Pertemuan Tak Terduga

1816 Kata
Satu minggu, waktu tercepat rasanya Daniar menyembuhkan diri. Membicarakan berita dan kontroversi sudah tak menjadi selera. Memang manusia itu gampang dipengaruhi, sebelumnya, ketikan pedas mendominasi, setelah Dio membuat konferensi pers, ketikan pedas teralihkan pada penyebar berita yang sampai saat ini abu-abu. Dibanding menjadi manusia yang bijak karena pengaruh orang lain, harusnya lebih baik menjadi manusia yang mau menginstropeksi diri dan belajar untuk tidak melihat dari apa yang terlihat dari luar, bukan? Ujian akhir semester sebentar lagi, setelah itu tiga bersahabat akan menghadapi pahitnya bertarung dengan kenyataan. Kenyataan kalau mereka tidak akan lebih mudah dari tahun kemarin, kenyataan kalau masa depan semakin di depan mata, kenyataan kalau waktu mereka tidak banyak untuk menyiapkan ujian masuk perguruan tinggi. Semuanya terasa begitu cepat, seperti menaiki roller coaster, cepat namun mengerikan. Prinsip Daniar sudah bulat untuk menutup sementara akun bisnisnya, kurang lebih ada tiga yang ia tolak, satu di antaranya mau bersabar hingga menunggu Daniar selesai dengan ujiannya. Bukannya Daniar tak mampu, tapi ibunya selalu bilang jika Daniar masihlah seorang pelajar yang harus memikirkan masa depan. Hari minggu adalah waktu andalannya saat mempersiapkan ujian, di suatu tempat yang kini bangunannya sedikit dirombak untuk menambah satu rak, selalu saja ada yang membuatnya terkesima. Charles sering sekali memberikannya tips bagaimana mengerjakan soal dan materi mana yang kemungkinan akan keluar. Daniar juga baru tahu jika dulu Charles bersekolah di SMA yang sama dengannya. Katanya dulu ia sering dapat juara kelas, meski hanya sepuluh besar. Bagusnya, tidak seperti Roy, Charles adalah orang yang ramah dan tak pelit dalam memberikan ilmu, atau mungkin contekan. "Pak Jawi masih mengajar mata pelajaran sejarah?" Daniar mengangguk, kalau Charles mulai bertanya begitu, ia harus mendengarnya dengan khidmat. "Aku ingat bagaimana tipenya saat membuat soal. Aku mengamati selama tiga tahun dan ternyata setiap diadakan ujian akhir, kebanyakan soal yang muncul adalah pertanyaan atau semacam kuis yang dibuatnya sebelum pelajaran dimulai." Daniar mengangguk mengerti, beruntung ia selalu mencatat kuis itu. Tak mungkin rasanya belajar sejarah tanpa punya banyak catatan. "Lalu, Pak Darto? Oh sudah pindah ya? Yang kuingat itu...Bu Retno, ya, untuk seukuran guru bahasa Inggris SMA, dia sangat s***s. Dia itu sangat gila dengan grammar dan setiap kalimat yang disusunnya harus benar-benar sempurna. Hanya itu kuncinya, memang kamu harus berusaha keras menghadapinya. Satu lagi, kuperhatikan dia juga sering membuat soal tentang praktek yang dilakukan sebulan sekali." "Aku benar-benar terbantu, Charles." "Senang mendengarnya. Hanya itu yang bisa kuberikan, sisanya aku sungguh lupa. Oh iya, ada satu lagi tipsku tapi aku tak yakin ini akan membantu." "Katakan saja." "Aku sejujurnya tidak terlalu pandai pelajaran yang berurusan dengan angka. Kamu tahu lubang ventilasi jendela yang berjumlah enam? Anggap mereka sebagai huruf a, b, c, d, e, dan a. Dibanding menghitung kancing, lebih mujarab menghitung ventilasi itu sambil mengeja soalnya, ketika selesai dieja, ventilasi terakhir yang dihitung itu adalah jawabannya. Aku sering gunakan cara ini dan hasilnya luar biasa. Percaya atau tidak, terserahmu, Angela." "Kamu hanya beruntung, tapi terima kasih tipsnya." Charles membolehkan Daniar berlama-lama di bangunan rental dan membaca beberapa buku langsung di tempat. Ini menguntungkan karena ia tak perlu pinjam lagi buku yang sudah dibacanya dan meminjam buku lain sebagai gantinya, semakin banyak ilmu yang didapat karena itu. Hebatnya lagi, bukan hanya buku fiksi yang ramai, buku yang berhubungan dengan pelajaran di sekolah juga ada, bukan main lengkapnya. Tadinya Daniar hendak pergi ke sini bersama Fathur dan Dio yang bilang mau belajar bersama. Fathur sudah memberikan keterangan jika ia akan pergi bersama ibunya ke tempat terapi yang dekat dengan alam. Sedangkan Dio masih belum jelas kabarnya, maka Daniar berasumsi jika ia juga punya kesibukan tersendiri. Tak banyak orang di sana, atau mungkin karena Daniar pergi terlalu pagi karena biasanya pengunjung ramai di sore hari. Daniar tak perlu repot melirik kesana kemari untuk mencari tahu, tak ada sesiapa pun orang yang dikenalnya kecuali Charles seorang. Inilah tempat idealnya, menghabiskan waktu sendirian tanpa takut akan bertemu orang-orang yang membuatnya merasakan trauma lagi. Sampai waktu pulang, sungguh tak ada halangan yang berarti, hari minggu yang indah seperti minggu kebanyakan orang-orang pikir. Satu yang membuatnya tak habis pikir adalah bagaimana ada orang cantik bagai manekin dan populer sedang berdiri di depan toko, ialah toko aksesoris di samping bangunan rental. Mobil yang terparkir di samping jalan terlihat menarik perhatian banyak orang yang lewat. Ia benar-benar mencolok, sekali lihat langsung Daniar tahu. *** Sudah menjadi hal yang biasa jika keluarga konglomerat sangat menjaga penampilan. Ianya sudah menjadi kebutuhan, kesan yang baik harus terlihat setiap bertemu orang baru. Tapi bagi Berryl, menjaga penampilan sudah menjadi hobinya, dari ujung rambut hingga kaki harus diperhatikan dengan baik. Ia senang melihat pantulan dirinya di depan cermin, jika orang-orang bilang berdandan adalah bertujuan untuk membuat tertarik lawan jenis, Berryl tak langsung mengiyakan. Faktanya setiap melihat hal yang ia lakukan untuk tubuhnya, perasaan bahagia muncul, memberikan arti jika ia melakukan itu untuk dirinya sendiri. Penampilan hari ini yang kasual namun mewah bernuansa biru putih dalah set yang cocok untuk dipakai pergi ke restoran baru. Kebetulan restoran baru yang letaknya di sebelah pusat perbelanjaan juga bernuansa biru langit. Setengah perjalanan dengan melewatkan sarapan karena Berryl sendiri berniat mengisi perut mencicipi menu di restoran baru itu, seorang teman yang sudah berjanji akan bertemu di sana, membatalkannya secara sepihak. 'Big sorry for you, dear. Ingat sepupuku yang kerja di Korea? Kemarin dia pulang dan mau mengajak dan mentraktirku apapun. Aku tidak akan melewatkan ini, have fun ya, lain kali kita pergi bersama dan menghabiskan waktu seharian." 'Have fun for you juga, sampaikan salamku pada sepupumu.' Tak biasanya temannya itu membatalkan janji, selalunya ia akan sangat antusias jika pergi bersama Berryl sejak SMP. Pada akhirnya, melanjutkan perjalanan ke restoran baru itu tak ada artinya, ia tak suka terlihat sendirian, bisa saja ia mengajak teman yang lain tapi perasaan antusiasnya sudah hilang lebih dulu. Hal menarik perhatiannya dari perjalanan putar balik ke rumah untuk meminta koki pribadinya membuatkan masakan barat adalah ketika ia melihat perempuan bersemangat sekali mengayuh sepeda butut, awalnya tak akan ia pedulikan setelah melihat baik-baik perawakannya. l Dia, orang yang Dio bela dengan sepenuh hati karena kekacauan yang dibuatnya. Entah siapa yang membisikinya, Berryl menyuruh supir mengikutinya dan ikut berhenti ketika Daniar mulai masuk ke bangunan rental. Berryl belum mau beranjak bahkan setelah hampir setengah jam berdiam diri di mobil entah apa yang diinginkannya atau apa yang ingin diketahuinya. Maka setelah bosan, Berryl memutuskan keluar dari mobil melihat-lihat toko aksesoris. Ini sesuatu yang gila, belum pernah ia mampir ke toko kecil manapun sebelumnya. Apalagi mau repot-repot melihat aksesoris yang bisa ia beli seluruhnya di dalam toko itu. Bukan, tentu bukan untuk membeli aksesoris murahan tujuannya. Jam tangan yang dipakainya saja mungkin seharga ratusan aksesoris yang ada di sana. Berharap Daniar melihatnya saat keluar dari bangunan rental adalah tujuan sebenarnya. Sepertinya berhasil. Kemudian harapannya yang akan terjadi adalah Daniar menyapanya. Daniar harusnya tahu, betapa terkenalnya ia dan Dio juga harusnya sering bercerita padanya, bagaimana mereka sering bertemu di acara penting maupun acara santai antarkeluarga. Sementara itu di pikiran perempuan lain, ia bimbang harus bagaimana jika sepedanya melewati perempuan bertubuh langsing tapi sedikit lebih tinggi darinya itu. Peduli apa, tak akan ia tahu tentang Daniar, atau mungkin tahu setelah hebohnya berita minggu lalu. Yang Daniar tahu, Berryl adalah teman Dio, sebuah senyuman kecil mungkin cukup untuk menyapanya, tak masalah mau dibalas atau tidak. Tapi ini sungguh gila, pikir lagi Daniar. Berryl dan supirnya yang berdiri di depan mobil sungguh mencolok di antara orang-orang yang kebanyakan berpenampilan seadanya karena tak ada yang menarik di wilayah kecil itu. Apa yang dilakukannya di sini? Lalu ia ingat tentang kekayaannya dan kekuasaannya, melihatnya berdiri memandangi roko-toko kecil itu, mau menggusurnya ,'kah? Sekali lagi, peduli apa, Daniar senyum sedikit padanya lalu bergegas pergi setelah naik di jok sepeda. "Daniar, ya?" Kan, ternyata berita tentang fitnahnya benar-benar tersebar ke seluruh sekolah. Daniar nampaknya sudah siap akan respon yang terjadi. "Ya, itu aku." "Tak menyangka akan bertemu di sini." Harusnya Daniar yang mengatakan itu. "Ingat aku? Aku sering melihatmu bersama Dio. Oh iya, tempat apa yang baru kamu kunjungi itu?" Berryl melihat lagi bangunan di sebelah, nampaknya ada banyak buku, tapi ia tak melihat papan kecil bertuliskan "Charless' Books Rental" di bagian atas "Ah...itu tempat untuk membaca dan menyewa buku." "Serius? Ternyata masih ada hal seperti itu di jaman ini. Kamu datang untuk belajar?" "Ya, ujian semester sebentar lagi." "Hm begitu, aku juga harus belajar keras mulai besok." Berryl tampak memikirkan sesuatu, Daniar semakin bingung mengapa ini terjadi, baru kali ini ia berinteraksi lebih banyak dengan orang populer "Dari jendela mobil aku terkesima dengan aksesoris yang dijual di toko itu, hei, mau temani aku melihat-lihat kesana dan beli sesuatu yang bagus? Jujur aku belum pernah pergi ke toko seperti itu." Mengapa tiba-tiba? Daniar jadi merasa tak enak untuk menolak, ia menjadi kaku seperti dulu. Tapi melihat matanya yang berbinar itu membuat Daniar jadi mau menuruti kemauannya. Dan, tunggu...dia tidak pernah pergi ke toko? Bukankah jika ingin membeli sesuatu minimal kita akan pergi ke tempat yang bernama toko? Entah toko besar atau kecil. Lalu Daniar mengingat betul perkataan Dio, "Dia itu manja, hanya sekali bilang apa yang diinginkannya maka itu akan terkabul." "Wow, pasti dia punya lampu ajaib!" komentar Daniar waktu itu Tak hanya melihat-lihat, Berryl justru menggunakan kesempatan ini untuk bicara banyak dengan Daniar. Daniar mendengarnya dengan seksama, jarang sekali disela, bahkan Daniar giliran berbicara ketika Berryl meminta pendapatnya. Benar-benar Daniar yang kaku, Berryl pernah mendengar ini dari beberapa teman sekelasnya. Setelah puas menjelajahi semua sudut toko kecil itu, Berryl mengambil sembarang benda di hadapannya untuk dibayar, sebuah jepit rambut, bandana, dan topi rajut yang sebenarnya sudah ia banyak ia miliki. "Terima kasih loh. Sebenarnya hari ini aku punya rencana tapi temanku terpaksa membatalkannya. Kami berencana pergi ke rumah makan karenanya aku sengaja tidak makan dari pagi." Kemudian terdengar suara perut berbunyi, jelas sekali. Belum makan dari pagi hingga kini waktu menunjukkan hampir pukul sebelas siang itu tidak bohong. "Ah, aku tak tahu apa ada tempat makan di dekat sini, apapun itu." "Kalau yang kamu cari rumah makan cepat saji ada di dekat sini kurang lebih jaraknya 500 meter. Kalau rumah makan lesehan juga ada, hanya 200 meter dari sini." Daniar hanya menyampaikan apa yang ia ketahui, sungguh, sejujurnya tak ada tempat makan serupa bintang lima di sekitar sini. Kalau memang ada, pasti akan menjadi bulan-bulanan warga sekitar yang keberatan dengan harga setiap menunya. "Kalau begitu pergi ke tempat terdekat saja, Niar, mau temani aku lagi? Aku tak terbiasa sendiri." "Yah, itu...kamu punya supir bukan?" "Ah, kamu suka bercanda juga. Supirku itu baru menikah beberapa bulan ini dan dia sudah berjanji hanya akan memakan masakan istrinya. Jadi, mau ya?" Tak hanya bertanya, Berryl terlihat memaksa dan menarik tangan Daniar yang masih berpegangan pada setang sepeda. Berryl memberi kode pada supirnya, kemudian supirnya mengangguk mengerti, entah bagaimana mereka membuat berbagai kode dan mengartikannya. Pada akhirnya, Daniar menuntun sepeda dan Berryl berjalan di sampingnya menuju rumah makan lesehan. Berryl benar-benar menarik perhatian pandangan orang di sekitar. Manekin hidup sedang berjalan, mungkin kira-kira seperti itu yang mereka pikirkan.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN