Masih bersama dengan teman-teman semasa kuliahnya, Naya menghabiskan waktu cukup lama untuk berbincang-bincang. Sesekali kedua matanya melirik ke tempat di mana Kenan duduk menunggunya. Tampak di hadapan Kenan kini tersedia segelas minuman berwarna coklat. Mungkin pria itu memesan ice coffe atau ice chocolate. Ditambah sepiring chicken wings yang kini hanya tersisa dua potong saja.
“Nay, kamu liatin apaan sih?” tanya salah seorang teman Naya sambil melempar pandangannya ke yang Naya lihat.
Naya berkelit, “Ah, nggak lihat apa-apa kok! Tadi kita lagi ngobrolin apa?”
“Ih, pakai bohong segala! Bilang aja sih kamu lagi lihat om ganteng yang kamu bilang pacar kamu itu,” ledek temannya tersebut.
Kedua pipi Naya merona kemerahan karena ucapan temannya tadi. Tetapi dia terus berkelit, “Apaan sih kamu, aku nggak lihatin dia kok! Aku cuma lihat-lihat sekeliling aja.”
Namun, tentu saja hal tersebut tidak dipercaya oleh semua temannya. Mereka mulai menggoda Naya dan membuat gadis itu sedikit geram.
“Udahan kenapa sih! Nggak bosen apa ngeledekin aku terus? Orangnya aja anteng di sana nggak lirik-lirik kesini,” ketus Naya.
Tidak berhenti sampai di situ, tiba-tiba terlontar pertanyaan yang sulit untuk dijawab oleh Naya. “Kamu beneran pacaran sama dia, Nay? Dilihat dari wajahnya kayaknya umur kalian beda jauh deh. Dia udah kayak om gue.”
“Iya juga sih, walau ganteng tapi kelihatan kok usianya udah nggak muda lagi. Beneran kamu pacaran sama dia?” timpal yang lainnya.
Tak mau ketinggalan teman yang belum mengajukan pertanyaan ikut menambahkan. “Kalau benar kamu pacaran sama dia, berarti kamu pacaran sama om-om dong, Nay!”
Semua pertanyaan yang diajukan untuknya sulit untuk dijawab. Pertama, usia Kenan memang berbeda cukup jauh dengan Naya. Kedua, Naya tidak berani mengakui kalau sebenarnya hubungan mereka hanya satu hari ini saja. Lalu yang terakhir, walau usia Kenan yang tidak muda lagi dan status pacaran mereka hanya satu hari ini saja tetapi perasaan Naya pada Kenan tidaklah hanya hari ini saja. Dia sudah jatuh cinta pada bosnya itu sejak pertama bertemu.
Sayangnya Naya tidak mau menjadi bahan ledekan teman-temannya lagi. Kini gadis itu tampak merengut dan kesulitan menjawab semuanya. Alhasil seluruh teman-temannya kembali melontarkan ledekan mereka sambil tertawa.
Tanpa mereka tahu, ternyata Kenan memperhatikan mereka semua dari tempatnya. Kenan mengernyitkan dahinya melihat Naya yang tampak seperti ditertawai oleh semua teman-temannya itu.
Diangkat gelas minumannya lalu diseruputnya menggunakan sedotan hingga tersisa serempatnya saja. Lalu diletakkan kembali gelas tersebut di atas meja kemudian Kenan bangkit dari kursinya. Dengan penuh wibawa pria tersebut berjalan menghampiri Naya dan teman-temannya.
“Nay, Nay, itu cowok kamu datang ke sini,” tunjuk salah seorang teman Naya.
Dengan cepat kepala Naya menoleh pada Kenan yang hanya beberapa langkah lagi sampai ke tempatnya. Tubuh Naya menegang, begitu juga dengan raut wajahnya yang ikut tegang.
“Naya, kamu belum selesai?” Suara berat Kenan sudah terdengar di sebelah Naya.
Sedikit gugup Naya menjawab, “Hmm … sudah aja deh. Mau pulang sekarang ya? Ya sudah yuk.”
Tiba-tiba Kenan menarik kursi yang kosong dari tempat di sebelah mereka dan membawanya ke samping Naya. Pria tampan itu dengan santai duduk di sana dan menyunggingkan senyum pada semua teman Naya yang membuka lebar kedua mata mereka.
“Saya perhatikan dari sana sepertinya kalian menertawakan gadis saya ini. Boleh saya tahu kenapa?” tanya Kenan dengan suara beratnya.
Sebentar, apa dia bilang tadi? Gadis saya? Maksdunya itu aku yang gadisnya dia?
Raut wajah Naya memang masih tetap tegang, tetapi bunga-bunga di dalam hatinya sudah mulai bermekaran.
“Maaf, gini loh, Om. Eh, Mas. Kita cuma nanya ke Naya memangnya kalian beneran pacaran. Karena kalau dilihat-dilhat usia kalian kan beda jauh,” lontar seorang gadis yang duduk di depan Kenan.
Kenan menyempatkan diri untuk menolehkan kepalanya sejenak pada Naya. Kemudian pria itu angkat bicara, “Memangnya kalau usia kami beda jauh ada masalah? Cinta itu gak mandang usia ‘kan?”
Jawaban yang diberikan oleh Kenan sontak membuat semua teman Naya langsung tersipu malu. Tak bisa ditutupi lagi wajah mereka yang langsung kemerahan.
“Kalau kalian masih memandang usia, dan nggak tahunya jodoh kalian jauh lebih muda atau lebih tua, bisa-bisa kalian nggak akan nikah nanti,” Kenan menambahkan.
“Jangan nyumpahin kita dong! Kan kita nggak mau jadi perawan sampai tua nanti,” sahut salah satu dari teman-teman Naya.
Kemudian teman yang duduk di sebelah Naya ikut bertanya, “ Terus, di antara kalian siapa yang menyatakan cinta?”
Naya tampak khawatir dengan pertanyaan berbahaya itu. Dia hanya berharap jangan sampai Kenan mempermalukannya dengan mengatakan kalau dia kasihan dan mengajukan diri menjadi pacar sehari Naya.
Senyum di wajah Kenan tampak tersungging miring. “Kalian mau tahu siapa yang menyatakan cinta?” tanyanya.
“Iya dong, kita juga mau tahu apa alasan kalian setuju pacaran,” sambut teman-teman Naya.
Kepala Kenan mengangguk. Senyum miringnya tetap tercetak jelas di wajah tampannya tersebut. Kenan meletakkan tangan kirinya di bahu Naya lalu menjawab pertanyaan teman-temannya tersbut.
“Saya yang menyatakan cinta pertama kali. Kalau kalian tanya alasannya, cukup saya dan Naya yang tahu. Karena yang fokus menjalani hubungan ini kan saya dan Naya, bukan kalian.” Tanpa terbata sedikit pun Kenan membabat habis semua pertanyaan yang dilontarkan untuknya dan Naya tanpa tersisa.
Berkat jawaban cerdas Kenan, Naya merasa diterbangkan tinggi ke langit ke tujuh. Melayang-layang di atas sana ditemani peri-peri kecil yang melepaskan anak panah berbentuk hati ke arahnya.
Tidak hanya Naya, semua temannya juga ikut merasa terbang mendengar jawaban Kenan. Mereka semua langsung berdoa di dalam hati masing-masing semoga mempunyai kekasih yang seperti kekasihnya Naya tersebut.
Kenan mengangkat tangan kirinya, lalu melihat jam yang melingkar di pergelangan tangan tersebut. “Sudah waktunya saya antar Naya pulang ke rumah,” ucap Kenan kemudian.
Semua teman-teman Naya mempersilahkan Kenan membawa Naya pergi dari sana. Digenggamnya tangan Naya dengan lembut saat menuntunya pergi menjauh dari teman-temannya. Hal tersebut membuat Naya tak bisa menutupi rasa bahagianya. Senyumnya sudah sangat lebar dengan kedua mata yang terus menatap lembut ke arah Kenan.
Kaki kenan berhenti sesaat. Pria itu berbalik lalu berkata, “Oh, iya. Bonnya saya yang bayar saja ya. Anggap saja traktiran jadian kami.”
Kemudian Kenan menuntun Naya ke meja kasir untuk membayar tagihan makan mereka semua. Barulah setelahnya Kenan mengajak Naya keluar dari tempat tersebut.
Hati Naya masih terus berbunga-bunga, peri-peri kecil yang membawa panah berbentuk hati juga masih berterbangan mengikuti di sekitarnya. Sikap manis Kenan pada Naya saat ini benar-benar membuat Naya tersentuh dan semakin jatuh cinta. Bahkan saat mereka sudah sampai ke tempat parkir, Kenan membukakan pintu untuk Naya sambil tersenyum lembut.
“Aku akan antar gadisku ini pulang ke rumahnya,” kata Kenan lembut saat dia sudah bersiap menancapkan gas di kakinya.
Tak ada yang bisa dijawab oleh Naya. Da hanya bisa menatap bahagia ke arah Kenan tanpa ingin hari segera berlalu. Andai dia punya alat untuk menghentikan waktu, maka dia akan sangat memanfaatkannya agar bisa terus menjadi kekasih Kenan.
Di dalam perjalan pulang mereka, Kenan terus bersikap lembut layaknya seorang kekasih. Kenan menyalakan musik bertema cinta yang melengkapi suasana di dalam mobil. Kenan juga tidak pernah ketus saat menanggapi Naya.
Namun, semua itu berubah seketika ketika mereka bertemu kembali keesokan harinya di kantor. Sikap manis Kenan pun lenyap entah kemana. Hanya tersisa sikap ketus dan dingin seperti sebelumnya.
“Mana notulen rapat yang kamu janjikan kemarin???” Kenan mengulurkan tangannya dengan telapak tangan terbuka ke atas pada Naya.
“I-itu … saya lupa, Pak,” jawab Naya.
Tatapan Kenan berkilat. Auranya di sekitarnya juga menjadi gelap.
“Lupa kata kamu? Jangan semudah itu kamu bilang lupa!” bentak Kenan.
Naya terperanjat hingga mau melompat mendengar suara Kenan yang lantang saat memembantaknya. Nyalinya langsung menciut. Naya tak sanggup melihat ke wajah Kenan.
“Kamu bagaimana sih! Masa bikin notulen rapat saja sampai lupa. Apa saja yang kamu lakukan semalaman sampai melupakan hal penting seperti ini?!”
Bibir Naya mengatup. Dia tidak mungkin menjawab jika semalaman dia terlalu senang sehingga dia hanya berguling-guling saja di atas tempat tidurnya sambil tersenyum bahagia. Tentu Kenan akan semakin murka jika dia menjawab demikian. Tetapi memang itulah yang Naya lakukan semalaman.
Peri-peri kecil yang sedari kemarin berterbangan di sekitarnya kini langsung menghilang karena takut dengan aura gelap Kenan.
“Saya tunggu dalam waktu satu jam, dan saya mau notulen itu sudah ada di meja saya nanti!” tegas Kenan.
“Ba-baik, Pak,” jawab Naya dengan nada suara bergetar.
Dilangkahkan kakinya keluar dari ruangan Kenan. Kemudian Naya terduduk lemas di kursinya sambil menghela nafas lesu.
“Baru juga kemarin dia bilang ‘gadisku’, sekarang semua berubah dan aku kembali menjadi sekretarisnya,” keluh Naya.
Menjadi pacar sehari Kenan memang sangat membahagiakan. Rasanya seperti menjadi seorang putri kerajaan yang diperlakukan dengan sangat lembut oleh pangeran. Tetapi waktu berjalan terlalu cepat, dan kini Naya kembali menjadi gadis biasa yang harus menerima omelan setiap saat dari Kenan.