Perumpamaan Tiga Hal

2000 Kata
Meski tajuknya adalah berwisata sambil belajar, rasanya tak banyak yang memahami visi kegiatan dengan sebenar-benarnya. Tidak salah juga sih, siapa yang tak tahan untuk tidak bersenang-senang di tempat penuh keindahan. Beberapa yang kebagian mendapat tugas mengisi laporan tentang jenis-jenis bunga di taman bunga ini, hanya butuh waktu sekedip mata hingga akhirnya tugas itu selesai. Bagaimana tidak cepat selesai, tinggal menyalin milik seseorang saja kok. Entah siapa yang menyelesaikannya begitu cepat dan entah bagaimana caranya, ia sungguh punya jiwa pembaca peluang. Sesiapa yang ingin menyalin harus membayar sedemikian rupa. Tak banyak yang keberatan, mengambil foto berjam-jam untuk diunggah di sosial media butuh keterampilan yang jauh lebih besar. Singkatnya, mumpung mereka ada di tempat bagus begini, tak seru kalau dihabiskan dengan belajar melulu. Walau usahanya tak berjalan mulus karena jawaban pemilik jiwa pembaca peluang itu sudah tersebar duluan, intinya ia dapat keuntungan entah seberapa peser. Malah ia mendapat uang dengan tanpa modal. Di pinggir kumpulan bunga warna ungu justru ia terkikik menikmati entah karena kebodohan atau kemalasan teman-temannya. Kalau mereka menggunakan matanya dengan benar, laporan itu bisa sangat cepat selesai dikerjakan hanya dengan melihat papan kecil di setiap tatanan kumpulan bunga. Kalau mereka bodoh, sungguh bodoh yang tak terduga. Kalau karena malas, sungguh malas yang tak tertolong. Tak banyak yang menyadari bagaimana nikmatnya berjalan mengelilingi tempat penuh bunga itu. Diciumnya harum berbagai jenis bunga itu, diamati, disentuh kelopaknya, sampai laporan itu selesai ada rasa puas kemudian yang menghinggapinya. Daniar bahkan masih memiliki waktu sebelum bus pergi ke tempat selanjutnya. Kebanyakan tugasnya setelah itu adalah menerima bantuan dari orang-orang yang memintanya mengambil foto. Ia tak tersinggung, justru terlihat sangat senang. Pikirnya, ia jadi berinteraksi dengan orang asing lebih banyak. Bahkan yang tak terduga, orang yang ia bantu ambilkan foto itu menawari Daniar untuk mengambil foto juga. Agak memaksa sebagai tanda terima kasih, akhirnya Daniar punya foto pribadi dengan sedikit bergaya, dipandu orang itu karena Daniar begitu kaku di antara warna-warni jenis bunga. Akhir dari kunjungan ke taman bunga, Daniar mengambil foto beberapa tempat eksotis. Akan digunakannya sebagai bahan belajar menggambar dengan objek selain wajah orang. Tempat selanjutnya yang dituju setelah makan siang adalah museum. Sebuah museum yang berisi koleksi transportasi di berbagai belahan dunia dan zaman berikut beberapa sejarahnya. Tempatnya indah dan klasik, juga banyak spot foto favorit yang ramai dikerubungi orang-orang, mereka sabar bergantian. Mereka yang kebagian mendapat laporan di sana sepertinya tak mendapat kesulitan, buktinya tak ada drama jual menjual jawaban. Kemudian satu-satunya tempat yang tak asing di telinga Daniar untuk dikunjungi adalah sebuah candi. Candi Singosari yang sering eksis di buku pelajaran sejarah kelas sepuluh lalu. Candi yang ia pikir hanya bisa melihatnya dalam gambar, sekarang ia bisa melihatnya dengan jelas di pelupuk mata. Melihatnya serasa bertualang di zaman dahulu, berpikir tentang apa yang terjadi di tempat ini beribu-ribu tahun yang lalu. Orang yang kebagian membuat laporan tentang candi ini jadinya harus belajar sejarah lagi yang mereka kira sudah terbebas dengan bacaan panjang membosankan itu. Salah satu yang mendapat tugas ini adalah Dio. Di hadapan Fathur dan Daniar, ia tampak frustasi dan memohon meminta bantuan mereka menyelesaikan laporannya. "Aku cuma ingat yang bagian jin membangun candi. Kalau tak salah, siapa itu ya namanya...Nyi Roro menantang Bondowoso bangun seribu candi dalam semalam, 'kan? Nyatanya gagal lalu mengutuk Nyi Roro jadi candi biar melengkapi seribu candi itu?" "Sejarah candi mana yang kamu ceritakan itu, Dio? Salah server, coba putar balik," terang Fathur "Kisah yang tertukar itu. Di hadapanmu itu Candi Singosari, bukan Candi Prambanan," timpal Daniar Akhirnya Dio menyelesaikan tugasnya meski dibantu oleh artikel dari internet, ia yakin banyak juga yang melakukan itu. Lagian siapa yang sangka sedang asyik bersenang-senang begini kedapatan tugas macam itu. Orang yang memiliki jiwa pembaca peluang mestilah sedang panen uang sekarang, bedanya ia sedikit bermodalkan kuota internet. Keesokannya adalah hari favorit menurut sembilan puluh persen penumpang bus yang sekarang bersorak sorai di dalamnya. Tapi hari tidak berlalu begitu cepat, sebelum sore menjelang dimana destinasi terakhir yang dituju adalah sebuah pantai, ada beberapa tempat lagi yang harus disinggahi. Kali ini adalah sebuah desa penuh edukasi, patut untuk dikunjungi generasi muda macam mereka. Di sana mereka akan mengetahui segala tentang peternakan, perkebunan, dan pemberdayaan berbagai tanaman obat. Bagi Fathur yang kedapatan membuat laporan tentang tanaman obat, begitu menikmati sampai-sampai tak sadar sudah menulis terlalu banyak. Yang kedapatan menganalisis perkebunan buah-buahan, bisa sekalian memetik dan memakannya, sungguh beruntung. Terakhir, berurusan dengan peternakan sapi, beberapa dari mereka diharuskan untuk memberi makan dan memerah s**u. Dari jarak puluhan meter, bahkan Daniar mendengar jelas teriakan seorang murid yang tak mau dipaksa memerah s**u, ia meminta guru supaya diijinkan memetik buah apel saja, buah favoritnya. Beberapa yang sudah mengerjakan tugas di tempat lain sih sekarang tengah bersantai saja, entah mau melakukan apa yang terpenting jangan mencemari lingkungan. Desa seperti ini harus dilestarikan karena keaasrian dan bagaimana masyarakatnya bekerja sama membangun kesejahteraan. Daniar akui di antara tempat yang sudah dikunjungi, desa ini adalah yang terbaik, bagaimana masyarakat menjalani hidup, ia jadi teringat ibunya. Tentunya ia berkata begitu sebelum pergi ke pantai. Sementara Fathur sibuk dengan tanaman obatnya, Daniar menghampiri Dio yang terheran-heran melihat bagaimana cara sapi menghasilkan s**u. Dio bergidik melihat bagaimana penduduk memerahnya dengan tangan kosong. "Aku kira pakai mesin yang bisa langsung menyedot itu." "Ah tapi jangan protes dulu, aku memang kurang tahu apapun tentang hal begini. Coba kamu lihat Berryl di sana, dia pasti mengira jika sapi bisa mengeluarkan s**u sendiri jika disuruh. Anak manja itu, ck," kata Dio lagi Daniar hanya manggut-manggut saja. Orang berada itu, mereka dibesarkan dengan cara apa sampai tak tahu hal sederhana seperti itu. Keberadaan Daniar dengan Dio yang sedang mengobrol berdua rupanya didapati beberapa orang dengan pandangan sinis. Bukannya Daniar tak menyadari, ia hanya pura-pura tak peduli seolah ia tahu kalau melakukan itu lagi, tak akan ada bedanya dengan Daniar semasa SMP. Daniar sedang bersikap bodo amat sekarang, tak peduli setan Willy dan teman-temannya sedang membicarakannya. Daniar sedang asyik menjelaskan kepada Dio apa saja yang tidak diketahuinya tentang hewan ternak. "Tahukah kamu Dio, jangan pernah coba-coba mengajak ngobrol sapi apapun yang terjadi." "Kenapa memang, Niar?" "Tak apa-apa sih, hanya takut disangka orang gila nanti." *** Bus sampai di parkiran sebuah pantai sekitar pukul empat. Waktu yang ideal untuk berburu matahari tenggelam. Tempat paling akhir yang dikunjungi ini memang seharusnya menjadi momen paling indah sebelum mereka bertolak ke kota asal. Para murid diperkenankan melakukan apapun di sana sampai setidaknya pukul tujuh malam, lalu mereka makan malam sebagai kegiatan terakhir. Sampai masa itu tiba, di situlah muncul perasaan jika ternyata hari berlalu begitu cepat. Sepanjang mata memandang, rupanya banyak orang telah duluan menginjakkan kaki ke sana. Kebanyakan pasangan, entah muda atau paruh baya. Kemudian ratusan remaja SMA menyerbu, Daniar tak bisa membayangkan betapa dongkolnya pasangan-pasangan itu, menganggap mereka adalah pengganggu. Remaja-remaja yang berlibur memang terkadang berisik, yah, mau bagaimana lagi, emosi mereka tengah berkembang. Tak sedikit dari mereka yang berlarian lalu berteriak-teriak di sepanjang pantai, serasa dunia milik sendiri. Daniar sendiri sungkan untuk melakukan hal macam itu, kekagumannya ia sampaikan lewat binaran matanya saja. Baru satu menit kemudian ia mengedipkan matanya, agaknya pasir terbang dan membuat perih Indra penglihatannya. Anginnya juga kencang, membuat Daniar dan dua orang di samping kanannya mengeratkan mantel yang mereka pakai. "Kalian tak mau teriak 'wah pantai...aku datang', gitu?" tanya Dio tiba-tiba Daniar dan Fathur yang mendengarnya diam saja, Dio bertanya pada orang yang salah. "Aku tantang deh, siapa yang berani berteriak begitu sambil berlari kubelikan lobster nanti malam." "Curang, kamu tahu orang macam apa kita ini. Lupakan lobstermya, jelas-jelas ikan bakar lebih maknyus," tukas Fathur Maka yang bisa dilakukan mereka bertiga adalah berjalan santai saja sambil melihat kanan kiri. Entah seberapa jauh, bekas tapakan kaki di pasir bisa menjadi penanda seberapa jauh mereka melangkah. Mereka melihat pasir-pasir yang semula rata mendadak menjadi terukir entah siapa saja yang mengukirnya di antara ratusan orang. Di antara ratusan orang itu agaknya ada yang sedang patah hati, kasmaran, bahkan memproklamirkan status menjalin hubungan, terbukti dari tulisan-tulisan di atas pasir itu. Belum saja diinjak oleh orang-orang atau diterjang ombak nanti. Tanpa sadar, mereka bertiga sudah berada dekat pepohonan bakau saja. Sedikit orang yang berada di area sana. Jelang pukul lima, mereka sudah harus menemukan tempat untuk menikmati matahari tenggelam. Dio bahkan sudah menyiapkan kamera untuk mengabadikan momen ini. "Sementara ayo duduk di sana," ajak Fathur menunjuk sebuah batu cukup besar, cukuplah untuk diduduki tiga orang "Baikl...ah awas kepiting! Capitnya!" Dio menjerit Padahal hanya kepiting kecil yang numpang lewat, Dio begitu heboh. "Kepitingnya masih di bawah umur, tak mungkin dia menyapit." "Belum saja kamu dicapit, Fathur." Setelah itu Dio bercerita antusias tentang pengalamannya pernah dicapit kepiting saat pergi ke pantai bersama keluarganya lima tahun lalu. Tak hanya dicapit, pernah juga ia tersengat ubur-ubur saat berenang. Lalu cerita merambah dimana ia pernah menangis tersengat tawon yang entah muncul dari mana padahal ia sedang berada di kamar. "Disengat tawon yang terburuk sih, tak hilang bekasnya selama dua minggu. Kalau disengat ubur-ubur memang sakit, tapi cuma sebentar. Dicapit kepiting tak begitu sakit, aku cuma histeris tadi. Bagaimana analoginya ya? Kalian tentu mengerti, 'kan?" "Mengerti kok, kuanalogikan mereka sebagai angin. Kepiting itu angin ribut, ubur-ubur sebagai angin topan, dan tawon adalah sebuah badai yang efeknya paling parah. Begitukah?" jawab Daniar "Kalau aku melihat mereka layaknya sambal. Karena kepiting tak memberikan efek begitu serius, ia adalah sambal kacang. Kemudian ubur-ubur itu seperti...sambal rica-rica, agak pedas. Lalu tawon itu bagai sambal terasi, pedas betul, bikin diare. Begitu 'kan kira-kira?" Mendengar Fathur berkata begitu, entah mengapa membuat Daniar begitu lapar. "Aneh betul analogi kalian. Biar kuperjelas lagi deh. Kepiting itu mirip Kak Daren, dia jahil tapi masih manusiawi. Sengatan ubur-ubur mirip tipu muslihat Kak Denis, dia kejam tapi masih dapat kuterima. Terakhir, tawon itu adalah Kak Ditya, dia bukan lagi manusia tapi iblis. Ah, bukan lagi tawon deh, dia tarantula. Trauma aku berurusan dengan dia, mentang-mentang jadi kakak tertua." Begitulah akhir cerita Dio menceritakan pengalamannya. Liburan yang harusnya bahagia, jadi teringat tiga orang sableng itu lagi. Tapi kemudian suasana teralihkan karena langit jingga nampak sekali terlihat sekarang. Awannya bergaris-garis, Daniar layaknya sedang melihat lukisan hidup. Barisan manusia terduduk di atas pasir, ada yang menggandeng pasangan, merangkul teman, dan memeluk kakinya seorang diri. Berbagai keadaan orang-orang itu disatukan di bawah pemandangan langit yang sama. Selama lima belas menit suasana tenang dan sunyi. Baru setelah matahari nampak ditelan kaki langit, beberapa ada yang pergi. Entah pulang, mampir ke rumah makan, atau mencari angin malam. Daniar merasakan ketenangan luar biasa, baru pertama kali dalam hidupnya melihat yang seperti ini. Entah ini akan menjadi yang pertama dan terakhir atau barangkali akan berkali-kali melihatnya di masa depan nanti, tak ada yang tahu. Satu jam berselang, guru-guru yang bertanggung jawab atas perjalanan menyuruh para murid mengikuti kegiatan terakhir. Ialah makan malam di rumah makanan seafood yang sudah disewa, tak jauh, letaknya masih dekat dengan kawasan pantai. Tempatnya pun terbuka, mereka bisa makan sambil dimanja pemandangan bintang dan diserang angin malam. Yang tak memakai pakaian tebal, besar kemungkinan besoknya kedapatan masuk angin. Setiap siswa disuguhi seporsi ikan bakar dan tumis udang. Bila mau dapat menu lain bisa pesan sendiri sekaligus bayar sendiri karena tak masuk anggaran yang sudah ditetapkan. Daniar menganga melihat makan malamnya, mewah betul. Untuk apa pesan menu lain jika sudah puas dengan begini? Daniar tak mau ambil pusing. "Sayang sekali aku punya alergi udang. Aku mau pesan yang lain saja, titip makananku, ya. Kalian boleh ambil udangku tapi tidak dengan ikanku. Awas saja ikanku ini jadi tak utuh." Dio berlalu meninggalkan Fathur dan Daniar yang tahu betul kecintannya terhadap ikan bakar Selain pemandangan malam, acara makan malam dihibur juga oleh penampilan murid-murid bergantian. Ada yang menyanyi, melawak, menari, dan membaca puisi. Yang paling heboh adalah saat aksi Berryl menyanyikan sebuah lagu romantis, mereka begitu antusias seperti melihat sosok idola. Sementara itu, Dio kembali setelah tiga penampilan ditampilkan. "Cumi-cumi panggang laris betul, jadi aku menunggu lama." "Kukira kamu hendak beli lobster." "Nah, aku baru ingat kalau selain udang, aku juga alergi terhadap lobster dan rajungan. Makanan itu selalu mengingatkanku pada tiga orang." "Maksudmu udang adalah Kak Daren, rajungan adalah Kak Denis, dan lobster adalah Kak Ditya?" "Persis, kamu memang pandai, Niar."
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN