Menembus Dinding

1589 Kata
"Keluargaku menuntutku untuk berprestasi, tapi mereka tak menghendaki apa yang menjadi minatku untuk berprestasi. Bukankah mereka sinting? Dikiranya aku adalah robot. Salah sendiri melahirkanku ke dunia." Daniar sungguh tak suka mendengar orang sangat berputus asa meski ia juga sering mengalami momen seperti itu. Daniar hanya mengungkapkannya dalam hati sampai perlahan ia sadar memiliki pemikiran putus asa adalah sangat salah. "Sudah lama aku mengubur keinginan mengikuti kejuaraan berlari, tapi mengingat hari kemarin sungguh membuatku berpikir lagi." "Apa yang terjadi padamu dengan Bima kemarin?" "Kami saling berkata kasar dan menyindir." "Ck, apa tak ada hal lain yang lebih hangat dari berjumpa teman lama?" "Aku dengannya tidaklah begitu dekat. Dekat dengannya hanya membuatku semakin iri saja." Dio menghela napas dahulu. Berbeda dengan sekolah SMP, klub olahraga di SMA tidaklah begitu banyak jika dibanding jumlah klub yang bersifat akademis. Tak ada klub lari atau bulu tangkis yang disukainya. Dio menjadi anggota tidak tetap dari setiap klub olahraga, ia datang jika ingin dan ada kesempatan untuk bergabung. Fathur dan Daniar tidak ikut satu pun klub secara serius. Daniar pernah bergabung menjadi anggota pengurus perpustakaan tapi berakhir mengundurkan diri begitu sibuk dengan bakat yang digelutinya. Tak ada klub lari tapi ada satu guru pembimbing yang selalu melatih satu orang karena terkenal dengan prestasinya. Tak tahu apa yang ada di pikiran Bima memilih sekolah yang klubnya tidak lengkap, jangan sampai melihat seragam olahraga sekolahnya saja yang terlihat keren. Keren betul dengan perpaduan warna biru tua dan putih, Daniar mengakui ini. "Kalian tahu Bima kakinya patah, tak mungkin bisa berjalan, apalagi berlari." "Berdiri juga kayaknya susah," timpal Fathur "Betul. Sedangkan seminggu lagi ia harus ikut lomba di Surabaya." "Masih mengikuti lomba? Bukannya dilarang untuk murid kelas atas ya?" tanya Daniar "Itu yang terakhir, dia sedikit kecewa. Kutertawakan kecerobohannya mengendarai motor." "Menertawai orang yang terkena musibah tidak baik, Dio." "Ya, aku tahu. Bima tak akan sakit hati jangan khawatir. Bima berjanji pada pembimbing membawa piala untuk terakhir kali, aku menertawakannya lagi karena terlalu berjanji dengan percaya diri." "Bagaimanapun kamu tidak harus menertawakannya." "Entah ia terluka di bagian otak mana, Bima yang selalunya egois dan ingin menang sendiri itu memberikan kesempatan terakhir itu untukku. Dia bilang itu untuk menebus kesempatan semasa SMP dulu. Aku bahkan sudah melupakan semuanya, hidupku menjadi hambar sebelum kalian datang. Harusnya aku tak bertemu dengannya kemarin." "Dia memberinya kesempatan, bukankah itu bagus? Kalian sungguh berteman baik meski tidak mengakuinya." "Dengar dulu kelanjutannya, dia ingin aku menggantikannya karena dia bilang kasihan dan mengungkit-ungkit jumlah piala dan medali yang sudah diperolehnya sementara aku tidak punya sama sekali." "Sudah kuduga, dia adalah cerminan dirimu. Jadi, apa yang kamu khawatirkan?" "Harusnya kamu sudah tahu apa yang akan kamu lakukan, Dio, tak banyak waktu untuk berpikir." Dio menghela napas panjang, berpikir layaknya mengatur strategi di tengah gentingnya perang. Beberapa detik kemudian ia bangkit cepat dari duduknya dan melemparkan botol minuman kosong pada Fathur. "Aku harus segera temui guru pembimbing. Persetan dengan orang-orang yang akan menghalangiku," ujarnya sebelum berlari menjauh dari lapangan Fathur dan Daniar tersenyum melihatnya, bagai melihat seekor burung yang kini keluar dari sangkar kemudian menembus dinding dan terbang bebas mencari kebahagiaannya. *** Di setiap detiknya, semua orang yang ada di seluruh dunia sedang berjuang. Di negara manapun, siang atau malam, sedang bahagia atau sedih, hanya sekadar mengeluarkan kacang dari kulitnya itu juga merupakan perjuangan untuk mendapatkan kenikmatan dari satu biji kacang itu. Menyembunyikan kepedihan dan berusaha membuka zona baru itu juga merupakan sebuah perjuangan. Daniar sungguh tak percaya telah melewati itu semua, ia menyatakan kalau dirinya sukses dengan keadaan sekarang. Daniar kira ia sungguh sukses menjadi pembohong ulung yang dengan rapih menutupi kepedihannya. Semua orang sejatinya pernah berbohong, dalam satu rumah tanpa disadari juga tercipta banyak kebohongan. Transparan atau tidaknya tergantung seberapa cerdas orang yang melakukannya. Orang cerdas yang Daniar maksudkan tak lain adiknya sendiri. Setidaknya seminggu setelah kejadian ia memarahi mereka karena perbuatannya merundung seorang teman. Daniar tak banyak bicara pada mereka, membantu mengerjakan PR pun enggan, mereka juga tampaknya tak kelihatan peduli. Seorang ibu yang melihat keadaan seperti ini tak akan tinggal diam. Sore itu setelah Daniar pulang dari pelajaran tambahan untuk seluruh murid kelas atas. Suasana rumah sangat sepi, ia sungguh tak mau membayangkan bagaimana adiknya bergaul dengan orang-orang tak baik sampai pulang terlambat begini. Daniar masuk ke kamar, seperti biasa berbicara dengan diri sendiri untuk waktu yang sebentar. Di lihatnya setiap sudut, tak ada sesuatu yang berubah dari kamarnya, mereka tampak sama dengan peran sebagai saksi bisu dari kehidupan sehari-harinya. Meski tak sering, kadang-kadang ibunya ikut masuk ke dalam kamar dan mengobrol ringan tentang kehidupan sekolah. "Ezra dan Ekra belum pulang, Bu?" Wanita paruh baya itu menggeleng, sekarang ia duduk di atas kasur tepat di samping Daniar. "Kamu tak perlu khawatir tentang mereka." "Tak perlu khawatir bagaimana? Mereka masih remaja dan tingkah lakunya tidak bisa dikendalikan kalau tak segera ditindak." "Maksudmu tentang mereka yang merundung temannya itu?" "Ya! Jangan sampai mereka melakukan itu dan membuat seseorang terluka." Mendengar itu, ibunya mengepalkan tangan dan menahan air matanya dengan berpura-pura melihat langit-langit kamar. "Tentu Ibu juga tak mau anak ibu berbuat seperti itu. Melukai seseorang sama sekali tak bagus, 'kan? Pasti sakit dilukai hatinya seperti itu, 'kan? Pasti orang yang dilukai seperti itu berusaha tegar dan menutupi kepedihannya, itu sangat berat." Daniar merasa seolah-olah yang ibunya bicarakan itu tentangnya. Daniar tak bisa menahan air mata juga melihat pertahanan ibunya perlahan mulai runtuh juga. "Ibu tahu semuanya?" Dengan berat hati ibunya mengangguk. Mustahil bagi seorang ibu tak mengetahui segala tentang anak-anaknya. Seorang ibu yang hangat akan selalu tahu dan mengerti apa saja yang disembunyikan darinya. Daniar meremehkan bagaimana ia berpura-pura tegar padahal setiap malam ia selalu depresi dan percaya diri jika tak ada seorang pun yang mengetahuinya. Jarang yang tahu salah satu rutinitas seorang ibu yang kadang terbangun tengah malam hanya untuk melihat bagaimana anak-anaknya telah terlelap dengan tenang. Ketika ia membelai rambut dan meniupkan sebuah doa di telinga, itu adalah salah satu bukti kehangatan seorang ibu. Tak ada yang lebih bahagia dari memandang mereka terlelap, malam itu seolah ia berbincang dengan suami di samping kasur membahas tentang betapa lucunya anak-anak mereka. Kalaulah waktu itu Daniar tak menutup pintunya dengan rapat, harapan agar ibunya tak mengetahui masalahnya mungkin akan terkabul sempurna. Daniar bukannya ingin menjadi orang tertutup terhadap keluarga, tapi bayangkan apa yang ia dapat di sekolah adalah bagaimana orang-orang memandang keluarga dan bagaimana status ekonominya. Itu sudah sangat cukup menyakiti hatinya kala semua orang menjauhinya, membayangkan ibunya tahu hal ini akan lebih membuatnya sakit lagi. "Maaf Ibu tak bisa berbuat apa-apa waktu itu." Daniar menggeleng cepat. Aneh betul di telinganya mendengar seorang ibu meminta maaf pada anaknya saat perjuangannya membesarkannya tiada habisnya. Terakhir kali saat Daniar menangis di tahun kedua SMA juga bukan tidak diketahui orang rumah. Sudah hampir dua tahun berlalu dan bagaimana Daniar berbicara tentang sekolahnya sungguh berbeda saat SMP dulu, tak ada kebohongan di matanya. Pikir seorang ibu, tak adalah hal lain yang diharapkan selain doa jika putrinya terus bahagia seperti itu. Melihat bagaimana pintu kamar tertutup lagi dan suasana hening di kamar itu selalu membuat naluri ibu berjalan. Doanya tidak selalu terkabul, tangisan itu akan selalu ada membuat perih hatinya. "Waktu itu Ibu berniat menawarkan kamu pindah sekolah, pikir Ibu kamu pasti sudah lelah dengan semuanya. Tapi," Kali ini sepasang ibu dan anak itu telah mengendalikan air matanya. "Tapi besoknya kamu malah kelihatan kuat sekali. Ibu sadar kalau kamu telah dewasa, maafkan Ibu ya karena sempat tidak percaya, maafkan juga karena keadaan yang mengharuskan kamu mengalami itu." "Aku belajar dari Ibu, bukankah Ibu juga berusaha tegar dengan setiap keadaan kita?" "Seorang ibu tak boleh menangis di hadapan anaknya." "Seorang anak juga tak boleh merengek nangis hanya karena keadaan di hadapan orang tuanya." "Terima kasih, Nak." Ah, kebohongannya akhirnya terbongkar juga. Tapi Daniar sungguh lega telah berbagi cerita hari ini dengan ibunya. Tapi ini aneh, topiknya bermula tentang adiknya yang nakal itu. Bagaimanapun Daniar mengkhawatirkannya, tak lama kemudian dua orang muncul ballk pintu kamar. "Mbak maafin kita, Mbak." Dua orang berparas bagai pinang dibelah dua itu duduk dan memeluk lengannya di samping kanan kirinya. "Jelaskan pada Mbakmu, kalian bertambah besar jangan bertambah besar juga sikap jahilnya," ujar ibunya pada Ezra dan Ekra "Aku dan Ekra bukannya menyakiti teman kita. Waktu itu memang benar kita menjahilinya karena ada anak ketua geng di dekat sana. Terus," "Giliran aku yang bercerita," potong Ekra, "Kemarin itu cuma pura-pura, Si anak polisi itu minta kita gabung di gengnya dengan syarat mau menjahili orang. Kuajak orang buat kesepakatan untuk menjahili dia balik. Setelah Si anak polisi puas, kita mencampakkannya dan dia marah besar, mukanya semerah kepiting rebus, ya, 'kan, Ez?" "Sebenarnya anak polisi dan geng berencana ikut klub basket tapi ditolak karena tinggi badan mereka kurang, sok keren betul mereka itu. Justru akhirnya aku, Ekra, dan teman yang sempat kita jahili itu berhasil masuk ke klub basket dan kita buat mereka semakin panas. Sekarang sih anak polisi itu tak berani mengganggu kita lagi, mungkin juga takut karena kita dekat dengan senior basket langganan juara." Mulut dua orang kembar itu akhirnya berhenti berbicara setelah Daniar tampak terkejut dengan ceritanya. "Waktu itu aku iseng menjahili dan bertengkar dengan Mbak, sekarang aku tak mau menjahili Mbak lagi." Daniar tertawa kecil, rupanya ia telah mengkhawatirkan hal yang tidak perlu. Tak mungkin adiknya yang bahkan memikirkan apakah kucing di depan rumahnya sedang kelaparan atau tidak berbuat tak seharusnya pada orang yang sudah jelas memiliki nurani dan perasaan. Dinding hitam yang semula Daniar bangun berubah menjadi sebening kaca. Transparan, membolehkan keluarganya mengetahui segala yang ada di dalamnya. Tak ada yang perlu ditutupi jika itu pada orang yang sangat dipercaya, rasanya Daniar menjadi lebih kuat sekarang.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN