Luka Itu Datang Lagi

2020 Kata
Sungguh tak ada yang baik sebuah kedengkian, ianya hanya akan membuat penyakit hati bertumpuk-tumpuk. Seorang perempuan yang memotret di taman belakang tampak bahagia menunjukkan hasil jepretannya pada seorang perempuan lain. Mereka sedang duduk di sudut kantin, sengaja pilih tempat yang agak sepi. "Dio membelikan barang itu padanya? "Ya, tak bisa dipercaya 'kan? Tak habis pikir juga bagaimana dia dapat barang itu secara percuma. Katanya dia perempuan murahan, aku pernah dengar rumornya." "Aku tak menyangka Dio dengan mudahnya melakukan itu." "Kamu mengerti, 'kan? Aku tak mempermasalahkan Dio ingin melakukan apa. Tapi pada perempuan miskin sepertinya, apakah Daniar itu tak punya malu?" "Tapi mungkin saja Dio punya sebuah alasan di balik itu." "Dengar ya, jaman sekarang itu sangat mudah menemukan orang munafik. Aku sungguh tak yakin Dio mau memberi itu tanpa adanya sebuah tipu daya, itu lumrah terjadi, aku jadi kasihan padanya." "Kalau memang benar begitu, Dio harus segera disadarkan, aku tak mau dia dimanfaatkan seperti itu." "Tepat! Aku punya sebuah rencana dengan foto ini. Mau dengar?" Mereka berbisik di tengah keramaian kantin yang semakin memudar mengingat sebentar lagi jam istirahat akan habis. "Tak hanya menyadarkan Dio, berita ini juga akan menyadarkan perempuan itu akan letak harga dirinya. Kita tunggu saja puncaknya." Sebagian murid harusnya tahu jika Dio adalah putra ke-empat dari keluarga Ghani, mereka keluarga kaya, meski tak seterkenal Berryl. Hal berbeda yang paling mencolok adalah Berryl dikelilingi dan disukai banyak orang, sedangkan Dio hanya murid yang tak ingin menghabiskan banyak waktu dengan orang asing. Ya, kecuali dua orang sahabat yang sangat mengerti keadaannya, selain mereka, orang-orang di sekitarnya adalah orang asing. Banyak yang menyayangkan, Dio layak menjadi teman ideal mereka. Sangat ideal untuk dijadikan mesin uang berjalan, mungkin. Oleh sebab itu Dio sangat tak suka Berryl, baginya Berryl begitu bodoh. Lihat saja kalau seumpama ia tak lagi dikerubungi harta dan privilege dari keluarganya, Dio tak yakin Berryl bisa bertahan. Menurutnya, Berryl harus lebih jeli melihat sesiapa saja yang benar-benar tulus padanya, orang seperti itu sangat sedikit dibanding dengan kerumunan yang ia ciptakan saat ia tersandung pot bunga. Lucunya, kala Dio telah menemukan orang yang begitu berharga baginya, kelakuan sebagian orang sungguh membuatnya jengkel. "Mereka bahkan tak mencari tahu atau bahkan bertanya padaku tentang faktanya. Sungguh gila! Aku benci orang-orang seperti itu." Dio menendang-nendang pohon di pinggir jalan, Fathur juga kehilangan jejak Daniar yang sudah lebih dulu pergi berlari entah kemana, ia harap Daniar pulang dengan selamat. "Beginikah yang Niar alami saat di SMP-nya dulu? Tatapan orang-orang sungguh mengintimidasi." Belum lagi foto itu dikomentari oleh orang-orang bodoh yang seenak jidat menghakimi. Benar kata Roy, jika sekarang banyak orang bodoh yang langsung melihat dari satu sisi saja. Meski Roy sendiri sangat menjengkelkan karena visinya ingin menang sendiri, ia pandai dalam memilah-milah sebuah berita. "Bagaimana ini Dio, komentar di unggahan berita sungguh menggila. Jangan sampai Niar melihat ini." "Ini salahku, lagi-lagi aku buat kesalahan." Dio kembali menendang pohon lebih keras "Stop! Jangan berbuat kekanakan, Dio. Tak ada cara lain selain marah pada diri sendiri hah? Amarahmu itu tak membantu." "Biar kutemukan pelakunya, pastilah dia teman semasa SMP Niar. Akan kubuat dia permalukan dirinya sendiri." Dio sekejap menghilang dari pandangan Fathur. Ketika Dio sangat marah, apapun bisa dilakukannya. Fathur tak bisa menghentikannya, ia sendiri percaya sepenuh hati pada seorang Dio. Daripada itu, ia semakin khawatir tentang bagaimanakah Daniar sekarang, tak mungkin ia baik-baik saja. Setiap sepuluh menit ia mengecek aplikasi chat, adakah kemungkinan Daniar mengaktifkannya. Nihil, menelpon pun pasti tidak diangkatnya. Fathur terus memikirkan apa yang harus dilakukannya sepanjang menuju jalan pulang. *** Tidak, peristiwa ini bukannya terjadi sekali. Ditatapi orang dengan pandangan intimidasi itu tak terjadi sekali dua kali. Tapi baginya ini yang terburuk, bagaimana orang dengan mudahnya memfitnah dirinya kala ia berada di ujung kebahagiaan? Baru saja ia bercanda dengan sesuatu yang disebut teman, baru saja ia merasa jika kehidupan SMA akan membawanya kenangan baik. Daniar tak memiliki impian akan punya banyak teman, ia hanya ingin hidup layaknya murid SMA kebanyakan. Ia tidak berani bermimpi tinggi, sungguh, tapi ia juga tak ingin sesuatu yang buat hatinya rapuh kembali muncul. Hampir dua tahun berlalu, dua tahun yang menyenangkan kalau boleh ia bilang. Hampir setiap harinya ia tidak diselimuti ketakutan lagi selama itu, ia tak sadar telah tersenyum begitu banyak dibanding tahun-tahun sebelumnya. Ibunya menyadari, kedua adiknya juga menyadari betapa lebarnya senyum itu di beberapa waktu. Siapa yang tidak bangga melihat seorang anggota keluarganya diselimuti kebahagiaan? Tidak ada, kebahagiaan dalam keluarga adalah hal utama entah apapun keadaannya. Lalu bagaimana ia menyembunyikan perasaan dengan baik sekarang? Setidaknya ia akan menyapa dan tersenyum pada orang yang berada di ruang TV, bagaimana mungkin sekarang ia datang dengan rasa sesak dan linangan air mata karena kejamnya dunia di luar sana? Daniar tak akan pernah menunjukkan itu, ia tak berani. Daniar tahu sendiri jika dibalik tangguhnya sosok seorang ibu, ia masihlah wanita rapuh yang merindukan seorang suami. Ibunya bisa menyembunyikan itu, mengapa Daniar tidak? Sangat tak adil sedangkan Daniar bisa hidup karena kerja keras ibunya. Kalau sudah begini Daniar suka menyalahkan diri sendiri, memberi pertanyaan pada diri sendiri bahwa kenapa ada orang melakukan itu padanya? Itu sering terjadi selama tiga tahun bersekolah SMP dulu. Tak setiap hari, tapi kadang ia menangis di malam sebelum tidur. Tawaan dan cemoohan yang dilontarkan orang demi orang berputar di kepalanya, yang ringan maupun yang amat menyakitkan, tak bisa langsung hilang begitu saja. Mereka kira mereka bercanda, tapi Daniar sungguh tak merasa terhibur sama sekali. Daniar menutup ponsel dan pintu kamar rapat-rapat. Ia terduduk di kasur, setelah sedemikian rupa membentuk lekuk senyum saat melewati ibunya yang tengah menyetrika. 'Dia teman SMP-ku dan kutahu memang HP miliknya jelek, Dio tak seharusnya membantu seroyal itu.' 'Gila! Pakai pelet apa sampai dia beruntung begitu.' 'Kita tahu Dio adalah orang kaya! Hei perempuan yang tak tahu diri, jangan sampai memelorotinya juga dong.' 'Dio harus menjauh darinya sebelum semakin buta olehnya.' 'Sudah kuduga, aku sangat tak menyukai jika Dio berteman dengannya mula bertemu.' 'Aku cuma tahu apakah dia dan Dio berpacaran? Aku tak yakin Dio memberinya dengan sadar.' 'Sungguh tak tahu malu!' Sebuah foto yang tersebar tidaklah seluruhnya menggambarkan apa yang terjadi. Hal yang paling membuatnya semakin panas adalah keterangan dalam berita bahwa dirinya, Daniar, sering bercerita jika ponsel miliknya sudah lawas sampai meminta Dio yang notabene orang berada membelikannya dengan yang baru. "Aku tak minta itu, sungguh, aku tak pernah meminta itu." Daniar membenamkan wajahnya ke bantal, menangis lirih sampai tenaganya terkuras habis "Ibu memang tak mampu belikan itu untukku tapi Daniar sungguh tak minta bu...Daniar tak akan pernah meminta-minta seperti yang Ibu ajarkan, Daniar sudah berjanji," lirihnya lagi "Yah, ayah tolong kembali...banyak cerita, Yah, Daniar tak mau menanggungnya sendirian. Ini terlalu sakit." Tangisan yang tadinya tanpa suara menjadi pecah perlahan disertai senggukan Biarlah jika nantinya ada yang tahu, terlalu sesak jika terus ditahan. *** Mencari penjahat di antara ratusan orang tidaklah mudah. Ia pastilah manipulatif, tak akan mudah menemukannya dalam waktu sekejap. Perasaan emosi masih belum hilang, setiap melihat komentar yang bertambah, dadanya naik turun. Bahkan ia berani menolak panggilan ayahnya sedari tadi untuk ikut jamuan di rumah Berryl. "Buat dirimu berguna kalau tak bisa memenuhi harapan Papa!" Kak Ditya menyeretnya ke luar kamar, hari sudah malam tapi Dio bahkan belum membersihkan diri setelah sesore penuh ia mondar-mandir mencari petunjuk siapa yang membuat berita itu. "Bersihkan dirimu segera!" kata ayahnya pada Dio "Ditya, bilang pada supir tak perlu menyiapkan mobil karena mereka katanya mengirim mobil ke sini." "Aku akan menemuinya setelah mengganti sepatu, kurasa yang ini tak cocok." Dio beradu pandang pada ayahnya sebelum akhirnya pergi ke kamar mandi. Bahkan shower kamar mandi seperti ia musuhi karena suasana hati yang buruk. Ia masih memikirkan setelah mengetahui fakta jika bukan Willy dan teman-temannya yang membuat berita sampah itu. "Aku terkesan sampai kamu menuduh kami, Dio. Ada bukti?" "Wah orang yang bikin berita itu pasti satu selera dengan kami, siapapun itu aku beri hormat padanya." "Jujur aku memang tak suka perempuan miskin munafik macam Daniar, tapi aku tak melakukan itu, sungguh bersyukur ternyata ada yang mewakili." "Nah, selamat mencari-cari pelakunya, Dio." Selesai mandi tak membuat wajahnya lebih kalem, ia kesal karena kakaknya memanggil terus dari tadi. Dio turun dari tangga dengan pakaian yang tak bisa dibilang rapih, persetan dengan jamuan itu. "Sampai Berryl pun ikut menjemput, silahkan duduk dahulu." "Aku datang karena khawatir dengan Dio, aku kira dia tak mau datang ke jamuannya." "Dia pasti datang, tentu," kata ayahnya Dio memasang wajah malas begitu melihat Berryl. Ia tak pernah merasa mereka begitu dekat. "Dio pasti masih terkejut dengan berita di sekolahnya," ujar Berryl "Berita apa itu, Nak?" "Kabarnya dia dimanfaatkan oleh temannya sampai mau membelikan barang yang sangat mahal." "Oh ya?" "Berryl, jangan bicara sembarangan. Tahu apa kamu?" "Dio, aku cuma mau bilang buat berhati-hati pilih teman, kamu tidak tahu niat dia yang sebenarnya." "Daniar tak seperti yang kamu pikir! Aku yang seharusnya bilang padamu buat lebih cerdas memilih teman. Kamu terlalu bodoh untuk tak menyadarinya," kata Dio berapi-api "Dio! Tarik kembali kata-katamu!" perintah ayahnya "Aku bicara fakta. Kamu tak akan tahu sebelum kamu berteman dengannya, Berryl. Terakhir, aku tak pernah memberinya barang apapun. Justru aku yang merusak barang miliknya, butuh usaha keras tuk dia menerima tebusan kesalahanku. Aku benci orang yang suka menghakimi tanpa tahu yang sebenarnya, juga, yang membuat berita seperti itu tak lebih dari manusia sampah." Wajah Berryl panas, tak pernah ia mendengar luapan amarah sejelas ini. Sedangkan Dio setelah berkata begitu, langsung kembali ke kamar, menutup pintu rapat-rapat, dan melupakan tentang jamuan. Lalu Kak Denis yang kebetulan lewat saat Dio sampai di atas tangga berkata, "Habislah kau adik kecil, tak hanya tidak dapat tumpangan mobil, besok pagi juga tak akan dapat uang saku." *** Daniar tak menyadari ketika hari rupanya sudah malam. Ia mengerjap, memeriksa bantal, dan menyadari jika bekas air matanya belum sepenuhnya kering. Sudah berapa lama ia tertidur? Meluapkan emosi memang menguras tenaga. Lalu agaknya Daniar khawatir dan memeriksa pintu, masih tertutup rapat seperti semula tapi tidak terkunci. Kuncinya rusak akhir-akhir ini. Daniar tak tahu apakah ada ibunya adiknya yang masuk, jika memang itu terjadi, ia akan punya sejuta alasan untuk tak membuat mereka khawatir. Yang terpenting baginya sekarang adalah pergi ke kamar mandi dan membasuh muka, menghilangkan sembab yang buat wajahnya tak enak dipandang. "Mbak dari tadi di kamar terus padahal Ekra mau tanyakan PR matematika." "Eh? Itu, Mbak lagi sibuk menggambar, banyak pesanan loh." "Habis makan malam bantuin ya, Mbak." "Oke, Ibu mana ya?" "Ibu lagi ke warung beli telur. Makan malamnya nasi goreng telur loh, Mbak, kesukaan Ezra." Daniar mengacak rambut keduanya sebelum kembali ke kamar. Setelah mengecek bahwa wajahnya baik-baik saja dan membereskan kekacauan karena tas dan seragam yang tak diletakkan ke tempat yang seharusnya, ia kembali menuju ruang TV. Acara kartun malam disetel, Daniar merasa tidak memiliki beban apapun saat itu. Tak lama setelah itu, pintu kayu di depan rumah ada yang mengetuk. Mereka sama-sama terkejut, pasalnya jarang sekali ada yang bertamu apalagi malam begini, jika pun itu ibu mereka, tak mungkin harus mengetuk terlebih dahulu. Daniar pergi untuk membukanya, seorang paruh baya dengan seragam layanan antar barang terlihat menyodorkan plastik ukuran sedang padanya. "Saudari Daniar, betul bukan?" Daniar mengangguk. "Ada kiriman dari Fathur. Tolong tanda tangan ini." Agak terkejut, tapi Daniar segera membubuhkan tanda tangannya pada sebuah kertas lalu paruh baya itu pergi. Daniar kembali ke ruang TV, kedua adiknya langsung mengerubungi begitu mencium bau masakan yang begitu harum. Daniar juga penasaran apa yang dikirim Fathur untuknya. "Wah, tempe bacem, ayam serundeng, dan tumis sayur. Baunya enak sekali." Ezra hampir mencomot paha ayam kalau Daniar tak melarangnya "Kita tunggu ibu pulang dan makan bersama-sama." Daniar tak mengerti kenapa Fathur melakukan ini, lalu ia ingat belum membuka ponselnya sejak pulang sekolah tadi. 'Niar, aku tahu kamu pasti sedang terluka sekarang. Jangan takut, mereka tidak benar-benar mengenalmu makanya berkata jahat. Aku dan Dio masih ada, kupastikan mereka yang menuduhmu akan menyesal, jadi jangan putus asa, besok kita hadapi bersama-sama. Oh iya, kamu pernah bilang ingin mencoba masakanku dan aku sudah berjanji. Sudah terkirim ke rumahmu bukan? Di sana juga ada resep yang sudah kutulis, beritahu aku juga kritikmu terhadap masakanku.' Saat itu Daniar menyadari, luka yang muncul kali ini sungguh berbeda. Ia tak sendirian, ia benar-benar memiliki orang yang peduli, seperti yang diimpikannya dulu. Daniar berkaca-kaca membaca pesan itu.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN