It's Holiday

1464 Kata
Setelah dua tahun yang terlewati, tahun ketiga harusnya menjadi sebuah kenyataan yang pasti. Selain kedudukan yang terhormat sebagai murid senior, tahun ketiga harusnya juga rentan akan depresi. Tahun dimana kesempatan terakhir untuk mengumpulkan sebanyak-banyaknya memori, memori bersama teman, guru, sahabat, maupun kekasih. Kesenangan menjadi murid senior juga tak akan berlangsung lama sebagaimana pidato kepala sekolah saat di hari terakhir ujian semester, kala itu murid tahun kedua bersorak sorai karena ujian telah berakhir dan mereka akan menjadi murid paling atas, paling terhormat, dan tentu saja paling serasa berkuasa. Tanpa tahu fakta paling pentingnya, mereka juga akan menjadi murid paling menderita. Semester pertama, baiklah jika masih ada banyak kesenangan di dalamnya. Band dadakan akan selalu hadir saat jam kosong, pergi ke bioskop saat ternyata jam pulang lebih cepat, menggoda murid lain saat di kantin bahkan selalu menantikan pertunjukkan ketika ada laki-laki pemberani yang menyatakan cintanya sambil membawakan bunga. "Masa depan kalian harus mulai dirancang. Ketahuilah, banyak orang-orang yang menyesal karena bermain-main dengan waktu. Kalau ada sesuatu yang bisa membuat seseorang ke masa lalu, banyak yang ingin memperbaikinya. Hanya luangkan waktu kalian di tahun terakhir itu untuk memikirkan apa yang kalian inginkan, setidaknya lakukan itu untuk diri kalian sendiri, bukan untuk temanmu, gurumu, atau pacarmu. Bersabarlah untuk belajar, karena kalian belum tahu saja bagaimana kerasnya kehidupan di luar sana." Ratusan murid tampak tertegun dan menangis untuk sementara waktu. Mereka hanya ingin cepat lulus, masuk perguruan tinggi lalu mendapatkan pekerjaan. Sesederhana itu, tapi untuk mencapainya tidaklah mudah. Semuanya harus dilalui dengan ujian, seperti halnya kehidupan. Membayangkan bagaimana jika tidak ada ujian dalam hidup manusia, mereka tidak akan mau bekerja keras, apalagi bersyukur. Dan hal yang benar ketika dihadapkan dengan ujian adalah hanya harus menghadapinya, mengetahui kita telah lolos dari sebuah ujian nantinya akan jadi kebahagiaan yang tak terbendung, pernah mengalaminya, 'kan? Harusnya pernah. Pada akhirnya memanfaatkan waktu di tahun terakhir SMA sangatlah penting. Tapi melakukan sesuatu yang akan membuat suasana hati menjadi bahagia juga tak kalah pentingnya. Meluangkan waktu bersama teman atau meluangkan waktu sendirian, terserah bagaimana caranya agar waktu itu bisa menjadi sangat berguna sekaligus membawa kebahagiaan tersendiri. Belajar dan menemukan jawaban sendiri di dalam kamar ditemani musik mellow, itu hal yang bagus. Belajar dan menemukan jawaban sembari berdiskusi bersama teman, itu hal yang bagus juga. Kenyamanan yang paling utama, entah bagaimanapun caranya. Libur panjang juga seharusnya dimanfaatkan sebijak mungkin. Orang yang menghabiskan separuh waktunya untuk belajar banyak hal akan lebih baik dari orang yang tak melakukan kegiatan berarti selama liburan penuh. Maksudnya, dua puluh empat jam dikali 14 hari itu adalah waktu yang banyak, bagi Daniar, itu bisa membuatnya menyelesaikan tiga lukisan bahkan empat yang nantinya akan dijual. Bagi seorang penjahit, itu bisa membuatnya menghasilkan beberapa set pakaian. Bagi tukang kayu, itu bisa membuatnya menciptakan banyak perabotan dan aksesoris rumah tangga. Ya, masalah menghargai waktu sangatlah penting. Satu jam saja nyatanya sangat penting bagi banyak orang, sekarang bayangkan, bagaimana jika Sangkuriang mendapat waktu satu jam tambahan sebelum matahari terbit untuk membangun perahunya? Bisa saja ia berhasil dan legenda akan berubah hingga saat ini. Tempat yang jadi pilihan tepat buat belajar menurut pengamatan Daniar adalah rental buku milik Charles. Seolah tak ada liburnya, justru keputusan yang tepat untuk tetap membuka tempatnya di hari libur begini, pengunjung akan ramai meski tak signifikan. Buku yang ramai diminati juga serupa komik dan novel, sebuah bacaan yang cocok tuk menemani liburan, bahkan ada yang berebut meminjam dan membuat giliran untuk siapa saja yang mau meminjamnya. Sedikit yang meminati buku bertemakan edukasi, salah satunya tiga orang yang sedang duduk santai di kursi plastik dengan meja kayu bundar di hadapan mereka. Baru-baru ini Charles menambahkan tempat untuk membaca dan bersantai setelah sebelumnya hanya ada serupa tiga kursi untuk duduk. Modal sedikit, untungnya hal itu bikin pengunjung tambah nyaman. "Kalau begini sekalian sediakan minuman juga bagusnya, camilan juga bukan ide yang buruk." "Ini rental buku, tak bisakah kalian bedakan rental buku dan warung kopi? Euh aku tak mau buku-bukuku nanti kotor karena tertumpah minuman dan makanan." Tentu saja Fathur hanya bercanda berkata begitu. Sementara itu Dio yang masih asing dan baru di tempat surga buku itu, memandang sekitar dengan seksama. Dio juga sama kagetnya dengan Daniar ketika pertama kali datang dan disambut dengan panggilan asing. "Steve! Kalian dengar itu? Mimpi apa aku semalam sampai dapat panggilan seperti itu," ujarmya "Wah, tapi hebat juga tempat ini, lebih besar dari perpustakaan pribadi di rumahku," komentar lagi Dio "Mengetahui di rumahmu ada perpustakaan pribadi saja sudah sangat hebat menurutku," ungkap Daniar "Ada tapi tidak sebesar ini. Oh iya, setelah hari ini bagaimana kalau belajar di rumahku? Ah tidak, maksudku dua hari ke depan. Besok aku harus pergi ke luar kota." "Selama Fathur juga ikut." "Boleh saja, aku oke." "Baiklah, sudah ditetapkan." Buku pertama yang dibahas hari itu adalah buku berisi soal-soal tes potensi skolastik, tipe soal yang sering keluar dalam ujian masuk perguruan tinggi. Soal yang sederhana tapi butuh pemahaman dan logika yang mumpuni untuk memecahkannya. "Apakah begini soal yang keluar? Kenapa begitu mudah?" "Memang mudah, coba baca keterangannya. Soal yang kamu kerjakan adalah level satu, sedangkan yang kebanyakan keluar adalah soal di atas level tiga." Dengan mudahnya Fathur mematahkan kebahagiaan Dio setelah berhasil menyelesaikan tiga soal dengan jawaban sempurna. Tapi Daniar mendukungnya, seseorang harus disadarkan dan diberi tahu akan fakta dan kenyataan yang ada. Selama seminggu penuh sebelum mulai berangkat sekolah kembali kira-kira mereka belajar. Liburan yang penuh kerja keras, Daniar tak melupakan sama sekali kewajibannya membantu seorang ibu, kali ini mereka bekerja keras karena Ezra dan Ekra yang sudah tumbuh menjadi remaja SMP. Terlalu cepat, rasanya baru saja kedua bocah itu merengek meminta dibelikan mainan mobil bergambar spiderman. Dari pagi hingga sore ia begitu sibuk, saat pagi ia membantu mengurus cucian, saat siang ia belajar dan menggambar pesanan, sore ia punya waktu sebentar lalu malamnya lanjut belajar. Begitu berulang-ulang, kecuali untuk dua hari minggu karena ia harus membantu membeli seragam dan peralatan sekolah untuk adiknya di toko yang ramainya minta ampun. Daniar harus bersabar karenanya, tak ada toko lagi yang menawarkan harga murah selain toko itu maka selagi menunggu keramaian susut, ia dan adiknya pergi berjalan-jalan hitung-hitung sebagai liburan mereka. Tak ada liburan yang sia-sia pada akhirnya. Tak jauh berbeda dengan Daniar, Fathur menggunakan waktu liburan bukan hanya untuk berhaha-hihi dua minggu suntuk. Membuat menu makanan adalah kebiasaannya, terlepas ketika ibunya amat sehat sekalipun. Fathur sangat menikmati, kadang ia dan ibunya memasak bersama dan membagikannya ke tetangga karena membuat terlalu banyak. Juga, tetangga di samping rumahnya sangat membawa kebahagiaan sekaligus keberuntungan. Keluarga itu punya dua anak, satu adalah remaja SMP yang hendak naik ke kelas tiga, satu lagi balita yang bahkan semua gigi susunya belum muncul dengan sempurna. Sore sampai malam hari adalah waktu teramai di antara kedua keluarga itu. Fathur dengan kecerdasannya membantu memberikan les privat pada anak pertama, sekaligus membantunya mengerjakan PR liburan. Awalnya ia menolak, mengajar bukanlah bakatnya, tapi Daniar meyakinkan jika Fathur bisa melakukannya. "Hanya lakukan saat kamu mengajariku dan Dio, nyatanya itu berhasil, 'kan?" Kerja kerasnya untuk mengajar juga rupanya dibayar oleh keluarga di samping rumahnya. Pernah sekali ia dan ibunya menolak pemberian upah, pasalnya Fathur hanya melakukan apa yang ia bisa. "Ini untuk kerja kerasmu. Pastilah susah mengajar anak bandel juga cerewet itu, astaga, dia itu kerjaannya nongkrong ke mall melulu. Kalau kamu tak membantu, tak mungkin dia selesaikan PR-nya, aduh, peringkat saja selalu dapat sepuluh terbawah di kelasnya. Terimalah, aku mengerti bagaimana susahnya membuat mengerti dia." Pada akhirnya jurus untuk membeberkan aib adalah obat manjurnya. Padahal Fathur merasa remaja perempuan yang diajarnya tidaklah begitu buruk, ia selalu mendengarkan dan mengerti apa Fathur katakan. Fathur jadi sedikit tak percaya jika anak semacam itu tak pernah belajar dengan baik sebelumnya. Selain itu, ibunya yang sehat jadi bertambah sehat saja karena ia punya kesibukan tersendiri menghabiskan waktu bersama balita imut nan menggemaskan. Sungguh liburan kali ini tidak ada yang perlu dikhawatirkan, Fathur dengan bangga menceritakan itu pada ayahnya yang terpaksa harus pergi lagi ke luar negeri. Ya, semuanya tampak berjalan baik tanpa ada kemewahan. Sesederhana itu menggunakan waktu liburan. Dio juga awalnya menolak ketika keluarganya merencanakan liburan ke luar pulau dan menginap di villa pribadi di tepi pantai. Liburan seperti itu sudah sering ia lalui. Membosankan sekaligus mengerikan. Adakah dari kalian yang mau membayangkan apakah kemungkinan yang dilakukan trio sableng padanya? Dio pernah ditipu ketika mereka berjalan-jalan di tempat yang penuh pepohonan rimbun, membuatnya tersesat dan tak tahu arah jalan keluar. Ia berhasil ditemukan setelah ayahnya mengirim tim pencarian khusus. Butuh waktu berjam-jam karena nyatanya tim pencarian khusus itu harus berkejaran dengan Dio yang larinya begitu cepat. Dio tak salah, tim berpakaian serba hitam itu mengingatkanya pada sosok penculik di televisi, lebih baik lari daripada ditangkap, 'kan?" Oh, tapi liburan kali ini sungguh berbeda, ia hanya pergi ke luar kota untuk mengunjungi saudara jauh. Tak butuh waktu lama untuk mengiyakan permintaan ayahnya karena itu. Momen ini justru yang sangat Dio tunggu.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN