Sesampai di rumah, kedatangan Hana pun di sambut oleh Mama Dara. Sebenarnya Hana tak enak hati, karena ia sudah ingkar janji, ia melihat jam yang melingkar di tangan kirinya dan itu sudah menunjukkan pukul sepuluh lewat dua belas menit. “Asslamualaikum, Ma,” ucap Hana sambil mencium punggung tangan Mama mertuanya. “Waalaikumsalam, Nak. Kenapa sampai malam gini?” tanya Mama Dara, ia bukan marah, tapi ia khawatir, khawatir kalau Hana kenapa-napa di jalan. Terlebih ia keluar seorang diri. “Maaf, Ma,” jawab Hana tanpa mau memberikan alasan ini dan itu, karena memang dirinyalah yang salah. Jadi ia tak mau membela dirinya sendiri. Ia juga sedikit menundukkan kepala, agar sang Mama tak mengetahui matanya yang bengkak, karena ia baru saja habis menangis. “Iya sudah gak papa, tapi lain kali ja

