Kembali Pulang

1656 Kata
Hari-hari berikutnya Daniar menyaksikan seorang teman menjadi pemberontak. Fathur juga bersikap sangat hati-hati supaya tidak salah langkah. Selepas ayah Dio mengamuk pada pihak sekolah yang tak meminta persetujuannya, tentu saja Dio sendiri yang menjadi sasaran empuk amarahnya. Dio adalah satu-satunya orang yang tak menurut dan berbuat seenak hati di keluarga Ghani. Keluarga mereka sempurna jika saja Dio mau mendengar apa yang diinginkan ayahnya. Kesempurnaan itu telah disusun dan direncanakan sejak ayahnya masih muda. Anak pertama akan menjadi penerus perusahaan, anak kedua akan menjadi insinyur penuh prestasi, anak ketiga akan menjadi peneliti ilmiah, dan anak keempat seharusnya menjadi jaksa atau pengacara. Semua rencananya hampir sempurna, ditambah mempunyai istri yang sangat penurut dan selalu mendukungnya, Dio tak pernah mendapat pembelaan satu pun bahkan dari ibunya. Mereka hidup tanpa perasaan, begitu yang Dio pikir. Karena itu, Dio bersikeras untuk tak pulang ke rumah. Sudah tiga hari lamanya sejak kembali dari Surabaya. Pihak sekolah yang tak tahu apapun karena tiba-tiba diprotes oleh seorang pengusaha, meminta penjelasan pada Dio tapi Dio enggan menjawab sampai saat ini. Orang-orang pastilah kebingungan, mengingat memenangkan kompetisi bergengsi seharusnya menjadi sebuah kebanggan. Tapi keluarga Ghani menganggap itu sebagai celah bagi Dio untuk memberontak mereka. Saat masuk berita di televisi, wartawan yang ingin mewawancarai ayah Dio atas pencapaian anaknya malah tak mendapat sepatah kata pun. Akan butuh waktu lama bagi Dio untuk berpikir. Pikirannya kalut, persis seperti Daniar yang mempertanyakan keadilan di setiap malam kala ia dirundung teman sekolah, persis seperti Fathur yang dilanda ketakutan ketika melepas ayahnya pergi dan bertanggung jawab atas ibunya. Setiap malam, Fathur selalu menemukannya di warung kopi. Meski sudah berkali-kali dibujuk bahkan menawarkan menginap di rumahnya, Dio selalu menolak. "Demi ibuku deh, dia pasti senang dan akan menganggap kita sebagai anak kembar." "Siapa yang akan jadi kakaknya?" "Aku." "Padahal inginnya aku yang menjadi kakak supaya bisa merasakan menjadihili adik." "Kalau begitu silahkan, aku yang akan menjadi adiknya." Ujung-ujungnya Dio tak akan mau meski sudah memberi harapan. Bukannya apa-apa, membiarkan orang sendirian saat pikirannya sedang tidak baik-baik saja bisa menjadi bahaya, itu yang Daniar dan Fathur khawatirkan. Dio bilang jika ia akan hidup di hotel sementara, tak heran uang hasil menang kompetisi bisa cepat habis karena itu. Selain itu, di sekolah pun bisa dilihat bagaimana perbedaan seorang Dio menjalani hari. Bima sudah kembali ke sekolah, ketika ingin membicarakan tentang kompetisi, kelihatan sekali jika Dio selalu menghindar. "Sombong betul rupanya!" Ada sedikit kegeraman di hati Daniar, membiarkan seorang remaja dilanda ketidaknyamanan tidaklah baik. Ini bisa menjadi sangat merepotkan, mulai dari susah berdamai dengan diri sendiri, tak memedulikan orang di sekitar, sampai tak tahu situasi penting yang sedang berlangsung. Orang yang tak bisa mengendalikan perasaan seperti ini pada akhirnya akan berakhir mengalah pada keadaan. Banyak yang bilang jika mengalah adalah bentuk kedewasaan diri, betul jika itu di beberapa keadaan. Melihat Dio yang tampak seperti mayat hidup sedang memakan bakpao di pinggir jalan, membuat Fathur dan Daniar tak tahan untuk tak menghampirinya. Dipukulnya pelan bahu Dio, serius, hanya pelan, tapi entah kenapa isian bakpao rasa ayam suwir jatuh beberapa ke jalanan karena itu. Dio yang hendak memakannya kemudian mendelik. "Tak tahukah kalian betapa aku menunggu lama untuk mendapat varian bakpao ayam suwir ini saat pembeli sedang ramai-ramainya?" Sangat sensi, seperti seorang perempuan di hari datang bulannya. "Aku bisa membuatkanmu banyak jika itu ayam suwir. Kukira sebangsa caviar yang aku jatuhkan, kenapa kamu begitu marah?" Dio adalah pecinta bakpao ayam suwir atau apapun makanan yang di dalamnya terdapat ayam suwir. Tak pernah ia menemui olahan ayam semacam itu sampai ia duduk di bangku SMP dan langsung jatuh cinta untuk pertama kali. Selalunya olahan daging ayam di rumah kalau tak ayam bakar pastilah ayam goreng tepung. Mulai menunjukkan gelagat tenang, Dio menghabiskan sisa bakpao yang kini tak ada isiannya tanpa mengalihkan pandangannya dari jalanan. "Rasanya ingin kuputar waktu dan menetap di desa saja dan memakan sebulat penuh semangka sambil duduk di bawah pohon. Menenangkan rasanya." Ingin memutar waktu, adalah ciri bagaimana orang tersiksa dengan keadaan yang sekarang. Kelihatannya menyenangkan, kalau memang bisa terjadi, manusia tak akan merasakan penyesalan apa yang ia perbuat karena semuanya bisa diulang. Di sisi lain itu sangat membosankan karena bisa dengan mudahnya memeroleh apa yang diinginkan tanpa bersusah payah memikirkan strategi dan menghitung peluang. Tinggal tengok ke masa lalu dan mengubahnya, bukankah itu akan membosankan katakanlah jika alat untuk memutar waktu memang benar ada? Sejatinya penyesalan ada untuk memberikan pelajaran, kesedihan ada untuk mengingatkan akan pentingnya menghargai sesuatu, kekecewaan ada untuk memberi tahu agar jangan terlalu berharap pada manusia, keputusasaan ada sebagai tanda bahwa pernah berjuang, dan kekuatan ada untuk membuktikan bahwa manusia hanya perlu terus melangkah walau dalam keadaan apapun sedang melanda. Tanpa perlu memutar waktu, sesungguhnya kehidupan masih bisa dilanjutkan dengan lebih keren dan bermakna. "Suatu saat kamu juga akan merasa bosan di desa dan berkata jika kehidupan di kota akan lebih menantang. Itu alami." "Ya, Fathur. Maaf karena aku sedang kacau." "Kacau memang, tak biasanya aku melihatmu yang selalunya banyak bicara menjadi diam seribu bahasa." "Aku sedang memberontak, aneh rasanya jika bersikap sama seperti dulu." "Kalau sedang berontak jangan setengah-setengah, kamu pikir dengan menjauh begini bikin kamu merasa menang atas keluargamu?" tanya Fathur kemudian terlihat kesal Dio kaget dengan apa yang dikatakan Fathur, tentu Daniar juga. Kelihatannya Fathur sedang marah, berkebalikan dengan fakta jika harusnyalah Dio yang marah dengan keadaan yang sedang dialaminya. "Aku bukan mencoba untuk menang, mana mungkin aku bisa menang melawan monster gila kesempurnaan itu." "Harusnya kamu bisa jika kamu benar-benar mengenali siapa dirimu, apa maumu, dan bagaimana hidupmu." "Aku ya aku, aku ingin hidup bebas tanpa terkekang tuntutan, dan hidupku...rupanya itu ditentukan oleh keputusanku seorang." Daniar mulai mengerti kenapa Fathur bersikap demikian. Dio kelihatan merenung lama setelah itu, di hatinya tersimpan banyak mimpi tetapi belum pernah ia sampaikan pada siapapun. Layaknya mencintai seseorang, ingin jika itu semua bisa diwujudkan. "Kalau kamu sudah menentukan hidupmu ya harus kamu perjuangkan. Lagipula mereka yang menghalangi adalah keluargamu, aku yakin kamu hanya harus memberi pengertian yang lebih. Buktikan kalau kamu sudah dewasa dan bisa menentukan dengan baik tujuan hidupmu. Ck, hidup memang kadang tak adil dan mau tak mau kita harus menghadapinya." Daniar setuju, sangat setuju mendengarnya. Hidup kadang tak adil dan yang harus dilakukan adalah menghadapinya, itu prinsip sederhana tapi begitu menyakitkan. Mereka masih muda tapi beban mereka seolah diharuskan memindahkan gunung yang bisa meletus sewaktu-waktu. "Perkataanmu itu benar Fathur, memang aku harus melawan mereka," ujar Dio "Aku bahkan belum genap delapan belas tahun tapi hidupku sudah menyebalkan begini," ujar lagi Dio "Memang menyebalkan," timpal Fathur "Yah, menyebalkan, kadang-kadang," timpal lagi Daniar Entah tiga orang itu sedang melamunkan apa di pinggir jalan selama kira-kira lima menit, suara gemerincing mangkok dari tukang bakso keliling dan dentuman ketokan kayu dari tukang es kelapa yang akhirnya menyadarkan mereka. "Kalian mau es kelapa?" tanya Fathur Tak ada yang menolak niat baik Fathur setelah melihat suasana sore begini sekaligus mengingat sudah berapa lama dari terakhir kali mereka menenggak air. Selama itu pula perangai Dio sudah mulai membaik dari yang semula berekspresi suram menjadi lebih bahagia. Pikirnya, keberadaan orang-orang yang peduli adalah sebuah anugrah tak ternilai. Sampai setidaknya setengah jam mereka menghabiskan waktu duduk di kursi plastik milik penjual es kelapa yang juga sedang mangkal di tempat strategis tersebut. Sangat strategis, di seberang jalan adalah tempat serupa spot bersantai anak-anak muda, di sebelahnya ada sebuah angkringan dengan harga murah meriah, setiap sore hingga malam tempat itu selalu saja ramai. "Kalian tahu, sebenarnya aku ingin sekali menertawai ekspresi Bima yang kacau begitu melihatku di sekolah tadi, tapi aku tahan, mengingatnya saja sudah buat aku ingin tertawa lagi. Pasti dia kaget aku bisa dapat juara." "Tertawa saja, Bima sempat bertanya padaku apakah kamu mengalami kesulitan selama di sana karena pelatih benar-benar keras jika sudah berurusan dengan kompetisi. Masih mau tertawa?" Dio kemudian menghentikan hasrat tertawanya, di berikannya gelas yang sudah kosong tak bersisa pada penjual es kelapa. Lalu ia kemudian membuka ponselnya untuk mengecek sesuatu. Fathur melihatnya ia sedang membuka aplikasi belanja online dan membeli bantal pereda pegal bergambar tokoh animasi bertopi jerami. "Seingatku dulu dia sering mengeluh pegal. Tapi aneh juga, sudah besar masih suka menonton animasi." Sekali lagi tanpa Dio sadari, ia dan Bima pernah begitu dekat. Lima menit kemudian, mereka dihadapkan oleh sosok perempuan pesepeda bercorak bunga yang berhenti di hadapan mereka. Penampilannya sangat mencolok karena belum pernah mereka lihat tipe pesepda seperti ini. Ia memakai celana jogger abu-abu dan baju lengan pendek berumbai berwarna abu-abu pula. Sepatunya mewah bergerigi, sangat berkelas melihatnya. Begitu mengangkat topi dan kacamata hitamnya, tiga orang yang sedang duduk menikmati pemandangan sore itu terkejut. "Sedang berlatih menjadi gila, Berryl?" tanya Dio "Jahatnya, bersepeda di sore hari akhir-akhir ini menjadi hobiku." "Tak bisa dipercaya, kupikir kamu akan menyewa lahan dan bersepeda saja di sana sampai puas." "Kelihatannya aku orang yang seperti itu, ya? Kamu pikir aku anak manja?" "Memang." Melihat Dio dan Berryl beradu mulut, membuat Daniar dan Fathur memutuskan untuk menjadi penonton saja. Kebetulan es kelapa milik mereka belum sepenuhnya habis, menonton orang beradu mulut begitu sambil menyeruput minuman adalah kenikmatan. "Ck, keberadaanmu mengganggu sore indahku. Lagian kenapa sih, harusnya kamu pulang sekarang. Tak tahukah kamu bagaimana kakak-kakakmu terus mendesakku menemuimu dan memintamu untuk pulang? Merepotkan sekali." "Tak usah menyuruhku, aku akan pulang sendiri." Dio berkata dengan penuh berani, rupanya pemberontakan kali ini berjalan sempurna, ia menemukan tujuannya juga keberanian untuk mewujudkannya. Rumah, seberapa pun nerakanya, ialah tetap surga tempat berkumpul dengan keluarga. Keluarga yang entah seberapa bobroknya, pastilah masih ada kasih yang tersisa. Dio benar-benar yakin kali ini, detik itu juga kala penjual es kelapa pergi dan mengangkut kursi plastik untuk mangkal di tempat lain, tiga orang remaja berpisah untuk pulang menemui keluarganya masing-masing. Sementara itu, perempuan pesepeda melongok sebentar agak jauh dari mereka. Dio sudah pergi, kali ini benar ke rumahnya. Perempuan pesepeda begitu lega, lalu ia menelpon seseorang, seketika datang mobil hitam mewah di depannya dan beberapa orang mengangkut sepedanya hingga ia bisa duduk manis di dalam mobil yang membawanya pulang. "Ah, serius aku sudah gila." Berryl mengacak rambut frustrasi. "Tapi syukurlah Dio akhirnya pulang," gumamnya kemudian
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN