Perselisihan dengan Jay

2030 Kata
Study tour tinggal beberapa hari lagi, tidak peduli apa-apa saja yang belum disiapkan, tiga orang sibuk berbincang menyegitiga di bawah pohon angsana sore itu. Laki-laki yang kini berpakaian serba coklat dengan hoodie dan celana cargo menyerukan sebuah diskusi penting membuat Daniar cepat-cepat pergi ke tempat mereka begitu cucian-cucian sudah diantarkan. Seruan Dio meskipun terkadang sepele seperti kemarin-kemarin dimana ia menyuruh Daniar dan Fathur berkumpul di warung kopi untuk berdiskusi tentang apa jadinya jika Newton tidak bersandar di bawah pohon apel, rupanya ia sedang stres oleh pelajaran fisika. Daniar rasa hal seperti itu bisa dibicarakan melalui grup chat, tapi Daniar selalu tahu bertemu dengan mereka akan berakhir dengan perasaan menyenangkan. Bertukar pikiran dan saling bercerita pengalaman serasa jika mereka adalah orang yang dikirim Tuhan untuk membuat hidupnya berwarna. "Sahabat kita berhutang cerita," Dio menatap Fathur, mereka sedang duduk di rerumputan "Tentang sebuah ancaman itu ya? Aku bertemu dengan mereka di bengkel. Mereka kelihatan tak suka padamu. Sepertinya mereka melihatmu bersepeda sebelum mereka pergi ke bengkel itu. Tak ingin berbohong, sebenarnya aku juga ingin tahu apa yang terjadi padamu," tutur Daniar "Biarpun aku tahu kamu bisa menghadapinya, tak ada salahnya kamu bercerita. Rasanya aku dan Daniar sudah ceritakan bagaimana kehidupan di SMP dulu. Lagian aku yakin ibumu tak tahu apa yang terjadi padamu, janganlah dipendam sendirian, minimal cerita pada kami." Fathur juga kelihatannya bingung ingin memulai dari mana. Ia jadinya harus mengorek kenangan demi kenangan di sekolahnya dulu yang tak banyak momen indahnya. Saat SMP, Fathur adalah anak yang benar-benar akan takut kehilangan sosok ibunya. Selepas ayahnya memutuskan bekerja di ke luar negeri membuat ia merasa memiliki tanggung jawab penuh untuk menjaga ibunya. Tak ada yang lebih penting selain membahagiakannya, ia ingin menjadi anak sebagaimana anak yang membanggakan orang tuanya. Fathur rajin, karenanya membuat ia pintar dan tak pernah absen meraih gelar sepuluh besar di kelas maupun satu angkatan. Fathur menghormati guru sebagaimana ia menganggap mereka adalah orang tuanya, setiap melihat wajah-wajah mereka yang mulai keriput seperti ibunya disitulah rasa ingin menjaga menjalar. Fathur sangat lembut dan sopan terhadap perempuan, karena ia ingat bagaimana lembutnya ibunya saat berbicara dan bercerita. Fathur yang lembut tapi gagah, manis juga berkharisma membuat banyak orang ingin menjadi temannya, tak sedikit yang ingin jadi kekasihnya. Fathur menyadari jika saja waktu itu ia menerima ajakan teman-temannya pergi karaoke di sebuah mall, ia mungkin sudah menemukan ibunya tergeletak di bawah kasur. Beruntung ia tak pergi maka ia bisa membawanya ke rumah sakit sebelum bahaya terjadi. "Itu awalku akhirnya mulai menutup diri pada teman-temanku," katanya, Dio dan Daniar setia menyimak Banyak yang menyesali keputusan Fathur, teman sekelas nampak tak terbiasa karena Fathur tak lagi banyak bicara. Hal yang dilakukan setelah bel pulang berbunyi adalah segera pulang ke rumah, tanpa ada basa-basi lagi di sepanjang koridor. Tapi Fathur masihlah anak dengan sikap lembut dan sopannya, terutama terhadap perempuan. Ia akan membalas senyum ketika ada yang senyum padanya. Setiap ada tugas kelompok ia selalu mengerjakan bagiannya secepatnya lalu ia bisa segera pulang. Nyatanya ada yang merasa dirugikan karena ini. "Kenapa sih dia? Tak mau betul berlama-lama dengan kita. Mentang-mentanglah dia pintar, kamu juga lihat kan perempuan-perempuan itu sikapnya amat berbeda jika sudah berurusan dengan dia. Dengar tidak sih, Ji? Jangan makan terus," laki-laki berjambul merebut keripik kentang yang hampir habis dimakan teman bertubuh ceking "Harusnya ini waktuku bermain game, tapi perempuan di kelompokku menyuruhku melakukan ini itu, kenapa tidak Fathur saja tuh yang disuruh," cibirnya lagi "Bukannya dia sudah melakukan bagiannya?" "Diam! Gara-gara dia juga aku pernah dimarahi karena ijin tak ikut kerja kelompok buat pergi ke warnet, giliran dia yang ijin, tak ada yang protes satu pun." "Itu karena dia ijin jenguk ibunya yang di rumah sakit katanya." Fathur bukannya tak bisa melihat ada beberapa orang yang tak suka padanya, ia hanya berusaha tak peduli. Laki-laki berjambul adalah yang terlihat jelas, dari pandangan maupun tingkahnya seolah ia menganggap Fathur telah melakukan kesalahan fatal. Padahal hanya sekali waktu itu Fathur tak sengaja membuat bola sepak yang ditendangnya mengenai mukanya. Tak sampai mimisan seperti yang terjadi di film, hanya beberapa orang terutama perempuan menertawainya di lapangan. Mungkin memang kejadian memalukan seperti itu ada yang menganggap sebagai penghinaan, tapi Fathur sungguh tak sengaja dan telah mengulurkan tangan untuk meminta maaf tapi tak disambutnya. Hubungan dengannya bertambah buruk saat itu, semakin hari bertambah semakin Fathur yakin satu-satunya kesalahannya adalah membuat dia iri seperti yang beberapa teman baiknya bilang. Fathur malah memandang miris, andailah semua orang tahu bagaimana ia menjalani hidup setiap hari dengan ketakutan akan kehilangan seorang ibu. Puncaknya adalah saat tanggal 14 Februari, tanggal paling trend untuk menyatakan cinta yang bahkan tak pernah terlintas di benak Fathur sama sekali. Ada dua surat cinta di kolong mejanya, satu berwarna putih ditempeli stiker beruang, satunya lagi berwarna pink diselipi coklat berbentuk bintang. Seisi kelas heboh, berusaha menebak-nebak siapa yang menulisnya di tengah jaman teknologi maju begini. Salah seorang teman merebutnya, dan memberitahu seisi kelas jika Fajira dari kelas sebelah yang menulisnya. Satunya lagi anonim, hanya ingin menyampaikan kekaguman pada Fathur yang Fathur rasa itu tak perlu. "Bukan main, sahabatku ini ternyata pernah dapat surat cinta? Beruntung betul kamu." Daniar memukul pelan bahu Dio yang memotong cerita Fathur padahal sedang tegang-tegangnya. Fathur sungguh tak tahu harus berbuat apa, ia belum siap mengenal cinta juga ia tak mau menyakiti hati orang. Maka ia pergi menemui orang yang bersangkutan untuk meminta maaf karena tidak bisa membalas perasaannya. Banyak yang menyayangkan karena Fajira sendiri adalah ketua klub seni tari yang setiap ada event tertentu selalu ditunggu penampilannya. Tak selesai sampai di situ, Fathur mendengar berita jika Fajira adalah perempuan yang disukai laki-laki berjambul dengan panggilan Jay itu. Fathur sadar sendiri, Jay pastilah sungguh meledak dengan apa yang sedang terjadi. Fathur tak bisa berbuat apapun, terlalu malas menciptakan perdamaian dengan orang macam Jay. Maka Fathur membiarkannya selagi ia tidak mengganggu hidupnya. Bukanlah salahnya, toh ia juga sudah menolak dan tak ingin berhubungan terlalu jauh dengan orang-orang. Tapi Jay adalah salah satu orang keras kepala di antara keras kepala lainnya. Kebenciannya mungkin sudah bertumpuk, membuatnya bisa runtuh sewaktu-waktu. Seisi kelas bisa melihat hubungan tak sehat antara keduanya, tapi tentu saja lebih banyak yang mendukung Fathur. Kekacauan mulai terjadi saat itu, Jay berani membuat Fathur tak tenang. Lain halnya dengan Daniar yang diserang bertubi-tubi dengan perkataan, Jay suka bermain dengan aksi. Bedanya juga, Fathur punya sedikit keberanian untuk melawan. Enak saja, hidupnya yang sekarang sudah rumit tambah memperumit saja. Jay juga kekanak-kanakan untuk anak kelas tiga SMP waktu itu. Berbagai tanda bahwa mereka adalah musuh bebuyutan mulai ditampakannya. Jay pernah menyembunyikan buku PR Fathur hingga Fathur bergabung dengan murid-murid lain yang tak mengerjakan PR berbaris di tengah lapangan. Fathur berakhir membalas dengan memberi tahu guru jika Jay asyik membaca komik di kursi belakang saat guru menerangkan, membuat komiknya disita sekaligus ia dihukum, bedanya tak ada murid lain yang menemani, Jay dihukum sendirian. Betapa memalukannya. Yang paling melegenda adalah aksi Jay berusaha menggantung sepeda milik Fathur di atas pohon, entah bagaimana ia melakukannya yang tentu saja dibantu seorang teman bertubuh ceking. Tak sedikit yang mengecam, tak sedikit juga yang menganggapnya hiburan. Fathur jadinya meminta bantuan satpam untuk menurunkan sepedanya atau ia harus pulang jalan kaki. Pada akhirnya Fathur juga manusia yang punya rasa kesal, Jay sudah keterlaluan menurutnya. Maka ia juga sudah muak dan tak segan membalas. Pembalasan paling fenomenal adalah saat itu pelajaran olahraga tentang praktek senam lantai. Jay sedari pagi ia dengar mengoceh tentang model sepatu baru yang dikenakannya, masih bagus dan bersih, katanya berjumlah sedikit di pasaran. Fathur yang setiap mengingat kejadian sepedanya digantung, seketika menggebu dan tak ragu mengambil salah satu sepatu kala Jay sedang melakukan roll depan tapi berakhir menabrak seorang teman di samping matras. Dilemparnya sepatu sebelah itu ke kolam ikan, pelan saja, Fathur tak mau membuat beberapa ikan yang ada di sana terkaget. Setelah berbuat begitu ia segera kembali ke ruang olahraga dan perasaannya menjadi lega. Fathur begitu senang bagai tak ada beban sampai bel pulang sekolah berbunyi. Kepanikan Jay sungguh menjadi penghiburnya. Sampai saat ada yang bertanya sepatu siapa yang mengapung di kolam ikan, Jay langsung lari terbirit-b***t. Ditemukannya sepatu itu yang kini ada seekor kodok di lubangnya. Kodok itu bersuara, seolah memberi tahu jika berbuat macam-macam dengan Fathur, maka inilah balasannya. Fathur tak melihat pemandangan wajahnya yang menemukan sepatu itu, sungguh lucu, ia lebih memilih segera pulang begitu bel berbunyi. Keesokannya Fathur mendapat surat ancaman, tentu saja dari Jay, bilang jika berhati-hati karena bisa saja ia babak belur saat dihadang nanti. Beruntungnya, hal seperti itu tidak pernah terjadi. Apa yang terjadi pada Jay sungguh tidak terduga. Jay diberi tahu teman bertubuh ceking jika Fathur pernah belajar karate sampai kelas 6 SD. Sedangkan Jay sungguh hanya punya nyali besar karena sering menonton film laga, mungkin dipikirkannya asal pukul maka jadilah babak belur. Kisah di SMP berakhir begitu saja, tak ada yang berubah dari mereka sampai acara perpisahan berlangsung. Fathur lebih memilih melupakan yang sudah-sudah, tapi rupanya Jay belum tumbuh begitu dewasa. Sangat disayangkan. "Lihat 'kan? Cuma masalah kecil. Dia bikin ancaman begini bukanlah apa-apa, tak akan dia menghajarku. Aku pernah ikut karate kalau kalian percaya," Fathur menyilangkan tangan ke belakang kepala lalu bersandar di batang pohon "Betulkah? Tapi aku lihat mukanya garang, juga tubuhnya sedikit berotot macam orang rajin pergi ke gym," timpal Daniar "Betul itu, Fathur. Bukan tak mungkin bajay itu telah berubah dan menjadi lebih kuat untuk melawanmu." "Aku terkesan kalau benar ia berubah hanya untuk melawanku seorang." Pada akhirnya Fathur menyuruh mereka untuk tak mengkhawatirkan apapun. Ia kemudian menceritakan kebahagiaan bertubi-tubi. Beberapa lagi ia akan pergi study tour, tentu akan lebih terkesan dibanding SMP karena sungguh ia punya teman yang bisa dijadikan pendengar dan pencerita yang baik. Kondisi ibunya yang begitu baik membuat rasa khawatirnya juga berkurang. Bahkan ia membantu mempersiapkan apa saja yang dibawa, sampai menjejali banyak barang yang Fathur rasa tak perlu. Kabar baik yang terakhir sungguh spesial, seolah ia sudah menunggu lama. "Bapakku sebentar lagi akan pulang, ibuku yang mendengarnya menari bahagia." Tak ada yang dilakukan Dio dan Daniar selain ikut berbahagia, kabar baik yang sempurna. Kalau sudah begini, entah Fathur habis mendapat ancaman atau apapun jadi terlupakan. Dio dan Daniar merasa lega, Fathur yang bahagia tak ada obatnya. Lawan seperti Jay akan mudah dikalahkannya asalkan ia dalam keadaan bahagia. Kalau dalam keadaan marah, kondisi jadi tidak terkendali justru akan membuatnya mudah kalah. "Jay itu sebenarnya hanya ingin mendapat perhatian kurasa. Korbannya tak sedikit, hanya aku saja yang paling menonjol. Mungkin bisa kuajak bicara baik-baik, sekaligus berpesan kalau mengirimkan ancaman tidaklah etis. Kalian setuju, 'kan?" "Ya, lebih baik begitu. Omong-omong kenapa dia dipanggil Jay begitu? Aku jadi ingat bajay melulu." "Nama aslinya Jayyid Abrar Ghiffari, orang bilang namanya terlalu islami untuk kelakuannya yang preman, jadilah ia dipanggil Jay." "Waduh, padahal namanya bagus begitu. Jay harus belajar ke orang tuanya tentang arti namanya, barangkali ia mau berubah." Maka di sore itu, satu masalah terselesaikan, dalam artian tak ada yang perlu dikhawatirkan. Mereka kemudian pulang ke rumah masing-masing juga menanti hari yang ditunggu-tunggu. Daniar ingin merasakan lembutnya pasir pantai, Fathur ingin menjelajahi dan mencari tahu resep makanan di daerah sana, dan Dio akhirnya lega selama tiga hari tidak akan diganggu oleh trio sableng yang masih tidak mau bertobat. Sementara di tempat lain, seseorang sedang dalam keadaan tegang. Ia menghadap seorang wanita paruh baya dengan kacamata hitam kotak. Di belakangnya, laki-laki bertubuh ceking tengah menahan tawanya. "Sudah berapa kali dibilang jangan ikut-ikutan berkelahi. Apa manfaatnya hah?" "Mereka buat Jay kesal, Mi." "Alasan, selalu saja! Namamu itu artinya bagus, harusnya kamu bercermin dong, buat umi malu saja." "Memang apa artinya, Mi?" "Kakekmu itu yang beri kamu nama. Artinya orang yang bersungguh-sungguh melakukan kebaikan dan pemaaf. Ada sifat itu dalam diri kamu? Kakekmu pasti menangis, Jay, membayangkan cucunya sudah besar tapi suka berkelahi sana-sini." "Maaf, Mi. Jay janji mau berubah. Ampun, Mi." "Harusnya kamu juga jangan berteman sama orang yang beri pengaruh buruk. Kamu! Jangan buat Jay masuk ke perangkapmu ya!" Paruh baya itu menunjuk teman Jay yang nampak terkaget. "Loh, loh. Justru Jay yang mengajakku berbuat nakal, Mi. Suwer deh." "Masa?" Jay langsung menunduk menatap lantai saat ibunya menatapnya tajam kembali. "Selama kamu belum berubah, jangan harap dapat uang bulanan dengan utuh!" Jay yang garang menjadi Jay yang malang. Kalau tak bisa mengulang semuanya, maka yang bisa dilakukan adalah berubah dan lakukan dari awal.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN