Waktu, kalau terus kita perhatikan dan hitung, rasanya akan lama. Kalau kita tak pedulikan, rasanya begitu cepat. Cara menggunakannya dengan benar adalah lakukan kesibukan yang ada manfaatnya tanpa mengira berapa detik telah berlalu. Manajemen waktu, kemampuan seperti ini sangat penting bagi hidup tapi sedikit yang menerapkannya dengan benar. Orang yang dapat memanajemen waktu, sangat bisa melakukan kesibukannya tanpa kehilangan waktu untuk menghibur diri. Kebanyakan yang terjadi adalah, seseorang terlalu terlena akan waktu untuk menghibur diri sampai melakukan hal yang tak berarti dalam seharinya. Atau ada tipe orang yang bahkan kehilangan waktu untuk menghibur diri karena kesibukannya, ada yang salah dalam manejemen waktunya.
Kemampuan seperti ini bisa dilatih sejak kecil mula, benar jika itu tergantung lingkungan dan pola asuh kedua orang tuanya. Orang yang sudah terbiasa dalam manajemen waktu, akan dengan mudah mengatur hidupnya hingga ia dewasa. Tentu, seiring bertambah dewasa seseorang, seiring banyaknya jadwal, kemampuan manejemen waktu juga akan ikut meningkat.
Mulai dari remaja sekolahan, manajemen waktu digunakan bagaimana mereka menyusun jadwal kapan mereka akan belajar, ikut kegiatan klub, bergaul dengan teman, menekuni hobi, dan melakukan self reward. Itu hal yang umum dilakukan, bukan tak mungkin ada remaja yang jadwalnya melenceng dari itu, sangat banyak, karena sejatinya setiap remaja lahir dengan latar belakang yang berbeda-beda. Orang yang terbiasa dituntut menjadi bintang kelas, waktu belajar akan lebih dominan. Orang yang terbiasa diberi kebebasan bergaul, waktu bergaul dengan teman akan lebih banyak. Orang yang sudah terlalu mencintai hobinya, akan menghabiskan waktu untuk menekuni hobi lebih sering. Pada intinya sama, manajemen waktu dibutuhkan untuk semua itu.
Yang menarik adalah bagaimana remaja-remaja tingkat atas mengeluh akan jadwal belajar padat sepadat macet di ibukota. Agak susah memang menemukan waktu bersantai di tengah kesibukan mereka, lengah sedikit, masa depan yang akan selalu menjadi sasaran untuk bahan nasehat. Meski tak sepenuhnya salah, semester satu yang dicap sebagai semester kebahagiaan telah berlalu. Tersisa semester akhir, beberapa remaja bergidik bagaimana salah seorang murid menirukan seorang guru yang menerangkan tentang betapa pentingnya manajemen waktu dengan lantang.
"Pagi belajar, siang belajar, malam belajar, belajar terus sampai mampus."
Begitulah adanya, bagaimana bisa sekolah menuntut kesempurnaan nilai muridnya dalam tiga belas mata pelajaran sekaligus juga menginginkan daftar murid yang masuk perguruan tinggi meningkat tiga puluh persen dari tahun lalu? Adalah benar jika tak mungkin ada murid yang betulan sempurna di segala bidang, menginginkan nilai bagus di semua mata pelajaran sama saja dengan menyuruh seekor ikan bisa berenang, berjalan, terbang, dan merayap. Lalu yang menjadi andalan sekaligus pedoman murid kebanyakan adalah, lakukan yang paling baik untuk pelajaran yang disuka juga ditekuni untuk bekal masuk perguruan tinggi nanti. Agaknya dengan cara ini, jadwal belajar mereka tampak berselera dibanding jadwal belajar yang memakan bulat penuh seluruh materi tiga belas mata pelajaran, bikin pening kepala yang ada.
Daniar menerapkan sistem itu, dimana dari tiga belas pelajaran ia hanya fokus pada enam mata pelajaran.
"Lembaga beasaiwa sangat memerhatikan enam nilai ini," katanya di suatu waktu di perpustakaan
Sementara Fathur sungguh orang yang beruntung karena merasa sudah banyak menguasai banyak dari tiga belas mata pelajaran itu, meski tidak sempurna, ia hampir sempurna sebagai langganan sepuluh besar peringkat satu angkatan. Tetap saja Fathur adalah orang yang punya kekurangan.
"Kupikir kamu memang harus begitu. Bukannya aku iri, rasanya tak adil mengetahui kamu adalah orang yang pandai memasak, pandai belajar, pandai mendapat surat cinta, juga pandai bela diri," komentar Dio melihat seorang Fathur tengah disibukkan menyusun sebuah kerajinan bunga dari plastik untuk penilaian mata pelajaran prakarya dan kewirausahaan, pelajaran yang merupakan kekurangan Fathur
"Bukan begitu! Sejak kapan bunga mawar langsung tumbuh di batang hah? Bedakan batang dengan tangkai, bukannya kamu pandai biologi ya?" Seketika Dio murka bagaimana Fathur membuat kerajinan bunga plastik itu tampak mengerikan karena ulahnya
"Salahkan kerangka dari kawatnya yang membuat strukturnya tidak jelas!" balas Fathur sengit
Ekspresi Fathur sungguh mirip ketika bagaimana Dio dimarahinya karena belum paham juga walau ia menjelaskan konsep permutasi dan kombinasi sebanyak tujuh kali.
Daniar sungguh sibuk untuk ikut berdebat dengan mereka saat jadwal tes seleksi beasiswa diadakan sebentar lagi. Itu baru tes seleksi beasiswa, setelahnya ia harus memastikan dirinya juga masuk seleksi pergururuan tinggi yang diadakan serentak beberapa bulan lagi. Semua murid sibuk untuk mempersiapkannya, ya, kelihatannya begitu.
"Lima hari lagi, aku sungguh tak bisa tenang."
"Aku juga ikut tak tenang kalau kamu merasa begitu, Niar. Percaya diri saja, kamu sudah mempersiapkannya sejauh ini."
"Kamu benar, Fathur. Apapun yang terjadi aku yakin itu adalah jalanku nantinya."
Daniar mengangguk lega, harusnya ia tak perlu merasa takut akan kehilangan salah satu jalan untuk menerima beasiswa.
"Mbak tenang saja, tinggal pakai jimat ampuh pasti diterima, Ezra berani bertaruh."
Tak jauh dari mereka duduk, sepasang remaja kembar tengah bermain teka teki silang dari buku yang mereka temui di pinggir jalan, entah siapa yang membuangnya di minggu pagi padahal masih baru.
Mendengarnya, Daniar ingin sekali menjitak kepala mereka karena sudah membuat kesalahpahaman hanya karena pengucapan jimat yang sering dikaitkan dengan ilmu ghaib tak lazim.
"Kalian tahu, semacam gelang peninggalan ayahku," ujar Daniar menjelaskan kepada Fathur dan Dio
"Ya, itu maksudku. Setiap melihat atau memakainya, selalu terpancar aura kuat, seolah Mbak sedang melawan musuh di bumi," jawab Ekra
"Sebuah peninggalan ya, aku mengerti, memang kadang memberikan kekuatan mindset dalam diri kita," timpal Dio
Jadwal belajar di hari minggu kali ini bertempat di rumah Daniar. Daniar sendiri yang mengusulkan setelah tiga minggu berturut-turut belajar di rumah Fathur. Bukan apa-apa, meski Ibu Fathur sangat senang akan kehadiran mereka, tak pernah Daniar absen membawa cemilan serupa kue atau puding karena Ibu Fathur selalu membuatkan sesuatu setiap seorang teman anaknya berkunjung. Setiap sesi belajar di mulai, suara perabotan di dapur selalu saja berdendang. Daniar hanya khawatir karena beraktivitas terlalu banyak dengan kondisi kesehatannya, bukan tak mungkin penyakit jantungnya kambuh lagi.
"Sayang sekali ibuku itu tipe orang yang baik hati juga keras kepala," kata Fathur
Yang terjadi di depan mereka sekarang justru serupa pemandangan puding coklat dengan berbagai toping.
"Yang ini untukku, paling pinggir untukmu, tengah ini untukmu, dan sebelah sini untuk adik-adikmu."
Fathur membuka kotak berisikan lima potong puding berbentuk bintang, toppingnya berbeda-beda. Pantas Daniar dan Dio bingung sewaktu ditanya topping apa yang paling disuka, Daniar menjawab chocochips, Dio menjawab gula-gula rasa buah, Fathur sendiri mengaku paling suka topping kacang almond. Sedangkan dua puding lain bertopping macam-macam jenis, campuran dari segala jenis topping. Ketika Ezra dan Ekra juga ditanya melaluinya, Daniar bilang mereka pemakan segala. Jadilah bagaimana penampilan dua puding itu tampak berbeda, Ezra dan Ekra tampak bahagia mendapat puding di hari minggu cerah begini.
Membicarakan rencana masuk kuliah, Fathur mengaku optimis mendapat kursi di salah satu perguruan tinggi yang tak jauh dari tempat tinggalnya namun juga terkenal berkualitas.
"Itu satu-satunya pilihanku supaya masih bisa dekat dengan ibuku."
Daniar sendiri berencana mengambil program studi desain di kampus impian tetangga Fathur, pada intinya masih berada di satu kota yang sama. Hanya kampus itu yang bermitra dengan lembaga pemberi beasiswa incarannya.
"Berjuanglah kalian, aku selalu menjadi pendukung."
"Bagaimana denganmu? Kamu mau melanjutkan di kampus mana, Dio?"
"Yang mana saja boleh. Hei, kudengar orang yang dapat sertifikat juara nasional sepertiku kemarin hanya tinggal menunggu saja ada perguruan yang melamar. Aku beruntung sekali."
"Ya, terus saja berpikir seperti itu Dio sampai kamu menyadari jika orang lain yang punya lebih banyak sertifikat lebih beruntung darimu. Lihat saja Bima sebagai contohnya."
"Astaga, kamu menakutiku. Bima bilang dia mau melanjutkan ke luar kota, aku sendiri ingin di kota ini saja, bersama kalian."
"Apa-apapun, jika kamu lolos jalur prestasi, nilai ujianmu juga akan dipertimbangkan."
Dio menunduk lemah, kemudian lekas membuka buku setelah melahap suapan terakhir pudingnya. Tetap saja belajar adalah kuncinya.
"Oh iya, menurutmu Berryl akan lanjut kemana? Hanya ingin tahu saja karena sudah lama aku tak berkirim pesan dengannya."
"Rupanya kamu juga sudah terperdaya olehnya ya, Niar. Hati-hati, jangan terlalu dekat dengannya. Kalau kuliah sih, kudengar dia akan sekolah di luar negeri. Jangan tanya-tanya padaku lagi, kamu pikir aku siapanya dia?" Dio tampak mengerucutkan bibirnya
"Untuk sekarang memang bukan siapa-siapa," goda Fathur
"Memang sampai kapanpun bukan siapa-siapa, kenapa sih kalian ini?"
"Biar kutebak, berarti sekarang kamu masih mengharapkan perempuan ilalang dari desa itu? Bagaimana kabarnya?"
Dio menggeleng pelan, berkata jika mereka bahkan jarang berkomunikasi. Entah apa yang terjadi pada perempuan itu karena tak lagi membalas pesannya. Namun begitu, Dio tetap berusaha mengirim pesan setiap hari kalau-kalau dibacanya suatu hari nanti.
"Wah, kamu benar-benar sudah menjadi b***k cinta sekarang."
Pekikan di seberang meja dimana Ezra dan Ekra berada kemudian mengagetkan mereka.
"Itu dia! b***k cinta."
Dua orang itu bersorak gembira karena rupanya mereka telah menyesaikan tantangan di buku teka-teki itu setelah lumayan lama memikirkan jawaban terakhir. Agak lupa mereka mengingatnya. Dalam teka-teki itu tertulis di nomor empat pertanyaan mendatar dengan jawaban sepuluh kolom kotak, satu-satunya kolom yang belum mereka isi.
'sebutan untuk orang yang gila karena cinta sampai mau melakukan hal gila segila-gilanya untuk orang tercinta mereka bahkan mereka tak menyadari akan kegilaannya itu.'
Budak cinta, tak ada jawaban lain lagi.