Bagaimana waktu berlalu, terkadang hanya dengan melihat seberapa banyak lingkungan berubah. Contoh kecil saja, sebuah bangunan yang dulunya serupa tak terurus kini menjadi bangunan tampak baru dan bagus. Pepohonan di belakang sekolah yang dulunya banyak dan lebat lenyap hanya meninggalkan beberapa saja yang tersisa. Tukang bakso kondang nan melegenda yang kedainya selalu ramai, bisa dilihat pemiliknya yang sudah berganti generasi. Suasana kelas yang ramai syahdu karena beberapa celotehan problem remaja di pagi sampai sore menjadi sunyi tak bersuara. Tak ada lagi kegiatan mengajar, lorong-lorong tak berpenghuni, seharusnya begitu, karena kalau ianya berpenghuni harus dipastikan lagi apakah itu manusia atau bukan. Cerita gadis abadi penunggu lorong sudah turun temurun di tujuh generasi sekolah, tak ada yang mau repot-repot membuktikan kebenarannya dengan sengaja.
Bagi murid selain kelas atas, liburan telah tiba lagi, enam bulan mereka menunggu untuk ini. Bagi murid kelas atas, liburan kali ini tidaklah semenyenangkan seperti biasanya. Kelas yang sunyi adalah bukti, coretan di papan tulis berbicara tanpa suara, meja-meja yang di atasnya berserakan kertas contoh soal menjadi saksi bisu.
Hari ini adalah persis waktu ujian serentak masuk perguruan tinggi. Tidak ada yang tidak khawatir dan tegang seketika setelah mengingat hari ini. Banyaknya jumlah peserta adalah bukti seberapa ingin mereka masuk perguruan tinggi bergengsi. Pun dengan perguruan tinggi bergengsi yang tak ingin menerima sembarang orang, ketegangan semakin menjadi.
Gerombolan manusia muda rupanya telah menghadapi hari ini yang katanya menakutkan. Wajah dengan berbagai raut terpancar di antara mereka. Raut bahagia, agaknya mereka adalah tipe orang percaya diri dan merasa telah melakukan yang terbaik. Raut kecewa dan frustrasi, mungkin beberapa dari mereka menyesali ada beberapa soal yang tak terjawab padahal mereka tahu kalau mengingatnya dengan benar, bisa juga disebut tipe dengan pesimis yang tinggi. Raut datar, orang yang tak berekspresi semacam ini bisa diinterpretasikan dengan berbagai hal. Sudah melakukan yang terbaik atau tidak, intinya hari ini telah berakhir. Kelolosan bagi mereka adalah hal yang menguntungkan, jika pun belum lolos, oh tidak, mereka tidak akan mati karena itu. Terserah bagaimana orang menilai raut wajah masing-masing, itu tidak sepenuhnya mewakili bagaimana perasaan sebenar-benarnya seseorang. Sejatinya bahkan beberapa orang pandai berakting dengan beraut wajah yang berlawanan suasana hatinya.
Dari gerembolan itu, tampak Daniar menyembul dari keramaian dan memegang erat-erat ranselnya. Ah iya, raut wajahnya datar tak tertebak. Rambutnya yang dukuncir kuda sedikit berantakan, anak-anak rambut terberai kemana-mana. Sempat melewati jendela bangunan yang memantulkan wujud dirinya, Daniar berhenti untuk merapihkan rambutnya itu. Berpikir sangat keras rupanya bisa memengaruhi penampilan seseorang, sebelumnya ia datang bahkan memeriksa sampai tiga kali apakah penampilannya sudah rapih, Dio bahkan bosan mendengar pertanyaan apakah ada yang salah dengan dirinya seperti terdapat noda di wajah atau daun kering menempel di rambutnya.
"Materi integral yang keluar sungguh tak terduga, kukira hanya soal sederhana seperti tahun sebelumnya."
"Gila, aku menghabiskan satu menit terakhir untuk menghitung kancing, beruntung tak ada nomor yang tertinggal untuk aku isi."
"Kubilang juga apa, Mr. Richard memang ahli memprediksi soal, masih mau bilang dia guru yang tak berkompeten?"
Komentar-komentar ringan terdengar di belakangnya, Daniar bahkan menunggu mendengar seseorang yang berpikiran sama dengannya tentang apa yang terjadi hari ini.
"Bahasa Inggris-nya lumayan mudah, aku serasa sedang membaca majalah di tempat Charles."
Nah, itu dia, Daniar berpikiran seperti itu. Siapakah seseorang yang memiliki pikiran seperti itu juga?
"Fathur! Bagaimana? Semua oke?"
Fathur datang dengan gestur seolah sedang mengipasi dirinya dengan jari-jari tangan kanannya. Memang, cuaca sedang panas-panasnya.
"Aku lakukan yang terbaik, semoga hasilnya sesuai yang kuinginkan."
"Ya, semoga. Aku juga sudah lakukan yang terbaik meski sempat berkejaran dengan waktu."
Tak lama setelah itu, Dio terlihat berjalan ke arah mereka dengan rambut tak berestetika, serius, itu lebih parah dari Daniar yang anak rambutnya kemana-mana. Ia tak sendiri, Dio tampak berjalan dengan seorang perempuan bagai manekin yang tak ada kacau-kacaunya di sampingnya.
"Demi soal biologi yang tingkat kesulitannya level dewa, habis tersetrum listrik, ya?" tanya Daniar
"Tak ada obrolan tentang ujian hari ini. Ayo pulang dan lupakan, tak baik membuat diri kita frustrasi," ujar Dio
"Aku juga ingin langsung pulang saja dan beristirahat, tapi Berryl, bukankah kamu katanya akan kuliah di luar negeri?"
"Ah, ada yang bilang begitu padamu? Pasti Dio, kan? Tidak sepenuhnya benar, aku ingin mencoba di dalam negeri dulu. Lagipula intinya sama-sama menuntut ilmu bukan? Bagaimanapun berada di negeri sendiri lebih baik."
"Duh, jangan membuatku merinding. Seingatku kamu pernah mengagung-agungkan universitas di luar negeri dan bertekad untuk berkuliah di sana. Aku tak bisa dibodohi, ya," celetuk Dio
"Siapa juga yang mau membodohimu? Dan rupanya kamu masih ingat perkataanku hari itu, ya. Aku memang mengatakannya di hadapan rekan-rekan Papa, bukannya kita sering berbohong pada diri sendiri ya di saat-saat seperti itu? Cih, kamu harus mengenalku lebih dekat, Dio."
Daniar memukul pelan punggung Dio, rasanya ia sudah berkata keterlaluan pada Berryl. Meski kelihatannya bercanda, itu bisa berakibat serius bagi beberapa orang. Ya ampun, Daniar sudah sering mengalami yang seperti ini dulu.
"Kepalanya mungkin ikut korslet saat tersetrum listrik tadi, lihat saja rambutnya," Fathur ikut membela Berryl sambil menunjuk kepala Dio dengan rambut hampir seluruhnya berdiri
Berryl tersenyum singkat untuk memberi tahu jika ia tak masalah dengan itu. Melihat dua tahun ke belakang, Daniar merasakan bagaimana mereka telah berubah lebih banyak. Dulu ia merasa Berryl adalah bintang yang tak mungkin ia mengenalnya. Kini Daniar merasa jika dekat dengan beberapa orang dan mencoba membuka tabir di hatinya adalah bukan kesalahan besar.
"Aku cuma mau menyerahkan ini, takut tak sempat kuberi karena agaknya aku tak akan ikut acara perayaan perpisahan sekolah."
Daniar, Fathur, dan Dio menerima masing-masing sebuah kotak coklat berpita kuning.
"Hadiah dariku, aku membuat beberapa untuk teman, kurasa kalian juga harus dapat."
Setelah itu Berryl menjauhkan diri, suara sepatunya terdengar sebentar hingga punggungnya tak terlihat lagi dari pandangan mereka.
***
Menghabiskan waktu di kamar sekaligus melakukan self healing setelah bekerja keras sesekali memang harus dilakukan. Otak dan tenaga butuh diistirahatkan atau mereka akan memberontak dengan menunjukkan gejala-gejala tak mengenakkan. Daniar pernah mengalaminya ketika saat itu ia harus mempelajari banyak materi sekaligus harus menyelesaikan lukisan pesanan yang entah kenapa banjir pelanggan segera setelah ia memposting lukisan seorang aktris tengah naik daun, bukan main, Daniar sampai begadang dibuatnya. Gejala seperti pusing dan meriang pun akhirnya dialaminya, membuat tak bisa bersekolah selama dua hari. Ketika itu juga sebuah pelajaran didapatnya jika jangan terlalu memaksakan diri berbuat banyak hal.
Satu minggu sebelum pengumuman, enam hari sebelum jantung dibuat tak tenang karena menunggu hari esok, rasanya seperti sebuah kesempatan terlihat di depan mata yang tidak tahu bisa ia dapat atau tidak. Jika pun tak kesampaian, Daniar tak masalah. Tapi memiliki pikiran pesimis sebelum sebuah kenyataan datang baru itu yang menjadi masalah.
Sepulang dari ujian, tak ada yang dilakukan selain melupakan apa-apa saja yang terjadi atau Daniar akan sakit kepala, berusaha mengingat-ingat jawaban benar dan kemungkinan poin yang akan didapat. Jangan sekali-kali dilakukan, lagipula ia mendapat hal menarik sepulang dari itu.
Grup obrolan antara ia dengan Fathur dan Dio seketika ramai, sedikit membahas tentang hadiah yang diberikan Berryl, sisanya ribut mengenai Dio yang tiba-tiba bertanya tentang lowongan pekerjaan karena katanya ia pesimis atas hasil ujian meski masih berharap sertifikat masih dapat menolongnya.
'Hebat sekali, jika bicara tentang pekerjaan kamu hanya perlu melamar di perusahaan ayahmu, kurasa tak sampai satu detik langsung diterima. Sungguh Dio yang aneh.'
'Kurasa tak harus kusampaikan tentang betapa aku tak suka pada salah satu anggota trio sableng yang memimpin di sana. Hei, aku hanya ingin mengisi waktu luang jika tak dapat kursi nanti, akan kucoba lagi tahun depan sambil bekerja paruh waktu dan mencari banyak pengalaman.'
'Masih belum menyerah ya? Keluargamu sudah berdamai denganmu?'
'Menghargai keputusanku tak akan pernah terjadi, mereka hanya lelah dan membiarkan aku melakukan semauku yang katanya aku akan menyesal nantinya, sungguh lucu. Justru aku yang akan menyesal jika menuruti kemauan mereka. Papaku jarang berbicara padaku karena itu, dia selalu menyampaikan apa yang ingin disampaikan melalui pelayan, kami seperti memiliki sekat.'
'Sekat itu bisa dihancurkan suatu hari, aku yakin. Omong-omong hadiah yang diberi Berryl bagus sekali, sungguh figura yang cantik, kuisi dengan foto ibuku dan dia senang sekali.'
'Ah, figura kecil itu. Tak ada yang istimewa, di ruang keluarga ada banyak.'
'Ini sungguh istimewa, kulihat di sebuah toko harganya hampir satu juta, gila betul, dia memanen uang atau bagaimana? Tapi aku suka hadiahnya, kalau kamu bertemu tolong sampaikan terima kasihku lagi. Oh iya, gantungan kunci berbentuk bintangnya juga sangat bagus.'
Daniar sedari tadi hanya menyimak, rasanya menyenangkan melihat bagaimana orang-orang berinteraksi dengan hangat. Mengenai hadiah, Daniar juga merasa senang dan suka dengan itu, ia menaruh figura di atas meja dan gantungan kunci berbentuk bintang di sampingnya. Ada sebuah surat juga tapi belum ia baca, Berryl sungguh baik sekali.
'Entah kugunakan untuk apa figura ini, gantungan berbentuk hati ini juga kekanakan sekali,' kata Dio
'Hati? Kukira dapat bentuk bintang juga.'
'Aku dapat bintang, oh iya suratnya juga kelihatan bagus sekali, akan k****a setelah ini.' Kali ini Daniar ikut bergabung
'Surat? Aku tak dapat tuh.'
Fathur benar-benar bingung melihat beberapa perbedaan ini.