Satu jam telah berlalu. Sementara Naya duduk di kursinya menatap layar komputer di hadapannya. Dia harus menyelesaikan notulen rapat sesegera mungkin. Karena pasti tidak sampai lima menit lagi Kenan akan memanggilnya dan meminta notulen itu diserahkan padanya.
"Kemarin itu yang dibahas apa aja sih? Duh … aku tuh nggak fokus kemarin gara-gara udah telat kumpul-kumpul sama temen, sama kesenengan dijadiin pacar seharinya Pak Kenan," keluh gadis dengan raut wajah bingung.
Bagaimana tidak? Hal yang paling dia takuti adalah menerima kemarahan Kenan. Sejak awal bekerja dia sudah sering dimarahi oleh bosnya itu karena kinerjanya yang buruk. Untung saja Kenan masih berbaik hati membiarkannya tetap menjadi sekretarisnya.
"Nayara! Bawa notulen rapat yang saya minta ke dalam," panggil Kenan dari pintu ruangannya yang sedikit terbuka.
Ternyata benar-benar tidak sampai lima menit Kenan manggilnya. Bahkan jika dihitung waktunya baru saja berlalu sekitar satu menit dari batas waktu yang diberikan oleh Kenan.
"I-iya, Pak. Lima menit lagi ya, Pak." Naya meminta tambahan waktu.
"Oke. Kalau begitu sekalian kamu bersiap-siap. Kita akan ke kantor Rayyan setelah ini," ucap Kenan.
“Baik, Pak,” jawab Naya.
Kenan kemudian menutup pintu ruangannya. Namun, tiba-tiba dia teringat sesuatu dan membuka kembali pintu ruangannya.
“Saya lupa, hari ini saya juga ada janji dengan klien baru. Sebentar lagi dia juga akan datang. Tolong kamu hubungi Rayyan dan bilang kalau kita akan ke kantornya sore hari. Oh, iya satu lagi. Tolong kamu juga siapkan berkas-berkas penawaran yang biasa kita berikan pada klien baru secepatnya,” perintah Kenan.
Naya menganggukkan kepalanya. Tugasnya yang barusan belum juga selesai, tetapi kini Kenan sudah menambahkan tugas lainnya untuk dikerjakan oleh Naya. Saat Kenan kembali menutup pintu ruangannya, Naya langsung menghela napas lesu dan menggaruk kepalanya sedikit kasar.
“Ya ampun notulen rapat aja belum belum selesai sekarang udah harus nyiapin berkas lagi! Nggak tahan deh kalau kerjaannya kayak begini!” gumam Naya yang merasa sangat frustasi dengan semua tugasnya.
Dia menarik napas dalam dan menghembuskannya panjang. Dilakukannya hal tersebut beberapa kali sampai semangat dalam dirinya terkumpul lagi. Kemudian jemarinya melompat-lompat dengan cepat di atas keyboard tanpa terjeda sedetik pun. Pandangan mata Naya juga fokus ke layar komputer memperhatikan barisak kata yang dia ketik.
“Permisi,” ucap seseorang pada Naya. Tetapi karena gadis itu sudah dikejar-kejar deadline tugasnya, dia pun tidak mendengar suara siapa pun. Telinganya mendadak tuli, dan pandangannya terus fokus menatap layar komputer.
“Permisi,” ucap orang tersebut sekali lagi, tetapi Naya tetap fokus dan tidak menyadari kehadiran orang tersebut.
Tok, tok, tok!
Orang tersebut mengetuk meja Naya, dan barulah setelahnya Naya tersadar jika ada seseorang di sana.
“Eh, maaf. Ibu mencari siapa?” tanya Naya.
“Saya ingin bertemu dengan Pak Kenan. Saya juga sudah membuat janji sebelumnya,” jawab wanita berpenampilan rapi lengkap dengan blazer abu-abu yang melekat di tubuhnya.
“Maaf, anda siapa ya? Janji dengan Pak Kenan? Dari perusahaan apa kalau boleh tahu?” Tampak Naya memeriksa kembali jadwal pertemuan Kenan dengan semua kliennya. Langsung terbesit dalam benak Naya, jangan-jangan dia adalah klien baru yang dibilang Kenan tadi.
Wanita tersebut menyunggingkan senyuman di wajahnya. Tangannya diulurkan ke hadapan Naya. “Saya Audrey, saya sudah membuat janji langsung dengan Pak Kenan,” katanya memperkenalkan diri.
Bahu Naya langsung lemas. Bukankah Kenan belum lama memintanya menyiapkan berkas untuk klien barunya, tetapi kenapa klien yang dimaksud sudah datang dengan sangat cepat.
Ya tuhan, bisa habis dimarahi oleh Pak Kenan kalau begini, gumam Naya dalam hati.
Audrey mengerutkan dahinya melihat Naya yang langsung termangu tanpa mengucap sepatah kata lagi.
“Mbak, apa Pak Kenan ada di tempat? Perlu saya hubungi langsung?” Audrey bersiap mengambil ponsel dari dalam tas kulitnya yang berwarna putih. Orang yang melihatnya tentu bisa menebak jika harga tas itu pasti sangatlah mahal.
Dengan sigap Naya bangkit dari kursinya. melangkahkan kakinya dengan ragu-ragu mengantarkan Audrey ke ruangan Kenan yang berada tepat di belakangnya.
“Permisi, Pak,” ucap Naya saat membuka pintu.
“Ya, Naya. Sudah selesai semua yang saya minta?” tanya Kenan saat melihat setengah tubuh Naya sudah memasuki ruangannya.
Tetapi tatapan mata Kenan langsung teralihkan pada seorang wanita yang membuntuti di belakang Naya. Wanita tersebut cukup cantik, tingginya juga semampai. Ditambah riasan wajahnya, serta tatanan rambutnya yang kecokelatan dibuat bergelombang dan diletakan di salah satu bahunya membuat penampilan wanita itu tampak sempurna dan indah untuk dipandang.
“Pak, Ibu Audrey datang ingin bertemu dengan Pak Kenan. Katanya dia sudah membuat janji dengan Pak Kenan,” kata Naya saat sudah berdiri di depan meja kerja Kenan.
Namun, Kenan langsung mengernyitkan dahinya karena merasa tidak pernah membuat janji dengan seseorang bernama Audrey.
Audrey maju dua langkah lau mengulurkan tangannya ke hadapan Kenan. “Perkenalkan Pak Kenan, saya Audrey. Saya yang menggantikan Pak Hartono untuk membincangkan kerja sama kita.”
“Oh, begitu! Jadi anda yang menggantikan Pak Hartono. Pantas saja saya jadi bingung. Pak Hartono tidak menginformasikan apa-apa pada saya,” terang Kenan.
Kenan pun menyambut uluran tangan Audrey dan mereka berjabat tangan sekitar dua detik lamanya. Di samping Audrey, Naya tampak menunjukkan raut wajah cemas. Dia sudah sangat takut setelah ini Kenan memanggil namanya dan meminta berkas yang harus disiapkan olehnya.
“Naya!” panggil Kenan.
“I-iya, Pak,” jawab Naya.
“Mana berkas yang saya minta tadi?”
Kecemasan Naya pun terjadi dalam sekejap. Dia mematung dengan degup jantung yang berkejaran. Matanya melirik ke arah kanan lalu berpindah perlahan ke kiri dengan perlahan. Dia juga menggigit bibir bawahnya, ditambah telapak tangannya langsung berkeringat. Dia benar-benar takut menjawab pria yang kini sudah mengulurkan tangan ke arahnya meminta berkas-berkas yang dia butuhkan.
“Hmm … anu, Pak. I-itu … saya ….,” Naya terbata tak sanggup menjawab Kenan.
Dilihatnya mata Kenan sudah memincing tajam ke arahnya. Lagi-lagi dia melihat ada aura hitam menyeruak dari tubuhnya.
“Mana berkas yang saya minta?” tanya Kenan sekali lagi dengan suara beratnya.
“Itu … berkasnya … sebentar, Pak saya siapkan sekarang!” seru Naya seraya melarikan diri dari ruangan Kenan.
Memang tak ada lagi yang bisa dilakukan oleh Naya selain menyiapkan berkas yang diminta oleh Kenan. Kini dia terburu-buru membuka folder-folder di penyimpanan komputernya mencari berkas-berkas yang dimaksud oleh Kenan.
“Ah, bodo amat deh! Yang mana aja deh aku siapin asalkan terbebas dulu dari omelan Pak Kenan,” gumam Naya sembari mencetak berkas, dan merapikannya sebelum dibawa masuk ke ruangan Kenan.
Langkah Naya sangat terburu saat kembali memasuki ruangan Kenan. Diserahkan langsung ke hadapan Kenan berkas yang dimintanya. Naya tidak tahu apakah berkas yang dia siapkan itu benar atau tidak. Tetapi melihat Kenan yang hanya mengangguk-anggukan kepalanya pelan saat membaca isi berkas yang disipakan oleh Naya, membuat gadis itu bisa sedikit bernapas lega.
“Oke, Naya. Kamu boleh keluar dari ruangan saya.” pinta Kenan kemudian.
Naya sedikit membungkukkan tubuhnya sebagai tanda hormat, barulah kemudian dia melangkah keluar ruangan.
Sementara itu di dalam hatinya Kenan menggerutu. Gimana sih si Naya ini! Saya kan mintanya berkas untuk perjanjian kerjasama dengan klien baru, masa di kasih saya data lembur karyawan sih! Apa dia mau nunjukin kalau dia lembur hampir setiap hari? Bisa malu kalau saya harus marahi dia di depan klien baru saya ini.
“Bagaimana, Pak Kenan? Apa perusahaan kita sudah bisa memulai kerjasama?” Suara Audrey membuat Kenan menatap ke arahnya.
Untungnya Kenan sudah sangat profesional dalam melakukan pekerjaannya. Kurang lebih dia mengingat beberapa poin penting yang ada di dalam perjanjian kerja sama untuk klien baru.
Kenan mulai menjelaskan beberapa poin yang dia ketahui. Dia membuat persetujuan untuk hal tersebut terlebih dahulu sembari mengetikkannya di laptop. Kenan juga menjelaskan beberapa keuntungan yang akan diperoleh masing-masing perusahaan jika kerjasama di antara mereka terjalin dalam batas waktu yang nanti akan ditentukan.
Audrey tampak menatap Kenan sambil tersenyum simpul. Ternyata dia tidak terlalu fokus mendengarkan penjelasan Kenan. Pesona pria itu mampu membuat Audrey terpana dan langsung jatuh cinta dalam pandangan pertama.
“Bagaimana, Bu Audrey? Apa Ibu menyetujuinya?” tanya Kenan setelah selesai menjelaskan poni-poin penting dan keuntungan yang akan diperoleh.
“Iya, setuju,” jawab Audrey dengan cepat.
Sebenarnya Audrey sudah tidak perduli dengan poin perjanjian apalagi keuntungan yang akan diperoleh nantinya. Kini dia hanya memikirkan bagaimana caranya agar dia bisa bertemu lagi dengan pria tersebut. Dia sudah benar-benar tidak sabar ingin menjadikan Kenan sebagai miliknya.
“Maaf, Pak Kenan, apa nanti kita bisa atur jadwal bertemu lagi? Karena saya juga ingin membahas hal yang barusan Pak Kenan sampaikan pada Pak Hartono,” pinta Audrey penuh harap.
“Baik, tentu saja!” jawab Kenan dengan mantap.
Kebetulan sekali, dia memang ingin mengulur waktu karena dia sendiri harus menyiapkan perjanjian kerjasama dan menambahkan poin-poin yang terlupakan. Jika saja kinerja Naya tidak buruk seperti ini, mungkin pertemuan selanjutnya antara Kenan dan Audrey tidak akan pernah terjadi.
Merasa senang karena akhirnya bisa mengatur janji temu lagi dengan Kenan, Audrey langsung berpamitan kembali ke kantornya. Mereka berjabat tangan lagi untuk mengakhiri perbincangan mereka di hari ini. Tetapi rasanya jabatan tangan Audrey sedikit berbeda dengan saat dia memperkenalkan diri. Jabatan tangannya kali ini terasa lebih erat dan sedikit dibelai oleh jemari tangan Audrey.
Saat wanita itu keluar dari ruangan Kenan, dengan cepat Kenan mengangkat gagang telepon dan langsung menghubungi sekretarisnya agar segera masuk ke ruangannya.
“Pe-permisi, Pak,” ucap Naya sedikit ketakutan saat masuk ke ruangan Kenan.
Kedua mata Kenan langsung menajam, dan dagunya juga sedikit diangkat agar terlihat lebih angkuh.
“Kamu mau mempermalukan saya?” tanya Kenan sinis dengan suara beratnya.
“Ma-maksudnya?”
“Kamu lihat dulu tidak berkas apa yang kamu berikan pada saya?”
“Ti-tidak, Pak. Ma-maaf, saya buru-buru tadi.” Wajah Naya sudah menunduk karena tidak sanggup menatap kedua mata Kenan yang menakutkan.
“Saya tidak mau tahu, cepat berikan berkas yang saya minta sekarang juga!” Brakk!! bentak Kenan diiringi gebrakan kencang di mejanya.
Naya terperanjat hingga mau meloncat di tempatnya. Tetapi kemudian dia mengangguk dan segera keluar dari ruangan Kenan menyiapkan semua berkas yang diminta oleh Kenan.