Memantaskan Diri

1541 Kata
Sehari dalam seminggu selama kira-kira sepuluh bulan, cukupkah untuk mereka memantaskan diri menjadi calon mahasiswa yang cerdas lagi berpikiran dewasa? Jawabannya tergantung seberapa niat pelajar itu sendiri. Niat adalah hal yang penting dalam setiap melakukan sesuatu, seperti halnya ibadah. Niat dan kemauan yang besar terkadang menjadi privilege bagi sebagian orang, dibarengi dengan usaha yang besar juga tentunya. Murid tahun ketiga sebagian besar berkeinginan untuk melanjutkan kuliah, sebagian lainnya ingin langsung bekerja dan memeroleh penghasilan sendiri. Pada intinya sama, mereka bertujuan untuk melanjutkan hidup, hanya caranya saja yang beragam. Cara untuk mendapatkannya juga tidak dengan instan, jika ingin bekerja, setidaknya memiliki skill dan kecakapan yang mumpuni di bidangnya. Jika ingin berkuliah, pastikan buat diri sendiri menjadi pantas sehingga universitas yang diimpikan mau menerima. Inilah mengapa ujian masuk perguruan tinggi terkenal ketat, universitas terbaik hanya akan menerima orang terbaik juga tentunya. Fathur dan Daniar sedang melakukannya, berusaha memantaskan diri. Sebelumnya Daniar berpikir keras apakah tindakannya sekarang ini adalah tepat padahal awal mula ia masuk SMA, ia berjanji akan langsung bekerja begitu lulus dari sekolah itu. Sudah banyak yang menyenangkan hatinya dengan mendengar jika banyak beasiswa yang ditawarkan jika rajin mencari tahu. Bukan itu yang menjadi masalahnya, ia sadar semakin berganti tahun ibunya juga akan kekurangan stamina, tangan kurusnya itu, harusnya sudah sejak lama beristirahat. Tapi ibunya sungguh cerdas sampai-sampai tahu segala informasi tentang beasiswa. Beasiswa penuh, bahkan diberi uang saku juga untuk orang yang memenuhi kriteria. "Daripada membiarkanmu bekerja di pabrik lebih baik kamu coba ikut beasiswa itu. Ibu akan lebih senang jika kamu mencobanya dulu. Dan jangan meremehkan stamina ibu seolah ibu adalah seorang yang tua renta." Akan selalu seperti itu, Daniar sudah menduganya. Fathur menginginkan berkuliah di fakultas yang berhubungan dengan medis yang selalu ramai diminati calon mahasiswa lain. Akan sangat butuh usaha yang keras, bersama Daniar ia berusaha memantaskan diri. Dio tak bisa tak ikut antusias bersama mereka untuk belajar sampai kepala berasap. Memang tak sesemangat Fathur yang berusaha memecahkan soal matematika yang cara menyelesaikannya membutuhkan tiga konsep dan lima rumus. "Tak berusaha memantaskan diri, Dio?" tanya Fathur "Kalau aku belajar dengan sangat keras, bukan tidak mungkin aku akan diterima di jurusan hukum dengan sangat mudah, itu akan buruk untukku." "Maksudmu kamu membiarkan tidak diterima kuliah tahun ini?" "Kalau itu bisa membuatku tak mengikuti keinginan keluarga." "Wah, aku terkejut dengan pola pikirmu. Normalnya, seseorang akan mencari minatnya dan belajar sangat keras lalu ia akan membuat keluarganya terdiam karena melihat betapa bersungguh-sungguhnya ia dalam mencapai keinginannya. Tak kepikiran, ya?" "Ah, kamu. Sempat kok kepikiran begitu, cuma tersendat di bagian belajar dengan keras saja." "Hanya buku bukumu, apa yang membuatnya tersendat?" Dio tak bisa berlama-lama menatap buku sendirian atau ia akan tertidur tak lama kemudian. Sudah hal yang bagus ada yang mau menemaninya belajar dan mengajarkan sesuatu jika ada yang tak dimengertinya. Hal bagusnya, belajar dengan tutor sebaya sungguh membantu dibanding belajar dengan guru privat yang begitu kaku, akan semakin tertekan ia. Bersama Fathur dan Daniar, setidaknya bisa menciptakan obrolan dan candaan yang akan mengurangi ketegangan atas pertaruhan masa depan. "Nah, sejujurnya kamu ingin menjadi orang seperti apa, Dio? Contoh aku ingin bekerja di bidang medis, ini keinginanku dari dulu. Daniar ingin mendalami di bidang seni khususnya dalam desain grafis. Kita bekerja keras untuk mewujudkannya." "Aku punya keinginan seperti itu, tapi mengutarakannya di acara makan keluarga hanya akan membawa petaka." "Utarakan padaku dan Daniar kalau begitu." "Yah, kalian tahu, sebenarnya, emm...aku sangat suka beraktivitas di luar ruangan. Menjadi guru atau tutor olahraga bukankah ide yang bagus?" "Kemudian perjuangkan, kamu tak akan menjadi guru jika tak lekas membuka buku." "Pada akhirnya aku tetap belajar matematika, ya. Lalu tolong koreksi jawaban nomor empat ini, harusnya kamu sudah selesai sampai nomor...dua puluh?! Hei, sabarlah sedikit, jangan pintar-pintar amat kenapa." Setelah kurang lebih empat puluh lima menit mereka belajar, aroma harum tercium dari arah dapur. Aroma pancake bersaus madu, betapa beruntungnya mendapat rejeki di hari minggu setelah kepala dibuat berasap oleh puluhan soal. Mereka bukan sedang berada di rumah Dio seperti biasanya, Dio khawatir mengadakan kegiatan belajar bersama di rumahnya pada hari ini akan menjadi petaka karena adanya formasi lengkap dari trio sableng. Trio yang umumnya tidak ada kerjaan di hari minggu akan terus melakukan cara agar ada yang menghibur mereka. Jangan tanya siapa korbannya, karena itu Dio selalu berusaha kabur di hari minggu untuk menyelamatkan harga dirinya. Yang mereka tempati adalah rumah Fathur, dan pancake yang kini tersanding di meja mestilah buatan ibu Fathur. Wanita paruh baya itu tampak senang sekali, belum pernah ada orang yang dibawa Fathur untuk belajar bersama sebelumnya. Rumahnya jadi terasa hidup dan ramai dari sebelumnya begitu sepi apalagi di hari minggu. Tetangga di samping kanan kiri selalunya akan pergi bertamasya dan pulang setelah matahari menyingsing. Fathur juga bukan tipe orang cerewet yang bisa menghidupkan sepinya keadaan rumah. Jika Fathur dewasa nanti, ibunya ingin Fathur menikahi perempuan ceria dan cerewet yang bisa membuatnya tak bosan untuk terus-terusan berbagi cerita. Sangat berbanding terbalik dengan Fathur yang menginginkan perempuan sedikit pendiam tapi sungguh cerdas dan baik hati. Habis lima potong pancake masing-masing, kegiatan belajar dilanjut tigaperempat jam lagi lalu Dio dengan sigap menutup seluruh buku yang ada di hadapannya. "Haruskah kita pergi berjalan-jalan setelah ini?" "Sayangnya aku harus segera pulang dan mengerjakan pesanan lukisan untuk seorang laki-laki yang ingin menghadiahkan pacarnya di hari wisuda mereka," tolak Daniar "Yah, bekerja keraslah. Oh iya, hutangmu padaku sudah lunas. Mulai sekarang gunakan dompet elektronikmu sendiri sebagai alat pembayarannya. Wah, kubilang juga apa dari awal aku merasa bakatmu itu sungguh memesona." "Berkat kalian, sungguh terima kasih." Mereka memulai pukul satu siang dan berakhir di pukul empat sore dimana matahari sudah tak mengeluarkan sengatannya. Di waktu seperti ini, rupanya tetangga di samping rumah Fathur ada yang sudah kembali dari pergi bertamasya. Bagi beberapa orang sekitar, Fathur sangat dikenal baik dan mereka tak segan untuk saling menyapa ketika bertemu di manapun. Baru saja selangkah keluar dari pagar hitam untuk mengantar Daniar dan Dio, sebuah suara memanggilnya, nyaring sekali. Seseorang kemudian menyembul dari sebuah mobil, entah habis bertamasya kemana. Fathur mau tak mau tersenyum dan meladeninya, sejak ia berperan menjadi guru privat pemilik suara nyaring itu, ia terus-terusan didekati bagai mempunyai adik perempuan sendiri. Tipe yang cerewet, manja, dan sedikit nakal. "Kak Fathur, bantuin kerjain PR lagi ya, cuma lima nomor. Habisnya tak sempat bertanya ke guru padahal belum mengerti." Fathur mau tak mau juga mengangguk saja. "Kalau tidak perhatikan guru ya mana mungkin mengerti, hayo jujur, kamu tidur lagi ya di kelas? Capek bunda sampai dipanggil tiga kali gara-gara itu." Seorang perempuan yang tengah menggendong anak ikut menimbrung "Mana ada Bun, aku cuma tidur sebentar. Memang gurunya saja yang kurang jelas kalau menerangkan, beda jauh kalau Kak Fathur yang menerangkan." "Alasan!" Wanita yang menggendong balita itu masuk ke dalam rumah duluan, membiarkan putri sulungnya yang akhir-akhir ini tergila-gila dengan sosok Fathur. Perempuan bersuara nyaring itu menyadari keberadaan Daniar dan Dio lalu tersenyum dan menyapa mereka sebelum akhirnya masuk ke dalam rumah menyusul ibunya. Fathur tampak menampakkan raut wajah penuh kelegaan. "Anak itu yang kamu ajarkan waktu liburan?" tanya Dio "Ya, sedikit merepotkan tapi dia tipe penurut, kok. Aku seperti punya seorang adik perempuan," jawab Fathur "Adik perempuan ya, sudah kuduga kamu menganggapnya seperti itu." "Memang seperti itu, harusnya bagaimana?" Dio menggeleng pelan dan tak ingin melanjutkan pembicaraan, ia malah beralih mengobrol sepelan mungkin dengan Daniar. "Kamu memikirkan apa yang kupikirkan 'kan, Niar? Melihat wajah remaja SMP itu sepertinya..." "Dia menyukai Fathur, haha itu tercetak jelas sekali. Aneh sekali kalau Fathur tidak menyadarinya." Dio terlihat girang mendengar Daniar satu pendapat dengannya "Fathur, berapa nilai kepekaan dalam tes psikotesmu terakhir kali?" tanya Dio kemudian hanya untuk memastikan "Heh? Kenapa bertanya begitu? Berapa ya, waktu itu kalau tidak salah aku mendapat predikat C, atau mungkin D, ya." "Pantas," bisik Dio pada Daniar "Tapi kalian tahu? Kemampuan analitik dan aritmatikku paling memuaskan di antara yang lainnya. Aku tidak tahu kenapa kalian tiba-tiba menanyakan hasil psikotes tapi aku sungguh tak buruk dengan nilai yang kudapatkan. Kalau kalian sendiri bagaimana?" Dio jadi menyesal telah bertanya begitu pada Fathur, bagaimanapun pembicaraan tentang hasil psikotes tak boleh dilanjutkan karena itu bersifat sangat pribadi. Meski Dio tak menyangkal kalau hasil psikotesnya tak sebaik milik Fathur. Mereka akhirnya sampai di jalan raya setelah melewati banyak jalan kecil serupa g**g karena rumah Fathur sendiri terletak agak tersembunyi. Fathur agaknya harus berpisah sampai di sini, padahal Daniar rasa Fathur tak perlu repot-repot mengantar kala Dio masih bersamanya. Jalanan hari ini begitu ramai, sepeda motor dan mobil saling berkejaran, derum mesin lumayan memekakan telinga. Sore hari adalah sewajarnya puncak kepadatan kendaraan, membuat pening kepala bagi orang yang tidak bisa menyebrang karena sama sekali tak ada zebra cross di sana. Kecelakaan juga sesuatu yang tak mustahil terjadi. Dan rupanya sore itu adalah waktu dimana mereka bertiga menyaksikan sebuah sepeda motor bergesekan dengan mobil, membuat sepeda motor yang kalah dalam hal ukuran kehilangan keseimbangan dan jatuh tersungkur ke tengah jalan, suaranya keras sekali. Beberapa menit kemudian, jalanan mendadak berisik karena suara klakson. Kumpulan orang memenuhi dan membantu korban kecelakaan tuk dibawa ke tepi. Daniar tampak takut karena korban itu kini berada tak jauh dari mereka berdiri, Dio mencoba menyipitkan mata sementara Fathur mencoba mendekati untuk melihat lebih dekat. "Ah, anak muda memang suka ugal-ugalan. Tapi wajah itu macam, astaga aku tahu dia, Bima Si juara lomba lari!" pekik Dio lalu bergabung untuk melihat keadaannya.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN