Beberapa menit setelah kejadian terpelesetnya Dio, mereka kompak mengelilingi sebuah benda yang basah nan malang di atas akar pohon. Celana Dio basah lebih dari selutut ketika berusaha mengubek-ubek benda yang terjatuh. Untung sungainya dangkal, juga ternyata benda yang ia cari jatuh tepat di bagian paling tepi.
"Kelihatannya tak bisa diselamatkan," kata Fathur
"Sudah ajalnya," sambung Daniar
"Benar-benar ini salahku, ya ampun. Daniar, maafkan aku sungguh. Akan kucoba ke tempat servis lalu kalau memang tak bisa dihidupkan biar aku..."
"Ya, aku mengerti. Ini musibah, Dio, aku sangat mengerti. Salahku juga sebenarnya."
Fathur mengawali berdiri, ia mengerti apa yang terjadi dan mencoba menjadi zat netral untuk kedua sahabatnya.
"Ayo kita pulang, sudah basah begitu," katanya pada Dio
"Ada beberapa tempat servis bagus di sini. Jangan putus asa dulu, Niar. Banyak kasus yang terselamatkan gara-gara terjeburnya HP di air. Ya, aku ingat, Jay pernah heboh sendiri karena HP-nya terjebur ke dalam bak mandi sekolah. Keesokannya hidup lagi tuh," lanjut Fathur
"Ya, itu akan jadi tanggung jawabku. Izinkan aku menebus kecerobohanku."
Daniar tak menginginkan musibah ini, juga Dio tak menghendaki ini akan terjadi. Hebatnya mereka sungguh dewasa dan saling mengerti satu sama lain. Akhirnya mereka berjalan menyusuri tanaman rambat, sebenarnya ada jalan pintas untuk segera sampai di jalanan beraspal tapi lagi-lagi mereka harus melewati jalanan dengan tanah lembab. Dio tak mau, memikirkan bagaimana rasanya jika terpeleset lagi saja tak mau.
Sampai di jalanan beraspal dekat taman, orang-orang yang lewat sungguh memperhatikan mereka, utamanya pada Dio yang celana dan lengan bajunya basah kuyup. Fathur menawarkan memberikan jaketnya pada Dio.
"Aku tak mau orang salah paham nanti."
"Apa maksudmu sih? Aku cuma mau membantu, bajumu basah begitu. Niar, apa salahnya laki-laki memberikan jaketnya pada teman laki-lakinya?"
"Tak ada yang salah tuh."
"Benar-benar pikiranmu saja yang kotor, Dio. Ya sudah kalau tak mau."
Dio jadi menyesal. Bukan karena menolak tawaran jaket Fathur, ia menyesal karena tak jadi membawa jaket sendiri dari rumah karena buru-buru tadi pagi.
"Oh iya, aku belum jawab pertanyaannya. Aku akan jawab kalo kalian betulan ingin tahu," ujar Daniar di tengah perjalanan di jalanan beraspal
"Terserahmu saja deh, memang topik begini sensitif betul. Kamu sih, Fathur!" Dio menyalahkan Fathur yang memulai topik tentang jatuh cinta
"Semuanya gara-gara surat cinta palsu. Jawab saja, Niar, bukannya penasaran, cuma ingin tahu."
"Aku juga tidak penasaran, hanya ingin mendengar jawabanmu."
"Begitu, ya. Aku sendiri pernah jatuh cinta dan pernah menangis gara-gara itu. Konyol sekali kalau diingat."
Daniar pasti bercanda, begitulah yang ada di pikiran kedua sahabatnya.
"Aku tak bisa dibohongi, kalau...heh? Serius kamu menangis gara-gara itu?" pekik Dio
"Kukira kamu bukan orang yang seperti itu, Niar. Pasti pelik sekali keadaannya waktu itu."
Sampai di persimpangan jalan tempat mereka harus berpisah, Daniar meninggalkan mereka dengan wajah yang penuh tanda tanya.
"Memangnya sosok seperti apa laki-laki itu sampai kamu menangis dibuatnya?" tanya Dio
"Loh? Katanya kalian tak penasaran. Topik hari ini selesai, sampai bertemu besok."
Tersisa Dio dan Fathur yang masih berdiri memikirkan kemungkinan apa yang terjadi pada Daniar. Tapi akhirnya mereka menyerah juga, begitu banyak kemungkinan, Daniar sendiri kadang susah ditebak.
"Aku mau ambil sepeda di tempat penitipan, mau ikut? Nanti kubonceng kamu sampai di tempatmu biasa menunggu jemputan," tawar Fathur, merasa kasihan melihat Dio seperti habis membajak di sawah
"Bukan begitu, nanti banyak yang salah paham."
"Kutinggal saja, deh. Kusarankan bersihkan pikiranmu."
Dio jadi menyesal lagi karena tak punya sepeda, ia jadi terpikirkan akan menyenangkan jika saja ia punya sepeda. Daripada setiap hari terkena tekanan batin karena kakak-kakaknya, kadang-kadang supir pribadi keluarganya juga sudah terkontaminasi ajaran-ajaran trio sableng, Dio jadi kesusahan mengajaknya bekerja sama ketika butuh pergi ke tempat lain selain rumah.
Tahun depan ia akan menabung buat beli sepeda, tekadnya. Sebelum itu, ia teringat akan kejadian terjeburnya ponsel Daniar.
"Bertahanlah, HP, aku akan menyelamatkanmu," gumamnya sambil menunggu ojek online yang ia pesan datang.
***
Sebetulnya saat Daniar bilang bahwa ada pesan masuk sebelum kejadian ponsel itu terjebur, itu benar ada. Ia hanya melihat sekilas dari akun jasa lukisan, tak tahu isi jelasnya seperti apa. Maka ia berasumsi jika ada yang meminta bantuannya. Tak ingin membuat pelanggan menunggu, ia memutuskan pergi ke warung internet, sekadar ingin mengecek saja. Tapi begitu mendengar kata warnet, Ezra dan Ekra antusias ingin pergi juga. Daniar susah menolaknya setelah jujur jika ponselnya butuh waktu untuk pulih, kedua adiknya justru yang paling kecewa.
"Waktu kalian masing-masing setengah jam, habis itu ayo kita pulang nanti ibu menunggu."
"Siap, Mbak!"
Di samping kanan kiri komputer, sekaligus Daniar mengawasi kedua adiknya, beruntung tak ada sekat seperti warnet kebanyakan. Daniar mulai masuk ke laman media sosialnya, mengecek kemungkinan adakah sesuatu yang penting meski itu jarang. Daniar masih trauma sejak SMP, porsi untuk bermain media sosial tak pernah menyentuh lebih dari dua jam sehari. Masih banyak hal yang lebih bermanfaat untuk dilakukan, pikirnya.
Asumsinya benar, ia mendapatkan notifikasi bertubi-tubi, pengikut akunnya bertambah. Juga yang tak disangkanya ada dua orang mengirimkannya pesan, menawarkan harga untuk menggunakan jasanya. Rezeki yang tak disangka akhirnya datang, setelah baru saja musibah menimpanya. Daniar jadi bertambah semangatnya, langsung saja ia terima tawaran itu. Semakin ia bekerja, hutangnya pada Dio akan segera lunas. Tak ada kelegaan luar biasa selain tidak mempunyai hutang pada orang-orang, ibunya mengajarkan seperti itu setelah merasakan sendiri tidak enaknya berhutang di kala susah.
Sudah lewat setengah jam, Daniar mengakhiri kegiatannya berselancar di dunia maya. Ia menyuruh Ezra dan Ekra juga turut menyudahi kegiatan tembak menembak di dalam game entah apa namanya, intinya bukan game dinosaurus yang biasa mereka mainkan di ponselnya. Semakin sore warnet justru semakin ramai didatangi anak muda, Daniar segera pergi saja setelah membayar pada penjaga.
"Permainan tadi seru, lain kali kita ke sana lagi ya, Mbak."
Ezra dan Ekra tampak saling tembak menembak dengan membentuk jari telunjuk dan jempol layaknya pistol di sepanjang jalan.
"Oh iya, kalian kok bisa lancar begitu pakai komputer, Mbak 'kan belum pernah ngajarin tuh, belajar dari mana?"
"Dari teman, Mbak. Teman Ekra banyak yang punya komputer di rumahnya."
Keduanya kemudian bercerita tentang rupa teman-temannya di sekolah. Mereka berkawan baik dengan beberapa orang, Ezra dan Ekra banyak disukai setelah mereka membuat permainan bernama "Yang manakah Ezra?" atau kadang berganti menjadi "Yang manakah Ekra?" dengan memanfaatkan status kembar identik mereka. Penampilan mereka dibuat sama seolah tak bisa dibedakan, dari mulai gaya rambut sampai lipatan kaos kaki kendor yang benar-benar mirip.
"Hanya dua orang yang betul dari sepuluh orang, Mbak." Kedua adiknya tertawa setelah menceritakan permainan itu setahun lalu.
"Ah, padahal gampang saja. Tinggal lihat perbedaannya, Ezra punya t**i lalat di belakang telinga, Ekra punya t**i lalat di telapak tangan. Ezra itu cerewet betul dibanding Ekra, tapi Ekra lebih cengeng dibanding Ezra. Kalau begitu, Mbak juga menang 'kan?"
"Sejak kapan Ekra cengeng?"
"Iya, Ezra juga gak pernah cerewet tuh." Mereka bersikeras membantah sebuah fakta
Saat tren bermain game merebak, Ezra dan Ekra tetaplah anak-anak yang mudah dipengaruhi. Mereka selalu punya cara untuk bergabung bersama teman dan membicarakan topik khas anak seusia mereka. Mereka sering diajak main ke rumah teman buat menunjukkan komputer baru dan main game di sana. Kadang-kadang mereka diajak ke warung internet dan melihat bagaimana teman-temannya bermain dari game satu ke game lainnya. Kalau ada teman mereka yang sudah bosan, mereka akan menawarkan Ezra dan Ekra bermain juga. Kadang seminggu sekali mereka melakukan itu, juga tergantung seberapa tren game yang ada.
"Teman-teman Ezra juga udah banyak yang punya HP Mbak, kalau jam istirahat kadang mereka sembunyi di bawah pohon kersem. Ezra dan Ekra yang jagain, takut kalau nanti ketahuan Bu guru. Terus kita gantian gitu Mbak, enak ya kalau punya HP sendiri."
"Terus Mbak, komputer punya teman kita besar betul, lebih besar dari warnet tadi. Banyak game juga di sana, tinggal pilih. Ezra pernah main yang game masak-masakan" timpal Ekra menertawai saudara kembarnya
"Itu kepencet tahu, tadinya mau pilih yang game sepak bola."
"Nanti kalau udah besar kalian juga bisa punya HP sendiri, sekarang Ezra dan Ekra rajin belajar dulu. Sebentar lagi kalian masuk SMP 'kan, Mbak kasih hadiah kalau nilai ujiannya besar."
"Sebesar apa?"
"Minimal dapat 100 di lima mata pelajaran." Daniar terkekeh
"Curang!!! Dapat nilai 90 aja susah. Ezra nyerah duluan lah."
Akhirnya kedua adiknya cemberut di sisa perjalanan, tak ada lagi permainan tembak menembak.
"Bercanda, yang penting nilai kalian meningkat dari semester lalu."
"Itu juga susah sih, Mbak."
"Kalau malas belajar ya susah, ingat apa kata ibu?"
"Kita bisa asal mau berusaha!!!" teriaknya bersamaan
Indahnya punya keluarga kecil nan hangat.
***
Di tempat servis elektronik, Dio duduk di kursi plastik. Pakaiannya sudah agak kering, ia menghadap kipas angin setidaknya selama setengah jam sambil menunggu seseorang bekerja. Tak ingin membuang waktu, sekaligus ia membaca berita olahraga di seluruh dunia.
"Keren! Wah keren! Bagus sekali." Kira-kira seperti itu kata yang ia keluarkan dari mulutnya setiap membaca berita
"Sulit dipercaya Manchester United dikalahkan Liverpool. Yang ini juga, kok bisa pelari tangguh sepertinya dikalahkan oleh pemula, ckck." Niatnya hanya bergumam, tapi tetap suara itu terdengar keras
"Pemuda, tak ingin menemui orang itu dulu? kelihatannya dia menunggu," kata seseorang di tempat servis
Dio mengalihkan pandangannya ke arah mobil yang terparkir, di depannya ada orang sedang berdiri, masih muda, posturnya juga kelihatan gagah. Dio sih hanya membiarkannya sekaligus merasa takjub. Bagaimana tidak, beberapa menit lalu ia hanya mengabari kalau sedang berada di tempat servis ketika disuruh pulang oleh kakaknya. Entah bagaimana supir pribadi itu langsung menemukan tempat persisnya padahal Dio tak memberi satu petunjuk pun.
"Bang, sudah selesai belum?"
"Ini sudah parah, kalau tadinya langsung dikeringkan bisa saja diselamatkan."
"Jadi?"
Dio semakin was-was, kalau punya sendirinya yang begini, tentu bukanlah masalah. Buruknya ini adalah milik Daniar yang berhati selembut kapas, tak akan mudah baginya menerima pemberian jika pun Dio membeli yang baru.
"Kata Tuan Besar buang saja HP yang rusak itu, nanti bisa pesan lagi yang lebih bagus malam ini. Mereka minta kamu segera pulang." Orang yang berdiri di depan mobil itu kini menghampiri Dio
"Lah, kamu pikir segalanya bisa dibeli dengan yang baru? Kenangan! Banyak kenangan tahu di HP itu." Dio berkata dengan bangga. Orang di tempat servis juga tampak mendukungnya. Ya, kalau tak ada yang mau memperbaiki barang elektronik di tempatnya, bangkrutlah ia.
"Ya sudahlah. Bang, betulan sudah tak bisa diselamatkan?" tanya Dio lagi
"Bisa tunggu beberapa hari, berdoa saja supaya masih hidup nanti."
"Dua hari nanti saya ke sini lagi kalau begitu."
Dio beranjak dari tempat duduknya disusul supir muda di belakangnya. Di dalam mobil ia membuka lagi ponselnya, membuka aplikasi chat dan memilih nama Fathur untuk mengirim pesan.
'Kondisinya sedang kritis, minta doamu supaya bisa hidup lagi dua hari dari sekarang.'
Setelah itu ia mematikan ponsel dan tidur di mobil tanpa ada beban sama sekali. Sepertinya Dio tak menulis pesan yang jelas pada Fathur.
Di kamarnya sekarang, Fathur kelabakan setelah membaca pesan itu.
"Astaga, siapa yang kritis?!"