Cara Keren Habiskan Waktu

1501 Kata
Ada sebuah quotes populer, hampir pernah di dengar semua orang, utamanya anak muda. Kumpulkanlah banyak momen, bukan harta. Jika ini ditujukan untuk orang-orang berkecukupan, bisa berlaku. Jika orang yang kurang berada mendengar ini, bisa protes mereka. "Momen mata kakimu! Kami tak bisa makan hanya dengan kumpulkan itu." Sedikit-sedikit ada yang menceramahi orang karena tak datang ke acara besar entah reuni berkedok ajang pamer atau liburan di musim panas. Salah satu alasannya adalah karena sibuk bekerja. "Jangan cari harta melulu lah, percaya deh, berkumpul dengan teman lebih berharga." Padahal tak ada yang tahu apa faktor kuat di belakangnya, bisa saja ia melakukan itu demi seseorang yang tengah sakit dan butuh biaya, bisa saja itu akan membantunya menggenapkan modal untuk menikah, ada orang yang harus ia bahagiakan. Tentunya tak semua dipukul rata begini, hanya segelintir contoh. Lalu ada orang yang hobinya traveling, berlibur ke banyak negara, coba makanan ini, coba makanan itu, mereka punya banyak pengalaman akhirnya. Rasanya jarang atau bahkan tak ada yang akan berkomentar begini, "Hei, jangan liburan melulu lah, percaya deh, kerja biar tabungan banyak bikin hidup lebih makmur." Padahal tak ada yang tahu, sebelum itu ia telah bekerja keras, mengerahkan tenaganya hanya demi momen yang diimpikannya. Intinya apa yang kita temukan mestilah dilihat dari berbagai sisi, diolah dulu biar matang. Harta bisa dicari sampai mati, pengalaman tak bisa datang dua kali. Nyatanya ada yang dengan berat hati meninggalkan sesuatu yang disukainya demi sebuah keadaan yang tak diinginkannya. Harusnya semua orang pernah mengalami itu. Entah mengumpulkan momen atau harta, persamaan keduanya adalah bagaimana cara mereka menghabiskan waktu. Dan seperti yang diketahui banyak orang jika waktu harus dimanfaatkan sebaik mungkin. Seharusnya begitu. Seminggu setelah study tour sungguh hari yang damai. Kalau menurut Daniar, seolah tidak ada badai menerjang membawa masalah. Menurut Fathur, menikmati seminggu itu bagai ia menikmati kerupuk dicocol sambal kacang yang lembut. Kalau Dio, ia merasa damai karena Kak Ditya tak begitu membuatnya menderita. Memikirkan bagaimana keadaan teman-temannya di dua hari libur begini sungguh membuat Daniar bahagia. Sekarang tanggal merah dan besok hari minggu, Daniar sudah punya rencana bagaimana habiskan dua hari libur itu. Singkat tapi tetap berharga. Di tempat nun jauh di sana, sekelompok teman di sekolahnya mungkin sedang berkumpul mengelilingi meja makan. Berbincang mulai dari topik tatanan negara, pariwisata, sampai aib tetangga, berfoto pakai kamera teman paling bagus, sampai berpamer ria tunjukkan barang yang baru dibeli. Persis, mereka sedang bersenang-senang yang katanya bisa ciptakan momen berharga. Terserah sih, jika mereka menganggap itu benar-benar berharga. Padahal menciptakan momen tidak harus bersifat materialistis, hal sederhana justru yang akan membekas. Fathur bisa membuktikannya. Cobalah santai berdampingan di antara kedua orang tua. Berikan mereka hidangan yang sudah dibuat sepenuh hati, sampai Fathur membedah segala resep dalam catatannya. Hal terbaiknya, ternyata harga daging sapi sudah turun hampir lima puluh persen. Setelah itu berceritalah hal sederhana yang ingin disampaikan, sampai suasana hangat tercipta. Tanyalah meski sekadar ingin tahu mengapa gula rasanya manis bukannya asin, wajah polos itu akan mengingatkan mereka pada masa kecil. Sekarang Fathur sudah besar, suasana haru kemudian tercipta, teringat bagaimana akhirnya mereka bisa menumbuhkan Fathur sebesar ini. Teringat bagaimana kuatnya ia bertahan meski ayahnya pergi jauh bekerja. Formasi tiga kursi yang berjejer di depan jendela rumah menjadi begitu jarang. Maka dengan cara inilah Fathur habiskan waktu, bersama anggota keluarganya yang lengkap. Bicara tentang masa lalu dan masa depan diselingi canda tawa. Itu sungguh berharga. Cara keren lainnya datang dari Dio. Anak yang tangguh jika di lingkungan sekolah, ketika di rumah ia serupa menjadi anak malang. Kegelisahan tentang bagaimana masa depannya sungguh membuatnya tersiksa. Dio tak mau melakukan sesuatu dengan terpaksa atau ia tak akan dapat kesenangannya. Dio bukan orang yang bisa diprogram, kalau ketidakmampuannya mengikuti kegiatan akademik adalah sepenuhnya salahnya, maka biarkan ia gantikan dengan sesuatu sesuai kemampuannya. Harusnya tak ada masalah dengan itu. Dio tak lagi menjadi pemberontak seperti awal ia tumbuh sebagai remaja, ia sadar diri. Ketiga kakaknya yang begitu hebat hingga seolah tak menerima adik yang payah tak lagi membuatnya sengsara. Kemudian Dio sadar apa mula-mula yang harus dilakukan menghadapi situasinya. Tahun depan ia sudah menginjak kelas akhir, kelas penuh frustasi memikirkan nasib yang akan jadi seperti apa. Maka di kamarnya yang sedikit cahaya, ia terduduk menghadap meja. Sudah sejam lebih ia termenung, menulis sebuah rencana masa depan. Sesekali ia membuka buku pelajaran, tetap tak selera setelah melihat judulnya saja. Dio berpikir lagi, memutar otak, memikirkan apa yang benar-benar ingin dilakukannya. Setelah menemukannya ia bersemangat menulis, suara goresan memenuhi ruangan bernuansa putih abu-abu itu. Satu jam setelah menyelesaikannya, ia menutup buku catatan dengan bangga, ia telah menulis sesuatu yang berharga sepanjang ia hidup. Yah, tak masalah jika nanti tak sesuai harapannya. Kini Dio berbaring di kasurnya, menyetel lagi lalu memasang earphone di telinganya. Hal seperti ini, tak ada salahnya untuk menyembuhkan diri dari berbagai gangguan hidupnya. Beginilah cara ia membuat dirinya bahagia. Membuat hati terus tersiksa sungguh tak baik, ada kalanya seseorang butuh waktu dengan kesendiriannya. Itu berharga juga. Daniar bisa memahami quotes di awal paragraf dengan baik. Lalu ia terpikir kenapa tidak sekaligus mementingkan keduanya? Kehilangan momen berharga nantinya akan sungguh menyakitkan, di sisi lain ia punyai banyak alasan untuk mengumpulkan harta, untuk kelangsungan hidupnya, untuk menghidupkan mimpi-mimpinya. Bagi Daniar, tiada hari tanpa momen yang berharga. Bersama ibunya, kedua adiknya, setiap detik bersama mereka adalah waktu berharga entah apapun keadaannya. Keluarga kecil itu sangat mengerti bagaimana kehidupan mereka, kalau tak bisa mengerti sama lain akan membuat keadaan tambah susah saja. Saling membantu dan mendukung adalah kunci mereka, tak peduli bagaimana kehidupan di luar sungguh mengancamnya. Di sebuah ruangan kecil nan bersih bertembok putih namun terdapat beberapa lubang yang ditempel adukan semen itu adalah gambaran bagaimana Daniar menghabiskan waktu. Di paling sudut ada ibunya yang sedang menyetrika, bau pewangi menguar seolah menjadi pewangi alami ruangan itu. Daniar menghadap meja kecil dengan perlengkapan menggambar, terdapat sketsa wajah kasar seorang laki-laki. Meja itu menghadap ibunya yang sedang menyetrika, di paling tengah karpet ada Ezra dan Ekra yang saling berlomba menyelesaikan PR paling cepat. Adiknya sudah kelas enam, tahun depan sudah harus masuk SMP. Semakin besar rupanya mereka semakin sadar jika jangan kebanyakan bergantung pada orang lain. Pada kakaknya yang sabar ketika diminta menjelaskan materi pelajaran padahal Daniar sendiri sungguh punya kesibukan lain, pada ibunya yang tak letih mengurus mereka sambil tak berhenti memikirkan cara menyambung hidup. Tapi bagi Daniar, Ezra dan Ekra adalah sebuah motivasi, mereka adalah alasannya tertawa karena melihat tingkah mereka setelah suntuk menghadapi masalah di sekolah. Intinya keluarga mereka saling melengkapi. Daniar tak kesulitan sama sekali ketika harus menggunakan tangan dan pandangannya untuk membuat sketsa juga mulutnya untuk berbincang dengan keluarga. Padahal sudah seminggu lebih, adiknya masih belum puas atas deskripsi bagaimana rasanya menginjak pasir putih di pantai. "Sayang sekali Mbak tak kedapatan ambil foto hiu." "Malah banyaknya mengambil foto rajungan. Nanti deh kalau Ezra bisa ke pantai, bukan hanya hiu, paus juga kuajak foto." Daniar hanya terkekeh saja bagaimana mereka memandang pantai seperti itu. Nyatanya berada dekat pinggir pantai saja sudah takut kalau-kalau ombak besar akan menerjang. Yah, Daniar membiarkannya saja. Toh, saat ia kecil dulu malah menganggap jika hewan-hewan di pantai bisa diajak bicara seperti halnya serial di televisi. Satu PR selesai, bukan berarti kegiatan anak-anak yang masih dalam masa pertumbuhan itu selesai juga. Mereka mengerubungi Daniar, melihat bagaimana kakaknya itu bekerja. "Wah, foto siapa itu, Mbak? Pacar ya?" "Hshhhh, bukan." Memang Daniar sendiri dari tadi tersipu jika harus memandangi foto seorang laki-laki untuk mengerti struktur wajahnya. Ini hal berbeda dibanding memandang foto seorang publik figur yang wajahnya sudah terpampang di sana-sini entah di televisi bahkan spanduk iklan. Pelanggannya kali ini adalah seorang perempuan sebaya, amat cantik jika melihat foto profilnya. Tapi tetap tak membuatnya mengenal sosok itu, entah ia tinggal di sudut bumi yang mana. Bukan untuk memberi hadiah ulang tahun, perempuan itu mengaku ingin memberi pacarnya hadiah sebagai peringatan satu tahun menjalin hubungan. Ah, anak-anak muda jaman sekarang. Daniar sungguh lega mendengar kepuasan pelanggan pertama atas kerjanya. Ia juga membantunya mempromosikan hasil kerjanya, membuat pengikut akunnya bertambah sedikit demi sedikit. Sebuah kepercayaan seperti ini tak boleh dirusak begitu saja, Daniar sungguh sadar diri untuk menjaga amanah dan memberikan hasil kerja terbaik untuk orang-orang di luar sana. Pada akhirnya sebuah momen bisa diciptakan di mana, kapan, dan dengan siapa saja, dalam perasaan dan keadaan apapun itu. Hal paling sederhananya adalah nikmati dan syukuri atas apa yang terjadi di setiap detiknya. Setiap hembusan napas ialah termasuk momen dalam hidup juga, tak peduli sedang dalam keadaan bagaimana. Lalu ada yang terpikir, kalau begitu, amatlah beruntung orang yang kerjanya liburan dan traveling sana-sini. Karena selain mengumpulkan pengalaman dan momen yang belum pernah dialami, ia juga dapat keuntungan finansial. Sebuah keseimbangan yang bikin iri. Tapi adakah yang terpikirkan bahwa bisa jadi orang seperti itu justru malah menginginkan sebuah kehidupan lain? Rasanya sebagian besar manusia mengalami hal semacam ini. Itu karena manusia lahir dengan sifat alami, tidak cepat puas atas apa yang dicapainya. Tak akan pernah selesai sebuah kepuasan itu, manusia akan selalu membandingkan kehidupannya dengan orang lain. Maka solusinya adalah fokus pada apa yang ada di hadapanmu, ciptakan momen, hasilkan karya, dan habiskan waktu dengan cara kerenmu.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN