Adakah orang yang rela begadang demi menemukan sebuah jawaban bahwa kenapa orang yang dicintainya tak ada yang mencintai balik dirinya? Jangan jauh-jauh dari cinta deh, sebelum mencintai pasti sebelumnya pernah menyukai. Kalau ada yang begitu maka mereka sungguh membuang-buang waktu. Banyak hal yang harus lebih dikhawatirkan selain hal itu. Tak ada yang tahu bagaimana perasaan cinta bekerja, karenanya jangan terlalu terpaku di sekitarnya. Mencintai seseorang memang menyenangkan, sampai lupa segala risiko dan tabiat buruknya jika tak punya kesiapan. Karena bukan lagi tentang diri sendiri, mencintai itu antara dua insan, setiap insan sendiri punya pandangan dan ego masing-masing.
Lalu pertanyaan lain, adakah orang yang rela begadang demi menemukan sebuah jawaban bahwa kenapa tak ada satu pun orang yang mencintainya? Pertanyaan demikian sungguh aneh, lalu bagaimana ia tahu bahwa seseorang mencintai dan tidak mencintainya? Dengan perangai saja tidak cukup, karena seperti yang sudah diketahui jika cinta bekerja dengan anomali, terkadang.
Tapi nyatanya orang yang melakukan seperti di paragraf kedua itu benar-benar ada. Bodoh sekali kalau Daniar mengingatnya lagi. Ia berani mengklaim jika banyak orang yang membencinya, untuk mengklaim jika ada orang yang menyukainya ia masih tak berani. Takut tak seperti harapannya, dan itu akhirnya terjadi.
Awal masuk SMP ia sering bertemu dengan seorang laki-laki, ia dari kelas sebelah. Kelihatannya ia tak terlalu populer, biasa saja, bahkan hanya sedikit lebih tinggi dari Daniar. Hal berbeda yang Daniar sadari adalah fakta bahwa ia selalu tersenyum jika kedapatan bertemu. Pernah juga beberapa kali menyapa meski sekadar mengucapkan selamat pagi. Hal mencolok lainnya adalah waktu itu Daniar hendak meminjam buku perpustakaan di rak yang lumayan tinggi. Laki-laki itu datang, membantunya. Bukan dengan cara seperti laki-laki itu berdiri di belakang punggung perempuan lalu membantu mengambilkannya. Daniar sendiri memaklumi fakta jika tinggi badan mereka hampir sepadan, tak tahu kalau seorang laki-laki akan tumbuh pesat kira-kira semasa SMA. Ia membantu mengambilkan sebuah kursi, lalu membiarkan Daniar menaikinya. Tak ada obrolan setelahnya, tapi sungguh membuat Daniar berbunga-bunga selama tiga hari. Entah disebut cinta monyet atau apa, intinya Daniar bahagia selama tiga hari. Ya, bertahan tiga hari saja.
Faktaya Daniar adalah perempuan lemah yang tak berani melawan jika orang-orang membicarakan tentangnya. Mimpi buruk itu dimulai, orang-orang di kelas mulai mengomentari apa yang ia pakai dan makan. Daniar yang kikuk dan pendiam, tak ada yang mau berteman dengan orang seperti itu. Kebiasaannya dari Sekolah Dasar membawa mimpi buruk yang lebih buruk seolah dijauhi saat ia Sekolah Dasar saja belum cukup. Kata-kata buruk mulai ia dengar lagi, justru lebih bervariasi, bagaimana orang-orang memandangnya juga bervariasi, kebanyakan menyetujui untuk menjauhinya. Daniar pun merasakan emosi jiwa yang bervariasi, kecewa, sedih, putus asa, dan kemarahan yang tak bisa diungkapkan. Tak ada yang benar-benar membantunya, meski Daniar punya harapan untuk satu orang.
Dia, laki-laki itu telah mengubah sikapnya dalam tiga hari. Hal yang berbeda darinya juga, ia telah punya dua teman di samping kanan kirinya. Mereka mengobrol, berbagai topik, Daniar pernah mendengarnya di bawah tangga saat mereka hendak turun.
"Kulihat kamu pernah saling sapa dengan si kikuk dari kelas sebelah itu, saling kenal ya?"
"Ah, mana ada. Sama sekali tak kenal, dia yang menyapaku duluan, terpaksa deh kubalas sapaannya."
"Begitu. Tak ada keuntungannya juga sih kenal dengan dia. Omong-omong, sudah kamu pikirkan ajakan Vina buat gabung di kelompoknya? Dia populer loh, bisalah kita numpang tenar juga."
"Jangan disia-siakan, bakalan punya banyak teman kamu nanti. Asal ikuti saja bagaimana cara pikir mereka, percaya deh, punya banyak teman bikin hidup jadi lebih mudah."
"Ya, aku setuju. Sudah kuputuskan aku mau bergabung."
"Nice, mulai sekarang jangan dekat-dekat orang yang tak punya keuntungan buatmu."
Oh, jangan tanyakan apa yang Daniar rasakan saat itu. Daniar sudah sangat mencintai bagaimana sikapnya padanya sebelum tiga hari berlalu. Sekarang yang tersisa hanyalah rasa takutnya untuk berharap pada seseorang lagi. Semalaman suntuk ia mengadu, memikirkan bahwa mengapa tak ada satu pun orang yang mencintainya. Ia tak ingin menangis, tapi wajahnya terjerembab begitu saja membasahi bantal. Buruk sekali keadaannya saat itu.
Sebenarnya Daniar kadang berpikir, apakah mudah saja seseorang melupakan perasaannya demi sesuatu yang membuatnya harus melupakan perasaan itu. Dalam hal ini Daniar merasa jika laki-laki itu benar menyukainya, namun ia punya ketakutan serupa tak memiliki banyak teman dan kepopuleran, makanya ia berakhir dengan menjauhi Daniar yang notabene tak memiliki nilai di mata orang-orang sekolahannya.
Kadang juga ia menepis buah pikiran itu, bahwa benar tak ada yang benar-benar menyukainya. Sikap baik di awal cerita tak selalu sama dengan di akhir cerita, ia belajar dari novel-novel yang dibaca di tempat Charles.
Nyatanya sudah banyak hal yang dilalui. Nyatanya ia masih bisa bertahan. Kalau mengingat bagaimana ia sesenggukan menangis karena memikirkan seorang laki-laki, ia jadi tertawa. Jangan sampai juga Fathur dan Dio tahu, mereka akan tertawa juga, malah mungkin paling keras.
***
Bicara tentang cinta juga, rasanya Fathur adalah orang paling beruntung. Kalau ada yang ingin mendapatkan surat cinta, berguru saja padanya, dia sudah dapat dua ditambah yang satu ini.
"Sebenarnya bukan mengenai kamu sudah dapat berapa. Ini era teknologi, loh. Yang suka padamu kenapa seleranya selalu klasik begitu sih? Untung dia tak kirim pakai burung merpati."
"Klasik justru unik. Jangan hiraukan Dio. Baca saja suratnya sana, aku tak akan mengintip."
"Jelas-jelas kamu bilang begitu karena penasaran, Niar," timpal Dio
Fathur malah dengan enteng menjeberkan kertas itu di hadapan mereka. Daniar sontak menutup mata.
"Itu privasi. Kamu harus menghargai yang menulisnya, Fathur."
"Baru kali ini kudapat surat cinta yang tak ada kata-kata romantisnya," kata Fathur
Rasa penasarannya lebih mendominasi, Daniar akhirnya mengalah dan melihat apa yang tertulis di surat beramplop pink dengan stiker hati dimana-mana.
'Ada yang ingin kubicarakan, temui aku di sungai dekat taman sepulang sekolah.'
Hanya itu yang tertulis di sana. Fathur malah jadi bingung sendiri.
"Aku harus bagaimana?"
"Hargai keberanian dia, datang saja. Bicaralah dengan baik padanya, kalau kamu takut, aku dan Dio yang akan menemanimu di belakang."
"Jelas sekali kamu mau menguping, Niar."
Fathur pun akhirnya mau pergi setelah pulang nanti. Entah siapa yang menulisnya, ia tak mau menyakiti hati seorang perempuan dengan tak memedulikannya. Setidaknya beri ia kejelasan maka Fathur akan merasa tenang setelah itu. Ia menghela napas, sudah lama sejak ia tak menerima hal klasik seperti ini lagi.
***
Taman yang di maksud dalam surat itu adalah taman ikonik tempo dulu. Tidak lagi dibilang ikonik jaman sekarang, sudah banyak perubahan. Perubahan paling mencolok adalah betapa tak terawatnya tatanan rumput dan bunga di sekitarnya. Jika dulu tempat itu sering dikunjungi setiap akhir pekan untuk disinggahi, sekarang menjadi tempat untuk dilalui saja. Lalu sungai yang dimaksud adalah sungai kecil yang dulu juga menjadi tempat favorit mejeng sambil memancing. Tinggal berjalan lurus saja mengikuti alur tanaman rambat maka suara aliran air dapat didengar. Lain nasib dengan taman, beruntung sungai itu masih terjaga harga dirinya. Setiap sore pasti ada beberapa orang yang pergi memancing di sana. Pohon dan rumput di samping kanan kiri juga masih punya harga diri, mereka tumbuh subur. Pernah ada orang yang menggelar karpet di sana buat piknik kecil-kecilan bersama keluarga.
"Perempuan itu seleranya bagus sekali. Kalau dilihat-lihat, menyatakan cinta di pinggir sungai di temani hembusan angin itu sungguh romantis, ya."
Fathur melongok ke kanan dan ke kiri, sementara Dio dan Daniar sudah bersembunyi di balik pohon.
"Tak usahlah kalian sembunyi kalau tak bisa bersembunyi dengan benar." Fathur memutar mata jengkel, keberadaan mereka sungguh mencolok, bagaimana mungkin mereka bersembunyi di balik pohon jambu batu berbatang tipis
Lagipula sudah hampir lima belas menit mereka di sana, waktu yang cukup membuat pegal kaki karena terus-terusan berdiri. Tak ada tanda-tanda, sekalinya kedengaran suara, itu ternyata seekor ikan yang melompat seperti lumba-lumba mencipratkan air.
"Pulang saja kali ya?" ajak Dio
Padahal Daniar ingin tahu perempuan seperti apa yang menulis surat seperti itu. Ia sungguh berani, tak seperti Daniar.
"Dibilang percaya saja padaku, lewat sini."
Suara lain muncul, dari arah taman. Langkah mereka menimbulkan suara karena gesekan dengan rumput liar. Iya, kira-kira ada dua orang. Fathur mengira mungkin salah satu dari mereka adalah perempuan yang mengirim surat. Ia masih menunggu, sementara Dio dan Daniar makin penasaran dengan sosok yang akan muncul.
"Nah, itu dia, Fathur!"
Seseorang melambaikan tangan, ia menyeret seorang lagi yang tampak enggan melangkah. Si jambul dan Si ceking? Ah, maksudnya Jay dan Aji. Kok malah mereka yang datang saat Fathur tengah menunggu perempuan yang manis dalam bayangannya.
"Untung suratnya tersampaikan, bukan?"
"Maksudmu ini?" Fathur menunjukkan amplop pink dengan banyak stiker hati itu
"Ya, itu dari Jay."
"Apa-apaan itu? Bukan, bukan, kok bisa begitu? Aku memang minta bantuanmu buat atur pertemuan dengan Fathur tanpa surat ancaman. Surat cinta? Yang benar saja kamu, Ji." Mereka berdua malah ribut sendiri
Sementara Dio dan Daniar yang menyaksikan di balik pohon lebih besar dari jambu batu berbatang tipis sungguh terkejut terheran-heran.
"Dia...? Gay?"
"Bukan, dia Jay," jawab Daniar
Fathur mulai kesal melihat teman SMP-nya itu, rasanya mereka mulai mempermainkannya lagi.
"Jadi surat ini kamu yang tulis?" Fathur menatap tajam Aji
"Ya, kemudian aku minta bantuan kenalanku taruh di kolong mejamu. Tapi itu bukan dariku, aku cuma membantu. Betulan dari Jay, silahkan kalian selesaikan sendiri," terang Aji
"Apa maumu, Jay? Menantangku? Kamu tak bisa dewasa dari dulu," Fathur menggebu-gebu
"Oke, tenang. Maaf kalau nyatanya aku belum dewasa. Aku akan berusaha mengubah itu. Juga jangan bicara keras-keras begitu, aku jadi tambah merasa bersalah." Jay menarik napas panjang
"Langsung saja ke intinya. Aku hendak meminta maaf, maafkan segala kesalahanku di masa lalu dan mari jangan saling bermusuhan lagi," lanjutnya lagi
"Hah?"
"Ya, aku, Jayid, meminta maaf padamu. Aku sadar tingkah memalukan dahulu dan harap kamu terima maafku. Aku akan bersikap dewasa mulai sekarang, aku ingin berubah seperti yang diminta Umi, dengan ini kita berdamai dan tak saling menyimpan dendam satu sama lain hingga masa depan nanti."
"Itu cukup jelas, Fathur. Jay betulan ingin jadi orang lurus kali ini, ia meminta maaf pada orang-orang yang penah dimusuhinya dahulu. Tentunya maafkan aku juga karena terlibat dengannya."
"Begitukah? Hmmm...syukurlah. Kalau begitu aku juga minta maaf, aku pernah membuat kalian kesulitan juga."
"Sudah kami maafkan, kamu berbuat begitu karena tingkahku juga," Jay dan Fathur kemudian bersalaman, dilanjutkan dengan Aji
"Konyol sekali ya kalau mengingat yang dulu-dulu," ujar Jay
"Ya, aku akan melupakannya. Jadi, surat ini?"
"Tadinya ingin kirim pesan online saja, tapi aku tahu kamu akan mengabaikannya. Aji bilang dia punya sebuah cara. Jadi sudahlah, intinya kita berbaikan."
Pertemuan yang singkat, tiga orang lelaki itu akan saling melempar senyum di masa depan nanti alih-alih memandang dengan penuh kebencian. Mereka akan tumbuh dewasa, perlahan.
Kepergian Jay dan Aji membuat Daniar dan Dio buru-buru menghampiri Fathur. Pertunjukannya tak sesuai harapan tapi siapa sangka itu akan menjadi pertunjukkan yang mengharukan. Mengakui kesalahan dan meminta maaf dengan tulus, seperti itulah sikap dewasa sejati.
"Yah, syukurlah konflikmu terselesaikan," ujar Dio
Mereka berpikir, mumpung sudah di sini maka tak seharusnya menyia-nyiakan kesejukan yang ada. Di pinggir sungai, mereka duduk berjejer di sebuah akar pohon besar, menikmati waktu mensyukuri pemandangan yang tersaji di hadapan mereka.
"Niar, jangan bilang kamu masih penasaran melihat bagaimana jika surat yang tadi benar ditulis oleh perempuan?" tanya Dio
"Mana ada. Sudah sering melihat yang seperti itu di televisi, kok."
"Benar juga. Yah, namanya juga anak muda."
"Anak muda, ya. Tentunya kalian punya kisah sendiri?" tanya Fathur
"Kisah apa?"
"Kisah cinta."
"Ah, topik macam apa ini."
Daniar merasa tak nyaman, Dio jadi tersipu, Fathur malah tenang-tenang saja.
"Ya sudahlah, memang hal seperti itu adalah privasi."
Mereka sepakat, maka setelah itu tak ada perbincangan lagi. Yang tersisa hanya suara ikan yang melompat lagi, ikan tidak ada kerjaan.
"Lalu, bolehkah aku bertanya apakah kalian pernah jatuh cinta? Jawab saja iya atau tidak, aku sih hanya ingin tahu kenormalan kalian menjadi seorang manusia."
Dio malah memulai. Fathur malah tak keberatan dengan itu.
"Kalau begitu mulai darimu. Dio, apakah kamu pernah jatuh cinta? Dan kapankah itu?" tanya Fathur
"Kenapa pertanyaannya kamu tambah sih? Baiklah aku jawab. Jawabannya ya dan saat SMP."
Daniar dan Fathur terperangah, menerka-nerka siapakah gerangan yang disukai oleh Dio.
"Mungkinkah itu Berryl?"
"Tentu saja bukan, tak pernah sama sekali aku menyukainya meski orang tua kami kadang berusaha membuat kami dekat."
Daniar dan Fathur manggut-manggut.
"Lalu Fathur, giliranku bertanya, deh. Pernahkah kamu jatuh cinta dan masihkah perasaan itu ada hingga sekarang?" tanya Daniar
"Tentu pernah dan masih ada."
Jawabannya membuat Daniar berpikir keras. Selama mereka bersama ternyata ada rahasia masing-masing yang tak ditampakkan. Wajar, itu adalah privasi. Tapi ketika Daniar ditatapi Dio yang sudah siap dengan pertanyaan, ia jadi keringat dingin.
"Daniar, pernahkah kamu jatuh cinta dan apakah kamu pernah menangis gara-gara itu? Bagaimana sosok yang kamu sukai itu?"
"Banyak betul pertanyaannya, tak mau kujawab," ujar Daniar
"Dua pertanyaan pertama kalau begitu, adil 'kan?"
Jujur Daniar sangat malu. Bagi mereka mungkin kelihatan seperti pertanyaan biasa saja, lagipula bagaimana Dio kepikiran menanyakan pertanyaan kedua, padahal Daniar sudah tak mau mengingat-ingat itu lagi.
"Yah, itu...wah, ada pesan masuk." Daniar berpura-pura mengecek telepon genggamnya
"Pura-puramu kelihatan sekali, sih. Ayolah, tinggal jawab ya atau tidak." Dio berusaha menjauhkan Daniar dengan telepon genggamnya, Daniar berusaha merebutnya kembali, mereka saling berebut dan memojokkan di atas akar pohon
"Baik, akan kujawab tapi kembalikan dulu."
"Jawablah dulu." Dio mengangkat alisnya dan berdiri tepat di pinggir sungai
"Sudahlah, Dio kembalikan padanya dan ayo pul..."
Suara orang terpeleset membuat terkejut Daniar dan Fathur. Jelas sekali, Dio terduduk di atas tanah, rupanya tanah yang ia pijak licin dan lembab, membuat sepatu dan celananya kotor dimana-mana.
"Dio!!!"
Tak ada hal serius yang terjadi padanya, Dio justru menatap Daniar dengan nanar. Suara benda terjatuh ke dalam sungai juga sebelumnya terdengar oleh mereka.
"Astaga, ini salahku, Niar."