Klub Lari dan Pertandingan Penentu

1501 Kata
Sebuah kabar baik kecelakaan yang disaksikan Daniar bukanlah kecelakaan tragis juga daramatis. Membayangkan begitu banyak darah yang biasa terjadi dalam sebuah kecelakaan, selalu membuat ia ngeri. Korban yang ternyata murid satu angkatan di sekolahnya itu hanya berdarah sedikit di bagian tangan dan mengalami patah tulang di bagian kaki. Bagaimanapun tak ada yang menyenangkan dari kecelakaan, seberapa kecil pun luka, bisa jadi menimbulkan trauma yang berkepanjangan. Tapi jika itu Bima, bukannya memelas, ia justru terlihat jengkel melihat Dio mengetahui nasibnya. Daniar juga tak akan lupa bagaimana tingkah mereka berdua beradu mulut padahal yang lain merasa panik karena mobil ambulance tak kunjung datang. "Kamu rupanya? Ambulance tak seharusnya datang, hei, kamu bahkan bisa berlari dengan cepat, 'kan?" Bagi beberapa orang, itu terlihat seperti penindasan pada orang yang baru saja menjadi korban kecelakaan. Beberapa orang mendelik, Fathur kemudian meninju pelan bahu Dio supaya bersikap sopan sedikit. Tapi Daniar mengerti jika Dio dan Bima seperti dua orang yang sudah mengenal lama. "Jangan menganggap ini sebagai kesempatanmu, ya!" "Apa maksudmu, sih? Padahal tadi aku cukup khawatir, loh. Ya sudahlah, toh hanya patah tulang ini, tak akan membuatmu mati." Tak lama kemudian, suara sirine terdengar dan sebuah mobil putih dengan lampu berwarna merah di bagian atasnya datang. Bima digotong memasuki mobil untuk kemudian dibawa ke rumah sakit. "Kalian temannya bukan? Salah satu dari kalian silahkan ikut ke mobil sebagai kerabatnya," kata salah seorang petugas Fathur dan Daniar kompak menunjuk Dio, membuat kode supaya Dio menurutinya. Dio dan Bima sudah mengenal sejak SMP, meski kelihatannya tak begitu akur. Setidaknya Dio lebih pantas disebut kerabat dibanding Fathur dan Daniar yang bahkan tak mengenal sama sekali orang bernama Bima itu. "Heh, kok aku? Mana mungkin, mau membuat keributan di dalam mobil nanti?" "Kendalikan dirimu kalau begitu," tukas Daniar Dio pun terpaksa ikut masuk ke dalam mobil ambulance yang ia pikir baru kali ini menaikinya. Selalunya ada pasien yang kritis dan harus segera ditangani, tapi pemandangan yang tersaji kali ini amat berbeda. "Kakimu yang berharga itu bisa jadi tak berguna juga ya?" Dio menyentuh pelan kaki kanan Bima, atau mungkin keras karena tak sengaja, Bima sempat memprotes kesakitan "Jangan main-main Dio, bisa mati aku." "Mati saja." "Hah, rupanya kamu masih iri padaku ya." "Iri bagaimana? Aku sungguh prihatin malah." "Hah, masih mengelak." Sementara itu, Fathur dan Daniar yang masih berada di pinggir jalan hanya bisa berharap semoga korban dan orang yang mengantarnya baik-baik saja. Kendaraan yang melaju berlangsung ramai lancar kembali setelah sebelumnya macet karena kecelakaan kecil itu. *** Esoknya Daniar tak mendapati Dio duduk manis di kelas di setiap jam kosong atau jam istirahat. Normalnya, Dio akan selalu mencari topik entah topik konspirasi sampai topik perihal di manakah ujung dunia. Juga, Dio mempunyai kebiasaan berlari di sepanjang lintasan untuk penilaian pelajaran olahraga di keadaan tertentu. Fathur mencoba menjawab kebingungan Daniar, memutar kejadian kemarin kemudian menyangkutpautkannya. "Apa dia marah karena kita menyuruhnya menemani teman bernama Bima itu?" Untuk mencari tahu jawabannya maka mereka harus menemuinya. Tak begitu lama mencari karena Dio sejatinya memang berada di lapangan di saat murid-murid yang lain sedang belajar. Kelas mereka mempunyai jam kosong karena seorang guru sedang menemani suaminya berobat, harusnya mereka duduk diam di kelas dan mengerjakan lima belas soal, mudah saja jika mereka memanfaatkan internet dengan baik. Tak sampai sepuluh menit soal itu selesai dikerjakan, Fathur tak masalah ada yang meminta menyalinnya karena setelah itu ia dan Daniar bergegas menemui Dio entah sedang stres karena apa. Ya, Dio bilang ia selalu berlari jika di otaknya muncul banyak pikiran mengganggu. Tak selalu Dio akan bercerita lebih dulu, terkadang Fathur dan Daniar yang harus memulainya. Pelan saja, mereka tahu hati seseorang berkali-kali lipat lebih sensitif jika sedang dalam keadaan tidak baik. Ini sebuah tips sederhana dari sebuah relasi, kamu tak akan tahu apa yang terjadi pada seseorang jika tak bertanya ada apa dengannya. Beberapa orang perlu sebuah perhatian seperti ini. Juga, respon yang dibalas seseorang itu bagaimanapun harus dihargai. Dari tribun paling depan, Daniar dan Fathur melihat kaos yang dikenakan sahabat mereka dipenuhi oleh keringat. Daniar ingat, keringat sebanyak itu bisa ia dapatkan dari tes kebugaran jasmani yang mengharuskan setiap murid melakukan berbagai macam olahraga secepat dan seefektif mungkin, ia mendapat nilai tertinggi untuk pertama kali. Mungkin karena Daniar sudah terbiasa bersepeda setiap hari untuk mengantar cucian. Dio mau berhenti setelah melihat kedua sahabatnya menyusul. Daniar juga bukan orang yang tidak peka, ia membeli sebotol minuman ion yang ia yakin Dio pasti mau menerimanya dengan senang hati dan penuh terima kasih. "Tak adakah minuman kopi dingin? Aku akan sangat berterima kasih kalau kalian membawakan itu." Daniar mulai kesal dengan apa yang diprediksinya meleset. "Maksudmu kamu tak mau kuberi ini? Kuminum sendiri kalau begitu." "J..jangan dong, maksudku aku suka kopi, tapi kalau sedang haus sih minuman apapun juga boleh. Sini." Dio mengambil minuman yang sudah disodorkan padanya dan menenggak sampai habis. "Ah, masih haus ternyata. Aku sangat senang kalau kalian membawakannya dua." Entah kenapa Daniar merasa kesal sekali dengan Dio kali ini. Tapi ia ingat jika tingkah seseorang bisa berubah sesuai dengan suasana hatinya. "Jadi, ada apa denganmu? Tak tahukah kamu betapa baiknya aku mau menulis ulang tugas di buku catatanmu ketika kamu bertamasya di sini?" "Yah, itu...mau tahu saja atau sangat mau tahu?" "Kita tinggalkan saja dia, Niar." Fathur juga mulai tampak kesal pada Dio yang bercanda tidak pada tempatnya padahal persis sekali ia dan Daniar khawatir dengan keadaannya. "Jangan pergi, oke akan kuceritakan yang sebenarnya. Kalian harus mendengarnya dengan baik seperti halnya kalian mendengarkan guru bahasa Indonesia yang membacakan teks untuk menemukan kesalahan dalam setiap kalimatnya." Dio menceritakan keinginannya bergabung di klub lari SMP sebagai orientasi curhatnya. Anggotanya lumayan banyak, berjumlah puluhan. Dari jumlah puluhan itu Bima adalah yang terkenal juga terbaik sebelum Dio bergabung. Sesekali mereka melakukan tanding, hasilnya hampir imbang dengan beda satu poin jumlah menang dalam lima pertandingan selama enam bulan, Dio pemenangnya. Bima tak mau kalah, Dio juga begitu karena nantinya satu orang akan dikirim ke lomba tingkat nasional. Nama Dio dan Bima disebut-sebut sebagai calonnya, perbandingan penentu diadakan untuk memilih orang yang berhak ikut lomba. Bergabungnya Dio ke klub lari tak akan mudah disetujui jika ia tak pandai berbohong. Mulanya Dio hanya berkata pada keluarganya jika ia bergabung dengan klub ilmiah remaja seperti yang mereka mau. Selama enam bulan itu kebohongan tertutup rapi dan Dio sangat menikmati bagai tidak ada seorang pun yang berani mengaturnya. Kekacauan akhirnya terjadi setelah ternyata Dio memenangkan pertandingan penentu dengan Bima. Pihak sekolah menghubungi untuk meminta izin pada keluarga mengenai perlombaan yang mengharuskan Dio pergi ke luar pulau selama seminggu, Dio tak tahu akan ada acara meminta izin begini. Mengamuklah ayahnya, hasutan kakaknya juga turut membuat amukannya semakin menjadi. Pertama, karena sebuah kebohongan. Kedua, dari awal ayahnya sudah tak sudi karena Dio tak menggunakan waktunya untuk belajar dan memeroleh nilai memuaskan. Pemikiran seperti ini didapat karena ayahnya sendiri sudah pernah mengalami hidup susah saat di desa tempat lahirnya. Ia dikenal begitu tekun dan pintar, sebuah tanda lumrah jika orang seperti itu adalah calon orang besar. Bagaimana tidak, setiap hari yang dilakukannya adalah membaca, tak kenal jarak meski harus bersepeda belasan kilo untuk sampai di perpustakaan daerah. Seseorang tak akan sukses jika tak rajin belajar, hanya itu yang diketahuinya setelah melalui berbagai momen pahit. Dio kadang muak bagaimana ayahnya memandang dari satu sisi, padahal belajar bukan hanya tentang buku dan materi memberatkan. Bukan juga tentang semua orang pasti bisa melakukan sesuatu hanya dengan melihat bagaimana orang lain bisa melakukannya. Bagaimanapun setiap orang punya kemampuan dan kehidupan sendiri. Ya, ayahnya begitu murka dan berakhir tak mengizinkannya pergi. Sedikit yang tak mengenal Pak Ghani, guru-guru di sekolah selalu segan dan menghormati bagai dihadapkan oleh pejabat negara. Esoknya, Dio tak diperbolehkan bergabung dengan klub lari, tentu saja dengan berbagai cara yang dilakukan ayahnya. Bisa saja ayahnya bilang pada guru pembimbing jika Dio mengidap penyakit paru-paru yang membuatnya tak memungkinkan untuk melanjutkan perlombaan. Hal seperti itu benar terjadi, Dio begitu marah mendengar teman-temannya begitu mengasihani perihal penyakit yang sama sekali tak ia derita. Ternyata beginilah nasibnya yang tak bisa melakukan apa-apa di bawah naungan keluarga. Dio selalu menjadi orang yang berbeda di antara keluarganya. Berbeda itu indah, kadang juga menyakitkan. Bima adalah orang yang paling senang atas mundurnya Dio dari klub lari. Bima tahu Dio tak mungkin mempunyai penyakit paru-paru kala ia melihat begitu enerjiknya Dio setiap bertanding dengannya. Apapun itu, Bima memang sudah ditakdirkan mengoleksi piala juara lari sejak ia Sekolah Dasar. "Aku bingung mau berterima kasih atau tidak, sebenarnya, ini sudah takdirku menjadi pemenang. Duh aku jadi malu sendiri mengamuk di jalanan sepulang dari pertandingan penentu denganmu." "Dilihat dari manapun kamu itu hanya seorang pengganti. Orang cadangan, sampai sini paham?" "Wah, aku tak tahu kamu bisa sesombong ini. Jadi intinya begini, kamu menyerah dan aku akhirnya punya banyak kesempatan. Aku tak tahu apa yang terjadi padamu, pada akhirnya jangan iri padaku." "Tak ada gunanya iri padamu. Sana pergi latihan, kamu bukan aku yang bisa menang tanpa latihan, orang cadangan." Bima mencibirnya sebelum pergi. Dio memandang lurus ke arah pohon yang beberapa daunnya bergerak karena diterjang angin. Ia iri, pada orang yang bisa melakukan keinginannya tanpa ada yang menghalangi.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN