Menjadi murid tahun ketiga, mendorong banyak orang untuk memiliki pola pikir yang lebih dewasa. Sadar atau tidak sadar, seiring bertambahnya waktu, kedewasaan juga seharusnya bergerak mengikuti, kebanyakan itu terbentuk dari pengalaman juga orang-orang di lingkungan sekitar. Ya, lingkungan sangat berpengaruh dalam membentuk karakter seseorang. Contohnya, orang yang hidup di kelilingi orang berpikiran positif maka ia akan mempunyai pikiran positif juga. Orang yang biasa berinteraksi dengan tukang pembuat onar, ia akan kecipratan membuat onar juga. Ini tentang sebuah circle, ungkapan untuk jangan memilih sembarangan orang dalam berteman ada benarnya juga.
Daniar mengingatkan hal tersebut pada kedua adiknya yang belum lama menjadi murid baru, masih lugu, masih tercetak wajah bersuka ria karena mendapat teman baru. Padahal belum genap sebulan, pengaruh teman barunya sungguh mencolok akhir-akhir ini.
"Bilang sama Mbak, kenapa tadi di jalan Mbak liat kalian gangguin anak baru lain?"
Sangat jelas terlihat, bocah kembar itu tampak mengganggu seorang bocah lain yang lebih pendek dari mereka sepulang sekolah. Ia kelihatan menunduk, membiarkan Ezra dan Ekra mengelus kepala dan mengacak-acak tasnya.
"Terpaksa," jawabnya lirih
"Kalian tidak punya hati kalau begitu, bagaimana mungkin dengan sadar menyakiti seseorang bisa dianggap dengan keterpaksaan?"
"Lebih baik menyakiti orang daripada kita yang disakiti, Mbak!"
Baru kali ini ia mendengar adiknya sungguh berkata tidak sopan, ada yang salah dengan lingkungan mereka.
"Bagaimanapun menyakiti orang bukanlah hal baik, bisakah kalian memikirkan perasaan orang yang disakiti itu?"
"Tak mau tahu, intinya kita harus melakukan itu, banyak teman kita yang melakukan itu juga, itu hal yang wajar jika ingin punya banyak tem..."
"Orang yang kalian sakiti itu punya hati bagaimanapun juga!!!"
Cukup sudah, perasaan itu datang lagi. Dunia ini memang sudah gila, menggunakan kelemahan orang lain untuk mendapatkan kekuasaan. Sampai kapan dunia berhenti menjadi seperti ini? Daniar cukup lega Ezra dan Ekra tak menjadi korban perundungan seperti dirinya, tapi menjadi perundung malah hal yang sangat-sangat buruk. Andai mereka tahu apa dampak yang dilakukannya, bocah itu bisa saja setiap malam menangis, tak bisa tidur karena tekanan mental yang dipikulnya. Pelaku perundungan tak akan merasakan apa-apa, mereka tidur dengan damai menanti hari esok yang lebih seru.
Ruangan dengan televisi menyala yang kini tengah menampilkan adegan sinetron membosankan mendadak sunyi. Daniar tidak sadar telah berteriak sekeras itu, membuat kedua adiknya terdiam. Sosok ibu sedang tak berada di sana, harusnya ia sudah kembali dari membeli lauk makanan.
"Jadi, lebih baik aku dan Ekra yang disakiti begitu? Tidak mungkin, Mbak mana tahu bagaimana rasanya tak punya teman."
Melihat kedua adiknya yang menghilang dari pandangannya itu, membuatnya tersenyum miris.
"Aku sangat tahu itu," lirihnya
Dimana pun tak ada sekolah yang membuat seseorang benar-benar aman. Nyatanya beginilah hidup, kita dihadapkan dengan pilihan yang sangat sulit untuk diputuskan. Risiko yang dipunyai setiap pilihan juga bukan main-main. Kehidupan masih panjang, Daniar harap Ezra dan Ekra akan membuat pilihan yang bisa membuat hidup mereka dan orang di sekitar menjadi lebih berharga.
***
Sejak saat itu Daniar selalu merasa tak tenang, tidaklah mungkin dua orang adik yang ia saksikan sendiri tumbuh kembangnya melakukan perbuatan yang tidak baik. Mereka memang masih anak-anak yang labil, justru itu yang harus dikhawatirkan karena sejatinya perbuatan buruk yang dilakukan tak akan mudah dilupakan dibanding perbuatan baik oleh korbannya.
Setiap saat perasaan takut selalu berkecamuk, menghadapi orang yang punya kekuasaan di atas segala kekuasaan tidaklah mudah. Ezra dan Ekra pastilah sangat takut juga, dihadapkan oleh orang yang memandang bulu memang mengerikan. Mereka masih kecil, belum banyak pengalaman, Daniar tak bisa mengajarkan ketegaran lebih banyak. Beban seperti ini, memang kadang ditanggung oleh beberapa orang, bukan orang sembarangan, mereka pasti bisa menghadapinya. Pastinya begitu.
Kekhawatiran Daniar sungguh mudah dibaca oleh Fathur dan Dio. Mereka juga turut mengutuk kasus turun temurun di kalangan pelajar, seolah tak ada habisnya.
"Aku pernah baca tentang pengetahuan psikologi, jangan langsung dimarahi habis-habisan atau mereka akan memberontak."
"Yang seperti itu benar adanya. Aku pernah sekali dibentak Papa dan seketika amarahku juga ikut naik hingga ke ubun-ubun."
"Sejujurnya aku pernah ada di posisi itu. Teman-temanku memanas-manasiku untuk ikut merundung salah satu anak di kelas. Justru kuajak anak itu mengobrol, berbagi cerita, hubungan yang kuat harusnya tak akan mudah goyah. Seperti kita ini."
"Lalu apa yang terjadi dengan anak itu, Fathur?"
"Kami berpisah kelas di kelas dua SMP dan ia hidup dengan baik, menghadapi orang sok berkuasa itu mudah saja, hanya jangan memedulikannya maka ia akan bosan juga. Dunia tidak butuh orang yang seperti itu."
"Niar, kamu sungguh telah melewati masa-masa sulitnya. Kamu hebat bisa bertahan dan menjadi seperti sekarang. Hei, jangan khawatir, aku yakin kedua adikmu sama kuatnya denganmu. Persetan dengan dunia yang kejam ini."
Persetan dengan dunia yang kejam, Daniar ingat jika ia menganggap kedua adiknya adalah orang yang begitu tegar sejak kecil. Tak bisa bertatap muka dengan seorang ayah saat mereka bisa berjalan, tak bisa merasakan kuatnya doa seorang ayah di setiap syukuran ulang tahun, dan tak bisa mereka tulis sebuah puisi tentang kehangatan seorang ayah untuk tugas pelajaran Bahasa Indonesia, selalunya Daniar yang akan membuat itu. Anak sekecil mereka, mereka bahkan ikut tertawa saja ketika yang lain menceritakan kisah lucu bersama ayah mereka. Ezra dan Ekra tak selemah itu untuk takut tak punya banyak teman kala mereka berdua sudah saling mengisi kekosongan sejak lama. Daniar dan ibunya sudah sering menceritakan kisah orang-orang penyabar yang mendapat banyak keajaiban. Mereka selalu begitu tertarik dan mencoba membuktikannya dengan bersabar menunggu lebih lama untuk waktu makan siang. Hasilnya sungguh menakjubkan, ada salah satu pelanggan cucian kemudian mengirim bingkisan pada mereka, sebagai terima kasih dan bentuk kepuasan atas kerja keras ibunya. Tepat ada empat potong fried chicken beserta kentang goreng dan nugget di dalamnya.
"Sabar itu indah, bukan?"
Tak ketinggalan, cerita yang menjadi favorit mereka adalah tentang seorang anak kuat yang selalu melindungi teman-temannya yang lemah. Mereka dengan entengnya berbicara jika nanti akan menjadi sepertinya dan berniat masuk klub bela diri saat SMP nanti. Cerita itu belum lama, harusnya mereka masih mengingat dengan jelas.
Daniar melupakan karakter unik dari mereka yang selalu hobi menghibur orang-orang di sekitarnya. Mereka selalu jahil dengan sering bertukar peran dan tak banyak yang menyadarinya. Hidup mereka belum lengkap jika tak ada salah satu yang memulai membuat lelucon, mereka sangat lucu. Siapa yang tidak menyukai tipikal orang seperti itu? Pasti kejadian kemarin itu hanya bercanda, 'kan? Hanya saja bercandanya yang kelewatan. Katakan kalau kemarin itu adiknya hanya sedang membuat gurauan!