Sebuah rumah mewah dihiasi beberapa lampu di halaman rumahnya itu kian sepi setelah satu jam lalu banyak konglomerat mengadakan jamuan dan pesta kecil. Perbincangan mereka sungguh dewasa, tak akan bisa dimengerti oleh perempuan yang duduk di bangku SMA. Perempuan itu hanya duduk manis, kadang berjalan anggun menyapa tamu dengan senyuman amat manis. Selama itu ia akan mendengar orang tuanya memperkenalkan dirinya dan berkata jika dirinya adalah penerus bisnis keluarga, tak lupa mengagungkan paras cantiknya. Ibunya tersipu saat ayah dari perempuan itu bilang jika paras cantik yang dimilikinya diturunkan dari ibunya.
"Aku beruntung memilikinya, dia menolak banyak lelaki demi aku seorang." Kemudian ayahnya tertawa, istrinya semakin tersipu
Suasana hangat itu justru tak membuat ia, Berryl, merasakan ketenangan dan ketentraman. Di kepalanya masih terngiang bagaimana laki-laki sebayanya memarahinya dengan berapi-api. Sebegitu salahkah ia? Berryl sungguh hanya ingin menyelamatkan Dio, seorang teman yang memanfaatkan teman lain adalah hubungan yang buruk. Lalu ia mengingat jelas tentang bagaimana Dio membela Daniar sepenuh hati, yang paling menyakitkan adalah saat ia berkata jika dirinya bodoh. Berryl semakin frustrasi dibuatnya, sebagian hatinya tak mau mengakui jika berita itu ternyata hanya salah paham belaka. Ia juga tak mau menerima kenyataan jika dirinyalah penyebab munculnya berita itu. Sementara itu, sebagian hati lainnya merasa jika ia harus memperbaiki kesalahan, ia tak mau dianggap manusia sampah seperti yang Dio bilang.
Berryl kemudian mengambil ponselnya, teringat jika bukan hanya ia yang menjadi pelaku.
'Ra, Dio marah besar padaku. Ternyata berita itu tak seperti yang kita pikir, apakah harus kita hapus sampai ke akar-akarnya?'
'Begitukah? Kurasa tak perlu. Kalau itu ternyata tidak benar, harusnya Daniar baik-baik saja, 'kan? Asal kamu tahu, berita itu juga bisa menjadi pelajaran buat orang-orang.'
'Aku hanya takut jika Dio mengetahuinya nanti. Aku mau beristirahat kalau begitu.'
'Good night, Berryl. Oh iya, kamu tak lupa ingin traktir aku di restoran baru minggu nanti, 'kan?'
'Tentu.'
Berryl membaringkan tubuhnya di atas kasur besar, lampu di langit-langit kamar kini menghadapnya. Lampu itu terlihat baru, sengaja dibelikan ayahnya setelah bilang jika ia bosan dengan lampu lamanya yang terlihat klasik. Di sudut kamar itu ada sebuah rak, berisi boneka dan miniatur berbagai rumah favoritnya. Sedangkan di sudut lainnya ada rak khusus menyimpan alat kecantikan dan produk make up. Tipikal kamar impiannya, namun ada saja yang membuatnya terlihat kurang puas entah bagaimana. Pakaian yang disusun di lemari berdasarkan warna juga kelihatan banyak, tapi ada saja keadaan dimana ia merasa tak punya pakaian yang cocok jika hendak pergi ke suatu tempat.
"Apakah begini kehidupan yang teman-temanku inginkan? Mereka punya selera yang kurang bagus kalau begitu."
Berryl berbicara sendiri sambil memeluk bantal guling coklat, senada dengan warna kasur.
"Dio itu, seenaknya saja bilang aku bodoh. Memangnya dia sendiri juga tidak bodoh?"
Berbagai hal memang kadang muncul dan melintasi pikirannya sebelum tidur.
"Mengenai Daniar, memangnya dia orang seperti apa, sih?"
Apa yang membuat Dio mau berteman dengannya? batinnya sebelum terlelap.
***
Saat pagi kembali datang, semuanya seolah berbeda dari kemarin. Tak ada lagi tatapan mengintimidasi dari orang-orang. Yang ada sekarang beberapa orang merasa takut jika bertatap muka dengan Dio. Fathur bilang pada Daniar jika semuanya akan baik-baik saja, maka Daniar sungguh mempercayainya. Daniar bahkan tidak pernah terpikirkan mencari siapa pelaku penyebaran fitnah itu, harapannya cuma satu, jika orang-orang lebih menghargainya.
Dio dari kemarin terobsesi untuk mencari pelaku, meski hasilnya nihil. Semalaman penuh akhirnya ia menemukan solusi untuk membersihkan pandangan orang-orang tentang buruknya seorang Daniar dan malangnya seorang Dio.
"Kamu lihat juga kan Niar, kalau semalam Dio entah kesurupan apa," kata Fathur pada Daniar menuju jalan ke kelas
Seperti mengadakan sebuah konferensi pers, Dio mengirim pesan panjang di hampir seluruh grup angkatan. Pagi ini adalah pesan itu yang dibicarakan orang-orang. Kurang lebih semacam pelurusan kesalahpahanan dan pesan kehidupan isinya, sedikit kata-kata mutiara juga tertulis di sana.
"Aku kagum padanya sih, saat disuruh bikin karangan dia tak berkutik sama sekali, tulisannya tadi malam itu patut diacungi jempol. Dio memang tak diragukan lagi jika itu untuk mengungkap kebenaran."
Pada Dio, Daniar berterima kasih sangat. Sama sekali Daniar tak menyangka akan dapat sebuah pembelaan kala dulu ia hanya bisa bersembunyi di sudut perpustakaan saat banyak orang menertawakannya. Perasaan bahagia ini tidakkah palsu, Daniar selalu punya kejadian tak terduga sekaligus bagian terbaiknya setiap berada di dekat mereka. Trauma yang ia miliki memang kadang mengganggunya, kalau terus dibiarkan, Daniar tak akan tahu seberapa besar lagi itu akan mengganggunya lebih buruk. Mencoba lebih kuat sudah dilakukannya dari dulu, tapi sekali lagi tak mudah tanpa ada orang yang mendukungnya. Tapi untuk sekarang, tak ada alasan untuk tak merasa berani, ada dua banyak yang begitu baik padanya, Daniar harus menyadari untuk tak selalu membuat mereka khawatir juga ia harus berani untuk senantiasa membela dan mendukung mereka pada keadaan apapun.
Meski tak ada pandangan mengintimidasi lagi, orang-orang disekelilingnya bertingkah begitu takut ketika Fathur dan Daniar lewat. Mereka menjauh segera seperti melihat penampakan menyeramkan. Fathur kemudian mengerti setelah melihat Dio yang sedang berjalan di belakang mereka.
"Kamu ingat apa yang dikatakan Dio di paragraf paling akhir?" tanya Fathur
Itu adalah bagian terbaiknya dari tulisan Dio.
'Kalau tak tahu apapun secara pasti, jangan kalian makan mentah-mentah sebuah berita! Itu hanya akan membuktikan betapa bodohnya kalian! Jadilah seperti Roy yang cerdas. Roy, kamu pasti juga sedang membaca ini tapi hal yang kurang darimu adalah betapa kamu sangat pelit saat diminta jawaban PR sedikit saja. Kuperingatkan, kalian tak akan merasakan betapa tersakitinya orang yang kalian tuduh itu! Kalian sungguh tak tahu jika ada yang hatinya hancur karena itu. Jadilah bijak! Aku sungguh membenci orang yang menghakimi sepihak. Jika ada yang masalah dengan itu, temui saja aku. Asal kalian tahu, tatapanku sungguh garang terhadap orang-orang tak punya hati nurani. Tahu legenda orang yang bisa membekukan orang lain hanya dengan menatapnya? Aku sedang berdoa supaya diberi kemampuan seperti itu.'
Begitulah yang tertulis di akhir paragraf.
"Pagi, Niar. Bagaimana perasaanmu?"
"Lebih baik dari hari kemarin."
"Aku juga. Kamu, Fathur?"
"Lebih baik setelah menyelesaikan semua PR-ku."
"Astaga, PR!" Dio beraut kaget, padahal lupa untuk hal seperti itu bukanlah yang pertama kali terjadi. "Aku akan senang kalau kamu membantu aku, yang ini terakhir, deh."
Fathur sengaja seperti menimbang-nimbang mau memberikan jawabannya atau tidak. Daniar sih langsung saja ingin membantu karena Dio sudah berbuat baik padanya. Tapi sebelum itu,
"Nih, sekali saja kuperlihatkan jawabanku. Aku bukannya pelit, tapi memang sifat manusia kala dikasih kesenangan malah melunjak." Seorang laki-laki tinggi berkacamata lewat dan meletakkan buku catatan di tangan Dio
Si jenius Roy!