Dari awal pagi bermula di sebuah sekolah, Dio terus saja meminta maaf pada Daniar. Daniar tahu Dio sangat bertanggung jawab, melihatnya meminta maaf begitu membuatnya jadi tak enak, apalagi Dio banyak membantunya selama dua tahun ini. Sebaliknya, Dio merasa jika dirinya tidak termaafkan kalau membuat Daniar kehilangan ponselnya, Daniar pernah bercerita sendiri bagaimana ia mendapatkan itu. Tak ketinggalan bagaimana sosok guru baik hati yang memberinya, membuat ponsel itu menjadi demikian berharga tanpa pandang bentuknya.
Sementara itu, di pagi yang sama Dio malah mendapat makian tak terduga dari Fathur.
"Kamu tahu bagaimana paniknya aku mendengar kata kritis?"
"Aku tak bilang yang kritis itu manusia, Fathur."
"Aku hampir ke rumahmu untuk mencari tahu kalau kamu tak kunjung angkat teleponku."
"Kamu menelepon sampai tujuh kali, mengganggu waktu tidur di mobil saja."
Ketika pelajaran berlangsung, Dio juga menjadi sangat baik pada Daniar. Bukan berarti awalnya ia tak baik, baik kali ini sungguh bikin merinding. Saat pelajaran biologi, para murid ditugaskan mencari tahu dan mencatat apa-apa saja penyakit yang berkaitan dengan sistem reproduksi, minimal sebanyak dua puluh. Karena yang disediakan di buku paket sungguh terbatas, guru menyuruh mereka mencari tahu lebih banyak lewat internet. Daniar sih diam saja sambil menunggu teman sebangkunya selesai mencatat, beruntung temannya mau meminjamkan ponsel setelah ia selesai. Meski kadang menjengkelkan karena sering tidur di kelas, Daniar sungguh menghargaimya. Ya, lebih baik tidur daripada menimbulkan banyak masalah lewat sebuah tingkah. Teman sebangkunya itu juga adalah teman sebangku di bus yang selalu tidur dari awal hingga akhir perjalanan kecuali untuk buang air kecil, ingat?
"Niar...pssst, Niar."
Daniar menengok ke belakang karena Dio memanggilnya.
"Nih, pakai punyaku," katanya tersenyum menyerahkan ponsel canggih miliknya
"Kamu bagaimana?"
"Ah, gampang. Tinggal lihat catatan punya Fathur yang sungguh berhati mulia."
"Punyaku kehabisan baterai, niatnya ingin kupinjam punyamu," ujar Fathur
Daniar menggeleng sebagai jawaban untuk menolak.
"Pakai saja, kami bisa lihat catatan punya Roy. Ya 'kan, Roy?"
Sedangkan Roy yang berada di sampingnya memandang Dio aneh. Bagaimana tidak, Roy sendiri adalah murid pintar nan ambisius namun pelit. Tipikal murid yang dimusuhi satu kelas, tapi Roy enteng saja menjalaninya, selama ini belum ada yang menggantikan posisi juara kelas miliknya.
"Tidak deh, kamu pakai saja dulu."
Dio malah memaksa dan menaruh ponselnya itu di atas meja Daniar. Akhirnya Daniar tidak bisa menolak lagi.
"Lalu kita bagaimana, Dio?" tanya Fathur
Tak ada teman di dekat mereka yang bisa diajak kerja sama, ada beberapa teman yang mereka kenal baik namun jaraknya jauh dari tempat duduk mereka sementara guru biologi masih mengawas untuk menjaga kekondusifan kelas.
"Berdoa saja supaya ada rapat mendadak dan kita akan dipulangkan, Fathur."
Fathur jadi merinding, Daniar juga merinding, Roy juga ikut merinding.
***
Daniar harus buru-buru pulang ke rumah begitu bel berbunyi. Ia ingat akan dua pekerjaan yang harus diselesaikannya, sepertinya seminggu ke depan akan menjadi hari yang sibuk.
"Kamu masih terima pesanan, Niar? Ujian akhir semester sebentar lagi, menurutku kamu harus fokus untuk mempersiapkan itu," kata Fathur
"Aku bisa membagi waktu dengan baik. Yah, mungkin setelah dua pesanan ini aku akan berhenti dulu."
"Aku belum menyerah dan kamu jangan kehilangan harapan ya. Setelah ini aku pergi ke tempat servis, kalau masih belum hidup akan kubawa ke tempat servis lain."
"Aku menghargai itu tapi jangan menyusahkan dirimu juga, Dio."
"Tak menyusahkan, kok. Oh iya, jika seumpama itu tak bisa diselamatkan, aku janji akan membelikan yang baru. Kamu harus menerimanya nanti ya, tolong."
Daniar tak menjawabnya, ia masih terlalu canggung, ia sungguh tak ingin menerima barang-barang mahal dari orang baik di sekitarnya untuk kedua kali. Belum lagi Daniar memikirkan baiknya Dio meminjamkan uang untuk pergi study tour, berapa banyak kebaikan lagi yang harus didapatnya sementara Daniar tak melakukan hal yang begitu berarti.
"Aku pulang dulu, ya. Sampai ketemu besok."
"Mau kuantarkan? Biar kuantar pakai sepeda, menunggu angkot pasti lama," tawar Dio
"Sungguh tak perlu, Dio. Lagian kamu punya sepeda?" tanya Daniar menyadari keanehan yang ditawarkan Dio
"Maksudku pakai sepeda punya Fathur."
"Lalu aku bagaimana, Dio?" protes Fathur
"Kamu bisa jalan kaki, laki-laki harus tangguh, Fathur."
Daniar menyudahi percakapan di depan gerbang itu, ia melihat dari sudut matanya ada satu angkot yang bergerak di jalan raya menuju ke arahnya.
"Tuh, angkotnya langsung datang, kalian juga harus cepat pulang."
Dio melambaikan tanggannya sebelum Daniar pergi, Fathur hanya tersenyum tipis sebagai salam perpisahan.
***
Sudah tiga minggu lebih Daniar tak berkunjung ke tempat Charles. Selain karena sibuk, ia punya alasan untuk menekan uang sakunya. Sebelum ia dapat benefit dari hasil kerja kerasnya ia harus punya modal, meminta terus-terusan pada ibunya membuatnya tak enak hati. Yah, meski uang sakunya juga berasal darinya. Tapi ibunya sungguh sosok ibu yang diinginkan anak-anak kurang dukungan dari orang tua. Bersyukur sangat ia memilikinya.
Menahan sejenak keinginannya meminjam buku, Daniar punya pekerjaan yang tak kalah seru dari mencium bau buku lawas di tempat Charles. Sejam dua jam mampu ia habiskan hanya untuk menggores pensil di atas kertas. Tak lagi melihat foto dalam ponsel, ia mencetak foto itu sebagai subjeknya. Tak ada alasan untuk tak berkarya meski ada kendala menghadang. Harusnya semua orang setuju dengan itu.
Tapi kekhawatirannya pasal kejadian terjeburnya ponsel ke sungai sungguh menjadi. Bagaimana kalau benar itu tak bisa diselamatkan? Bagaimana bisa ia menerima gantinya dari Dio tanpa ada rasa malu? Sadar kalau karena kemajuan teknologi, tak mungkin ia hidup tanpa ponsel, tetap saja Daniar takut, ia ingat belum berterima kasih begitu banyak pada seorang guru yang selalu ia doakan dalam keadaan bahagia, di mana pun ia sekarang berada.
Dua hari setelahnya, ketakutannya itu benar terjadi. Saat jam pertama istirahat, di taman belakang sekolah, dalam cuaca cerah, Dio ditemani Fathur ingin berbicara padanya. Daniar sudah menduga ini akan terjadi dan sudah menyiapkan reaksi apa yang harus ditunjukkan. Semuanya karena musibah, tak ada yang menginginkan itu.
"Maaf, aku sungguh minta maaf sekali karena ternyata HP-mu tak bisa diperbaiki. Pemilik servisnya malah memarahiku saat kuceritakan bagaimana kronologi HP itu bisa jatuh."
"It's okay. Kenyataan itu memang harus kuterima."
"Kelihatannya kamu tak baik-baik saja tuh."
"Dengar ya, dari awal saja aku sebenarnya tak punya benda itu, ianya dikasih guruku. Lalu jika memang sudah tak berfungsi, itu karena sudah waktunya saja. Masih banyak cara, aku tak bergantung pada benda canggih itu, kalian harus belajar padaku."
"Daniar yang luar biasa," tukas Fathur
Tak disadari mereka, ada salah seorang murid perempuan yang lewat dan ingin mencari tahu siapakah yang berbicara di taman belakang nan sepi itu. Bukannya apa-apa, ia cuma memastikan kalau itu benar ada manusia di sana dan ia bisa berpikir lega setelah itu. Kalau seumpama bukan manusia, ia selalu menyimpan mantra dan jampi-jampi di kantongnya.
"Yah, tapi aku tak enak betul, Daniar." Dio kemudian mengeluarkan sebuah kotak dari belakang punggungnya
"Ini untukmu, kubelikan yang terbaru."
Kotak itu berwarna hitam lumayan besar, di sana terpampang tulisan sebuah merek terkenal. Tulisannya berkilau kalau diteliti lebih dekat.
Murid perempuan yang sekarang mengintip kumpulan dan menyimak obrolan itu langsung terperangah, terkejut, dan hampir terjungkal. Bukan hantu yang membuatnya begitu, ia memaku pandangan pada sebuah kotak hitam itu.
"Kotak limited edition itu, gila! Betulan merek smartphone impianku! Oh astaga siapa perempuan itu? Daniar? Tak bisa dipercaya, sungguh ini tak bisa dipercaya!"
Cepat-cepat perempuan berkuncir kuda itu mengambil ponselnya, membuka kamera, dan menjepretkan momen saat Dio menyodorkan kotak itu pada Daniar. Tangan Daniar hendak menepis, tapi di jepretan itu tampak seperti Daniar menerima kotak itu.
"Rumor tentang perempuan murahan itu ternyata benar, sayang sekali."
Ia cepat-cepat pergi dari sana, sekaligus ingin mencari orang tentang hal yang baru saja didapatnya. Pastilah ia terkejut juga.
"Serius, Dio? Itu kan model smartphone paling terbaru. Aku akhir-akhir ini sering melihat iklannya," ungkap Fathur
"Tentu saja harus yang baru. Terimalah, Niar."
Daniar jadi ingin marah sekarang. Ia malah tak tahu tentang model atau merek apa-apa yang sedang terkenal maupun terbaru akhir-akhir ini.
"Sudah kubilang aku tak ingin itu. Aku tak mau menerima apapun, itu adalah musibah!"
Dio malah semakin gencar meletakkan kotak itu di tangannya. Daniar makin kesal, ia merasa malu menerima hal seperti ini.
"Kuperintahkan kamu ambil dan bawa pulang lagi kotak itu!"
"Jadi kamu tak menghargai usahaku menebus kesalahan?"
"Bukan seperti itu." Daniar jengah, apa yang harus ia lakukan untuk membuat Dio tak perlu merasa sangat bersalah padanya
"Setidaknya bukalah dulu kotaknya, Niar," kata Fathur
"Ya, kalau ingin aku tarik kotak ini, setidaknya cobalah buka dan lihat. Aku janji tak akan memaksamu lagi."
Maka Daniar segera membuka, berharap setelah itu mereka pergi ke kelas dan tak ada lagi drama seperti ini.
Daniar membukanya, perlahan, di dalamnya pastilah ada smartphone yang amat canggih, ia tak mau berpikir keras untuk tahu berapa harganya. Bikin pusing kepala saja.
"Kubuka nih. Nah, selesai...sekarang ambil bal..." Daniar mengucek matanya, smartphone dengan layarnya terdapat beberapa goresan itu tampak tak asing buatnya
"Selamat, Niar. HP-mu sudah sembuh dari kritisnya, kamu bisa memilikinya lagi." Dio agaknya menahan tawa melihat Daniar yang masih kebingungan dan tidak percaya
"Jadi maksudnya...?"
Setelah berusaha mencerna, Daniar memukul pelan bahu Dio. Fathur pun ikut tertawa melihat Daniar seperti itu.
"Kamu juga ikut menjebakku, Fathur?"
Fathur hanya mengedikkan bahu. Pagi-pagi sekali Dio bertemu Fathur di depan gerbang, dihadangnya Fathur hanya untuk membicarakan ide menjahili Daniar. Awalnya Fathur menolak, tapi membayangkan bagaimana reaksi sahabatnya itu membuat ia tertarik juga.
"Tukang servis itu sangat jago, aku cuma perlu membayar untuk mengganti baterai saja yang rusak. Itu sama sekali tak memberatkanku, Jangan khawatir," terang Dio
Maka Daniar menerimanya, ia mengecek semuanya dan itu tampak baik-baik saja. Jam istirahat begitu singkat rasanya, saat pelajaran biologi berlangsung siang ini Daniar tak akan melihat kelakuan Dio yang bikin merinding lagi. Mereka berjalan bersama ke kelas, begitu hangat, begitu ceria, tak ada sesuatu yang perlu dikhawatirkan rasanya.
"Omong-omong Dio, darimana kamu dapat kotak limited edition itu? Tak mungkin kamu beli lalu membuang isinya, 'kan?" tanya Fathur
"Oh, itu aku menemukannya tergeletak di pinggir jalan saat pulang dari tempat servis. Benar-benar ya orang kaya itu tak bisa menjaga lingkungan betul."
"Mirip seseorang," ujar Fathur lagi
"Siapa?"
"Kamu, siapa lagi. Kotak itu masih di taman, sana buang di tempat yang sebenarnya."
Dio menepuk jidatnya pelan, lalu sesegera mungkin berlari ke taman. Fathur dan Daniar meninggalkannya, mereka kembali berjalan melewati lorong yang penuh dengan murid lain. Bel tanda pelajaran dimulai akan berbunyi kira-kira lima menit lagi. Murid-murid itu ada yang sibuk menghabiskan camilan, menyalin jawaban PR, sampai ada yang masih santai bermain game online. Persamaan dari murid kebanyakan itu mereka antusias menatap layar ponselnya, menggulir berita yang sedang hangat-hangatnya. Lalu ketika mereka mendapati Daniar sedang berjalan melewatinya, mereka kompak menatapnya. Ada yang datar, terkejut, dan sinis. Daniar berusaha tak memedulikan tapi ia sungguh sadar bagaimana tatapan itu tertuju padanya, ia seperti merasakan dejavu.
Tak hanya Daniar, Fathur juga merasakannya sejak tadi, bagaimana mereka kompak memandang sambil berbisik kecil. Tak bisa ia dengar apa yang mereka bisikkan, intinya itu sangat mengganggu. Fathur merasa sesuatu yang salah telah terjadi, maka ia langsung menarik tangan Daniar menjauh dan berjalan cepat menuju kelas. Pasti ada yang salah dengan murid-murid itu, ya, mereka hanya perlu cepat sampai di kelas untuk meredam itu. Tapi kenyataannya tak semudah itu, tak hanya murid-murid di lorong, murid di kelas yang notabene sangat mereka kenal juga memandang dengan aneh. Betulan itu tertuju pada Daniar, Daniar jadi panik dan takut, ia berkali-kali menarik napas tapi ketakutan itu tak juga hilang. Fathur juga ikut khawatir, ia menyuruh Daniar untuk tak memedulikannya sampai guru datang dan pandangan seluruh murid akan tertuju pada guru sampai setidaknya dua jam pelajaran.
Daniar berusaha duduk dengan tenang, satu-satunya orang yang tak memandangnya aneh selain Fathur adalah seorang teman di samping tempat duduknya. Tentu saja, seperti biasanya ia sedang tertidur, Daniar tak yakin ia akan bangun jika guru datang kalau tak dibangunkan.
Sesaat kemudian Dio datang ke kelas, ia bergabung dengan Fathur yang sudah menyiapkan buku pelajaran lebih awal.
"Hei, kok aku merasa jadi selebritis sejak dari taman sampai ke sini. Bukannya apa-apa, aku jadi ngeri," ungkap Dio
Dio juga merasakannya, Fathur jadi berpikir keras apa yang salah dari mereka. Ini tak pernah terjadi sebelumnya.
"Psst, baca berita di HP-mu kalau mau tahu jawabannya. Berita tak bermutu, sia-sia saja aku membacanya, lebih baik kugunakan untuk baca artikel internasional saja tadi." Roy yang berada di samping Dio berbicara
Dio hendak membuka ponselnya tapi sebelum itu guru lebih dulu datang dan menyuruh seluruh murid di kelas membuka dan membaca buku sebanyak lima puluh halaman.