Naya menggeliat di tempat tidurnya dengan kedua tangan diangkat ke atas kepala sambil mengerang pelan. Tubuhnya terasa sangat lelah sehingga dia tidak ingin segera bangun. Rasanya bermalas-malasan di hari liburnya tidaklah mengapa. Setiap hari dia selalu bekerja keras hingga lembur sampai malam, jadi di hari liburnya ini dia menginginkan waktu yang berkualitas untuk memanjakan dirinya.
Sengaja dia mematikan ponselnya sebelum tidur dan tidak menghidupkannya. Karena dia hari ini dia tidak ingin diganggu sama sekali oleh tumpukkan pesan atau puluhan dering telepon yang memintanya mengerjakan ini dan itu.
“Hari ini aku bebas!” teriak Naya sambil bangkit dari posisi berbaringnya.
Gadis itu kemudian menurunkan kakinya menginjak lantai, lalu melangkah menuju ke kamar mandi yang kebetulan ada di dalam kamarnya. Di dalam sana dia butuh waktu lama untuk membersihkan tubuhnya. Sebenarnya yang membuatnya lama adalah dia mengadakan konser tunggal di dalam sana. Butuh sekitar sepuluh lagu dia nyanyikan barulah dia menyelesaikan kegiatan mandinya.
“Wah, sudah siang! Nanti aku telat ke mal kalau gak buru-buru pakai baju,” kata Naya yang kemudian terburu-buru mengenakan pakaiannya.
Naya sudah membuat janji dengan teman-teman semasa kuliahnya untuk hangout siang ini. Dia ingin melupakan sejenak tentang perasaannya pada lelaki itu. Lelaki yang telah mengungkap tentang masa lalunya.
"Udah oke kan ya? Roknya kependekan gak ya?" tanya Naya pada sosok dirinya di cermin.
Gadis itu kemudian mundur satu langkah dan memperhatikan dirinya dari pantulan cermin seukuran tubuhnya. Matanya bergerak perlahan ke bawah, memeriksa penampilannya dari kepala hingga kaki.
"Sempurna," puji Naya terhadap dirinya sendiri.
Disambar ponsel yang diletakkan di samping bantal, kemudian dimasukkan ke dalam tas kecil dengan tali rantai berwarna hitam. Naya keluar kamar dengan langkah yang sangat ringan.
"Oh, iya. Belum pesen ojek online!" seru Naya sembari mengeluarkan ponsel dari dalam tasnya.
Gerakan Naya tiba-tiba terhenti. "Kan aku lagi gak aktifin HP, terus pesen ojek online gimana ya?" gumam Naya.
"Kalau aku aktifin HP, kira-kira bakal banyak pesan masuk gak ya? Atau jangan-jangan malah banyak panggilan tak terjawab dari Pak Kenan?" lanjut Naya bergelut dengan pemikirannya.
"Eh, tapi kan ini hari libur, masa dia masih aja kerja sih hari libur gini. Pastinya dia juga mau istirahat dong!" tambahnya.
Setelah bergelut dengan pikirannya sendiri, akhirnya Naya menyerah dan mengaktifkan kembali ponselnya.
Benar saja, baru juga diaktifkan ponselnya sudah menerima banyak pesan masuk dan puluhan panggilan tak terjawab dari Kenan. Naya tampak bingung harus berbuat apa. Tetapi karena hari ini adalah hari libur, maka Naya memutuskan untuk mengabaikan semua pesan dan panggilan tak terjawab tersebut. Dia menggeser semua notifikasi agar tidak tampil lagi di layar ponselnya, lalu dia mencari aplikasi untuk memesan ojek online.
Tak perlu waktu lama Naya menunggu ojek online itu datang. Dengan rok pendek, Naya duduk menyamping di jok belakang motor si tukang ojek. Sedikit melingkarkan tangannya pada si abang ojek untuk berpegangan agar tidak jatuh.
"Neng, cakep banget sih. Emangnya Neng mau kemana sih?" tanya si abang ojek yang sudah senyum-senyum karena merasa dipeluk oleh Naya dari belakang.
"Mau tau banget sih, Bang! Udah deh antar saya aja gak usah banyak tanya!" ketus Naya.
"Si Neng cakep-cakep kok galak banget sih. Nanti cakepnya hilang loh," keluh si abang ojek.
Naya kembali menjawab dengan ketus, "Bodo amat, Bang! Jangan bawel!"
Tiba-tiba ponsel Naya berdering kencang. Naya berpura-pura tidak mendengar dan mengabaikannya hingga dering ponselnya berhenti. Namun, kemudian ponselnya kembali berdering dengan kencang. Membuat si abang ojek menegur Naya.
"Itu HP Neng bunyi emang gak kedengeran? Saya aja denger, Neng. Mana pakai lagu barat lagi, emangnya ngerti Neng?"
"Abang berisik banget sih! Bawel banget! Udah diemin aja, toh saya juga gak mau angkat teleponnya kok," sahut Naya.
"Kenapa emang gak mau diangkat? Pasti dari pacarnya ya? Lagi berantem ya, Neng?" Semua pertanyaan dari abang ojek tersebut benar-benar membuat Naya kesal.
Naya pun menjawab di dalam hatinya, "Ah si abang, gak tau apa kalau aku jomblo? Yang itu masih susah dijadiin pacar. Orang dia aja masih gak bisa move on!"
Selang sepuluh menit kemudian Naya tiba di mal yang berada di kawasan Kelapa Gading. Dia meminta tukang ojek untuk menghentikan motornya di depan sebuah masjid yang berada tepat di seberang mal. Naya akan menyebrang sendirian.
Setelah menyebrang dan melewati pintu masuk mal, Naya berhenti sejenak di depan sebuah restoran bergaya Jepang untuk mengambil ponselnya. Dilihatnya ada tiga panggilan tak terjawab dari Kenan dan banyak pesan masuk dari pria tersebut, juga dari teman-temannya.
"Pak Kenan ngapain sih teleponin aku? Gak tahu apa kalau hari ini tuh hari libur!" gerutu Naya.
Dia mengabaikan semua pesan yang dikirimkan oleh Kenan. Dia hanya membuka dan membalas pesan dari teman-temannya.
Saat sedang asyik berkirim pesan dengan teman-temannya, terasa bahu kiri Naya disentuh dari belakang.
"Rupanya kamu datang tepat waktu," kata seorang pria yang suaranya sangat familiar.
Kepala Naya menoleh ke belakang melihat siapa yang menyentuh bahunya. Sontak kedua bola mata Naya membesar melihat Kenan berdiri tegak di belakangnya.
"Loh, Pak Kenan???" tunjuk Naya.
"Iya, saya Kenan," sahut Kenan.
"Kok Pak Kenan di sini???" tanya Naya dengan raut wajah bingung.
"Kamu lupa atau bagaimana? Saya kan sudah kirim pesan semalam memintamu menemani saya siang ini di sini. Jangan-jangan … kamu gak baca?" Mata Kenan menyipit menatap Naya penuh curiga.
Dengan cepat Naya melihat ponselnya, membuka semua pesan masuk yang dikirimkan oleh Kenan. Pria itu memang sudah meminta Naya untuk menemaninya bertemu klien di mal tersebut, lebih tepatnya di restoran Jepang dimana mereka berdiri di depannya.
Gadis itu perlahan menyunggingkan senyumnya pada Kenan. Gagal sudah rencana hangout dengan teman-teman kuliahnya. Dia tertangkap secara kebetulan, dan kini dia tidak bisa melarikan diri.
Saat menemani Kenan bersama kliennya, Naya tampak duduk dengan gelisah. Sesekali dia mengintip ponsel yang disimpan dan dipasang mode getar di dalam tasnya. Kebetulan atasannya itu sangat tidak suka jika Naya memainkan ponsel saat sedang bertemu klien.
"Kamu kelihatan gelisah, ada yang mengganggu pikiranmu?" tanya Kenan yang ternyata menyadari kegelisahan Naya.
"Hmm … nggak apa-apa kok, Pak," jawab Naya.
"Kamu yakin?" Kenan menyudutkan Naya, karena pria itu tidak yakin dengan jawaban Naya.
Naya menunjukkan senyumnya pada Kenan. "Beneran kok nggak ada apa-apa, Pak!" serunya.
Walaupun Naya berusaha menutupi kegelisahannya dengan senyuman yang sangat lebar, Kenan masih tetap merasa tidak yakin dengan gadis itu.
Pertemuan dengan klien akhirnya berakhir. Sang klien dengan asistennya sudah pergi dari hadapan Kenan dan Naya. Wajah Naya langsung sumringah dan dirinya menjadi sangat bersemangat.
Naya bangkit dari duduknya dan berpamitan. "Pak, sudah selesai kan? Saya pamit duluan ya, karena saya ada urusan lain!" Gadis itu langsung menyingkir dari tempatnya hendak melangkah pergi. Namun, dengan sigap Kenan memegang tangannya menahan kepergiannya.
"Kamu mau kemana? Apa urusan kamu lebih penting dari saya?" tanya Kenan sambil mengerlingkan matanya.
"Kalau ditanya lebih penting siapa, ya tentu saja lebih penting kamu, Pak. Tapi tetap saja, Pak Kenan belum bisa move on," gumam Naya di dalam hatinya.
Gadis itu menjawab secara langsung, "Saya beneran ada urusan penting, Pak. Saya tuh sebenarnya sudah janjian mau hangout bareng teman-teman kuliah saya. Saya pamit duluan ya, Pak. Notulen rapat saya buat besok ya, Pak!"
"Saya ikut!" seru Kenan yang kemudian bangkit berdiri.
Naya terdiam dan melongo. Dia merasa salah mendengar. Tidak mungkin pria di hadapannya itu bisa berkata untuk ikut dengannya.
"Kenapa bengong?" tanya Kenan bingung.
"Pak Kenan tadi bilang apa? Mau ikut saya?" Naya memastikan yang dia dengar sebelumnya.
Dianggukkan kepala Kenan dengan mantap. "Iya, saya mau ikut, memangnya gak boleh?"
"Ya … boleh-boleh saja sih. Tapi kan … apa Pak Kenan yakin? Nanti kalau dikira pacar saya gimana?" Padahal jika memang begitu maka Naya akan bersorak kegirangan.
Kenan menarik tangan Naya dan mengajaknya keluar restoran. "Bukannya kamu mau menggantikan Kyara? Kalau begitu tak masalah, kita coba menjadi pacar untuk sisa waktu hari ini," ucap Kenan sambil terus melangkah.
Ditarik tangan Kenan agar pria itu berhenti berjalan. Lalu Naya menatap Kenan dengan kedua mata membesar.
"Kenapa kamu tarik tangan saya?" Kenan mengarahkan pandangannya ke tangan Naya.
"Pak Kenan gak salah ngomong kan? Kita??? Pacaran???" Jari telunjuk Naya menunjuk ke arah dirinya dan Kenan secara bergantian.
"Sampai sisa waktu hari ini saja. Besok kamu kembali jadi sekretaris saya," jawab Kenan. Kembali ditarik tangan Naya mengajaknya melanjutkan langkah mereka.
Dihentikan kembali langkah Kenan dengan menarik tangannya sampai pria itu berbalik. "Apa lagi sih???" Kenan geram.
"Kita pacaran???" tanya Naya untuk yang terakhir kali agar dia yakin dengan apa yang didengarnya tadi.
"Iya, kita pa-ca-ran. Kalau kamu gak mau, saya pulang!" Dilepaskan tangan Naya dan berlagak jual mahal berbalik meninggalkan Naya.
Namun, dengan cepat Naya menarik lengan Kenan. "Mau, Pak! MAU! MAU!" teriak Naya dengan sangat gembira.
Terserah jika hanya berstatus pacaran untuk sisa waktu hari ini saja. Bahkan untuk sepuluh menit pun Naya sudah pasti sangat bahagia dan akan bermimpi indah saat tidur nanti.
Naya langsung menggandeng tangan Kenan dengan manja, dan mengajaknya melangkahkan kaki beriringan. Naya ingin memamerkan pada teman-temannya nanti jika dia sudah mempunyai kekasih setampan Kenan.
"Eh, tapi kalau ada yang bilang pacar aku udah tua gimana? Ya … Pak Kenan kan udah kepala empat, dan aku belum kepala tiga. Ah, bodo amat! Yang penting sekarang aku pacaran sama Pak Kenan. Usia bukanlah masalah." Naya terus bergumam di dalam hati.
Sayangnya, saat Naya berkumpul dengan teman-temannya, Kenan memilih untuk duduk di kursi yang jauh dari mereka.
"Naya, itu beneran cowok lo?" tanya salah seorang teman wanitanya.
Dengan polosnya Naya menjawab, "Ya … dia bilang sih gitu."
"Jadi dia yang ajak lo pacaran? Yakin lo kalau dia beneran cinta sama lo?" celetuk teman yang lainnya.
"Gak yakin sih," jawab Naya lesu. Gak mungkin juga kan Kenan jatuh cinta sama aku, karena dia masih cinta sama Kyara.
Diliriknya Kenan yang duduk jauh dari tempatnya. Pria itu tampak sibuk dengan ponselnya. Naya menjadi penasaran apa yang dia lakukan dengan ponselnya. Apakah pria itu berkirim pesan dengan Kyara, atau melakukan hal lain.
Naya sampai memanjangkan lehernya berharap dia bisa melihat ponsel Kenan. Tetapi jarak mereka terlalu jauh, dan sangat tidak memungkinkan Naya untuk melihatnya.
"Gak mau tau, aku gak akan nyerah!" seru Naya. Suaranya mengejutkan semua teman yang duduk berkumpul dengannya.
"Gak mau nyerah kenapa???" tanya temannya bingung.
Naya tampak salah tingkah dan hanya bisa menyengir. Tetapi dia benar-benar serius dan tak akan menyerah untuk bisa mendapatkan hati pria yang kini sedang memperhatikan foto-foto Kyara yang dipasang di media sosialnya.
Apakah yang akan dilakukan oleh Naya untuk mendapatkan hati Kenan? Lalu apakah pacaran untuk sehari ini bisa menumbuhkan benih cinta di hati Kenan?