayaran, kalau hutangku sudah terbayar baru kubuat dompetku sendiri." "Santai saja, Niar. Omong-omong, apa tidak kemurahan dengan harga segitu? Artist lain bahkan ada yang pasang harga jauh di atas itu." "Aku ini pemula, kalau kupasang harga mahal pelanggan akan kabur nanti. Lagian perlahan saja, ibuku juga awalnya pasang harga murah untuk mencuci, sekarang bahkan sudah naik tiga kali lipat. Menurutku, aku harus meningkatkan kualitas dahulu baru berani membuat perubahan." "Iya deh kalau kamu sudah bilang begitu." Sepanjang perjalanan menuju kantor pos, hanya Dio dan Daniar yang asyik mengobrol. Fathur tak terdengar suaranya. Baru kali ini juga Fathur sibuk menatap layar ponselnya sembari menuntun sepeda, biasanya hal seperti itu sangat anti dilakukannya karena bisa menimbulkan bahaya. Pastilah ada sesuatu menarik yang ditatapnya. Daniar menduga itu adalah resep masakan terbaru yang ditemuinya, sementara Dio menduga itu karena Fathur sedang fokus melihat berita daging sapi yang akhirnya turun harga. Tapi wajahnya yang mulai merah bagai tersulut amarah, membuat Daniar teringat akan sesuatu. "Fathur, kenapa sih diam saja? Oh iya, omong-omong bagaimana kalau setelah ini kita pergi ke rumahmu menemui ibumu?" Fathur kemudian mengalihkan perhatiannya sejenak pada Dio. "Eh? Tak perlu, ibuku sangat sehat bahkan pagi-pagi sudah diajak tetangga samping rumah menonton drama Korea." Dio pun mengangguk tanpa menaruh rasa curiga padanya. "Ada apa, Fathur? Dari tadi rautmu terlihat seperti kesal karena mendapat sebuah ancaman," tanya Daniar sudah tak tahan "Itu...hanya sebuah ancaman kecil sih. Niar, kamu punya mata batin?" "Hah? Siapa yang mengancammu, Fathur? Katakan pada kami," Dio heboh sendiri "Bukan masalah besar, aku bisa menghadapinya sendirian. Jangan khawatir." "Apakah ancaman itu datang dari seorang yang berjambul tidak simetris juga punya teman yang tubuhnya ceking?" "Yah...deskripsi yang sangat tepat tapi...bagaimana kamu tahu, Niar?! Betulan punya mata batin?" Daniar jadi ngeri sendiri membayangkan jika ia punya kemampuan seperti itu.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN