Kisah Lama

1421 Kata
Selasa pagi, Daniar tak bisa berbohong pada seseorang yang mengawali bertanya kabar padanya. Dari bertukar kabar tersebut, obrolan berlanjut tentang kegiatan apa yang dilakukan selama liburan. Juga, orang itu bertanya apa yang akan Daniar lakukan siang ini. Daniar ingat betul apa-apa saja yang akan dilakukannya bahkan sampai liburan selesai lima hari lagi. Teruntuk siang ini, ia dan Fathur sudah berjanji mau belajar bersama di rumah Dio. Rumah yang katanya punya perpustakaan pribadi, Daniar tak sabar melihat buku apa saja yang ada di sana. 'Aku akan belajar, bersama Fathur, Dio juga. Siang ini di rumah Dio.' 'Oh, Dio. Itu bagus, aku mau bergabung, boleh? Aku yakin Dio mengizinkan kalau aku datang.' Sampai di pertanyaan itu, Daniar sampai menghubungi Fathur untuk minta pendapatnya. Padahal Daniar merasa itu tak perlu, niatnya sudah baik mau ikut belajar, lagipula Berryl dekat dengan keluarga Dio. Pastilah bukan masalah baginya mau bertamu kapan saja. Fathur juga merasa demikian, kehadiran Berryl harusnya bukan menjadi masalah. Tapi begitu Fathur dan Daniar sampai di rumahnya, mereka disemprot oleh Dio yang protes. "Bagaimana bisa dia tiba-tiba ikut belajar dengan kita?" "Dia bilang ingin, apa salahnya dengan orang yang mau belajar?" "Tapi aku tak mengizinkan dia ke sini." "Tapi dia bilang jika kamu pasti akan mengizinkan." "Bukan aku, Niar. Tentu saja ayahku, kakakku, kamu pikir aku akan menang melawan mereka? Berryl hanya tinggal bilang pada mereka dan pada akhirnya aku tak bisa berbuat apa-apa." "Aku rasa kamu jangan membencinya terlalu banyak, Dio," ujar Fathur mendahului masuk ke dalam rumah padahal Dio belum mempersilahkan sama sekali Berryl kira-kira datang setengah jam kemudian. Dio akhirnya mengalah, tak mau memikirkan lebih dalam apa motif Berryl tiba-tiba bersikap kerakyatan dan mau berteman dengan Daniar. Selalunya ia pasti memiliki agenda liburan melintasi benua dan samudra, jika ingin belajar juga biasanya keluarganya selalu mengirimkan guru privat dengan banyak sampel, biar Berryl sendiri yang memilih mana satu yang cocok buatnya. Lagipula Dio sedang dilanda euforia sehabis pulang dari luar kota. Sudah dibilang, liburan ini, meski hanya dua hari, tanpa villa pribadi, justru memberikan kesan terbaik untuknya. "Di sana pasti ada seseorang. Aku tebak seorang perempuan. Dan kamu jatuh cinta." Fathur menebak dengan mulus, bagai jalan tol tanpa hambatan. Daniar bahkan tak sampai berpikiran ke arah sana, tebakannya sederhana, saudara yang dikunjunginya berada di pedesaan, pastilah Dio sangat rindu dengan udara sejuknya. "Wah, tak heran kamu sering dapat surat cinta, paham betul dengan perasaanku sekarang. Dapat tiga bukan?" "Hanya dua! Yang terakhir itu jangan ikut dihitung!" Terakhir kali Dio pergi ke pedesaan itu adalah saat SMP. Akses untuk pergi ke sana belumlah semulus jalan di kota, itulah mengapa keluarganya malas pergi ke sana, hanya beberapa tahun sekali saja. Desa itu adalah tempat tinggal orang tua ayah Dio yang sudah lama meninggal, hanya meninggalkan beberapa sanak saudara di sana. Keluarga Dio cukup tahu untuk tidak memutus tali hubungan dan tetap menghormati mereka sebagai saudara. Setiap pergi ke sana, mereka akan membawakan banyak barang, entah itu bahan pangan, sandang, maupun papan. Kedatangannya selalu disambut hangat, seluruh warga desa tahu siapa Pak Ghani itu. Biasanya tak berlama-lama, dua atau tiga hari cukup untuk menetap karena mereka tahu tak ada sesuatu yang berarti untuk dilakukan di sana. Sinyal buruk, jalanan becek tak kering dengan cepat setelah hari sebelumnya hujan, juga trio sableng yang digadang-gadang sebagai pewaris paling sempurna tak bisa menahan ketidanyamanannya bergabung dengan orang desa kuno nan lugu. Sebuah desa tidaklah melulu buruk, ketika kota punya bangunan tinggi maka desa punya hamparan tanah lapang. Ketika di kota jalanan macet karena dipenuhi kendaraan, jalan di desa terlihat lowong sehingga tak ada drama terlambat karena macet. Dio hanya berusaha menikmati ketika berada di sana, maka hasilnya tak mengecewakan, ada banyak hal menarik juga rupanya. Saat itu Dio sedang duduk di kursi panjang di bawah pohon. Musim panas sedang melanda, berteduh di bawah sana rupanya sejuk juga sambil menikmati semangka yang sudah disiapkan bibinya. Dari pandangannya saat itu, ia mendapati seorang perempuan entah sedang apa bersembunyi di antara ilalang. Dio tak melihat sosoknya dengan jelas, barulah ketika perempuan itu keluar dengan tergesa di antara ilalang panjang, wajahnya kelihatan sepenuhnya. Ia sedikit menjerit dan bergidik sebelum akhirnya pergi menjauhi ilalang. Dio masih mengawasi dan perempuan itu menyadari hingga ia berjalan ke arahnya yang sedang memakan potongan semangka ke-empat. Dio gugup seketika. "Semangkamu pasti baru dipanen beberapa jam sebelum dipotong." "Eh? Mungkin, bukan aku yang memotongnya." "Pasti begitu, dari tampilannya saja aku sudah tahu. Aku sering memanen dan memotong semangka sendiri soalnya." "Oh." Dio bingung mau merespon bagaimana, akhirnya ia memberikan sepotong semangka padanya, "Mau?" "Kemarin aku sudah banyak memakannya tapi karena hari ini begitu panas tentu saja aku mau." Angin segar dan manisnya sari semangka turut membuat udara sejuk seketika. Begini lebih baik daripada menikmati semangka di dalam rumah ditemani kipas angin. Angin buatan, rasanya tak semantap angin di alam. Dio juga tak percaya menikmati ini dengan seorang perempuan, baru ditemui pula, ia mengerjap setelah tak berhenti menatap perempuan itu yang menyantap semangka dengan lahapnya. "Hasil panen yang sempurna, semangkanya enak." "Memang enak. Tadi...sedang apa bersembunyi di sana?" Dio menunjuk ilalang itu dengan dagunya "Bersembunyi? Oh, bukan, aku sedang mencari belalang." "Oh, lalu tadi juga menjerit? Takut dengan belalang?" "Ada ulat hijau di sana, lumayan besar. Aku sendiri benci ulat hijau." "Begitu, buat apa cari belalang?" "Cuma mau mengamatinya, kamu tahu? Untuk tugas liburan, mengidentifikasi hewan dari kelompok arthropoda." Dio tak pernah mendapat tugas semacam itu. Kalau ada tugas serupa, ia hanya perlu mencarinya di internet. Lalu ia lupa jika internet di sini begitu lambat. Setelah menikmati setengah bulat semangka, perempuan itu mengajaknya mengamati belalang dan terpaksa harus kembali lagi ke kumpulan ilalang sana. Mereka pergi ke sisi lain, menjauh dari ilalang dimana perempuan itu menemukan ulat hijau. Ilalang sepatutnya menjadi tempat favorit belalang, sangat mudah menemukan salah satu dari mereka yang sedang bersantai di atas daun. Belalangnya tak lari, padahal mereka mengamatinya hanya beberapa senti dari hidung. "Oh, kakinya ada tiga pasang, aku lupa. Terakhir kali bermain dengan belalang saat SD. Waktu itu aku menangkap belalang sampai dapat dua belas." "Menangkap belalang? Dengan apa?" "Tentu saja dengan tangan." Perempuan itu kemudian dengan cekatan menangkap belalang yang ada di hadapannya membuat Dio memekik kaget, kedua telapak tangan perempuan itu sekarang menutup dan bervolume karena belalang terjebak di dalamnya. "Kamu menangkapnya!" "Sudah lama tak berburu belalang begini? Loh, kamu belum pernah menangkap belalang?" Dio menggeleng, bagaimana mau menangkap, setiap kali melihat serangga yang terbang saja ia selalu bergidik ketakutan. Perempuan di sampingnya bahkan berani betul memegang dan menangkap serangga. "Asalkan bukan ulat saja, aku pernah berburu belalang, jangkrik, dan laba-laba." Perempuan itu kemudian melepaskan belalang yang ditangkapnya setelah mengamati dengan seksama struktur kepalanya Pengalaman baru, untuk pertama kalinya Dio mengamati belalang dari dekat. Sebelum sore tiba, perempuan itu mengajaknya keliling ke tempat yang belum pernah Dio jamah selama di sana. Selalunya hanya dua tempat yang ia injakkan kakinya selain rumah saudaranya. Ialah rumah makan sederhana yang dapat ditemukan dekat gapura selamat datang dan ladang milik bibinya yang ditanami berbagai sayur dan buah. Tak ada yang tahu kemana Dio pergi selama seharian penuh dan rupanya tak ada yang peduli juga. Yang terpenting Dio harus sudah bersiap untuk besok karena waktunya kembali ke rumah, tempat tinggalnya yang berada di pinggiran kota. Rasanya tiga hari untuk berlibur tidaklah cukup, dibanding berlibur ke luar pulau selama seminggu, ia ingin berada di desa itu selama seminggu penuh juga. Sayang sekali Dio bertemu dengan perempuan penangkap belalang itu di hari ketika besoknya ia harus kembali pulang. Dio ingin lebih banyak bicara dengannya, melakukan banyak hal, dan hal yang tak dimengertinya kala itu adalah ia merasa senang setiap mengingat pertemuan itu. Bukankah itu adalah perasaan ketika seseorang jatuh cinta? Fathur dan Daniar akhirnya mengerti siapa orang yang dimaksud Dio ketika mereka saling mengajukan pertanyaan terkait jatuh cinta di pinggir sungai. "Lalu kemarin, setelah tiga tahun, kamu menemuinya lagi?" "Ya, tapi dua hari itu hanya cukup untuk bertegur sapa dan menanyakan nama yang belum sempat kutanya!" "Kenapa hanya cukup untuk itu?" "Aku bertemu dengannya di hari kedua dan rupanya dia sedang sibuk makanya tak bisa habiskan waktu bersamaku. Untungnya aku dapat kontaknya dan demi apapun dia masih sama lucunya seperti tiga tahun lalu. Aku berniat ingin lebih lama di sana tapi kakakku bilang tak akan ada yang mau menjemput jika tak ikut pulang." "Yah, begitulah ceritamu. Apapun yang terjadi aku mendukungmu dan wah...betulan ini perpustakaan pribadinya? Senangnya," ujar Daniar melihat sekeliling ketika sampai di sebuah perpustakaan Tepat setelah itu Berryl datang dengan senyuman di wajahnya. "Duh, maaf terlambat, jadi tak bisa ikut mendengarkan kisah cinta seseorang, deh." "Kamu, siapa yang mengizinkanmu menguping, hah?" Berryl tertawa renyah sekali.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN