Seekor Burung yang Ingin Terbang Bebas

1022 Kata
Hari pertama menjadi murid tingkat atas rasanya tak terlalu signifikan bagi beberapa orang. Mereka tetap sama, hanya berbeda label kelas, dan suasana kelas baru tak memuaskan ekspektasi murid yang dulunya berada di kelas XI Ipa 2. Kotor, sampah kertas berserakan di mana-mana, meja dan bangku tak tersusun di tempat yang seharusnya. Padahal murid-murid yang dulunya duduk di kelas itu adalah senior dan apa yang mereka lihat tak seperti kelihatannya sikap seorang senior. Tentunya istilah senior hanyalah label berdasarkan kedudukan, tak menjamin bagaimana sebuah sikap juga berkedudukan tinggi. Intinya mereka hanyalah anak-anak SMA, yang haus akan kesenangan dan kebebasan. Papan tulis kotor yang bertuliskan banyak kata selamat rupanya menandakan jika dulunya diadakan pesta di kelas. Pesta perpisahan dan selamatan atas kelulusan, bisa dibayangkan betapa hebohnya dulu kelas itu. Nama-nama murid yang masuk ke perguruan tinggi terpampang di samping papan tulis, kira-kira berjumlah setengah dari anggota kelas, sisanya yang belum berkesempatan masuk, menulis rencana dan apa saja yang ingin dilakukannya di masa depan di kertas sebelahnya. Mereka sangat solid, bisa dilihat dari bagaimana tulisan-tulisan itu. Hanya satu yang menjadi kekurangan, mereka tak mau segera membersihkan kekacauan setelah pesta, seolah memberi tahu pada murid-murid bawahnya jika mereka sudah bebas. Akhirnya kekacauan seperti ini harus segera dibereskan sebelum bel masuk dan upacara bendera dimulai. Perempuan yang mengubah gaya rambutnya dengan membuat sedikit poni di dahinya itu dengan gigih tengah mengumpulkan sampah-sampah gumpalan kertas. Hampir satu keranjang penuh ia dapat dari mengorek-ngorek di bawah kursi dan meja. Tangan yang berkulit putih terkena beberapa noda dan ia tampak tak memedulikannya. "Sudah cukup Berryl, biar yang lain saja. Biasanya kamu hanya menghapus papan tulis kotor saja." "Masih banyak yang harus dibereskan, di belakangmu, cepat ambil sampah-sampah itu." Harusnya ini menjadi sesuatu yang aneh, selalunya perempuan bagai manekin itu tak perlu bersusah payah mengerjakan sesuatu karena banyak yang ngantri ingin membantunya. Kedua teman dekatnya mengiyakan keanehan ini, mereka tampak tak begitu senang. Sedangkan murid-murid lain justru merasa senang karena Berryl yang bekerja keras membersihkan kelas tampak seperti dewi penjaga kebersihan. "Dia selalu begitu semenjak liburan. Dia bahkan menolak kuajak pergi ke resort meski sudah VIP." "Ya, dia juga membatalkan rencana berbelanja ke mall padahal kukira dia mau membelanjakan kita barang mewah lagi." "Hm dan apakah kamu ingat dia berkata jika selama liburan dia belajar bersama Dio? Bukan hal yang aneh sih mengingat kedekatan Berryl dengan keluarganya." "Kuharap Dio tak membawa serta kedua temannya apalagi perempuan itu." "Kuharap juga, bagaimana mungkin Berryl dan perempuan itu berteman, 'kan? Konyol saja hanya dengan membandingkan penampilan keduanya." Untung pembicaraan kedua teman Berryl itu tak didengar yang lain, mereka hanya menumpahkan keresahan bagaimana Berryl kini tak seasyik dulu lagi. Mestinya sesuatu terjadi, pasalnya jarang sekali Berryl mendapatkan kejadian mengkhawatirkan, lebih tepatnya, jarang sekali yang mengetahui kehidupan sebenar- benarnya seorang Berryl. Berryl sendiri baru merasakan bagaimana dekat dengan orang dengan berbagai latar belakang. Dulunya, bukan ini kemauannya. Menaklukkan seorang Dio karena terlihat begitu sombong dan mencari titik kelemahan kedua teman dekatnya adalah apa yang ia rencanakan. Berryl tak suka dikalahkan dan tak ingin dipojokkan. Pertemuan dengan Daniar adalah jalan emasnya yang ia pikir bisa membuat celah untuk Dio agar tak berteman dengannya lagi. Apa daya, terkadang rencana tak berjalan semulus ekspektasi. Berryl malah terjebak pada manisnya persahabatan mereka bertiga, sekarang ia mengerti apa yang dirasakan Dio dan bagaimana mendukung sahabat adalah sebuah keharusan. Berryl sama sekali tak bisa membuat Dio menjauh dari mereka, yang ada ia malah semakin tertarik untuk mengenal mereka lebih jauh. Pada akhirnya Dio menang, namun ia tak menyesalinya untuk kali ini. Berryl semakin suka berinteraksi dengannya meski Dio kadang bersikap tak acuh, hal ini justru membuatnya lebih tertantang, Si bungsu dari keluarga Ghani harus m******t ludahnya sendiri. Berryl selalu antusias mengenai hal itu. Sementara itu, kelas baru Daniar dan kawan-kawan sungguh beruntung. Keadaannya tak memprihatinkan, tak ada sampah berserakan, meja tersusun rapih, dan papan tulis tak menyisakan noda tinta. Pagi itu para murid tak terlalu bekerja keras karenanya, sambil menunggu upacara dimulai, mereka membicarakan tentang siapa guru yang akan menjadi wali kelas mereka, sebuah obrolan yang sangat umum. Beberapa sedang membicarakan tentang rencana belajar bersama dalam rangka mempersiapkan ujian masuk perguruan tinggi, tipe obrolan para murid ambisius. Beberapa lagi malah membicarakan tema pakaian apa yang akan digunakan saat pesta perpisahan, tipe obrolan bagi orang santai yang percaya semua murid akan lulus padahal belum melewati satu ujian pun. "Kelas tiga yang mengerikan, kalian tak berpikiran begitu lebih baik balik lagi ke masa SD? Terlalu banyak pikiran," ujar Dio memulai pembicaraan "Kalau aku jujur tak mau sih," jawab Daniar tanpa melupakan bagaimana kenangan buruk waktu itu "Mau bagaimana lagi, kita hidup dimana waktu berjalan maju. Lagipula kenapa tiba-tiba pesimis begitu? Kita sudah berjanji akan berjuang bersama-sama." "Aku memang belum tahu dewasa nanti mau melakukan apa. Tadi malam aku dipojokkan habis-habisan buat masuk ke universitas jurusan hukum. Gila kali, mau dilihat darimana pun aku tidak tertarik. Akankah kalian mengiyakan meskipun itu terpaksa?" "Sesuatu yang dipaksakan harusnya tidak baik. Tenang saja, masih ada waktu, kamu bisa memikirkan rencana ke depannya dan jangan sungkan jika membutuhkan bantuan kita. Kamu pikir berapa banyak masalah yang sudah kita hadapi?" Masalah yang terus muncul pada akhirnya menciptakan sebuah solusi dan pelajaran di dalamnya. Hubungan seseorang semakin kuat seiring banyaknya masalah yang dihadapi dan bersama saling menguatkan. Keresahan yang Dio rasakan harusnya juga dialami banyak murid, tentang tuntutan orang tua yang akan bermasalah jika tidak dituruti. Ada yang berhasil keluar dari belenggu itu tapi ada juga yang akhirnya terikat seumur hidup demi sesuatu yang katanya mencerahkan masa depan, benarkah? Atau jangan-jangan hanya beberapa, justru yang orang tua lakukan adalah merebut hak seorang anak dan malah membuat luka permenen di hati anak mereka. Perlakuan itu sangat salah jika seorang anak tak merasa bahagia, alih-alih melanjutkan mimpi yang telah direncanakan, mereka harus membuang jauh-jauh itu. Rasanya seperti seekor burung yang terjebak di sangkar padahal ia ingin merasakan bebasnya terbang mengitari langit. Seekor burung tak pernah tahu ia akan dilahirkan, tak ada yang tahu juga jika ia akan lahir di sangkar mewah milik juragan sekali pun. Kehidupannya sangat terjaga, tak perlu memikirkan pakan dan air. Tetap saja seekor burung lahir dengan sayap di tubuhnya, orang bodoh pun tahu jika sayap digunakan untuk terbang bebas.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN