Daniar menyadarinya, sesaat setelah membaca sepucuk surat pendek berpita emas. Tak ada bayangan sama sekali kalau ia mendapati sebuah pengakuan. Agak pahit, padahal ia tak mau lagi mengingatnya setelah satu tahun telah berlalu.
'Mungkin kamu tak akan pernah menyangka bagaimana dulu aku ingin menjatuhkanmu. Banyak yang bicara buruk tentangmu, bodohnya aku langsung saja mengangguk percaya. Ya, Daniar, akulah pelaku utama yang menyebarkan fitnah tentangmu tempo hari. Kukira aku dikelilingi orang yang peduli, nyatanya tidak semua. Pandanganku rupanya sudah tertutupi debu, sulit membedakan mana orang yang baik untukku. Aku terlalu takut akan kesepian, aku selalu berusaha mengahalau kesepian tanpa menyadari dan memikirkan perasaan orang lain yang bahkan sama sekali tak kukenal. Bodohnya juga aku tak segera meminta maaf padamu setelah tahu bagaimana Dio berusaha memberikan kebenaran, aku sedikit tak suka mengetahui fakta itu. Maaf karena aku baru memberi tahumu sekarang, dengan ini aku meminta maaf yang setulus-tulusnya. Aku sedang berusaha menjadi Berryl versi lebih baik, ini sungguh sulit tanpa ada orang yang benar-benar mendukungku. Tanpa disadari aku belajar dari kalian bertiga, kebersamaan kalian, itu membuatku iri. Sekali lagi maaf, Daniar. Ayo kita berteman baik seterusnya.'
Perasaannya bercampur aduk setelah membaca tulisan itu yang bahkan tampak rapi di setiap hurufnya. Ada perasaan tak terima lalu ia mengingat masa lalu, sudah berapa banyak perlakuan tak mengenakkan yang ia terima? Berapa banyak pula yang menyadari jika Daniar tak berdaya? Berapa banyak yang tulus mengucapkan permintaan maaf? Ia tak mengharapkan itu semua pada awalnya. Daniar harus apa ketika ada orang yang meminta maaf padanya? Memaafkan adalah solusinya, tak ada jalan lain lagi. Daniar sudah berjanji akan menjadi orang yang lebih kuat dari sebelumnya, maafkan orang-orang di masa lalu dan mulai jalani hidup lebih baik.
***
Dua hari sebelum pengumuman rupanya menjadi agenda perpisahan sekolah non resmi. Perayaan serupa pesta, seluruh murid bersenang-senang sebelum kabar baik atau buruk mengusik mereka. Jangan adakan pesta ketika ada beberapa orang tengah bersedih, mereka memulai menjalani tiga tahun bersama maka berakhir pun harus bersama, begitu kira-kira.
Daniar bukan tipe orang yang mau beramai-ramai berdansa ria dan menyanyi bersama, tapi Daniar juga bukan tipe orang yang tak menghargai sebuah acara setelah tahu makna sebenarnya. Sampai pesta berakhir, Daniar hanya duduk di kursi sepi ditemani orang-orang yang tak mau repot berdansa, sama sepertinya. Apa yang ia dapat adalah memandang orang-orang di sekelilingnya selama tiga tahun untuk terakhir kali. Tak perlu mengenal mereka semua, intinya mereka sama sebagai remaja yang telah melewati banyak hal dan beranjak menjadi dewasa.
Pesta berakhir sampai pukul sepuluh malam, namun begitu Daniar memutuskan untuk pulang pukul sembilan malam membayangkan bagaimana ibunya akan terus terjaga sebelum ia pulang. Memastikan ibunya beristirahat dengan baik setelah aktivitas fisik di pagi hingga sore hari adalah bagaimana Daniar sudah berjanji pada dirinya. Fathur melakukan dengan alasan sama.
"Aku harus apa jika tak ada kalian?" tanya Dio mengetahui Fathur dan Daniar akan segera meninggalkan pesta
"Bersenang-senanglah, kalau perlu ajak mengobrol saja Roy tentang peluncuran robot ke mars, pasti dia sangat tertarik."
"Ah menyebalkan, tak ada orang yang bisa asyik diajak bicara seperti kalian. Tak ada orang yang benar-benar mengenaliku."
"Hanya kamu yang tak mau memulai, Dio."
Dio berakhir ditinggalkan mereka. Yang ia lakukan selama sisa waktu berakhirnya pesta adalah duduk sambil memainkan ponsel. Musik masih menggema di bawah langit berbintang dimana banyak lampu warna-warni terpasang. Dio tak mau tak menolak saat ada orang yang menawarkan parfait, setidaknya tak akan ia merasa bosan karena telah disajikan menu favoritnya. Dipandanginya kalender digital yang menampilkan sebuah plan setelah dua hari ke depan, apakah ia akan menjalani kehidupan sesuai rencana atau tidak. Kalau-kalau dirinya tak diterima nanti, ia memutuskan ingin bekerja dan hidup sederhana. Jika pun nanti diterima, ia akan menggunakan kesempatan itu sebaik-baiknya. Tapi sebelum itu, berlibur ke desa adalah sebuah plan utama yang ingin dilakukannya. Rasanya ia ingin memastikan sesuatu.
Riuh tepuk tangan kemudian menyadarkan Dio yang tengah melamun, rupanya itu datang setelah salah seorang murid menyanyikan sebuah lagu pop.
"Andai Berryl ada di sini, aku ingin sekali mendengarnya menyanyi untuk terakhir kali."
"Ya, tak kusangka dia tak akan datang di acara penting begini."
"Dia pergi ke luar negeri kudengar, apapun itu aku sungguh iri atas apa yang ia punya dan lakukan."
Mendengar nama Berryl mau tak mau membuat telinga dan pikirannya beradu. Perempuan manja itu, Dio baru kali ini mengherankan kenapa Berryl tak datang ke acara pesta yang selalu menjadi ajang untuk bersinar. Dan apa katanya, ke luar negeri? Bukan hal yang asing bagi perempuan itu mau pergi ke luar negeri atau ke luar bumi, Dio hanya baru kali ini merasakan penasaran, apa yang dilakukannya sekarang ini?
***
Kalau seseorang bisa tak menutup mata selama satu hari penuh atau lebih, maka banyak yang akan melakukannya. Istilahnya terjaga, dengan terjaga seseorang bisa melakukan hal lebih banyak, bicara lebih banyak, mendengar lebih banyak, menulis lebih banyak, dan apapun itu dengan lebih banyak. Sangat menguntungkan sebelum tahu jika akan menimbulkan kerugian lebih banyak pula. Terjaga semalaman, itu berarti harus siap menanggung pikiran tak tenang lebih banyak, kegelisahan lebih banyak, dan kesepian lebih banyak.
Inginnya Daniar terjaga, khawatir karena waktu memang berjalan begitu cepat. Begitu membuka mata, secara ajaib keadaan akan berubah. Daniar merasa sedikit pengecut karena begitu takut bagaimana keadaan berubah. Padahal perubahan tidak semuanya buruk, melihat kenangan masa SMP hingga ia sekarang adalah salah satu bukti.
Khawatir saja, karena ditimpa kenyataan pahit rasanya benar-benar pahit. Beberapa orang juga mungkin sama gelisahnya menatap jarum jam yang bersuara setiap berganti detik.
"Tolong, aku jadi ingin buang air besar melihat jam itu."
"Bersabarlah, lima menit lagi."
Daniar tak mau memandang apapun selain sandal selopnya sambil menautkan jari. Kaki Dio bergetar, Fathur nampak fokus memelototi sebuah situs di laptop milik Charles. Charles sendiri sedang asyik mengopi melihat bagaimana tiga remaja tengah dilanda gelisah.
"Kalian merasakannya juga akhirnya, jangan panik. Dulu aku mengusir kepanikan dengan bermain tebak lagu. Mau kuputar lagu?" tanya Charles pada mereka
"Dulu sebelum pengumuman, benar-benar optimis atau betulan pasrah, Charles?" tanya Dio
"Maksudmu aku? Optimis saja tuh. Akhirnya diterima."
"Nah, itu dia masalahnya. Aku sama sekali tak yakin, sudahlah aku pasrah. Berapa menit lagi, Fat..."
"Dua menit lagi."
Dio menjerit.
Charles memutar lagu klasik yang membuat dua menit itu terasa lama lagi. Aroma kopi tak membantu menenangkan mereka. Tiba-tiba waktu yang tak mereka hitung sudah habis begitu saja.
"Sudah waktunya, siapa dulu yang mau melihat kenyataan?" tanya Fathur
Mereka saling lempar pada akhirnya. Charles terpaksa turun tangan, dialihkannya laptop ke hadapannya. Daniar masih menutup mata, Fathur yang tadinya tenang menjadi panik, Kaki Dio belum berhenti bergetar. Kacau, suasana kacau demi melihat bagaimana kerja keras mereka terbalas dengan hasil.
"Kuingatkan kalian jika apapun hasilnya bukanlah sebuah akhir. Memiliki banyak rencana itu penting, kalian harus menyadarinya segera. Setiap orang punya jalan yang berbeda-beda, tujuan yang berbeda pula. Jika pun seseorang punya mimpi yang sama, terkadang jalan untuk melaluinya begitu berbeda. Yang ingin kukatakan adalah, tak lolos ujian masuk perguruan tinggi bukan berarti tak ada kesempatan lain, masih banyak kesempatan jika rajin mencari. Kesempatan itu dicari, itu cara terbaiknya. Dan, kalian harus yakin jika setiap kerja keras pasti akan dibalasnya, setimpal dengan seberapa banyak kalian mempersiapkannya. Kalian hebat sudah mau bekerja keras, tentu sa..."
"Jantungku sudah mau hampir copot, katakan saja, bagaimana hasilnya?"
Dio tak bisa tenang, Daniar juga merasakan bagaimana Charles membuatnya kesal dengan mengulur waktu padahal mereka sedang antusias-antusiasnya.
"Tak sabaran sekali. Nah jadi, William, kalau kamu ingin menjadi ahli biomedis, lakukan itu sebaik-baiknya. Jaman sekarang memang sedang gencarnya mencari tenaga biomedis, memberi manfaat pada masyarakat adalah yang terpenting. Untukmu, Angelina Angela, aku yakin nantinya kamu menjadi seorang desainer grafis hebat, selalu berlatih adalah kuncinya. Steve, aku tak percaya kamu tertarik pada dunia olahraga, harusnya kita bicara lebih banyak karena aku juga suka membahas topik itu, apapun yang menjadi tujuanmu, optimis saja untuk meraihnya."
Charles nampaknya sudah selesai berbicara namun belum terdengar respon dari mereka.
"Ah, sebentar..." celetuk Fathur
Entah seberapa paniknya, butuh waktu lama untuk mencerna perkataan Charles yang sudah seperti naskah pidato kepala sekolah setiap upacara senin pagi.
"Aku tak pernah memberi tahumu tentang ingin menjadi seorang ahli biomedis, Charles."
"Bagaimana kamu tahu aku ingin menjadi seorang desainer grafis?"
"Aku ingin menjadi tutor olahraga makanya ingin masuk jurusan keolahragaan, Charles. Hebat kamu bisa tahu."
Charles sungguh tertawa renyah mendengar pertanyaan itu semua.
"Aku tahu semua, jelas-jelas itu tertera di layar laptop tadi. Nama kalian tertulis di sana, astaga, belum mengerti juga?"
Mereka saling pandang, pikiran mereka harusnya sama.
"KITA LOLOS?" tanya mereka bersamaan
"Tentu iya! Tak percaya lihat saja lagi."
Suara yang dari tadi tercekat di tenggorokan meluncur keluar dengan bebas.
"Akhirnya!!!!"
Sorakan mereka membuat Charles geleng-geleng kepala. Remaja-remaja itu telah melihat kenyataan yang ternyata manis.
"Senangnya, beginikah perasaanmu saat itu, Charles? Diterima di jurusan impianmu?"
"Saking senangnya aku sampai berlarian membuka baju di jalanan dan berteriak seperti orang gila saat itu."
"Sudah gila dari dulu rupanya!" ujar Dio tergelak
Sore itu menjadi salah satu sore paling indah. Raut gelisah tergantikan menjadi raut wajah manis yang pernah ada. Dari bangunan kecil mereka beranjak, segera menyusuri jalan pulang. Kebahagiaan ini terkadang harus dibagi dengan orang-orang tercinta. Daniar sungguh tak sabar ingin segera pulang. Jalur mereka terpisah di sebuah jalan bercabang tiga, mereka pulang, bertemu lagi untuk melanjutkan cerita dan merajut mimpi nanti.