Hari minggu yang aneh itu sudah terlewati. Fathur dan Dio sungguh tak percaya begitu Daniar bercerita tentang pertemuannya dengan Berryl. Bukan pertemuan yang buruk meski Daniar berkali-kali memikirkan cara untuk lepas darinya.
"Niar, kurasa kamu punya rabun jauh. Berryl? Toko aksesoris? Rumah makan lesehan? Hei, wajah macam dia itu pasaran, kamu bertemu dengan orang lain, bukan dengannya, percaya deh."
"Maksudnya kemarin aku mengobrol dengan orang asing meski obrolan kami tentangmu?"
"Pantas kemarin aku bersin-bersin terus."
"Lagian aku menunggu kabar darimu yang katanya mau belajar bareng. Fathur sudah mengabari dan itu membuatku lega. Kenapa sih, ada masalah lagi?"
"Yah, itu...hanya masalah kecil, tak usah dibahas."
Dio berlagak aneh dengan memandang ruangan kelas ke kanan, ke kiri, ke atas lalu ke bawah.
"Oh, jadi Dio tidak cerita padamu ya? Kemarin dia berniat pergi tapi tak diperbolehkan kakaknya, jadilah dia terpaksa pergi pakai angkot tapi ketiduran. Dio menelepon padaku dan bilang jika tersesat, lalu kusarankan dia pesan ojek online dan segera pulang saja karena hari sudah siang daripada tersesat lagi macam bocah kecil yang masih ingusan," terang Fathur
"Sigh."
Dalam keadaan seperti itu, Daniar merasa kehidupan Dio dan Berryl tak ada bedanya dilihat dari gaya hidup. Tapi mereka sungguh punya kepribadian bertolak belakang.
Daniar jadi mengingat kelanjutan pertemuannya dengan Berryl di hari minggu kemarin. Ia selalunya waspada jika ada orang yang berlagak aneh padahal tidak pernah terjadi apapun pada mereka sebelumnya. Daniar selalu berpikir buruk terlebih dahulu, itu normal 'kan? Tapi lupakan, Berryl ternyata hanya perempuan biasa yang suka mengobrol dan menghabiskan waktu bersama teman.
"Daniar, kamu pesan juga."
Daniar menggeleng, sangka ia hanya bertugas menjadi pengantar saja saat sampai di rumah makan yang lumayan ramai itu, maklum karena akhir pekan.
"Aku tidak menjadikanmu penonton di sini. Ayolah."
"Aku sudah makan dan masih kenyang, sungguh."
"Segelas es teh dan sepiring camilan harusnya tidak masalah." Tanpa persetujuannya, Berryl sudah memesan lebih dulu
Seperti yang ia duga sebelumnya, pakaian Berryl yang santai namun memanjakan mata mengambil perhatian orang-orang sejak awal datang sampai mereka duduk di lantai bersih dengan meja kecil di hadapan mereka. Berryl memakai rok di atas lutut berwarna biru dan blouse putih dengan beberapa rumbai di lengannya. Ia bak model, apalagi rambutnya yang terurai panjang dengan kepangan kecil di samping telinga. Mestinya ia menyesal karena duduk lesehan dengan rok pendek seperti ini sangatlah berisiko, ia terlihat tak nyaman sedari tadi dan pandangan orang-orang apalagi laki-laki semakin gencar.
'Lihat! Harusnya kamu pergi ke restoran cepat saji yang kursinya tinggi dan bukannya kesini.' Perkataan itu terlintas di benak Daniar
Ah, tapi ini tidak benar. Daniar juga seorang perempuan yang akan risih juga jika seseorang memandang ke objek yang tak seharusnya. Ia memandang lagi tempat itu dan menemukan meja kosong paling sudut. Berryl kemudian diajaknya pindah ke sana, menyuruhnya duduk paling sudut dan Daniar duduk di sampingnya. Sempurna, tak ada lagi pandangan yang mengganggu karena dipandang orang dengan pandangan aneh itu tidak mengenakkan, Daniar sungguh berpengalaman dalam hal ini.
Berryl tertegun saja bagaimana Daniar memperlakukannya, kepedulian seperti ini amat berbeda. Di kepalanya berputar skenario jika bagaimana teman-temannya yang lain berada di posisi ini.
"Berryl, kamu mau pindah? Mereka sepertinya melihatmu terus."
"Menurutmu begitu?"
"Tak perlu kurasa, bersikap cuek saja, kita memang tak bisa tak kelihatan menggoda."
Lucu sekali ternyata Berryl langsung ditarik Daniar untuk segera pindah dan melindunginya dari pandangan jahat itu.
Hari minggu belum selesai, di perjalanan pulang dari rumah makan, ada satu tempat bermain untuk anak-anak, semacam tempat dengan wahana kecil. Ada ayunan, jungkat-jungkit, dan cawan raksasa yang bisa berputar. Saat itu ada kegiatan melukis dimana anak-anak dihadapkan dengan kanvas untuk mewarnai objek yang sudah tertera. Anak-anak yang kebanyakan balita itu antusias berinteraksi dengan anak lainnya sementara beberapa orang tua mengobrol ria dengan orang tua lainnya di kursi panjang tak jauh dari situ. Daniar tak bisa tak tersenyum melihat bagaimana anak-anak kecil itu berinteraksi, terlihat begitu konyol tapi justru menggemaskan. Mereka mengingatkannya pada adik kembarnya saat kecil yang saling berebut minta digendong dan minta digambarkan berbagai binatang. Berryl juga menikmati pemandangan itu, tapi tak seantusias Daniar yang bahkan hampir oleng karena terus menengok ke sana.
"Hati-hati," ujar Berryl
Anak kecil laki-laki yang berdiri termenung memandangi anak-anak lain yang begitu riang mencuri perhatiannya. Ia tak bergerak, bahkan lukisan di kanvasnya sama sekali belum berwarna. Jelas sekali ia terlihat sendiri, mirip sepertinya dulu saat ia hanya bisa memandangi bagaimana orang-orang di sekitarnya bersenang-senang.
Berryl nampak bingung saat Daniar memarkirkan sepeda kemudian berlari ke arah anak-anak balita menyusahkan itu. Ah, baginya semua anak-anak menyusahkan. Ia berkata begitu karena pernah dijambak oleh anak teman ayahnya hingga beberapa helai rambut rontok. Karena kejadian itu ia menganggap semua anak kecil menyusahkan, ya, karena nila setitik rusak s**u sebelanga.
"Hei, kenapa beruangnya tidak diwarnai? Mau kakak bantu?"
Kemunculan yang tiba-tiba, mendengar Daniar bertanya begitu membuat balita itu kelihatan ingin menangis.
"Beruangnya... laki-laki harusnya menggambar harimau bukan beruang. Beruang harusnya buat perempuan, mereka jadinya tak mau berteman denganku," katanya menunjuk balita-balita sebayanya
"Oh, jadi kamu mau mewarnai harimau? Padahal beruang juga bagus loh."
Balita itu menggeleng. Pantas saja, beruang yang dihadapannya itu digambarkan berpita di salah satu telinganya.
Kemudian Daniar melihat-lihat apakah sekiranya ada yang bisa dilakukan. Ia membalikkan kertas paling depan dan terdapat kertas kosong di sana. Tidak ada pensil, tapi di sana ada pensil gambar hitam yang cukup tebal. Sempurna.
"Hm, jadi kamu mau harimau ya, nah coba kita lihat."
Gawat, terakhir kali Daniar hanya bisa menggambar kucing bahkan tidak selesai karena hilang minat duluan. Tapi ini sungguh sketsa sederhana, gambar yang kelihatan gagal di matanya juga tak akan memengaruhi balita imut-imut itu.
"Tinggal kasih kumisnya, dan...selesai."
Tidakkah semulus yang dibayangkannya tapi melihat anak itu menganga cukuplah sudah. Anak-anak kecil lain yang penasaran juga akhirnya mengerubungi, melihat bagaimana objek yang tadinya beruang betina berubah menjadi harimau jantan nan sangar.
"Wah, lebih bagus dari punyaku."
"Keren harimaunya, aku mau yang ini."
"Tak boleh, ini punyaku."
Sementara itu Daniar keheranan melihat Berryl hanya diam saja dan berdiri tak jauh darinya.
"Kenapa di situ saja?"
"Tidak apa-apa, apa mereka tidak akan menjambak?"
Berryl tampak was-was melihat kumpulan bocah-bocah nan mungil itu. Imut tapi seram juga di matanya.
"Kenapa juga mereka harus menjambak, kamu 'kan tidak mengganggu mereka."
Masuk akal, kemudian ia memutar memori dimana ia mengganggu anak teman ayahnya dengan pura-pura merebut es krim miliknya. Wah, anak kecil ternyata pandai membalaskan dendam. Lalu Daniar dan Berryl membantu mewarnai gambar itu sebentar sebelum akhirnya kembali melanjutkan perjalanan.
Pertemuan berakhir setelah mereka dipisahkan oleh dua kendaraan. Berryl memasuki mobilnya dan Daniar mengayuh sepedanya.
Begitulah hari minggu berakhir, mendengar Daniar bercerita membuat Dio bergidik ngeri.
"Sudah sih, apa salahnya dia bertemu dengan Niar?"
"Sangat salah, kamu sih tak tahu bagaimana dia sebenarnya, Fathur."
"Seolah kamu tahu segala tentang kehidupannya. Kalian benar-benar dekat kalau begitu."
"Tidak sedekat itu."
Ketika mereka hendak masuk ke kelas karena jam istirahat telah berakhir, secara kebetulan Berryl ditemani dua orang temannya sedang berjalan ke arah mereka. Kebetulan seperti ini bukannya jarang, selalunya Berryl akan menyapa Dio dan Dio akan membalas dengan senyuman kecut, tak seperti orang-orang kebanyakan yang justru akan memberikan senyum paling indahnya karena bidadari tengah tersenyum pada mereka.
Kali ini sedikit berbeda, Berryl justru tak mengalihkan pandangannya sedari tadi dari Daniar. Daniar yang menyadarinya jadi sedikit kikuk, banyak hal yang terjadi pada mereka tapi ia masih tidak percaya.
"Hari minggu yang indah," ujarnya tersenyum sebelum berlalu menuju kelasnya
Daniar tentu membalas senyumnya, membuat Dio semakin tidak percaya.
"Mestinya dunia sedang bercanda," ujar Dio