Jika bicara tentang perjalanan, yang paling berkesan adalah bagaimana rupa suasana dalam perjalanan yang dilewati dibanding tempat tujuan perjalanan itu sendiri. Di sana bisa ditemukan sesuatu yang tak bisa diduga. Akan menjadi sebuah bonus jika melihat sesuatu yang bagus. Akan menjadi bonus juga jika melihat sesuatu yang kurang beruntung. Anggaplah ianya menjadi bumbu sebuah perjalanan.
Apalagi bagi orang yang baru pertama kali berpergian jauh, entah sesuatu bagus atau buruk, dipelototinya setiap objek lewat jendela. Kuncinya ia tak perlu berekspektasi tinggi pada apapun dalam hidup yang banyak pahitnya ini. Hasilnya sungguh memuaskan, buktinya dengan melihat bagaimana binaran matanya. Hamparan sawah bukanlah sesuatu yang asing, sering juga ia lihat hal seperti itu di pinggiran kota tempat tinggalnya, utamanya saat hendak pergi ke tempat Charles. Hamparan yang ia lihat bukan serupa hamparan kecil lagi, lautan hijau yang berundak, sebutlah seperti itu. Rasanya tak habis-habis ujung dari hamparan itu meski bus sudah melaju sangat lama. Belum lagi awan yang bervariasi, ia bergantian menatap langit lalu sawah, begitu seterusnya sampai pandangannya dipenuhi warna hijau dan biru. Keributan di depan belakang bahkan nyaris tak digubrisnya, justru ia serupa mendengar banyak instrumen yang mengiringi perjalanan. Begini ternyata, pergi berwisata dengan banyak orang.
Hal yang paling mengherankan dari semuanya, seorang perempuan bermantel hijau di samping kanannya bagai tak memiliki kehidupan. Awal perjalanan dimulai di pagi buta, ia bilang minta maaf karena Daniar tak akan mendapat teman sebangku perjalanan yang seru. Matanya masih terpejam meski sudah berjam-jam bus berlalu, ia tipe orang yang akan mabuk perjalanan jika tidak tidur. Daniar yang pendiam jadi makin pendiam saja, tidak ada obrolan. Pandangan Daniar yang tak pernah teralih ke luar jendela, menandakan ia sedang mengobrol dengan alam sebagai gantinya.
Alam yang tak tidur, mereka banyak perannya. Kebanyakan mereka bertugas memenuhi ekspektasi orang perkotaan di tengah kejenuhan. Mereka juga kadang menjadi korban orang-orang tak tahu terima kasih. Yang sedang marak, mereka terpaksa berganti peran karena menjadi alam yang tak dihargai lagi. Pepohonan yang rata dengan tanah digantikan semen sungguhlah penginjakkan harga diri alam itu sendiri. Dan ingat, harga diri yang terinjak bisa menampakkan amarahnya sewaktu-waktu.
Jika Daniar sungguhlah bisa mendengar suara alam, tak akan kuat ia mendengar berbagai protes dan keluh kesahnya atas apa yang terjadi pada keberadaan mereka. Tapi nyatanya suara seperti itu tak pernah ada. Alam yang pendiam, mereka mirip seperti Daniar yang sebenarnya punya banyak hal ingin disampaikan atas kehidupannya. Tapi sekali lagi, menjadi manusia tidaklah sebegitu buruk. Jika mereka berpikir, mereka akan mendapat jawaban. Jika mereka bekerja keras, mereka akan mendapat hasil. Jika mereka bersyukur, mereka akan mendapat tak terhingga alasan untuk merasa beruntung dengan keadaannya. Terkadang hal sekecil ini justru dilalaikan manusia kebanyakan.
***
Belasan jam tak terasa, berbelas-belas juga tempat rest area telah disinggahi. Lima jam pertama, remaja-remaja masih banyak stok semangatnya. Lima jam kedua, lagi-lagu yang diputar sudah tak banyak lagi yang ikut menyanyikannya. Lima jam ketiga, kasur empuk adalah yang mereka butuhkan. Sebanding dengan apa yang didapat dari lelahnya perjalanan, apa yang mereka dapat di hotel sungguh terbayarkan. Setelah berebutan mandi, mereka berebutan bersantai di balkon. Ada yang benar-benar membawa kursi santai lalu meletakkannya di pinggir kolam renang buat nikmati pemandangan malam. Untung kolamnya tak berombak, Daniar jadi ingat perkataan Dio.
Daniar sendiri masih berdiri kaku, berjalan pun bergetar. Ia pasrah akan dapat urutan mandi keberapa atau kebagian kasur yang bagaimana saat tiga teman sekamarnya antusias berebut.
"Kita benar-benar berpisah, Niar. Eh tapi kamar kita tak berjarak begitu jauh, kok. Jangan lupa nikmati pemandangannya."
Dio dan Fathur berlalu dari hadapannya. Terlihat jelas dari matanya, tas milik Dio menggembung entah berisi apa. Belum lagi tas kecil yang dijinjingnya, agaknya Dio meminta Fathur bertukar tas saat mereka harus menaiki tangga untuk sampai di pintu masuk. Fathur menolak sambil mengejek Dio yang seperti hendak mendaki gunung Everest. Sedangkan tas yang digendong Fathur terlihat tak memiliki begitu banyak beban, tentunya setelah meminta ibunya tak memasukkan barang-barang lebih banyak. Dio berhenti sejenak di tengah tangga, mengambil napas panjang. Ia masih melihat Daniar yang juga belum beranjak, Dio melambaikan tangan, Daniar juga balas melambaikan tangan. Seketika Dio baru saja sadar, Daniar sungguh tidak peka, padahal ia melambaikan tangan untuk meminta bantuan bertukar tas.
Daniar masih memasang wajah polos, ia akan beranjak kemudian setelah kakinya sudah tenang. Maklum, baru pertama kali berpergian jauh.
***
Agaknya sampai pukul dua belas malam pun, suasana hotel belumlah tenang. Beberapa guru sudah kewalahan menyuruh mereka beristirahat. Saat masih di bus, mereka bilang ingin segera tidur di hotel. Sampai di hotel, mereka menyanggah dengan berkata sudah kenyang tidur di dalam bus. Tapi keadaan seperti ini Daniar sungguh merasakan, bagaimana ia bisa tidur kala disekelilingnya adalah sesuatu yang asing. Juga-juga orang-orang yang berbincang membuatnya tak terbiasa. Hal tak biasa di antara tak biasa lainnya adalah bagaimana ia bisa mengabaikan pemandangan malam tepat di depan matanya saat jendela hotel terbuka lebar. Keberuntungan gila, padahal Daniar tak berekspektasi pada hal semacam ini untuk perjalanan pertamanya.
"Kubilang juga apa. Kamar kita paling beruntung."
"Eh? Sudah selesai mandi, Daniar? Sini bergabung," ajak temannya begitu melihat Daniar keluar dari kamar mandi
Angin malam juga turut bergabung dengan empat orang di lantai tiga, piyama bertumpuk mantel rajut adalah apa yang dikenakan mereka. Kecuali Daniar, baginya kaos panjang dan sebuah mantel tipis sudah cukup. Padahal angin malam yang berhembus saat itu lumayan kencang, bisa membantu mengeringkan rambutnya yang baru saja dikeramas. Kemudian teman-teman sekamarnya menyudahi kegiatan memandang bintang, mereka mengajak Daniar mengikuti pesta piyama di kamar VIP milik Berryl, teman SMP mereka. Akhirnya dua orang pergi dan dua lainnya tetap di kamar. Satu orang lagi yang tak pergi selain Daniar adalah teman sebangku di bus yang memutuskan beranjak tidur segera setelah menguap lebar. Sebelum beranjak ia meminta maaf lagi kepada Daniar jika ia tak akan mendapat teman mengobrol seru sambil memandangi bintang. Daniar tak apa-apa sungguh, ini akan membuatnya lebih nyaman. Sekaligus Daniar berdoa untuknya karena khawatir akan hidupnya yang diisi tidur melulu dari awal perjalanan bermula.
Daniar kemudian menutup jendela yang tadinya lebar, menyisakan sedikit saja untuknya untuk memandang keluar sebelum kantuk datang. Ia yang berada jauh dari rumah, menandakan bahwa sudah seberapa jauh juga ia berubah dari dirinya yang dulu. Dulu ia khawatir, apakah tangisnya akan semakin kencang setiap malam sesaat sebelum ia tidur. Dulu ia khawatir apakah akan punya cukup keberanian untuk melakukan apa yang diinginkannya. Dulu ia khawatir, apakah masih ada orang yang mau nyaman bicara dengannya, seperti ibunya saat berdiskusi tentang pelanggan-pelanggan unik, seperti kedua adiknya saat berdiskusi tentang dinosaurus yang telah punah. Dulu ia ingin sekali mengajak seseorang berdiskusi tentang apakah dunia parallel itu ada, Daniar begitu terobsesi setelah membaca artikel di majalah astronomi tentang konsep ruang dan waktu. Sekali Daniar bisa melakukannya, jawaban orang-orang yang diajaknya berdiskusi sungguh tak terduga.
"Tentu ada. Pernah dengar tentang dunia sihir? Para penyihir itu ada, mereka hidup berdampingan dengan kita, tapi banyak dari kita yang tidak menyadarinya. Mereka bahkan punya sekolah dan kementerian. Yang paling hebat adalah permainan olahraga mereka, pakai sapu terbang, apa gak ajaib tuh." Dio menggebu-gebu
"Kalau tentang dunia lain, sebenarnya bisa saja ada. Tahu tentang lubang besar yang pernah muncul di beberapa negara? Siapa tahu saja, jauh di dalam lubang itu ada kehidupan yang tak pernah kita bayangkan. Kabarnya banyak hewan misterius dan monster yang tinggal di sana. Semakin jauh ke dalam lubang, semakin tak normal makhluk yang ditemui."
"Diskusi yang hebat hari ini, tapi sebaiknya kita sudahi saja diskusinya. Selanjutnya ajak aku menonton film yang kalian ceritakan itu," ujar Daniar menyudahi diskusi yang ia mulai
Pada akhirnya Daniar tahu, ia melupakan sesuatu yang sudah bukan di ranah kemampuannya. Yang mengijinkannya menjadi orang seperti sekarang, dikelilingi orang-orang yang lebih baik. Doa dan takdir, Daniar selalu mempercayainya.
***
Bicara dengan langit malam rasanya belum cukup. Melihat temannya bergumul dalam selimut membuatnya ingin merasakan juga hangatnya selimut tebal itu, entah seberapa kali tebal selimut tipis di kamarnya. Apalagi setelah ia menerima pesan dari Dio dan Fathur yang menyuruhnya segera tidur.
'Besok tujuan pertama taman bunga, jangan sampai menguap lebar, malu dengan kumpulan bunga yang segar di pagi hari.'
'Di sini sangat berisik tapi aku dan Fathur juga akan cepat tidur setelah memberi hukuman teman sekamar yang kalah main game. Kita ini sangat jago, hanya ingin memberi tahu.'
'Ya, aku juga harus cepat tidur. Aku kebagian membuat laporan di taman bunga, jadi harus mempersiapkan biar cepat selesai.'
Paginya perjalanan dimulai dengan semangat baru. Meski banyak yang tak tidur tadi malam entah karena pesta piyama atau tanding game, satu-satunya yang ia lihat seseorang tertidur adalah teman di sampingnya. Benar-benar ya, seolah tak cukup tidur berlapiskan selimut tebal tadi malam. Daniar sih tak mau mengganggunya, ia hanya melakukan apa yang biasanya dilakukan. Memandang keluar jendela yang dua jam lalu berembun, kembali ia seolah berbicara dengan alam. Langit hari ini lebih eksotis dibanding kemarin, ia melihat kumpulan burung yang terbang berbaris rapih menghiasi panorama saat itu.