Wajah di Televisi

1340 Kata
Kompor di salah satu dapur menyala menciptakan api biru kemerahan kecil. Tipe api yang biasa digunakan untuk menumis, bau harum tercium tak lama setelah bawang putih beradu dengan minyak goreng. Seseorang sedang mengaduknya, pelan saja. Di sampingnya, seseorang menciptakan suara dari seikat kacang buncis yang dipotong berukuran sekitar 3 cm. Tuntas dipotong, wortel dan kacang buncis diikutkan bergabung dengan tumisan bawang yang mulai kecoklatan permukaannya. Berbagai macam bumbu mulai beraksi mulai dari garam, gula, lada, dan saus tiram. Bubuk cabai juga ikut meramaikan sebelum sebuah tangan mencegahnya menaburkan bubuk itu ke atas wajan. "Bagaimana dengan ibumu?" "Ibuku selalu mengomel kalau masakannya terlalu asin dan tak ada rasa pedas. Sedikit saja, kok." Daniar mengangguk mengerti lalu melanjutkan kegiatannya, memotong buah kali ini. Beberapa menit kemudian satu sajian sudah siap, ditaruhnya tumis kacang buncis di piring bundar sebundar topi yang ada di lagu anak-anak, topi saya bundar. Daniar juga telah menyesaikan menata tiga macam buah di piring lain, terlihat segar dan menggoda. "Terima kasih sudah membantu, Niar." "Aku yang harus terima kasih sudah diajak makan siang di rumahmu." "Ya. Omong-omong kalau Dio ada di sini, bukannya menyesaikan masakan dia akan sibuk membuat hiasan di piring supaya terlihat enak di pandang dan elegan." "Meski tidak sepenuhnya salah, seharusnya rasa adalah hal yang paling utama dari masakan." Rasanya Daniar datang ke rumah Fathur terlalu cepat begitu disepakati jadwal belajar bersama meski Dio tak ada. Terakhir kali mereka melihatnya adalah dua hari lalu, hari di mana Dio pergi ke Surabaya. Mereka berjumpa sesaat setelah Dio mengunjungi Bima di rumahnya yang tengah duduk di kursi dekat lemari penuh piala dan medali. "Piala-pialamu keren, sayang sekali kulihat pemilik piala itu sekarang kakinya di beri gips." "Tak payah datang ke sini kalau hanya untuk berkata begitu." Kira-kira begitu percakapan antara Dio dan Bima yang Daniar bayangkan. Hal rahasia yang disampaikan Dio sebelum bertolak ke Surabaya adalah bagaimana ia mempunyai cara untuk mengelabui keluarganya. "Kubilang aku punya jadwal learning camp dengan beberapa teman, kuberi tahu mereka aku sedang belajar untuk masuk ke fakultas hukum. Oh iya, aku bilang pergi learning camp dengan teman bernama Fathur dan Daniar, jadi kalian pandai-pandai bersembunyi dan jangan sampai keluargaku melihat ada yang tak beres." Belum sempat menyampaikan protes, Dio sudah lebih dulu berlari menemui guru pembimbing untuk bersiap pergi. Mau tak mau mereka harus menurut, terkadang Dio merepotkan tapi mereka sadar jika pernah merepotkan Dio juga. *** Pukul satu siang di hari minggu, tiga orang duduk melingkari meja makan. Setelah kurang lebih setengah jam membuat riuh dapur, akhirnya mereka bisa menikmati hasil. Meski tak mewah, menu yang disaji juga kebanyakan sayuran. Daniar sedikit canggung berada di antara sepasang ibu dan anak itu, menolak bergabung untuk makan pun rasanya tak sopan. Satu-satunya kesalahan adalah Daniar datang terlalu awal, begitu selesai mengantar dua paket baju, ia langsung terbirit ke sini. Fathur tak repot-repot mencairkan suasana karena ibunya ternyata begitu aktif jika sudah berinteraksi dengan orang lain. "Katanya kamu punya adik kembar, ya?" tanya Ibu Fathur hampir menghabiskan seluruh sajian di piringnya "Iya Bu, dua-duanya laki-laki." "Enak ya, pasti suasana rumah selalu rame. Dulu ibu ingin sekali punya anak kembar perempuan. Kembar laki-laki juga tak papa sih, tapi kalau tak kembar, ibu harap itu perempuan." "Tapi yang lahir malah aku," ujar Fathur "Ibu kira membesarkan anak laki-laki akan susah, tapi Fathur sungguh penurut. Ibu jadi sangat bersyukur akan hal ini," katanya benar-benar telah menghabiskan seluruh sajian Beralih ke pencuci mulut, Daniar dipuji karena kemahirannya memotong buah hingga tersusun begitu rapih, membuat sesiapa yang melihatnya akan tergoda ingin memakannya. "Cantik sekali. Oh iya, kamu suka kue? Atau adik-adikmu? Ibumu?" "Kalau aku lumayan suka, tapi kalau itu Ezra dan Ekra, mereka sangat suka." "Itu bagus. Nanti setelah belajar bawa kue untuk di rumah ya, Ibu temukan resep baru dan ingin segera mencoba." Daniar tak bisa tak menolak apalagi setelah melihat kode dari Fathur supaya jangan membantah. Sekejap kemudian, meja makan yang penuh piring menjadi bersih tak tersisa, menandakan waktu makan siang telah usai. Tujuan utama hari ini pun tak akan terlupa. Mereka sedang duduk di lantai berkarpet dengan meja kotak pendek tempat buku-buku tergeletak. Di depan mereka ada sebuah televisi besar berlayar hitam. Seterusnya layar itu akan hitam selama mereka belajar, bisa berwarna ketika waktunya istirahat. Sementara di dapur, suara sibuk dari seorang yang sedang membuat kue dari dapur terdengar sampai ke telinga mereka. "Kudengar beasiswa yang kamu kejar itu banyak peminatnya, ya?" tanya Fathur "Sangat, tak heran kalau aku sempat tak percaya diri." "Kalau itu kamu, aku percaya kamu bisa meraihnya." "Terima kasih sudah bilang begitu." Berada di antara orang-orang yang selalu memberikan energi positif sangat baik untuk membangun kepercayaan diri. Itu mengapa banyak orang berkoar-koar jika kita harus memilih-milih dalam bergaul. Teman boleh banyak, tapi untuk bergaul harus diperhatikan baik-baik karena sungguh berpengaruh dalam kehidupan. Ketika kamu ingin tubuhmu menjadi harum, yang mana yang harus dipilih, berdiri di tempat pembuatan parfum atau berdiri di tempat penuh gunungan sampah? Jawabannya sungguh jelas di pelupuk mata. Di tengah kegiatannya menulis rangkuman materi pertidaksamaan nilai mutlak, Daniar juga memikirkan entah sedang apa Dio di sana. Harusnya sekarang ia telah selesai berlomba dan Dio juga berjanji akan menelepon mereka begitu sudah ditentukan pemenangnya. Siang sudah hampir berakhir tapi bahkan Dio belum menghubungi sampai sekarang. Jawabannya hanya ada dua, menang atau kalah. Kalau menang, Dio pasti bahagia sekali karena akhirnya setelah sekian lama ia mendapat sebuah penghargaan dan penghargaan itu bisa digunakan untuk poin tambah masuk ke pergruruan tinggi, jurusan olahraga, Dio sudah memikirkannya masak-masak setelah bergelut dengan pikirannya. Sedang kalau kalah, rasanya wajar karena Dio belum memiliki pengalaman mengikuti perlombaan besar dan resmi. Tapi Dio akan kecewa betul mengingat bagaimana ia sering disiksa oleh trio sableng yang membuatnya berlari berkejaran dengan waktu untuk mencapai gerbang sekolah tanpa dihukum. Sebagai sahabatnya, apapun itu hasilnya, Daniar dan Fathur sepakat untuk selalu mendukungnya. "Hampir pukul tiga, entah Dio sedang berekspresi bagaimana sekarang," ujar Fathur Hanya untuk memastikan saja, Daniar mengecek ponsel untuk melihat apakah Dio mengirimkan pesan sepatah dua kata. Nihil. "Kuharap dia sedang tidak panik mencari kesana kemari karena lupa menaruh HP miliknya." Bukanlah Dio kalau tidak ceroboh, Daniar sudah sering mengingatkannya untuk menjaga baik-baik barang miliknya, bukanlah tentang nilainya, itu penting untuk melatih ketelitian dan kedisiplinan. Selang dua menit kemudian, dering ponsel berbunyi entah siapa yang menelepon Fathur di tengah kegiatan menonton TV untuk melepas penat sejenak setelah belajar. "Ini dia orangnya," ujar Fathur pada Daniar lalu menyalakan pengeras suara supaya mereka bisa mendengar apa yang Dio sampaikan Fathur meletakkan ponselnya di meja, Daniar bersiap untuk mendengar sebuah kabar. 'Halo? Halo? Kalian masih bersama?' "Ya, aku di rumah Fathur. Jangan teriak-teriak, kami mendengarnya." 'Di sini ramai, agak kurang jelas suara kalian, sebentar aku menjauh dulu...Nah, sekarang sudah jelas. Aku juga capek teriak-teriak tahu, suaraku jelas, 'kan? Nah, aduh haus betul.' "Kamu mau memberi tahu kami tidak, sih?" "Tentu, tentu. Seperti yang kalian duga, aku menang, kalian mendengarnya, 'kan? AKU DAPAT GELAR PEMENANG UTAMA, WAH, bahkan Bima saja belum tentu dapat gelar ini. WAH, TANGANKU MASIH GEMETAR." Daniar yang semula mendekatkan wajahnya ke ponsel, mulai agak menjauh karena suara Dio yang begitu keras bagai raungan pemimpin upacara setiap hari senin. Tapi begitu mendengarnya, Daniar dan Fathur sungguh berjingkrak senang. "Selamat untukmu, Dio." "Nah, yang lebih keren lagi tadi aku diwawancarai oleh reporter. Hei, coba lihatlah wajahku di berita kelihatan keren atau tidak. Aku tak sempat mengelap keringat saat wawancara tadi." Daniar mau tak mau menuruti permintaannya dan mencari berita terhangat di timeline tentang olahraga. Benar saja, topik tentang kompetisi yang Dio ikuti sedang menjadi trending, ia membuka satu berita yang memuat foto keren Dio meski dipenuhi oleh keringat. Sementara itu, Fathur tengah menyimak siaran televisi yang juga tengah memberitakan kompetisi itu. "Dio, wajahmu ada di televisi, jelek sekali rupanya," kata Fathur sedikit bercanda Daniar juga kemudian mengalihkan wajahnya ke televisi, menyimak reporter yang berbicara mengenai salah satu pemenang yang ternyata adalah anak dari pengusaha terkemuka. Di layar televisi, selain ditampilkan wajah Dio juga terpampang wajah Pak Ghani sebagai direktur Ghani group. "Ya, Dio, wajahmu ada di televisi bersama wajah ayahmu." Entah apa yang akan terjadi pada Dio nantinya. Hanya penulis yang tahu.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN